Minggu 18 Mar 2012 06:30 PM -

MMR (Metode Maternal Reflektif) untuk anak Tunarungu

Metode maternal reflektif adalah metode pengajaran bahasa diangkat

dari upaya seorang ibu untuk mengajarkan bahasa pada anaknya yang belum

berbahasa sampai anak dapat menguasai bahasa, yang dilakukan seorang ibu

dengan kemampuannya merefleksikan kemampuan berbahasa.

Menurut Sunarto (2005), MMR adalah suatu pengajaran bahasa yang:

1. Mengikuti cara-cara bagaimana anak dengar sampai pada suatu penguasan

bahasa ibu

2. Bertitik tolak pada minat dan kebutuhan komunikasi anak dan bukan pada

program tentang aturan bahasa yang perlu diajarkan atau di drill (tubian)

3. Menyajikan bahasa yang sewajar mungkin pada anak, baik secara

ekspresif maupun reflektif.

4. Menuntut agar anak secara bertahap dapat menemukan sendiri aturan atau

bentuk bahasa melalui reflektif segala permasalahan bahasanya.

Menurut Rahmat Jatun, (2007: 34) Metode Maternal Reflektif (MMR)

adalah model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berbahasa yang

pada gilirannya akan meningkatkan kemampuan berkomunikasi.

Lani Bunawan, (1994: 40) berpendapat bahwa komunikasi total

adalah:

1. Pengakuan atas hak kaum tunarungu untuk mendapat sepenuhnya dengan

sesame manusia sehingga memperoleh pemahaman yang lebih lengkap

tentang dunia.

2. Penggunaan berbagai cara komunikasi aural, oral dan mahusia yang dapat

dipilih sesuai kebutuhan serta kemampuan perseorangan

3. Suatu falsafah komunikasi dan bukan metode pengajaran

Dengan menghimpun pendapat berbagai ahli, secara garis besar dapat

disimpulkan bahwa MMR adalah :

1. Pengakuan terhadap hak kaum tunarungu untuk mendapat komtal

sepenuhnya dengan sesame manusia sehingga memperoleh pemahaman

yang lebih lengkap tentang dunia.

2. Pengakuan terhadap hak kaum tunarungu agar dapat melakukan

komunikasi dengan sesama manusia melalui cara mereka yang khas

3. Mencakup penggunan berbagai cara komunikasi yang dipilih sesuai

dengan kemampuan dan kebutuhan perorangan

4. Suatu falsafah mengenai komunikasi dan bukan suatu metode pengajaran

c. Prinsip-prinsip Metode Materbal Reflektif

Menurut A Van Uden yang dikutip oleh Maria Susila Yuwati, (2000:

10-11) metode maternal reflektif dalam garis besarnya mencakup beberapa

langkah, yaitu :

1. Percakapan yang sewajarnya dengan menggunakan “metode tangkap” dan

“peran ganda” seperti yang dilakukan oleh ibu terhadap anaknya yang

masih bayi. Semua bentuk bahasa dalam percakapan mempergunakan

kalimat berita, kalimat Tanya, kalimat seru, ungkapan sehari-hari, unsure

perasaan dan lain-lain.23

2. Hal yang penting dalam ungkapan anak dilatih diucapkan “seritmis”

mungkin, ini sangat membantu ingatan anak dan pemahama “struktur

fase”.

3. Anak tuna sangat miskin fungsi ingatannya, maka pelajaran membaca dan

menulis tidak dapat diabaikan.

4. Pelajaran refleksi bahasa hanya mungkin bila diberikan banyak latihan

membaca dan percakapan

Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Latihan

Anak Tunarungu, Rahmat Jatun (2007: 7) memberi petunjuk pelaksanaan

MMR berpegang teguh pada prinsip metode oral maternal reflektif, prinsipprinsip itu adalah sebagai berikut :

1. Secara freseptif maupun secara ekspresif

2. Memperkembangkan penguasaan bahasa secara global intuitif menuju

penguasaan yang bersifat analitik dan sintetik, baik secara lisan maupun

tertulis

Berdasarkan prinsip-prinsip tentang metode maternal reflektif dapat

disimpulkan bahwa percakapan harus memenuhi beberapa ketentuanketentuan sebagai berikut :

1. Percakapan merupakan poros dari pengembangan bahasa bagi anak

tunarungu yang menggunakan metode maternal reflektif

2. Percakapan dari hati ke hati (perdati) adalah spontan, terjadi pada waktu

yang bebas, menekankan pada pertumbuhan empati dalam diri anak yaitu

kepuasan hati anak dalam berbicara

3. Percakapan berjalan lancar sangat ditentukan oleh penggunaan teknik

tanggap dan peran ganda

4. Moto perdati : apa yang ingin kamu katakana katakanlah begini….

5. Perdati bebas percakapan yang spontan antar anak tunarungu dengan guru/

teman mengenai hal yang menarik sedang dialami, terjadi dimana saja,

kapan saja, tentang apa saja.

Ciri-ciri Percakapan yang baik

Menurut Widyatmiko S.A, (2003: 10) percakapan yang baik adalah :

1. Spontan

2. Terjadi pertukaran pikiran/ mengerti

3. Menggunakan segala bentuk bahasa

4. Kesinambungan buah pikiran/ mengerti

5. Topiknya bermacam-macam

6. Bahasa penghayatan

7. Sumbangan guru memancing lewat provokasi