Rabu 11 Apr 2012 08:31 AM -

PENGARUH TEMAN SEBAYA TERHADAP PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN

PENGARUH TEMAN SEBAYA TERHADAP PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN

  1. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pada dasarnya kepribadian tidaklah sama antara orang yang satu dengan yang lain. tidaklah sama antara individu yang satu dengan individu yang lain. Oleh sebab itu sangatlah penting bagi kita untuk mempelajari bentuk-bentuk kepribadian seseorang. Melalui teori pembelajaran kita dapat mempelajari bentuk kepribadian seseorang, baik kepribadian yang bentuknya positif dan atau negatif.

Kepribadian seseorang dapat dibentuk sejak anak masih kecil seperti menjaga perilaku anak agar tidak terbiasa untuk bermalas-malasan. Orang tua hendaknya sejak dini selalu memberikan kebiasaan yang baik kepada anaknya, karena nantinya apa yang dilihat oleh anak akan diikuti termasuk kebiasaan yang jelek. Karena sebagian besar kepribadian anak tebentuk akibat pengaruh lingkungan disekitar anak.

  1. Rumusan Masalah

Dari uraian diatas dapat dijabarkan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:

  • Apakah yang dimaksud dengan kepribadian ?
  • Bagaimana pengaruh teman sebaya terhadap kepribadian anak ?
  • Bagaimana peran guru terhadap kepribadian anak ?

  1. Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Pembaca dapat mengetahui definisi dari kepribadian.
  2. Dengan membaca makalah ini diharapkan pembaca dapat mengetahui bagaimana cara membentuk kepribadian yang baik pada anak sejak dini.
  3. Pembaca dapat mengawasi anak dalam memilih teman yang akan berpengaruh terhadap kepribadian anak.
  4. Dapat memberikan informasi kepada guru tentang perannya dalam kepribadian anak.

  1. KONDISI EMPIRIS DALAM MASYARAKAT

Pada zaman sekarang ini kepribadian sangatlah dipengaruh oleh lingkungan, baik lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, ataupun lingkungan teman sepermainan. Pada makalah ini kita akan membahas tentang bagaimana peran teman sepermainan dalam pembentukan kepribaadian anak.

Teman dapat dikatakan dunia kedua setelah orang tua yang dimana kepada temanlah anak dapat menuangkan segala permasalahan yang ada pada diri anak. Bahkan ada sebagian anak yang lebih suka menceritakan semua permasalahannya hanya pada teman ataupun sahabatnya dibandingkan dengan orang tua sendiri. Sehingga secara tidak langsung dapat mempengaruhi dari kepribadian si anak. Apabila anak mendapatkan teman yang baik maka secara tidak sengaja anak akan mengikuti bentuk kepribadian temannya yang baik akan tetapi sebaliknya apabila anak berteman dengan seorang yang kasar, keras dan nakal maka bersar kemungkinan anak juga akan terjerumus dan membentuk kepribadian yang keras dan kasar juga. Oleh sebab itu hendaknya orang tua harus dapat mengontrol pergaulan yang dilakukan oleh anak agar tidak terbentuk kepribadian yang negatif.

  1. PEMBAHASAN

a) Pengertian Kepribadian

Kata kepribadian berasal dari bahasa italia dan inggris yang berarti persona atau personality yang berarti topeng. Akan tetapi sampai saat ini asal usul kata ini belum diketahui.

Konteks asli dari kepribadian adalah gambaran ekternal dan sosial. Hal ini diilustrasikan berdasarkan peran seseorang yang dimainkannya dalam masyarakat. Pada dasarnya manusialah yang menyerahkan sebuah kepribadian kepada masyarakatnya dan masyarakat akan menilainya sesuai dengan kepribadian terrsebut. Jadi dapat didefinisikan kepribadian adalah himpunan dan ciri-ciri jasmani dan rohani dan kejiwaan yang relatif tetap yang membedakan seseorang dengan orang lain pada sisi dan kondisi yang berbeda-beda.

b) Peran Teman Sepermainan Terhadap Kepribadian Anak

Persahabatan pada saat anak memasuki remaja, perubahan-perubahan pada hakikat persahabatan juga terjadi. Pada umumnya, jumlah waktu yang dihabiskan bersama teman-teman meningkat secara tajam; remaja menghabiskan waktu lebih banyak waktu dengan teman sebaya daripada dengan anggota keluarga atau dengan diri mereka sendiri. Dalam kenyataannya, dibandingkan dengan remaja Jepang dan Rusia yang sebaya, yang menghabiskan waktu dua sampai tiga jam seminggu dengan teman-teman mereka , anak-anak Amerika belasan tahun rata-rata menghabiskan 20 jam per minggu bersama teman-teman mereka di luar waktu sekolah (Czikszentmihalyi & Larson, 1984). Remaja yang memiliki persahabatan yang menyenangkan dan harmonis juga melaporkan tingkat harga-diri yang lebih tinggi, kurang kesepian, memiliki keterampilan –keterampilan sosial yang lebih matang, dan bertindak lebih baik di sekolah daripada remaja yang kurang dalam berteman (Slavin-Williams & Berndt, 1990).

Selama remaja kapasitas untuk saling memahami dan pengetahuan bahwa orang lain merupakan individu unik dengan perasaan-perasaan mereka sendiri juga menyumbang kepada suatu peningkatan dramatis dalam penyikapan-diri, keintiman, dan loyalitas di antara teman (Damon, 1983). Pada saat remaja awal berjuang untuk memantapkan identitas pribadi yang bebas dari identitas orang tua mereka, mereka juga terus berpaling kepada teman sebaya mereka untuk kemanan dan dukungan sosial. Sementara anak-anak usia sekolah dasar melihat kepada orang tua untuk mendapatkan dukungan seperti itu, menjelang kelas satu sekolah menengah pertama, teman-teman dengan jenis kelamin sama dipersepsi sebagai orang tua yang memberikan dukungan, dan menjelang kelas satu sekolah menengah atas mereka dipersepsi sebagai sumber utama dukungan sosial (Furman & Buhrmester, 1992). Hubungan dengan teman sebaya. Di samping dengan teman-teman dekat mereka, kebanyakan remaja juga memberikan nilai tinggi pada kelompok teman sebaya yang lebih besar sebagai sumber ide dan nilai di samping persahabatan dan hiburan. Penyesuaian dengan tekanan teman sebaya paling tinggi terjadi di antara usia 11 smpai 13 tahun, namun menjelang remaja akhir, penyesuaian dengan tekanan teman sebaya telah berkurang kembali ke tingkat-tingkat yang ditemukan pada anak-anak pertengahan (Berndt, 1979).

Hakikat hubungan teman sebaya pada remaja telah tercirikan dari sudut pandang status social dan pergaulan teman sebaya. Status social, atau tingkat –tingkat penerimaan oleh teman sebaya, dikaji menurt kelompok-kelompok status yang sama yang teridentifikasi pada anak-anak pertengahan. Seperti halnya dengan anak-anak berusia sekolah dasar, remaja popular dan diterima-baik cenderung memperagakan keterampilan-keterampilan akademik dan pemecahan konflik positif, perilaku prososial, dan kualitas kepemimpinan, sedangkan anak-anak yang ditolak dan kurang-diterima cenderung memperagakan perilaku agresif dan antisoasial serta kinerja akademik tingkat-tingkat rendah (Parkhurst & Asher, 1992). Anak-anak yang ditolak secara social ini teramati memiliki resiko tinggi dalam masalah-masalah akademik dan social (Parker & Asher, 1987). Sementara itu, dalam studi terkini, Wentzel dan Asher (1995) menemukan bahwa anak-anak sekolah menengah yang ditolak namun patuh secara social tidak memperagakan masalah-masalah yang berkaitan dengan sekolah yang sama seperti teman-teman sebaya mereka yang ditolak dan aagresif. Temuan-temuan ini memberi kesan bahwa penolakan teman sebaya bersama-sama dengan perilaku negative menempatkan anak-anak ini dalam resiko.

Hubungan-hubungan teman sebaya dalam remaja juga telah diteliti dari sudut pandang klik dalam pergaulan remaja terkait (Brown, 1990). Suatu klik merupakan kelompok kecil, kelompok intim yang terbentuk oleh kesamaan kepentingan, kegiatan, dan teman-teman dari anggota-anggotanya. Sebaliknya, suatu pergaulan adalah kelompok lebih besar yang ditetapkan berdasarkan reputasinya. Di sekolah menengah , kesamaan cap yang menandai pergaulan misalnya pencandu obat bius (druggies). Kesetiaan terhadap klik atau pergaulan adalah hal biasa selama remaja namun tidak dengan sendirinya berlaku selamanya atau stabil. Meskipun tekanan untuk menyesuaikan diri dapat amat kuat di dalam kelompok –kelompok ini, hanya remaja yang termotivasi tinggi terpengaruh secara signigfikan oleh norma-norma ini (Brown, 1990).

Masalah-masalah emosional yang berkaitan dengan perkembangan fisik, kognorif, dan sosial dari anak-anak usia kelas-kelas tinggi sekolah dasar adalah hal biasa. Meskipun praremaja pada umumnya bahagia dan optimis, mereka juga mengidap banyak ketakutan, seperti takut tidak diterima dalam kelompok teman sebaya, tidak memiliki teman baik, dihukum oleh orang tua mereka, orang tua mereka bercerai, atau tidak dapat berprestasi baik di sekolah. Emosi-emosi lain dari kelompok ini termasuk marah (dan takut tidak dapat mengendalikan kemarahan), bersalah, frustasi, dan cemburu. Praremaja memerlukan bantuan dalam menyadari bahwa emosi–emosi dan ketakutan-ketakutan itu merupakan bagian alami dari pertumbuhan. Orang dewasa harus mengijinkan mereka berbicara tentang emosi-emosi dan ketakutan-ketakutan ini, meskipun jika pembicaraan mereka tampak tidak realistis di mata orang dewasa. Perasaan bersalah sering muncul apabila ada konflik antara tindakan-tindakan anak-anak (berdasaekan nilai-nilai kelompok teman sebaya) dan nilai-nilai orang tua mereka. Marah adalah emosi biasa yang lain pada usia ini. Kemarahan diperagakan dengan intensitas lebih tinggi dibandingkan dengan banyak emosi-emosi lainnya. Seperti orang tua sering mengatakan kepada praremaja mereka agar mereka seharusnya tidak takut, orang tua juga sering mengatakan kepada mereka hendaknya mereka tidak mudah marah. Kesulitannya,hal ini merupakan harapan yang tidak realistik, meskipun untuk orang dewasa

c) Peran Guru

Kepribadian anak terbentuk oleh pengarahan lingkungan terhadap perilaku anak dari waktu ke waktu secara terus-menerus, termasuk teman sepermainan sebagai lingkungan tempat anak berinteraksi dan mengembangkan kemampuannya. Berikut ini beberapa sifat yang menunjang pembentukan kepribadian menyenangkan dan peran guru di sekolah dalam rangka menumbuhkembangkannya:

  1. Ambisi, dalam pengertian positif adalah kadar kemauan anak untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya. Guru harus membantu anak didik menentukan sasaran keberhasilan sesuai dengan kemampuannya agar anak didik berprestasi tanpa risiko frustrasi.
  2. Asertif, ketegasan atau kemampuan untuk memutuskan atau memilih secara mendiri. Guru harus memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mengekpresikan dirinya dan membuat keputusan. Seperti mengekpresikan hobinya dan memilih ekstrakulikuler yang disenanginya.
  3. Antusias, kepribadian yang selalu bersemangat dalam menuntaskan/menyelesaikan hal-hal yang menjadi keinginannya. Guru harus selalu mengajak anak didik untuk mengamati keberhasilan dan menyoroti semangat juang orang-orang atau teman-temannya yang telah berhasil. Guru juga harus mengusahakan anak didiknya berada di lingkungan yang penuh semangat.
  4. Percaya diri, kepribadian yang mengutamakan kepercayaan terhadap kemampuan diri dan membentuk kemandirian. Guru harus memberikan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan sesuatu dengan kemampuannya sendiri dan selalu memberikan pujian atas keberhasilan atau kemajuan terhadap prestasi yang diraihnya.
  5. Mau bekerja sama. Kepribadian yang mengarah kepada keinginan untuk membangun kerja sama dengan teman-temannya. Guru harus memberikan kesempatan kepada anak didiknya untuk mengerjakan tugas-tugas di sekolah secara berkelompok atau bersama-sama dan tunjukkan penghargaan terhadap hasil kerjanya.
  6. Berbesar hati, kemampuan untuk mengakui kelemahan/kekurangan diri dan bisa memaafkam kesalahan orang lain. Guru harus memberikan contoh dan pengarahan kepada anak didik tentang cara-cara menerima kekalahan/kelemahan diri dan bagaimana cara mengekspresikan kemenangan tanpa merendahkan orang lain.
  7. Kontrol diri. Kemampuan untuk mengontrol diri terhadap situasi atau kondisi yang dialaminya. Guru harus membantu anak didik untuk mengindentifikasi penyebab permasalahan yang dialami anak didik. Memberi contoh dan membimbing anak tersebut untuk mengontrol emosinya.
  8. Tidak mudah putus asa. Pribadi yang gigih dalam berjuang dan berusaha, baik dalam belajar maupun dalam melaksanakan kegiatannya sehari-hari. Menghadapi kesulitan sebagai hal yang harus diselesaikan bukan suatu hal yang harus dihindari. Guru harus mengenalkan cara-cara menghadapi kesulitan walaupun tidak selalu membantu secara total semua kesulitan anak didiknya.
  9. Gembira. Kemampuan untuk selalu menciptakan suasana gembira dalam setiap hal. Guru harus mampu menciptakan dan mengembangkan suasana kegembiraan kepada anak didik dalam kegiatan belajar-mengajar.

10. Humoris. Mampu menciptakan suasana ceria dalam setiap pertemuan dan mampu menyikapi suatu hal dari sisi positifnya. Guru harus selalu mencoba menciptakan suasana ceria dalam setiap pertemuan

11. Menunjukkan simpati. Memupuk kebiasaan untuk merasakan hal-hal yang dirasakan orang lain, mengasah kemampuan melakukan empati terhadap permasalahan sehingga menjadi pribadi yang penuh perhatian terhadap lingkungan dan teman-temannya. Guru harus sering-sering mengajak anak didik berkomunikasi tentang perasaan kita, perasaannya, dan perasaan orang lain. Beri anak didik kesempatan untuk melatih daya imajinasinya dengan demikian anak didik akan mampu membayangkan bagaimana bila mereka berada dalam kondisi orang lain yang kurang beruntung dalam hidupnya sehingga dapat melatih empatinya.

  1. SIMPULAN

Pada dasarnya manusialah yang menyerahkan sebuah kepribadian kepada masyarakatnya dan masyarakat akan menilainya sesuai dengan kepribadian terrsebut. Jadi dapat didefinisikan kepribadian adalah himpunan dan ciri-ciri jasmani dan rohani dan kejiwaan yang relatif tetap yang membedakan seseorang dengan orang lain pada sisi dan kondisi yang berbeda-beda.

Masalah-masalah emosional yang berkaitan dengan perkembangan fisik, kognorif, dan sosial dari anak-anak usia kelas-kelas tinggi sekolah dasar adalah hal biasa. Meskipun praremaja pada umumnya bahagia dan optimis, mereka juga mengidap banyak ketakutan, seperti takut tidak diterima dalam kelompok teman sebaya, tidak memiliki teman baik, dihukum oleh orang tua mereka, orang tua mereka bercerai, atau tidak dapat berprestasi baik di sekolah. Emosi-emosi lain dari kelompok ini termasuk marah (dan takut tidak dapat mengendalikan kemarahan), bersalah, frustasi, dan cemburu. Praremaja memerlukan bantuan dalam menyadari bahwa emosi–emosi dan ketakutan-ketakutan itu merupakan bagian alami dari pertumbuhan. Orang dewasa harus mengijinkan mereka berbicara tentang emosi-emosi dan ketakutan-ketakutan ini, meskipun jika pembicaraan mereka tampak tidak realistis di mata orang dewasa.

DAFTAR PUSTAKA

Alim Sumarno M.pd (blog/ perkembangan sosial anak masa sekolah menengah)

www.google.com // peran keluarga dalam pembentukan kepribadian anak.