Teknologi informasi dan komunikasi bagi anak berkebutuhan khusus

Pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus ditekankan pada keterampilan-keterampilan dan penguasaan tehnologi informasi dan komunikasi. Upaya tersebut sebagai langkah untuk meningkatkan kompetensi anak-anak berkebutuhan khusus untuk bisa mandiri dengan mengembangkan potensi yg mereka miliki.

Namun,orientasi pembelajaran anak-anak berkebutuhan khusus untuk lebih menguasai keteramilan-keterampilan dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) itu hingga saat ini masih menghadapi kendala, selain minimnya sarana dan prasarana workshop beragam keterampilan,persoalan yg cukup serius adalah kurangnya guru-guru yg mampu mengerjakan keterampilan-keterampilan yg dikembangkan dalam pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus di seluruh indonesia.

"Pendidikan kita itu di ujungnya atau hasil lulusannya belum memberikan kompetensi-kompetensi yg dibutuhkan untuk hidup atau belum bisa membuat anak mandiri. Karena itu, fokus pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus sejak tahun 2006 mulai diarahkan untuk memperkuat kompetensi-kompetensi yg dibutuhkan dalam hidup. Sekitar 39 jenis keterampilan diajarkan dalam pendidikan khusus," kata Eko Djatmiko Sukarso, Direktur Pembinaan Sekolah Luar Biasa Depdiknas di Jakarta,Senin (26/3/2012).

Menurut Eko,pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus bukan hanya meliputi penyandang cacat yg mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah luar biasa. Pendidikan dengan cara yg khusus juga dibutuhkan untuk melayani anak-anak cerdas istimewa atau berbakat istimewa,anak-anak tenaga kerja indonesia(TKI) di daerah perbatasan dan di luar negeri, anak-anak jalanan, anak-anak dalam lembaga tahanan masyarakat,anak-anak korban bencana alam,anak-anak penderita HIV/AIDS,anak-anak pelacur,anak-anak korban perdagangan orang ,hingga anak-anak suku terasing.

"Bagi anak-anak berkebutuhan khusus yg dilayani lewat pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus, perlu dilakukan terobosan-terobosan yg disesuaikan dengan kondisi mereka. Perlu fleksibel untuk melihat kebutuhan pendidikan yg sesuai dengan kondisi mereka. Dengan penguasaan keterampilan dan TIK, anak-anak tersebut diharapkan bisa lebih mandiri,kata Eko."

Dalam peningkatan Penguasaan TIK bagi anak-anak berkebutuhan khusus ,kata Eko, pihaknya mendapat dukungan dari perusahaan-perusahaan TIK. Salah satunya IBM yg memiliki program memperkenalkan teknologi informasi sejak usia dini.

"Kita harus memberikan kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk menguasai TI yg terus berkembang dan di butuihkan dalam hidup. Bukan saja untuk memudahkan cara belajar, tapi juga untuk membuat anak-anak ini mampu berkompetensi dalam dunia kerja nanti. Perusahaan-perusahaan, seperti yg dilakukan IBM , mesti punya kebijakan untuk juga menerima karyawan berkebutuhan khusus, " Suryo Suwgjnjo,Presiden direktur IBM Indonesia.

Menurut Suryo, dalam sejarah pengenalan Ti pada anak-anak berkebutuhan khusus, tantangan terbesar adalah menyiapkan para guru. "kami bukan hanya menyediakan alat-alat Ti tetapi juga melatih guru dan membutakan kurikulum supaya peralatan TI yg ada disekitar sekolah benar-benar dimanfaatkan optimal, " ujar Suryo.

Layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yg kompleks dan tersebar luas, menurut Eko, belum bisa maksimal. Masih banyak anak-anak usia sekolah yg belum terlayani. Puluhan ribu anak TKI di malaysia dan arab saudi,sebagai contoh, belum mendapat layanan khusus. Belum lagi anak-anak suku terasing yg memiliki keyakinan budaya tersendiri dalam melayani pendidikan.