PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DALAM PENDIDIKAN IPS DI SEKOLAH DASAR

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE JIGSAW DALAM PENDIDIKAN IPS DI SEKOLAH DASAR

DR. Waspodo Tjipto Subroto, M.Pd

waspodotjipto@yahoo.co.id / HP.08123235608

PGSD FIP UNESA

Pendahuluan

Perubahan masyarakat yang sedemikian cepat sebagai dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, menuntut lembaga pendidikan untuk bisa mengimbangi percepatan perubahan yang ada di dalam masyarakat. Demikian juga lembaga pendidikan di tingkat dasar (Sekolah Dasar), dalam upaya membekali siswa untuk dapat bermasyarakat dengan baik, perlu meng-up date bahan pembelajarannya sesuai dengan perkembangan dalam masyarakat.

Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah salah satu mata pelajaran yang berusaha membekali wawasan dan keterampilan siswa Sekolah Dasar untuk mampu beradaptasi dan bermasyarakat serta menyesuaikan dengan perkembangan dalam era globalisasi. Melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, siswa diarahkan, dibimbing dan dibantu untuk menjadi warga negara Indonesia yang baik dan warga dunia yang efektif (KTSP, 2006). Upaya mata pelajaran IPS untuk membimbing siswa agar menjadi warga negara Indonesia yang baik dan warga dunia yang efektif merupakan tantangan yang berat karena dinamika masyarakat terus berkembang dan era globalisasi selalu mengalami perubahan di setiap saat. Maka mata pelajaran Pengetahuan Sosial perlu dirancang untuk membangun dan merefleksikan kemampuan siswa dalam kehidupan bermasyarakat yang selalu berkembang secara terus menerus. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar bertujuan sebagai berikut:

1. Mengajarkan konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah dan kewarganegaraan melalui pendekatan pedagogis dan psikologis.

2. Mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan sosial.

3. Membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.

4. Meningkatkan kemampuan bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara nasional maupun global. (KTSP, 2006)

Untuk mewujudkan tujuan tersebut perlu dikembangkan model pembelajaran yang kondusif dan menggairahkan siswa agar bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Seluruh potensi yang ada pada diri siswa perlu dikembangkan secara optimal dan komprehensif melalui kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh guru. Peran guru dalam menciptakan dan mengarahkan kegiatan pembelajaran sangat dominan sehingga kualitas dan keberhasilan kegiatan pembelajaran sering bergantung kepada kreatifitas guru dalam memilih dan menerapkan model pembelajaran. Kreatifitas dan kemampuan dalam pemilihan model pembelajaran merupakan kemampuan dan keterampilan mendasar yang harus dimiliki guru. Hal ini didasari asumsi bahwa ketepatan guru dalam memilih model pembelajaran akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa (Jarolimek, 2002).

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran di Sekolah Dasar pada umumnya masih menekankan aspek pengetahuan (kognitif) dan kurang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Demikian juga dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, guru merasa sudah melaksanakan pembelajaran ketika menyampaikan materi pembelajaran, tetapi model pembelajarannya kurang melibatkan aktifitas siswa secara optimal sehingga bekal pengetahuan dan keterampilan untuk hidup bermasyarakat kurang memadai (Somantri, 2001). Guru berasumsi bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial adalah pengetahuan yang bisa ditransformasikan secara utuh dari pikiran guru ke benak siswa, sehingga model pembelajaran yang menekankan transformasi aspek pengetahuan mendominasi dalam kegiatan pembelajarannya.

Dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, menuntut kreatifitas guru dalam mengembangkan model pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan salah satu model pembelajaran yang bisa dikembangkan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial untuk menumbuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini berangkat dari dasar pemikiran getting better together yang menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasana yang kondusif pada siswa untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan, sikap dan nilai serta keterampilan sosial yang bermanfaat dalam kehidupan di masyarakat. Model pembelajaran kooperatif ini, siswa bukan hanya belajar dan menerima apa yang disajikan oleh guru tetapi juga belajar dari siswa lain dan sekaligus bisa membelajarkan siswa lainnya.

Proses pembelajaran dengan model kooperatif, mampu merangsang dan mengembangkan potensi siswa secara optimal dalam suasana belajar pada kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 6 siswa (Stahl, 2005). Pada saat siswa belajar dalam kelompok akan berkembang suasana belajar yang terbuka dalam dimensi kesejawatan dan terjadi kolaborasi dalam hubungan pribadi yang saling membutuhkan. Iklim belajar yang berlangsung dalam suasana keterbukaan dan demokratis akan memberi kesempatan kepada siswa secara optimal untuk memperoleh informasi mengenai materi yang dibelajarkan sekaligus melatih sikap dan keterampilan sosialnya sebagai bekal dalam kehidupan di masyarakat (Slavin, 2001). Dalam model ini guru bukan satu-satunya nara sumber tetapi lebih berperan sebagai fasilitator, mediator dan manager pembelajaran. Pada saat belajar dalam kelompok kecil akan tumbuh dan berkembang pola belajar tutor sebaya (peer tutoring) dan belajar secara kooperatif. Selain itu, model pembelajaran kooperatif juga menumbuhkan kesadaran diri dan melatih keterampilan siswa mengenai nilai-nilai sosial, tanggung jawab, kepedulian, keterbukaan, persahabatan dan jiwa demokratis. Kerjasama dan kebersamaan merupakan nilai yang dikembangan dalam model pembelajaran ini, sehingga membantu menumbuhkan keterampilan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Indikator-indikator model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw selaras dengan pengembangkan iklim pembelajaran yang kondusif bagi peningkatan kualitas pembelajaran dan pencapaian tujuan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Kreatifitas penerapan model pembelajaran ini akan membantu pengembangan potensi siswa secara komprehensif, baik pengetahuan, sikap dan terutama keterampilan-keterampilan sosial yang berguna dalam kehidupannya di masyarakat.

Konsep Dasar Model Pembelajaran Kooperatif

Ada beberapa konsep mendasar yang perlu diperhatikan dan diupayakan oleh guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif di kelas. Menurut Stahl (2005) guru harus memperhatikan dasar-dasar konseptual model belajar kooperatif, antara lain:

1. Kejelasan rumusan tujuan pembelajaran

2. Penerimaan yang menyeluruh oleh siswa tentang tujuan belajar

3. Ketergantungan yang bersifat positif

4. Keterbukaan dalam interaksi pembelajaran

5. Tanggung jawab individu

6. Heterogenitas kelompok

7. Sikap dan perilaku sosial yang positif

8. Debriefing ( refleksi dan internalisasi )

9. Kepuasan dalam belajar.

Konsep-konsep di atas dalam pelaksanaannya sering muncul anggapan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif cukup satu atau beberapa konsep dasar saja yang ditargetkan. Anggapan ini berakibat efektifitas dan produktifitas model ini secara akademis kurang optimal. Untuk menerapkan model ini guru perlu memahami dan mampu mengembangkan rancangan pembelajaran yang memungkinkan ter-aplikasinya seluruh konsep dasar dari model ini. Guru perlu mengembangan suasana yang kondusif bagi kelompok belajar dan hubungan-hubungan yang bersifat interpersonal di antara sesama anggota kelompok. Syarat utama yang harus diperhatikan oleh guru adalah bagaimana mengkondisikan siswa untuk bekerjasama sebelum memulai proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif.

Macam-macam Model Pembelajaran kooperatif

Secara struktural, menurut Stahl (2005) alur pembelajaran model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa karakteristik, yang membedakan dengan model belajar lainnya, yaitu:

1. Individual accountability

2. Social skills

3. Positive interdependence

4. Group processing

5. Face-to-face Promotive interaction

Proses pembelajaran model kooperatif mendasarkan perancangan dan pelaksanaannya pada dasar pemikiran filosofis yaitu getting better together, artinya bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dalam belajar hendaknya dilakukan secara bersama-sama. Untuk menciptakan kebersamaan dalam belajar, guru harus merancang program pembelajaran dengan mempertimbangkan aspek kebersamaan sehingga siswa mampu mengkondisikan dan memformulasikan kegiatan belajar mengajar dalam interaksi yang aktif interaktif dalam suasana kebersamaan bukan saja di dalam kelas tetapi juga di luar kelas.

Untuk mengefektifkan pelaksanaan model pembelajaran kooperatif, guru harus memutuskan hal-hal sebagai berikut: (Stahl, 2005)

1. Jumlah dan besarnya kelompok siswa yang akan dibentuk

2. Keanggotaan kelompok siswa harus bersifat hiterogen

3. Materi dan sistem kerja yang akan diterapkan dalam pembelajaran

4. Pengaturan ruangan dan posisi masing-masing kelompok dalam kelas,

5. Pola dan bentuk alat evaluasi yang akan digunakan untuk menilai siswa.

Adapun macam-macam tipe dalam model pembelajaran kooperatif, antara lain sebagai berikut:

1. Student Team Achievement Division (STAD)

2. Jigsaw (tim ahli)

3. Investigasi Kelompok

4. Pendekatan Struktural

Ke-empat tipe tersebut di atas memiliki karakteristik yang mirip tetapi ada perbedaan dalam penerapannya pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Pembelajaran Kooperatif tipe jigsaw (tim ahli) merupakan salah satu tipe yang efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Tipe jigsaw diterapkan dengan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok yang teridiri dari 5 atau 6 siswa. Materi pembelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks, dimana setiap anggota bertanggung jawan untuk mempelajari bagian-bagian tertentu dari pokok-pokok materi. Sebagai contoh topik materi kegiatan perekonomian seorang siswa mempelajari tentang produksi, siswa lain mempelajari konsumsi, siswa lain lagi mempelajari distribusi, dan siswa lainnya lagi mempelajari tentang harga, dan yang terakhir mempelajari keuntungan. Anggota dari berbagai kelompok yang mempelajari topik yang sama berkumpul untuk berdiskusi dan mempelajari topik bagiannya. Kumpulan dari siswa yang mempelajari satu topik yang sama ini dinamakan kelompok ahli (tim ahli). Selanjutnya anggota tim ahli ini kembali ke kelompok asal untuk mengajarkan apa yang telah dipelajari dari kelompok ahli tadi kepada anggota kelompok asal atau kelompknya sendiri. Untuk lebih jelas lihat ilustrasi dalam gambar berikut ini.

Kelompok Asal

(dibentuk dari kelompok asal siswa yang heterogen)Kelompok ahli terdiri dari satu siswa kelompok asal

Pada hakekatnya, pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mengandalkan sesama teman sekelompoknya dalam memahami materi pembelajaran. Siswa bisa belajar dari sesama temannya dalam mempelajari suatu topik kajian. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw siswa yang dikirim ke kelompok ahli, bertanggung jawab untuk mempelajari topik tertentu yang diberikan guru dan sekaligus membelajarkan kepada teman-teman kelompok asalnya. Dengan demikian siswa tersebut memiliki tanggung jawab mempelajari topik tertentu sampai memahami yang kemudian dibelajarkan kepada teman-teman kelompok asalnya.

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih dari sekedar belajar kelompok atau kelompok belajar, karena belajar dalam model kooperatif ini harus ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka antar kelompok dan hubungan-hubungan yang bersifat interdependensi yang efektif di antara anggota kelompok (Slavin,2001). Disamping itu, pola hubungan kerjasama memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat mereka lakukan agar berhasil berdasarkan kemampuan dirinya secara individual dan sumbangsihnya pada kelompoknya. Menurut Stahl (2005) model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menempatkan siswa sebagai bagian penting dari suatu sistem kerjasama dalam mencapai suatu hasil yang optimal dalam belajar.

Jadi model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mengembangkan suasana belajar yang berlangsung dalam interaksi yang saling percaya, terbuka, rileks di antara anggota kelompok dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh dan memberi masukan di antara mereka untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, moral dan keterampilan-keterampilan yang ingin dikembangkan dalam pembelajaran. Pola interaksi yang bersifat terbuka dan saling percaya sangat penting bagi siswa untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar, karena setiap saat mereka bisa melakukan diskusi, saling membagi pengetahuan dan kemampuan serta saling mengoreksi antar sesama dalam belajar.

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

1. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif. Tipe jigsaw atau tim ahli ini bisa menjadi alternatif yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, terutama untuk melatih keterampilan sosial (social skill) dalam upaya mewujudkan tujuan pembelajaran Ilmu Pengatahuan Sosial, yaitu: meningkatkan kemampuan bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara nasional maupun global. Model ini memungkinkan siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam suasana belajar yang terbuka dan demokratis.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial akan menghasilkan beberapa keunggulan dan nilai lebih dalam upaya pengembangan potensi diri siswa, yaitu: ( Stahl, 2005 )

1. Meningkatkan rasa tanggung jawab individu

2. Menumbuhkan ketergantungan yang bersifat positif

3. Memungkinkan terbinanya hubungan yang bersifat terbuka

4. Memungkinkan pengembangan keterampilan-keterampilan sosial secara optimal

5. Melatih siswa untuk hidup bermasyarakat

Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial memfokuskan perhatian pada beberapa aspek, yaitu:

1. Penggabungan penggunaan tipe-tipe pembelajaran secara kelompok, seperti: formal

cooperative learning, informal cooperative learning, dan cooperative learning base on-

group.

2. Komponen-komponen dasar dalam bekerjasama, yaitu: ketergantungan yang positif,

interaksi langsung yang terbuka, kemampuan-kemampuan individual, keterampilan-

keterampilan sosial dan proses kerja kelompok.

3. Menumbuhkan suasana kerjasama rutin dalam kelas, seperti: penerapan model

pembelajaran kooperatif dalam kegiatan pembelajaran.

Disamping mendorong siswa dalam menuju ketercapaian tujuan, penerapan tipe jigsaw juga menumbuhkan kegairahan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Model tersebut menumbuhkan suasana pembelajaran yang dinamis, dimana siswa bukan hanya dijadikan obyek pembelajaran semata-mata melainkan juga sebagai tutor bagi siswa lainnya (Slavin, 2001). Hal ini karena setiap anggota kelompok memiliki dua tanggung jawab dasar, yaitu: (1) mempelajari dan memahami materi atau bahan ajar, (2) membantu teman belajarnya untuk mampu memahami dan mengerti seperti yang ada pada dirinya. Konsep tutor sebaya merupakan salah satu karakteristik tipe jigsaw, yaitu pada saat belajar secara kolaboratif dalam suasana kebersamaan di kelompok kecil, akan tumbuh berkembang interaksi yang positif di antara siswa. Selain itu, siswa bukan hanya berusaha memahami materi tetapi juga dituntut untuk mengembankan potensi dirinya secara optimal untuk kesuksesan kelompoknya.

2. Langkah-langkah Penerapan Tipe Jigsaw

Salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah peran guru dalam merancang struktur kelompok yang akan diterapkan pada siswa. Struktur kelompok yang teridiri dari 5 6 orang anggota tersebut harus bersifat hiterogen, sehingga pengenalan dan pemahaman guru terhadap siswa dan kelasnya sangat menentukan efektifitas dan produktifitas model ini, baik dalam perolehan hasil belajar maupun proses pelatihan dalam pengembangan keterampilan sosial siswa. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu dari bahan tertulis yang diberikan guru. Misalnya dalam mempelajari topik jenis-jenis pekerjaan, seorang siswa mempelajari tentang jasa, siswa lainnya mempelajari produksi, siswa lainnya lagi mempelajari pegawai negeri sipil, sedangkan siswa lainnya lagi mempelajari pegawai swasta. Anggota kelompok lain yang temanya sama berkumpul membentuk kelompok sendiri, sehingga kelompok ini disebut kelompok ahli. Anggota kelompok ahli tersebut setelah kembali kepada kelompok asal menjadi nara sumber untuk tema yang dibahas pada kelompok ahli.

Berdasarkan konsepsi di atas, maka langkah-langkah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, secara umum dapat dijelaskan operasionalnya sebagai berikut: (Slavin, 2001 )

1. Langkah pertama yang dilakukan guru adalah merancang rencana pembelajaran. Pada langkah ini guru mempertimbangkan dan menetapkan target pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Disamping itu, guru juga menetapkan sikap dan keterampilan-keterampilan sosial yang diharapkan dikembangkan dan diperlihatkan oleh siswa selama berlangsungnya pembelajaran. Lalu guru membentuk kelompok ahli yang anggotanya merupakan utusan dari masing-masing kelompok asal. Dalam merancang program, guru harus mengorganisasikan materi dan tugas-tugas siswa dari masing-masing kelompok ahli yang mencerminkan sistem kerja kelompok kecil. Artinya bahwa materi dan tugas itu untuk dibelajarkan pada kelompok ahli dan dikerjakan secara bersama dalam dimensi kerja kelompok ahli. Untuk memulai pembelajaran, guru harus menjelaskan tujuan dan sikap serta keterampilan sosial yang dicapai dan diperlihatkan siswa. Hal ini perlu dikemukakan agar siswa memahami apa yang harus dikerjakan selama proses pembelajaran berlangsung.

2. Langkah kedua, dalam kegiaan pembelajaran di kelas, guru membimbing dan mengarahkan masing-masing kelompok ahli tentang tema tertentu agar ketika kembali kepada kelompok asal, siswa dari kelompok ahli bisa memberi penjelasan pada teman-temannya di kelompok asal. Guru tidak lagi menyampaikan seluruh tema materi secara panjang lebar kepada seluruh kelompok karena pemahaman dan pendalaman materi akan dilakukan anggota tim ahli kepada kelompok asal. Guru hanya menjelaskan pokok-pokok materi agar siswa memiliki wawasan dan orientasi yang memadai tentang materi yang diajarkan. Pada saat siswa belajar secara berkelompok, guru melakukan monitoring dan mengobservasi kegiatan belajar siswa berdasarkan lembar obervasi yang telah dirancang sebelumnya.

3. Langkah ketiga, dalam melakukan observasi terhadap kegiatan siswa, guru membimbing dan mengarahkan siswa baik secara individual maupun kelompok dalam hal memahami materi maupun sikap serta perilaku siswa selama kegiatan belajarnya. Pemberian pujian dan kritik membangun merupakan aspek yang penting untuk dilakukan guru pada saat siswa bekerja dalam kelompok. Ketika siswa terlibat dalam diskusi dalam masing-masing kelompok, guru secara periodik memberikan layanan kepada siswa baik secara individual maupun secara klasikal.

4. Langkah keempat, guru memberikan kesempatan kepada siswa dari masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Pada saat diskusi kelas ini guru bertindak sebagai moderator. Dalam melakukan refleksi diri, guru tetap berperan sebagai mediator dan moderator aktif. Artinya, pengembangan ide, saran dan kritik terhadap proses pembelajaran harus diupayakan berasal dari siswa, kemudian barulah guru melakukan perbaikan dan pengarahan terhadap ide, saran dan kritik yang berkembang.

Dalam model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini, guru harus mampu mengcover kehidupan masyarakat dalam suasana pembelajaran di kelas sehingga siswa mempunyai konsep dan merasakan suasana masyarakat yang sebenarnya. Dengan demikian siswa mampu memahami sedini mungkin realita masyarakat yang akan diterjuni kelak di kemudian hari.

Kesimpulan

Berdasarkan analisis yang dikembangkan dalam tulisan ini, ada beberapa hal yang bisa disimpulkan, antara lain:

  1. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw bisa mempunyai kontribusi yang efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar apabila guru memiliki kreatifitas kinerja yang profesional dalam mengembangkan pembelajaran di kelas.
  2. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam hubungannya dengan pemahaman materi, pengembangan sikap dan keterampilan sosialnya. Peningkatan hasil belajar siswa ini diperoleh dari suasana keterbukaan dan kepedulaian guru dalam mengembangkan iklim pembelajaran demokratis, terbuka, kooperatif dan kolaboratif akademik dalam iklim kemitraan.
  3. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat mendorong terciptanya suasana pembelajaran yang aktif dan kreatif serta interaktif. Dalam model pembelajaran ini ada upaya peningkatan kegairahan, motivasi, dan keakraban antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa lainnya. Peran guru sebagai manager pembelajaran yang demokratis sangat menentukan aktifitas interaksi dan kreatifitas ber-interaktif.

Saran-saran

Beberapa saran yang bisa dikemukakan dalam tulisan ini antara lain sebagai berikut:

  1. Untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar, guru disarankan untuk sesekali menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam melaksanakan kegiatan pembelajarannya , sehingga pencapaian tujuan bisa lebih efektif dan efisien.
  2. Suasana keterbukaan, demokratis dan kolaboratif perlu diciptakan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar, agar pemahaman pengetahuan, sikap dan keterampilan sosial siswa bisa berkembang secara lebih optimal.
  3. Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar, perlu dibangun komunikasi yang aktif dan interaktif, sehingga kegairahan dan motivasi siswa dan guru dalam pembelajaran bisa ditingkatkan.