Novita Andriani P.

D-3 Administrasi Negara

MEMAHAMI KELEBIHAN DAN KEKURANGAN KARAKTER MANUSIA

Manusia diciptakan dengan berbagai kelebihan sekaligus kekurangan dengan tujuan untuk saling melengkapi. Secara umum, Taylor Hartman membagi manusia menjadi empat macam karakter, yaitu :

Kelebihan dan Kekurangan Karakter Manusia

(1) Karakter yang didorong oleh kekuasaan (api)

(2) Karakter yang didorong oleh kebajikan (tanah)

(3) Karakter yang didorong oleh kedamaian (air)

(4) Karakter yand didorong oleh kesenangan (udara)

Empat macam motif dasar inilah yang membuat masing masing orang berbeda dengan yang lainnya. Ming, yang bekerja di The saint Organizer, memilih untuk diam ketika dihadapkan pada suatu konfrontasi verbal. Dia membutuhkan banyak waktu untuk berpikir sebelum berbicara dan ketika akhirnya menjawab, arti kalimatnya terkesan mengambang. Sementara itu, Antok, mantan pacar saya penuh dengan misteri, terorganisir dalam bekerja, sedikit dingin, dan mengerikan ketika mencapai batas kesabarannya (x_x). Ada juga Nison, yang begitu mudah tersentuh hatinya ketika menghadapi kejadian yang mengharukan. Meta, rekan kerja di Backpack Marketing Communication, yang sangat berhati-hati dalam melangkah serta mendetail ketika berbicara. Semua teman saya tadi begitu berbeda satu dengan yang lainnya. Bagi saya, mereka semua unik dan mempunyai karakter yang kuat.

KETIKA KARAKTER YANG BERBEDA BEKERJA BERSAMA
Semakin kuat karakter seseorang, akan semakin terlihat kelebihan sekaligus kekurangan mereka. Mereka bisa bekerja dengan baik di suatu pekerjaan namun tampak bodoh ketika melakukan pekerjaan lainnya. Hal ini bisa berakibat fatal jika kita sebagai pemimpin tidak memiliki persepektif yang benar mengenai kekuatan dan kelemahan karakter manusia.

Karena tahu bahwa si Meta mampu mengatur proyek dengan baik, maka atasannya memberikan tugas baru sebagai seorang marketing. Si Bos merasa yakin bahwa Meta bisa bekerja dengan baik di sana, besar sekali harapannya kepada keberhasilan Meta. Selang beberapa bulan kemudian, Si Bos merasa kecewa karena kegagalan Meta. Di lain pihak, Meta merasa telah melakukan pekerjaannya dengan baik dan berusaha sampai melebihi batas kemampuannya. Jadi, di manakah letak kesalahannya ?

Lain Meta, lain si Ming. Ferdi meminta Ming untuk menerjemahkan suatu kontrak ke dalam bahasa Inggris. Ferdi mengirimkan file aslinya supaya diterjemahkan persis seperti aslinya dan segera (besok harus sudah jadi!) Keesokan harinya, Ferdi menerima file dari Ming dan segera menaruhnya kembali dalam map karena Ming mengerjakan melebihi harapan Ferdi. Kontrak tidak hanya diterjemahkan dari bahasa indonesia ke dalam bahasa inggris, tetapi diperbaruhi dan bahasanya diubah menjadi bahasa hukum. Luar biasa bukan ? Tak lama kemudian, Ferdi mengeluh kepada saya mengenai kontrak tersebut. Dia hanya minta diterjemahkan saja oleh Ming. Sementara itu, Ming mengatakan kepada saya bahwa menerjemahkan kontrak dari bahasa Indonesian ke dalam bahasa Inggris itu berbeda sama sekali. Beda bahasa berarti beda budaya serta beda kebiasaan, pendeknya semuanya berbeda, tidak bisa asal menerjemahkan saja. Bisa fatal di belakang hari ! Ming dan Ferdi berusaha melakukan yang terbaik dalam pekerjaannya masing-masing. Semakin fokus mereka bekerja akan semakin besar pula ketidakpuasan mereka atas pekerjaan rekan kerjanya. Jadi, dimanakah letak kesalahannya ?

MEMAHAMI KARAKTER MANUSIA

Cerita di atas bukan fiksi, namun kejadian yang benar-benar saya alami beberapa waktu yang lalu. Saya tersenyum dan sedikit ketawa membayangkan kembali kejadian itu. Di mana lucunya ? Atau lebih tepatnya, apa yang membuat kisah di atas lucu ? Kembali ke pertanyaan dimanakah letak kesalahannya ? Dimanakah kesalahan Meta dengan pak Bosnya ? Apa salah Ming dan Ferdi ? Buat saya, mereka semua tidak melakukan kesalahan apapun, mereka hanya melihat dari sudut pandang yang salah.

Jika mereka semua melihat dari sudut pandang yang salah, mengapa Meta, Pak Bos, Ming, dan Ferdi tidak bisa menyadarinya ? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan kembali pada kelebihan dan kekurangan karakter manusia. Saya akui kalau saya mempunyai kelebihan di bidang perspektif ini, sementara Meta dan lainnya tidak. Bagi saya, melihat suatu permasalahan dari sudut pandang yang benar semudah membalik telapak tangan. Tapi....sulit, benar-benar sulit buat saya untuk berbicara secara detail seperti Meta dan Ming atau memarketing seseorang seperti Ferdi. Ini adalah kekurangan saya sebagai manusia ! Pendeknya, saya seorang manusia yang kuat di suatu bidang dan lemah di bidang lainnya. Hal ini wajar dan manusiawi, namun jarang dipahami oleh beberapa orang.

Kasus Meta dan atasannya lucu jika kita bisa melihat dari perspektif yang benar. Kelebihan karakter Meta pada detailnya, dia mampu menganalisa suatu permasalahan dan menyiapkan penyelesaiannya. Dia adalah seorang perfeksionis, semua tetek-bengek harus dikerjakan dengan benar dan sempurna. Tidak ada ruang untuk blank spot, karena itu Meta lama dalam mengambil keputusan. Di lain pihak, atasannya adalah seorang oportunis, kesempatan harus diambil secepat mungkin dan segala sesuatunya bisa dilakukan dengan sumber daya yang ada, jika bisa dikerjakan dengan baik dalam deadline yang padat maka ambil tawaran itu, jika antara hasil dan waktu saling berhubungan erat kembalikan ke klien. Jangan terlalu ambil pusing dengan detail, deal kontrak terlebih dulu. Masalah perincian bisa menyusul.


Hubungan antara dua karakter yang kuat seringkali rawan konflik

Jadi, Meta dan atasannya memiliki karakter yang jauh berbeda, boleh dikatakan berlawanan. Meminta Meta untuk bekerja seperti atasannya membuatnya tidak nyaman dan tertekan. Namun jika ternyata Meta bisa memenuhi tuntuntan si bos, hati kecilnya akan memberontak, dia kehilangan jati dirinya dan segala kelebihannya. Si Bos mungkin puas dengan keberhasilan Meta, namun sebenarnya dia telah kehilangan karakter terbaik Meta.

Ming dan Ferdi lebih lucu lagi...hahahaha.....Ferdi minta A tapi Ming mengerjakan A-B-C-D. Puaskah Ferdi ? Seharusnya ! Tapi ternyata tidak ? Ming mengerjakan A-B-C-D, padahal hanya diminta untuk mengerjakan A oleh Ferdi. Apakah dia layak menerima pujian ? Seharusnya ! Tapi ternyata tidak ! Memang aneh, tapi inilah dua karakter berbeda yang bekerja bersama. Ketika saya disodori masalah ini, saya cuman merubah tata letak kontrak tersebut. Isi kontrak diletakkan di atas dan diberi nomer satu, termin pembayaran dan pelunasan diberi nomer dua, dan lainnya. Terjemahan Ming tidak saya rubah sama sekali, tulisannya sama persis dengan yang lama. Anehnya, Ferdi langsung bisa mengerti kontrak tersebut (padahal sebelumnya mengatakan sulit untuk memahami tulisan Ming!)

Sekali lagi, dimanakah letak kesalahannya ?

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN KARAKTER MANUSIA

Tidak ada manusia yang sempurna, bisakah anda menerima hal ini ? Lebih lanjut, saya ingin menantang anda untuk hidup dengan mereka. Sekalipun anda menolaknya, anda akan tetap menghadapi masalah ini. Percayalah !

Kekuatan sebuah karakter harus dikembangkan, apakah anda setuju ? Sebaliknya, kelemahan sebuah karakter harus dihilangkan, apakah anda juga setuju ? Saya dengan tegas akan menjawab TIDAK ! Kekurangan manusia tidak bisa dihilangkan. Mengapa ? Karena waktu hidup kita terbatas, merubah kelemahan menjadi kekuatan akan memakan tenaga dan waktu yang besar, dan yang terpenting kita tidak merasa nyaman untuk melakukannya. Akan lebih baik jika waktu dan tenaga yang ada kita gunakan untuk mengembangkan kelebihan kita sebab hasil yang diperoleh jauh lebih memuaskan. Jadi, apakah kita harus membiarkan kelemahan kita begitu saja ? Tentu saja tidak, saya cuma minta anda fokus untuk mengembangkan kekuatan karakter anda daripada memperbaiki kelemahan anda. Biarkan orang lain yang menutupi kelemahan anda. Dan anda sendiri melengkapi kekurangan mereka. Saya rasa inilah salah satu alasan mengapa Tuhan menciptakan manusia itu berbeda.

Saya menulis semua ini sebagai pengantar untuk lebih memahami kelebihan dan kekurangan karakter manusia berdasarkan teori Taylor Hartman. Pada artikel berikutnya saya akan membahas mengenai plus minus masing-masing karakter. Saya ingatkan sekali lagi bahwa kekurangan orang lain bukan untuk dijadikan senjata melawannya melainkan untuk dipahami sebagai identitas seorang manusia yang normal atau boleh juga dimanfaatkan untuk menjadikan diri kita lebih bersinar.