PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN IPS BERCIRIKAN PAIKEM

.

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN IPS

BERCIRIKAN PAIKEM

Oleh: Dr. Waspodo Tjipto Subroto, M.Pd. (Unesa)

Email: waspodotjipto@yahoo.co.id

ABSTRACT
Learning activities aimed at developing the potential that exists on self-esteem, both in aspects of cognitive, affective and psychomotor. Social Studies (IPS) is one of the subjects in elementary school also seeks to develop the full potential of students through active learning activities, innovative, creative, effective and joiful. Through social studies subjects learners can be directed to an Indonesian citizen of a democratic and responsible and peace-loving citizens of the world. Teachers need to develop a strategy oriented to student learning (Student Centered Learning) and supported by the application of varying multimetode and multimedia of effective learning for students motivated to participate actively in the learning process.
Social studies is characterized by active learning, innovative, creative, effective and joiful learning (PAIKEM) demands the application of multi-method, multi-media and work practices within the team and take advantage of the school environment as a source of learning. PAIKEM assume that learning is an individual process, a social process that is enjoyable, and never ceased to construct meaning. Learning the nuances IPS PAIKEM need to apply a range of innovative learning model (cooperative, inquiry, problem-based, etc.), multi-method and multi-media which support the effectiveness of achieving the goals subjects IPS.


Keywords: Social Studies, potential students, joiful learning,

I. PENDAHULUANA. Latar Belakang

Pelaksanaan proses pembelajaran pada berbagai mata pelajaran di Sekolah Dasar pada umumnya bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada pada diri siswa, baik potensi dalam aspek kognitif, aspek afektif maupun aspek psikomotorik.

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) berusaha memberikan wawasan secara komprehensif tentang peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu-isu sosial. Berbagai tradisi dalam ilmu sosial, termasuk konsep, teori, fakta, struktur, metode dan penanaman nilai-nilai dalam ilmu sosial perlu dikemas secara pedagogis, integratif dan komunikatif serta relevan dengan situasi dan kondisi yang berkembang dalam masyarakat.

Di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP, 2006 ) menegaskan bahwa melalui mata pelajaran IPS peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi Warga Negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab serta warga dunia yang cinta damai. Fenomena kehidupan global di masa mendatang yang penuh dengan tantangan, menuntut mata pelajaran IPS untuk dirancang bisa mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis.

Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar perlu disusun secara sistimatis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan bermasyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membina siswa agar menjadi warga negara Indonesia yang bertanggung jawab dan warga dunia yang efektif, dalam masyarakat global yang selalu mengalami perubahan setiap saat. Untuk itu, pembelajaran IPS perlu dirancang untuk membangun dan merefleksikan kemampuan siswa dalam kehidupan bermasyarakat yang selalu berubah dan berkembang secara terus menerus.

Menurut KTSP (2006), Tujuan Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.

2. Memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.

3. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial kemanusiaan.

4.Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk dan ditingkat lokal, nasional dan global.

Jarolimek (1993:8) mengharapkan bahwa pendidikan IPS hendaknya mampu mengembangkan aspek pengetahuan dan pengertian (knowledge and understanding), aspek sikap dan nilai (attitude and value) serta aspek keterampilan (skill) pada diri siswa. Aspek pengetahuan dan pengertian berkaitan dengan pemberian bekal pengetahuan dan pemahaman siswa tentang dunia dan kehidupan masyarakat di sekitarnya, aspek sikap dan nilai berkaitan dengan pemberian bekal mengenai dasar-dasar etika dan norma yang nantinya menjadi orientasi nilai dalam kehidupanannya di masyarakat. Sedangkan aspek keterampilan meliputi keterampilan sosial (social skill) dan keterampilan intektual (intellectual skill) agar siswa tanggap terhadap permasalahan sosial di sekitarnya dan mampu bekerjasama dengan orang lain dalam kehiduapn sehari-hari.

Sedangkan menurut Schuncke (1988 : 8-9) sekolah merupakan wahana yang sangat penting dalam pendidikan nilai dan norma serta perilaku yang demokratis. Penanaman nilai dan norma serta perilaku demokratis secara normatif merupakan tanggung jawab seluruh guru di suatu sekolah. Namun secara legal-akademik tanggung jawab tersebut ada pada guru mata pelajaran Pendidkan Kewarganegaraan (PKn) maupun IPS. Oleh karena itu, kajian pengembangan nilai dan norma serta sosialisasi perilaku demokratis perlu dikembangkan secara kreatif dalam proses pembelajaran PKn dan IPS

Untuk mencapai tujuan mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar tersebut perlu dikembangkan pendekatan pembelajaran IPS yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM). Guru perlu mengembangkan strategi pembelajaran yang berorientasi pada siswa (Student Centered Learning) dan didukung oleh penerapan metode yang bervariasi serta pemanfaatan multimedia yang efektif agar siswa termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

B. Permasalahan.

Dari uraian latar belakang di atas yang menjadi permasalahan adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pengembangan pendekatan pembelajaran IPS yang mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran?

2. Bagaimanakah penerapan metode yang efektif dalam pembelajaran IPS yang mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran di Sekolah Dasar ?

3. Bagaimanakah pemanfaatan media efektif dalam pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan ?

II. STRATEGI PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR

Proses pembelajaran di Sekolah Dasar merupakan tahapan pembelajaran yang mendasar bagi seorang anak, karena menjadi dasar bagi tahapan pembelajaran lanjutan seperti SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi. Maka pada tahapan dasar tersebut menuntut profesionalisme dan keterampilan guru yang berkualitas sesuai dengan tuntutan profesi. Peningkatan kualitas pembelajaran perlu mengembangkan pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa aktif, mampu berinovatif, serta kreatif sehingga efektif namun tetap menyenangkan sesuai dengan karakteristik siswa Sekolah Dasar.

Pembelajaran IPS yang bercirikan PAIKEM menuntut penerapan multi metode, multi media dan praktik kerja dalam tim serta memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. PAKEM berasumsi bahwa pembelajaran itu merupakan proses individual, proses sosial yang menyenangkan, serta tidak pernah berhenti untuk membangun makna. Pembelajaran IPS yang bernuansa PAIKEM perlu menerapkan berbagai model pembelajaran yang inovatif, multi metode dan multi media yang menunjang efektivitas pencapaian tujuan.

A. Model-Model Pembelajaran IPS

Untuk menumbuhkan motivasi dan partisipasi siswa dalam pembelajaran perlu dikembangkan model-model pembelajaran IPS yang mendorong siswa aktif dan kreatif serta inovatif. Model pembelajaran inovatif tersebut menurut Muslimin (2007) antara lain: Pengajaran langsung (direct intruction), Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning), Pengajaran Berdasarkan Masalah (Problem Base Instruction), dan Belajar Melalui Penemuan ( inkuiry).

1. Model Pengajaran Langsung (Direct Instruction).

Model pengajaran langsung banyak diilhami oleh teori belajar sosial yang sering disebut belajar melalui observasi. Dasar pemikiran model pengajaran langsung ini adalah bahwa siswa belajar dengan mengamati secara selektif, mengingat dan menirukan tingkah laku gurunya. Atas dasar pemikiran tersebut Schuncke (1988) menyarankan agar dihindari penyampaian pengetahuan yang terlalu kompleks. Dalam menerapkan pengajaran langsung, pengetahuan yang disampaikan kepada siswa perlu disederhanakan, baik pengetahuan deklaratif maupun prosedural.

2. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Menurut John Dewey (dalam Slavin, 1993), kelas seharusnya merupakan cerminan masyarakat yang lebih besar. Maka kegiatan di kelas perlu memberi pengalaman kepada siswa untuk bekerja secara berkelompok. Slavin (1993) mengingatkan bahwa kerjasama dan bekerja dalam kelompok akan memberikan hasil yang lebih baik. Setting kelas dalam pembelajaran kooperatif, perlu memenuhi 3 kondisi, yaitu: (a) adanya kontak langsung, (b) sama-sama berperan serta dalam kerja kelompok, (c) adanya persetujuan antar anggota kelompok tentang setting kelas tersebut.

3. Model Pengajaran Berdasar Masalah (Problem Base Instruction)

Model pengajaran berdasarkan masalah ini menurut Banks (1990) mempunyai ciri umum yaitu menyajikan kepada siswa masalah autentik dan bermakna yang akan memberi kemudahan kepada siswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Sedangkan ciri khusus dalam model ini yaitu adanya pengajuan pertanyaan dan masalah, berfokus pada keterkaitan antar disiplin ilmu, penyelidikan autentik, menghasilkan produk/karya, dan adanya kerjasama. Masalah autentik adalah masalah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari dan bermanfaat secara langsung jika ditemukan penyelesaiannya. Sedangkan masalah akademik adalah masalah yang muncul akibat pengaruh dari suatu masalah sehingga memunculkan masalah lainnya.

4. Model Belajar Melalui Penemuan (Inkuiry)

Pembelajaran penemuan merupakan suatu model pengajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa memahami struktur atau ide kunci dari suatu disiplin ilmu, siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran, dan memberi keyakinan bahwa pembelajaran akan terjadi melalui penemuan pribadi. Banks (1990) meyakini bahwa model penemuan ini akan merangsang siswa untuk melakukan penyelidikan sehingga menemukan sesuatu. Model pembelajaran penemuan menurut Banks (1990) lebih cocok untuk menanamkan konsep-konsep yang dapat ditemukan melalui percobaan dan penyelidikan.

C. Metode Pembelajaran IPS

Metode merupakan salah satu komponen pembelajaran yang cukup berperanan selain komponen-komponen yang lain. Kegiatan pembelajaran yang berkualitas tentu akan mempertimbangkan penerapan metode-metode pembelajaran secara bervariasi sesuai dengan karakteristik materi pelajaran yang akan disampaikan.

Penerapan variasi metode bisa menunjang kegiatan pembelajaran yang aktif dan inovatif serta menyenangkan karena tidak monoton dan menjemukan siswa. Oleh karena itu, hendaknya guru mampu memilih dan menentukan metode pembelajaran yang paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Perlu disadari bahwa tidak ada satupun metode yang sempurna dan efektif serta efisien untuk semua topik kajian. Masing-masing metode memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing, oleh karena itu dalam setiap proses pembelajaran IPS diperlukan penerapan metode yang bervariasi.

Macam-macam metode pembelajaran dalam IPS menurut Azis Wahab (1997: 186 ) antara lain sebagai berikut:

1. Metode ceramah

2. Metode Tanya jawab.

3. Metode diskusi

4. Metode pemecahan masalah (problem solving)

5. Metode simulasi

6. Metode bermain peran (role playing)

7. Metode sosio drama

8. Metode permainan (game)

9. Metode cerita

10. Metode karya wisata atau studi lapangan

11. Metode inkuiri

12.Metode penugasan

13. Metode pameran (eksposisi)

14. Metode proyek

Pemilihan dan penerapan metode pembelajaran perlu mempertimbangkan kriteria-kriteria sebagai berikut:

1. Sesuai dengan karakteristik bahan ajar yang akan disampaikan.

2. Ditunjang oleh sarana dan prasarana yang memadai.

3. Sesuai dengan latar belakang dan kebutuhan siswa.

D. Media dalam pembelajaran IPS

Setiap media pembelajaran memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing maka diharapkan guru dapat memilih dan menentukan macam-macam media sesuai dengan topik bahasan dan karakteristik materi pelajaran. Agar pemilihan dan penentuan media tersebut bisa efektif, maka perlu mempertimbangkan beberapa kriteria, antara lain:

1. Obyektifitas.

Dalam memilih media perlu meminta saran atau pendapat dari teman sejawat,

bukan berdasar kesenangan pribadi guru.

2. Program pembelajaran

Penentuan media bisa menunjang pencapaian tujuan program pembelajaran atau

sesuai dengan pokok bahasan yang akan disampaikan.

3. Sasaran program

Sasaran program ini adalah siswa yang mengikuti proses pembelajaran, pada usia

tertentu mereka memiliki kemampuan intelektual tertentu pula.

4. Situasi dan kondisi

Situasi dan kondisi ini berkaitan dengan sarana dan prasarana sekolah atau kelas

(ukuran ruangan, bangku, ventilasi dll ) dan situasi kondisi siswa ( jumlah siswa,

motivasi, dll )

5. Kualitas teknik.

Kualiats teknik ini berkaitan kualitas gambar, rekaman audio maupun visual suara,

atau alat Bantu lainnya.

6. Efektivitas dan efisiensi penggunaan.

Keefektifan menyangkut penyerapan informasi yang optimal oleh siswa,

sedangkan efisiensi berkaitan dengan pengeluaran tenaga, waktu dan biaya

seberapa mampu mencapai tujuan yang optimal.

Media pembelajaran memiliki ragam dan bentuk yang bermacam-macam, namun berdasarkan perkembangannya, menurut Suhanaji (2003) media dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Media yang bersifat umum dan tradisional.

Contohnya: papan tulis, buku teks, majalah, buku rujukan dan lain lain.

2. Media yang bersifat canggih.

Contohnya: radio, TV, VCD, tape recorder, OHP, LCD, dan lain lain.

3. Media yang bersifat inovatif.

Contohnya: komputer, internet, laptop, dll.

Sedangkan jenis-jenis media bisa dikelompokkan sebagai berikut:

1. Alat pengajaran.

Contohnya: papan tulis, papan pamer, mesin pengganda.

2. Media cetak.

Contohnya: Buku, majalah, surat kabar, jurnal, bulletin, pamflet dan lain-lain

3. Media visual.

Contohnya: Transfaransi, slid, grafik, chart, model dan realia, gambar,foto, dll

4. Media audio.

Contohnya: Tape recorder, pita suara, piringan hitam dan lain-lain

5. Media audio-visual

Contohnya: Televisi, VCD, film suara.

6. Masyarakat sebagai sumber belajar.

Contohnya: Nara sumber, tokoh masyarakat, dinamika kehidupan dalam

masyarakat.

Banyaknya ragam dan jenis media yang bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran IPS, menuntut guru untuk berkreasi dalam memanfaatkan media pembelajaran agar mendorong siswa aktif, kreartif dan inovatif dalam kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran IPS selayaknya mengkondisikan siswa untuk berproses secara individual, sosial, kerja dalam kelompok, untuk membangun makna dengan menyenangkan.

III. PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian dalam tulisan di depan, dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pendekatan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM) dapat menunjang peningkatan kualitas pembelajaran IPS di Sekolah Dasar.
  2. Pengembangan pendekatan PAIKEM dalam pembelajaran IPS di Sekolah Dasar perlu diterapkan multi metode secara bervariasi sesuai dengan karakteristik materi dan latar belakang siswa.
  3. Pelaksanaan PAIKEM perlu didukung oleh multimedia yang memadai sehingga proses pembelajaran mampu memberi layanan klasikal dan individual serta mampu menumbuhkan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dengan harapan mampu mencapai tujuan pembelajaran secara lebih efektif dan efisien.

B. Saran-saran.

Beberapa saran yang bisa disampaikan dalam tulisan ini antara lain:

  1. Sebagai upaya peningkatan kualitas proses pembelajaran pada mata pelajaran IPS guru Sekolah Dasar hendaknya mengembangkan pendekatan pembelajaran aktif, kreatif, inovatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM).
  2. Metode belajar yang bermacam-macam jenis dan ragamnya perlu diterapkan secara bervariasi dan selektif untuk menunjang pengembangan pendekatan PAKEM.
  3. Guru IPS di Sekolah Dasar hendaknya lebih berkreasi dalam memanfaatkan media pembelajaran yang efektif dalam menunjang pendekatan PAIKEM.

DAFTAR PUSTAKA

Banks, JA & Ambrose AC. 1990. Teaching Strategies for Social Studies. Inquiry, Valuing, and Dicision Making. New York: Longman.

Jarolimek, J. 1993. Social Studies in Elementary Education. New York: Mac Millan

Publishing Co Ltd.

Martorella, PH. 1985. Elementary Social Studies. Developing Reflective, Competent, and Concern Citizen. Toronto: Litlle Brown

Muslimin Ibrahim. 2007. Pembelajaran Aktif, Inovatif, Efektif, Kreatif dan Menyenangkan. Surabaya: Lokakarya di PGSD FIP Unesa.

Nu’man Somantri. 2001. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Schuncke. GM. 1988. Elementary Social Studies. Knowing, Doing, Caring. New York: Macmillan Publishing

Suhanaji dan Waspodo Tjipto Subroto. 2003. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Surabaya: Insan Cendikia.

Waspodo Tjipto Subroto dan Suhananji. 2005. Pengetahuan Dasar Ilmu-Ilmu Sosial. (Geografi, Sejarah, Ekonomi, Politik, Sosiologi dan Antropologi ). Surabaya: Insan Cendikia.