Jum'at 09 Dec 2011 02:28 PM -

Hambatan Dan Evasi Komunikasi

HAMBATAN KOMUNIKASI

Untuk melakukan komunikasi yang benar-benar efektif, para ahli komunikasi berpendapat tidak mungkin, karena saat komunikasi berlangsung sering tanpa disadari timbul hambatan.

Berikut ini ada beberapa hambatan komunikasi yang patut diperhatikan oleh komunikator :

Hambatan Karena Gangguan ( Noises)
Ada 2 macam Gangguan menurut sifatnya :
1. Gangguan Mekanik/phonetik (mechanical / phonetic noise), yaitu gangguan yang disebabkan saluran komunikasi atau kegaduhan yang bersifat fisik, seperti bunyi-bunyian yang berisik yang menggangu suara komunikator menjadi tidak jelas.

2. Gangguan Semantik ( Semantic Noise), yaitu gangguan yang terjadi berkaitan dengan bahasa/lambang-lambang yang memiliki makna ganda (kata-kata bersayap). Gangguan semantic dipengaruhi oleh pengertian yang konotatif (connotative meaning), yaitu pengertian yang bersifat emosional dan evaluative yang disebabkan latar belakang dan pengalaman seseorang (kalai denotative adalah pengertian sebagaimana yang ada dikamus/dipahami secara umum).

Hambatan Karena Kepentingan (Interest)
Faktor kepentingan juga akan menghambat komunikasi yang efektif, karena factor kepentingan komunikan yang membuat komunikan akan selektif dalam menerima dan menanggapi pesan. Orang akan terangsang oleh pesan yang menjadi kebutuhannya.

Hambatan Karena Motivasi (Motivation)
Faktor motivasi komunikan juga akan mempengaruhi tingkat kepedulian, perhatian dan rangsangan terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikator.

Hambatan karena Prasangka (Prejudice)
Prasangka merupakan hambatan berat bagi proses komunikasi, kalau belum apa-apa komunikan sudah curiga baik terhadap komunikator maupun pesan yang akan disampaikan maka komunikasi tidak berjalan dengan efektif. Hal ini bisa saja karena ethos komunikator dimata komunikan sudah merosot. Dalam prsangka, emosi/perasaan memaksa menarik kesimpulan atas dasar syak wasangka tanpa didasari rasionalitas maupun fakta.

Gangguan yang bersifat mekanik dan semantic adalah hambatan yang sifatnya obyektif, yaitu hambatan yang timbulnya bukan disengaja oleh pihak lain, tetapi keadaan yang tidak menguntungkan jalannya proses komunikasi.

Sedangkan hambatan yang berkaitan dengan kepentingan, motivasi, prasangka (termasuk didalamnya tamak, iri, dengki apatisme) merupakan hambatan yang bersifat subyektif, yaitu ditimbulkan oleh salah satu pihak/komunikan.

Hambatan-hambatan lain bisa juga datang karena :
• Bahasa/Language
• Membela diri/Defensiveness
• Misreading of Body Language
• Emosi/Emotions
• Persepsi/Perception
• Perhatian/Attention
• Perbedaan Budaya/Cultural Differences
• Terlalu banyak informasi/Information Overload

Ada beberapa cara untuk mengatasi hambatan dalam komunikasi (Overcoming Communication Barriers), yaitu melalui umpan balik/feedback-nya ; Informasi yang teratur/Regulate Information; Aktif mendengarkan/Listen Actively ; Bahasa yang sederhana/Simplify Language ; Emosi/Emotions


EVASI KOMUNIKASI
Respon/tanggapan negative komunikan terhadap komunikator maupun pesan yang disampaikan bisa berupa ‘penentangan’ berupa sikap acuh tak acuh, mencemoh bahkan mendiskriditkan pesan.

Gejala mendiskriditkan atau menyesatkan pesan oleh komunikan karena tidak suka terhadap komunikator maupun pesan yang disampaikan dinamakan “Evasion of communication “

E. Cooper dan M. Johada, mengemukakan ada beberapa jenis evasi komunikasi :
Menyesatkan Pengertian,(understanding derailed), yaitu suatu pesan di-interpretasikan sesuai dengan kondisi emosi/perasaannya. Misal, temannya mengajak agar meningkatkan kedisiplinan. Oleh yang menerima pesan di-interpretarsikan temannya itu mau ‘cari muka’.

Mencacatkan Pesan (message made invalid), yaitu pesan yang diterima di-interpretasikan dan dikembangkan tidak sebagaimana mestinya. Misal, si-A, baru ditegur oleh atasannya, si-B yang tidak suka dengan si-A, cerita kepada si-C, bahwa si-A, dimarahi atasannya, si-C yang tidak suka dengan s-A, cerita kepada si-D, kalau si-A, di skors oleh pimpinannya.

Merubah Kerangka Referensi (changing frame of reference), Seseorang dalam menerima pesan, sering dimaknai sesuai dengan kerangka referensinya sendiri, baik kerangka piker maupun kerangka pengalamannya sendiri. Misal, Seseorang yang telah mengenal dan mempunyai pengalaman tentang Wisata Bali, akan berbeda responnya bagi yang belum tahu tentang Wisata Bali, saat disampaikan pesan-pesan tentang Wisata bali.

Sumber