Nurlailiyatus Siyam

S-1 Pendidikan Guru Luar Biasa

Strategi Pengembangan Kemampuan Berbahasa Anak Tunarungu

Strategi komtal adalah urutan optimal pengembangan berbagai komponen komtal (isyarat, bicara, ejaan jari, menulis dan membaca ujaran) untuk penguasaan bahasa anak.

1. Proses penguasaan bahasa dalam komunikasi total

Model penguasaan bahasa anak tunarungu dalam komtal menurut L. Evans adalah sebagai berikut:

  1. Penerapan isyarat

Karena anak tunarungu kehilangan atau berkurang daya pendengarannya maka sebagai gantinya oleh penganut meode oral digunakan daya penglihatan berupa membaca ujaran. Sedangkan konsep komtal didasarkan atas pandangan bahwa membaca ujaran (secara tersendiri) bukanlah merupakan media yang memadai untuk suatu penguasaan bahasa. L. Evans menyatakan bahwa kontak anak tunarungu melalui bahasa akan menjadi sangat miskin dibandingkan dengan anak dengar bila hanya mengandalkan membaca bahasa ujaran yang memiliki berbagai kelemahan.

Oleh karena itu menurut model penguasaan bahasa L.Evans, latihan formal dalam keterampilan baca ujaran perlu ditunda sampai tahap lebih lanjut dalam proses penguasaan bahasa anak dan lebih menganjurkan penerapan isyarat sejak dini yang didasarkan atas beberapa anjuran. Bahasa isyarat merupakan cara tepat guna mengkompensasi kehilangan pendengaran anak tunarungu karena bersifat propioseptif yaitu menimbulkan suatu perasaan pada anak yang mirip dengan aksi atau gerak yang dilambangkan sehingga anak paham terhadap apa yang sedang dibicarakan.

  1. Penerapan bahasa lisan / bicara

Penerapan bahasa isyarat yang sedini mungkin bukan berarti menutup anak terhadap bicara dan baca ujaran. Bahasa isyarat yang terjadi secara alamiah dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan perbendaharaan kata secara lisan sehingga dapat dikatakan bahwa latihan bicara didasarkan atas kemampuan yang telah dicapai sebelumnya dalam berisyarat.

  1. Penerapan ejaan jari

Denton (1970) berpendapat bahwa ejaan jari diterapkan setelah kemampuan berbahasa anak mulai terbentuk melalui isyarat dan bicara karena sifatnya dapat dibandingkan dengan kemampuan menulis. Namun L. Evans berpendapat bahwa sebaiknya anak sejak kecil dibiasakan menggunakan ejaan jari karena mempengaruhi kemampuan menulis yang akan menyusul setelah penguasaan ejaan jari.

  1. Penerapan membaca dan menulis

Tulisan memiliki sifat yang lebih permanen dibandingkan isyarat atau baca ujaran, dan akan terjadi interaksi yang kuat antara kemampuan ejaan jari dan membaca / menulis. Kata inti yang telah dikuasai anak melalui isyarat, lambat laun dikenal dalam bentuk ejaan jari dan hal ini akan memudahkan perkembangan kemampuan menulis. Sebaliknya jika kemampuan menulis anak semakin mantap, anak akan semakin mengenal isyarat bentukan yaitu kata inti yang diberikan imbuhan, sehingga meningkatkan keterampilannya dalam berisyarat secara khusus dan kemampuan bahasa secara umum.

  1. Penerapan baca ujaran

Penerapan kemampuan baca ujaran perlu ditunda sampai anak memiliki taraf penguasaan bahasa tertentu. Kemampuan berbahasa anak yang telah diperoleh melalui isyarat, ejaan jari, membaca dan menulis akan menciptakan kondisi yang lebih baik bagi kemampuan membaca ujaran. Tetapi bukan berarti menutup terhadap anak terhadap lingkungan yang melakukan komunikasi serempak antara bicara / baca ujaran dan isyarat serta ejaan jari.

2. Metodologi pengajaran bahasa

Perbedaan antara kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan komtal akan tampak pada pengajaran bahasa karena merupakan letak inti dari komtal yaitu penerapan kombinasi yang optimal berbagai bentuk bahasa (strukturnya) dan urutan optimal perkembangannya (strateginya).

Berdasarkan penelitian di SLB-B, L. Evans menyarankan urutan perkembangan:

  1. Anak sedini mungkin diperkenalkan dengan isyarat guna menunjang perkembangan bahasa batini dan aspek kognitif. Isyarat yang masih sederhana dan primitif semakin ditingkatkan menjadi isyarat pada taraf lambang dengan aturan baku.
  2. Kemampuan berisyarat makin ditingkatkan dengan penerapan sistem isyarat formal melalui pemanfaatan ejaan jari untuk mengisyaratkan kata-kata fungsi dan gejala tata bahasa lainnya sebagaimana berlaku dalam bahasa lisan masyarakat.
  3. Dalam tahap perkembangan berikutnya penggunaan ejaan jari semakin dapat ditingkatkan sehingga penerapan isyarat semakin mewakili struktur bahasa lisan.
  4. Selanjutnya perkembangan kemampuan bahasa tulisan dan lisan akan menjadi dasar yang baik bagi perkembangan bahasa ujaran.

Kondisi optimal guna pengembangan kemampuan berbahasa anak:

  • Akses terhadap terhadap sejumlah besar bahasa yang harus dapat dipahami anak
  • Masukan bahasa yang diperoleh anak walaupun singkat/sederhana tetapi harus lengkap
  • Guru dan orangtua tidak boleh menyederhanakan bahasa agar anak dapat meningkatkan kemampuannya
  • Bahasa harus diberikan dalam konteks atau situasi komunikasi yang jelas agar anak memahami interaksi yang terjadi
  • Masukan informasi perlu diberikan oleh paling sedikit satu orang dalam lingkungan anak yang menguasai media komunikasi yang digunakan dalam interaksi anak
  • Penyiapan lingkungan yang menunjang dan positif terhadap bahasa yang diungkapkan anak oleh orang dewasa
  • Menggunakan kosa kata atau tata bahasa yang konsisten
  • Bahan / pokok yang dibicarakan menarik minat anak
  • Lingkungan perlu menyediakan umpan balik untuk anak
  • Cara untuk member masukan bahasa yang optimal bagi anak adalah dengan menggunakan pendekatan percakapan