Rabu 11 Apr 2012 08:04 AM -

HAKEKAT BIMBINGAN KONSELING ANAK LUAR BIASA

HAKEKAT BIMBINGAN KONSELING ANAK LUAR BIASA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini tidak semua orang mengerti mengapa bimbingan juga diperlukan oleh anak-anak luar biasa, mereka hanya mengetahui bahwa bimbingan konseling hanya diberikan pada anak-anak normal pada umumnya. Oleh karena itu diperlukan pembahasan mengenai bimbingan konseling untuk anak luar biasa. Salah satu tugas pokok sekolah luar biasa adalah membantu siswa untuk mencapai perkembangan yang optimal sesuai dengan tingkat dan jenis keluarbiasaan. Seorang siswa dikatakan berhasil mencapai perkembangan yang optimal apabila ia dapat menggunakan sisa kemampuannya secara optimal sesuai dengan derajat ketunaannya.

Namun kenyataan menunjukkan masih banyaknya kesenjangan dalam mengantarkan anak untuk mencapai perkembangan tersebut. Kesenjangan tersebut akan menyebabkan ketidak berhasilan anak mencapai perkembangan secara optimal. Ketidak berhasilan tersebut tidak semuanya semata-mata karena ketunaan yang disandang siswa, tetapi ada juga karena ketidak mampuan pelaksana pendidikan untuk mendekati secara individu sehingga dapat mengetahui berbagai hambatan-hambatan yang mereka hadapi. Untuk itu mereka perlu diupayakan dan dibantu untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut. Salah satunya dengan diberikan bimbingan konseling.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa yang melatar belakangi pendidikan konseling untuk anak luar biasa?
  2. Apa yang dimaksud bimbingan konseling anak luar biasa?
  3. Apa saja klasifikasi pada bimbingan konseling?
  4. Bagaimana bimbingan konseling ALB sebagai suatu sub sistem?
  5. Apa tujuan, fungsi, dan prinsip bimbingan konseling ALB?

1.3 Tujuan Penulisan

  1. Mengetahui latar belakang pendidikan konseling untuk ALB.
  2. Mengetahui pengertian bimbingan konseling ALB.
  3. Mengetahui klasifikasi bimbingan konseling.
  4. Mengetahui bimbingan konseling sebagai suatu sub sistem.
  5. Mengetahui tujuan, fungsi, dan prinsip bimbingan konseling ALB.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Latar Belakang Bimbingan Konseling ALB

Salah satu tugas pokok sekolah luar biasa adalah membantu siswa untuk mencapai perkembangan yang optimal sesuai dengan tingkat dan jenis keluarbiasaan. Seorang siswa dikatakan berhasil mencapai perkembangan yang optimal apabila ia dapat menggunakan sisa kemampuannya secara optimal sesuai dengan derajat ketunaannya.

Namun kenyataan menunjukkan masih banyaknya kesenjangan dalam mengantarkan anak untuk mencapai perkembangan tersebut. Kesenjangan tersebut akan menyebabkan ketidak berhasilan anak mencapai perkembangan secara optimal. Ketidak berhasilan tersebut tidak semuanya semata-mata karena ketunaan yang disandang siswa, tetapi ada juga karena ketidak mampuan pelaksana pendidikan untuk mendekati secara individu sehingga dapat mengetahui berbagai hambatan-hambatan yang mereka hadapi. Untuk itu mereka perlu diupayakan dan dibantu untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut. Salah satunya dengan diberikan bimbingan konseling.

2.1.1 Latar Belakang Makna dan Fungsi Pendidikan

Kebutuhan layanan bimbingan konseling dalam proses pendidikan berkaitan erat dengan makna dan fungsi pendidikan. Perlunya layanan bimbingan konseling dalam proses pendidikan bila kita memandang bahwa pendidikan merupakan upaya untuk mencapai perwujudan manusia sebagai totalitas kepribadian.

Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar, untuk mengembangkan kepribadian yang berlangsung seumur hidup baik di sekolah maupun luar sekolah. Untuk mencapai pribadi yang berkembang secara menyuluruh, kegiatan pendidikan hendaknya bersifat menyeluruh juga, yaitu tidak hanya kegiatan-kegiatan instruksional dan kegiatan-kegiatan administrasi, tetapi meliputi kegiatan yang menjamin bahwa setiap anak didik secra pribadi mendapat layanan, sehinggan perkembangan yang optimal dapat terwujud. Layanan pribadi tersebut dapat dipenihi melalui bimbingan.

Dalam hal ini bimbingan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pendidikan yaitu membantu setiap pribadi anak didik agar berkembang secara optimal. Dengan demikian maka hasil pendidikan tidak lain adalah tercermin dalam penmpilan yang memadai dan ditunjang oleh penguasaan ketrampilan-ketrampilan. Ketrampilan tersebut antara lain adalah ketrampilan intelektual dan ketrampilan sosial dan ketrampilan sensomotorik.

2.1.2 Latar Belakang Psikologi

Dalam proses pendidikan, siswa sebagai subjek didik, merupakan pribadi-pribadi yang unik dengan segala karakteristiknya. Siswa sebagai individu dinamis yang berada dalam proses perkembangan mempunyai kebutuhan dan dinamika dalam berinteraksi dengan lingkungan. keadaan ini lebih bervariasi lagi bagi anak luar biasa. Anak luar biasa sebagai subjek didik merupakan pribadi-pribadi yang lebih unik baik antar pribadi maupun antar ketunaanya. Karakteristik masing-masing anak dari tinjauan kecacatannya merupakan sumber perbedaan individu yang sangat besar, sehingga senantiasa memerlukan layanan yang berbeda dari masing-masing anak. Masalah-masalah yang melatarbelakangi perlunya bimbingan konseling bagi anak luar biasa adalah sebagai berikut:

  1. Masalah Perkembangan Individu

Sejak individu terbentuk sebagai organisme yaitu saat konsepsi individu terus timbul dan berkembang. Proses perkembangan individu dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari dalam maupun yang berasal dari luar atau lingkungan. dalam hubungannya dengan tingkat perkembangan, individu mempunyai seperangkat tugas perkembangan yaitu penguasaan seperangkat pengetahuan, ketrampilan yang harus dikuasai individu pada satu periode perkembangan tertentu sebagai dasar untuk memasuki periode perkembangan berikutnya.

Dilihat dari proses perkembangan ini anak luar biasa mengalami banyak kendala. Kendala-kendala perkembangan pada anak luar biasa tersebut berakibat menggangu perkembangan anak luar biasa pada setiap periode perkembangannya, yang pada akhirnya beberapa tugas perkembangan tidak dapat dikuasainya. Dalam situasi ini bimbingan diperlukan untuk membantu individu mengoptimalkan penguasaan tugas perkembangan bersama-sama layanan yang lain.

  1. Masalah Perbedaan Individu

Keunikan individu mengandung pengertian bahwa tidak ada dua orang individu yang sama persis didalam aspek-aspek kepribadian, fisik, maupun rohani. Individu yang satu berbeda dengan individu yang lain. Dalam pendidikan luar biasa, masalah perbedaan individu ini justru menjadi titik tolak pelayanan kepada anak. Anak luar biasa lebih tajam dalam perbedaan individunya. Kenyataan ini membawa konsekuensi dalam pelayanan pendidikan yang berorientasi kepada individu. Misalnya, program pembelajaran individual. Dalam layanan individu ini bimbingan diharapkan dapat membantu pedidikan untuk lebih memahami perbedaan masing-masing siswa sehingga program pendidikan yang disusun dengan berorientasi keindividu dapat terwujud dan terlaksana dengan baik.

  1. Masalah Kebutuhan Individu

Kebutuhan merupakan dasar menculnya tingkah laku individu. Kegiatan beajar, pada hakikatnya merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan. Pada anak luar biasa, kebutuhannya sangat bevariasi menurut ketunaanya. Kebutuhan-kebutuhan yang bersifat sosial psikologis sangat diperlukan untuk mengurangi rasa ketunaan yang disandangnya. Untuk itu sering anak luar biasa memerlukan kebutuhan kompensasi untuk mengurangi rasa ketunaanya. Pengenalan terhadap jenis dan tingkat kebutuhan siswa sangat diperlukan bagi usaha membantu mereka. Program bimbingan konseling merupakan salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

  1. Masalah Penyesuaian Diri

Dalam pemenuhan kebutuhan, individu berusaha menyesuaikan kebutuhan dalam dirinya dengan segala kemungkinan yang ada dalam lingkungannya. Proses penyesuaian ini sering menimbulkan masalah, baik bagi individu sendiri maupun bagi lingkungan. pada anak luar biasa, kejadian salah suai ini sering dijumpai. Keadaan ini disebabkan oleh tiga kemungkinan yaitu individu sendiri yang tidak mampu menyesuaikan diri, lingkungan yang tidak mau menerima anak berkelainan, serta antara individu dan lingkungan sama-sama tidak dapat saling menyesuaikan.

Dalam hal ini sekolah hendaknya mampu memberikan bantuan agar setiap individu dapat menyesuaikan dengan baik. Sehubungan dengan hal itu program bimbingan seyogyanya membantu individu agar mampu menyesuaikan diri di lingkungan mereka berada. Untuk itu kesempatan belajar menyesuaikan diri hendaknya diprogramkan dengan baik disekolah, sehinggan masing-masing individu mempunyai pengalaman sukses dalam menyesuaikan diri yang pada giliranya kelak akan terjadi transfer perilaku sukses tersebut kelingkungan lain, sehingga individu terbebas dari perilaku salah suai.

2.1.3 Faktor Sosio-Kultural

Perkembangan masyarakat banyak menimbulkan perubahan dan kemajuan dalam berbagai segi kehidupan masyarakat. Perkembngn ilmu dan teknologi menimbulkan perubahan dalam tata kehidupan sosial, politik, ekonomi, industri, dan sebagainya. keadaan tersebut berpengaruh pula kepada kehidupan individu sebagai pribadi maupun anggoata masyarakat. Bagi individu yang mampu menghadapi berbagai masalah dalam perkembangan masyarakat tersebut, mereka akan survival dan berkembang dengan optimal dan begitu sebaliknya.

Bagi anak luar biasa, usaha untuk dapat survival saja kemungkinan besar penuh hambatan. Apalagi untuk menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat yang lebih cepat, mereka akan mengalami berbagai hambatan yang diakibatkan dari ketunaannya. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dalam masyarakat tidak dapat terlepas dari situasi kehidupan dimasyarakat tersebut. Oleh karena itu, sekolah hendaknya memberikan bantuan secara pribadi kepada siswa agar mampu menghadapi masalah. Siswa hendaknya diberi latihan dalam memecahkan masalah, sehingga kelak mereka mempunyai pengalaman dalam memecahkan maslah yang dihadapinya. Dalam situasi inilah bimbingna konseling akan terasa diperlukan sebagai salah satu bentuk layanan kepada siswa.

2.2 Pengertian Bimbingan Konseling Anak Luar Biasa

Bimbingan konseling berasal dari istilah “guidance and counseling”. Kedua istilah ini mempunyai tekanan pengertian yang berbeda, walaupun keduanya merupakan suatu bentuk bantuan. Untuk itu berikut ini akan diuraikan masing-masing pengertian tersebut.

2.2.1 Bimbingan

Bimbingan merupakan terjemahan dari “guidance”. Sesuai dengan istilahnya, maka bimbingan dapat diartikan sebagai bantuan. Namun untuk smpai pada waktu yang sebenarnya, Bahwa tidak semua bantuan itu bimbingan. Misalnya: bentuk bantuan uang kepada fakir miskin, bantuan yang diberikan kepada anak yang menyebrang dijalan,. Bantuan semacam itu tidak termasuk “bimbingan”. Bentuk bantuan dalam arti “bimbingan” menyebutkan syarat tertentu, pelaksanaan tertentu sesuai dengan dasar, asas, prinsip dan tujuannya.

Untuk memperoleh pengertian yang jelas mengenai pengertian bimbingan, berikut ini dikutip beberapa definisi dari berbagai ahli.

Menurut Year Book Of Education dalam Surya (1988: 31) Guidance is a process of helping individual through their own effort to discover and develop their potentialities both for personal happiness and social use fullness. Bila diterjemahkan kurang lebih, bimbingan adalah suatu proses membantu membantu individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan potensinya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.

Ahli lain menurut Strang dalam Van Hoose dan Pietrofesa (ed.) (1970: 270) bahwa Guidance is prosess, not an end result. Learning how to solve problems is more important than the solution of spesifik problem. Guidance is learning process. Bila diterjemahkan kurang lebih, bimbingan merupakan suatu proses, bukan hasil akhir,. Belajar bagaimana memecahkan problem tertentu. Bagaimana adalah proses bicara.

Menurut Crow & Crow (1960: 4) Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang, baik pria atau wanita yang telah terlatih dengan baik dan memiliki kepribadian dan pendidikan yang memadai kepada seorang individu dari semua usia untuk membuatnya mengatur kegiatan-kegiatan hidupnya sendiri., mengembangkan pandangan hidupnya sendiri, membuat keputusan sendiri, dan mengatur beban sendiri.

Definisi yang lebih mengarah kepada pelaksanaan bimbingan disekolah dikemukakan oleh Mortensen dan Schmuller (1976: 3) yaitu bahwa bimbingan merupakan bagian dari progam pendidikan yang membantu menyediakan kesempatan dan layanan dari staf khusus agar semua siswa dapat mengembangkan kecakapan dan kemampuan mereka sepenuhnya sesuai dengan arti konsep demokratis.

Pengertian lain dikemukakan oleh Aubrey (1977: 150) bimbingan adalah system yang komprehensif tentang fungsi, layanan dan program disekolah direncanakan untuk mempengaruhi perkembangan pribadi dan kompetensi psikologis siswa. Sebagai konsep pendidikan, bimbngan adalah totalitas pengalaman siswa yang direncanakan untuk mencapai perkembangan dan hasil pendidikan (tujuan pendidikan). Sebagai layanan pendidikan, bimbingan seperti halnya mengajar, yang berisi sejumlah cara yang beorientasi kepada siswa untuk mencapai perkembangan dan tujuan pendidikan.

Shertzer &Stone (1984: 40) menyebutkan bahwa bimbingan itu suatu konsep, bimbingan merupakan suatu upaya membantu individu, sebagai suatu konstruk pendidikan, bimbingan mengacu kepada suatu bentuk pengalaman yang dapat membantu siswa untuk memahami dirinya sendiri, dan sebagi suatu program, bimbingan mengacu pada prosedur da proses yang terorganisasi untuk mencapai tujuan pendidikan dan pribadi tertentu.

Dengan membandingkan tentang beberpa devinisi tentang bimbingan, dapat ditarik pokok-pokok pengertian bimbingan sebagai berikut :

(a) Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan yang berkelanjutan. Maksudnya bahwa bimbingan bukan merupakan kegiatan yang sifatnya kebetulan atau incidental, tetapi suatu kegiatan yang direncanakan secara sistematis, terus menerus dan terarah kepada tujuan yang telah ditetapkan. Karena terarah dan terencana, makan bimbingan merupakan bentuk yang memiliki persyaratan tertentu, yaitu prinsip, tujuan & modelnya.

(b) Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan kepada individu. Kata bantuan memberiakb tekanan bahwa bimbingan bukan merupakan merupakan paksaan. Bimbingan tidak memaksa individu untuk mengikuti jalan pikiran atau tujuan yang ditetapkan pembimbing, tetapi menolong individu yang mengarah kearah potensi yang dimilikinya. Yang menentukan tjuan dan pilihan adalah individu. Sedangkan pembimbing hanyalah membantu,. Ini berate bahwa bimbingan merupakan kegiatan yang bersifat kerjasama antara pembimbing dan individu yang dibimbing.

(c) Bimbingan diberikan kepada individu kepada pria atau wanita yang membutuhkannya. Baik anak-anak atau dewasa, baik individu normal atau berkelainan (cacat), baik individu yang mengalami kelainan mental, kelainan fisik, maupun yang salah (tunalaras). Namun demikian ada prioritas dalam memberiakn bantuan.

(d) Bimbingan itu diberikan kepada individu agar individu itu dapat mandiri sesuai dengan potensinya.menetapkan pilihan dan membuat keputusan. Keputusan itu harus dapat dipertanggung jawabkan sendiri. Dalam hal ini kemandirian yang dimaksud adalah bergerak dari kemampuan untuk menguruds diri sendiri smpai mandiri dalam dan dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dengan penuh tanggung jawab.

(e) Tujuan bimbingan adalah agar individu dapat berkembang secara optimal sesuai dengan lingkungannya. Sebagai anggota masyarakat individu hendaknya tidak membebani anggota masyarakat yang lain. Untuk itu individu yang berhasil dalam menyesuaikan dirinya maka individu tersebut akan memperoleh kebahagiaan baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat lingkungannya.

(f) Bimbingan itu diberikan dengan menggunakan bahan- bahan informasi tentang siswa dan informasi tentang lingkungan. Dalam hal ini pemberian bimbingan haus didasarkan pada informasi yang akurat, sehingga hasil bimbingan hendaknya diberikan melalui pendekatan pribadi dengan titik tolah bahwa individu merupakan individu yang unik.

(g) Bimbingan diberikan malalui berbagai media. Media yang dapat digunakan dalam bimbingan antara lain bahan-bahan, alat, latihan, interkasi baik langsung maupun tidak langsung.

(h) Bimbingan diberikan dengan perpedoman kepada norma dan nilai yang dianut. Pelayanan bimbingan tidak boleh menyimpang dari norma atau nilai yang berlaku dimasyarakat sekitarnya.

(i) Bimbingan diberikan oleh tenaga ahli yaitu orang-orang yang memiliki pengetahuan dan terlatih secara baik dalam bidang bimbingan dan konseling . latihan tersebut dapat berjenjang dari yang sederhana sampai yang professional tinggi.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan tentang pengertian bimbingan adalah proses bantuan yang terus menerus dan sistematis yang diberikan oleh pembimbing yaitu orang yang ahli dalam bimbingan individu yang dibimbing yaitu individu yang normal maupun yang berkelainan agar dapat mencapai kemandirian dan dapat memahami dirinya. Menerima dirinya, mengarahkan dirinya sehingga mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian dengan lingkungan yang baik.

2.3 Klasifikasi Bimbingan Konseling

  • Menurut sifatnya :
  1. Bimbingan preventif

Bimbingan yang diberikan kepada individu agar individu kelak tidak mengalami masalah. Missal, bimbingan penggunaan waktu luang dan bimbingan cara belajar efektif

  1. Bimbingan kuratif atau korektif

Bimbingan yang diberikan untuk memecahkan masalah individu

Dalam bibingan ini, individu sudah mengalami masalah . maka ia dibantu bagaimana cara memecahkan masalahnya

  1. Bimbingan preservative

Bimbingan yang diberikan kepada individu yang telah terpecahkan masalahnya agar masalah yang dihadapinya tidak muncul kembali.

  • Menurut tempat
  1. Bimbingan keluarga

Bimbingan yang diberikan kepada individu agar mendapat penyesuaian yang optimal dalam lingkungan keluarga

  1. Bimbingan masyarakat

Bimbingan yang diberikan kepada individu agar mendapat penyesuaian yang optimal dalam lingkungan masyarakat

  1. Bimbingan sekolah

Bimbingan yang diberikan kepada individu agar mendapat penyesuaian yang optimal dalam lingkungan sekolahnya

  1. Bimbingan tempat ibadah

Bimbingan yang diberikan kepada individu agar mendapat penyesuaian yang optimal dalam lingkungan tempat ibadahnya

  1. Bimbingan dimkantin

Bimbingan yang diberikan kepada individu agar mendapat penyesuaian yang optimal di kantin

  1. Bimbingan perpustakaan

Bimbingan yang diberikan kepada individu agar mendapat penyesuaian yang optimal dalam perpustakaan

  1. Bimbingan di bengkel

Bimbingan yang diberikan kepada individu agar mendapat penyesuaian yang optimal di bengkel

  • Menurut problem
  1. Problem kepribadian, yaitu seperti tingkah laku yang salah, konflik, disiplin, dsb
  2. Problem yang berhubungan dengan kemajuan dan orientasi pendidikan, misalnya tidak dapat memilih jenis sekolah, dsb.
  3. Problem yang berhubungan dengan orientasi pekerjaan. Misalnya pekerjaan bertentangan dengan minatnya.
  4. Problem yang berhubungan dengan financial, yaitu antara lain bagaimana mencukupi krbutuhan sekolah
  5. Problem yang berhubungan dengan kesehatan, yaitu bentuk fisik yang tidak menguntungkan.

  • Menurut objek atau saranya
  1. Bimbingan pendidikan

Bentuk bimbingan yang berusaha membantu individu memecahkan masalah pendidikan

  1. Bimbingan social

Bentuk bimbingan yang berusaha membantu individu memecahkan masalah social

  1. Bimbingan pekerjaan

memecahkan masalah pekerjaan

  1. Bimbingan kepribadian

Bentuk bimbingan yang berusaha membantu individu memecahkan masalah kepribadian

2.4 Bimbingan Konseling ALB Sebagai Suatu Sub- Sistem

Sekolah luar biasa seyogyanya memberikan layanan yang optimal dalam bidang :

  1. Pemupukan erasaan ingin memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai penyajian berbagai pelajaran yang relevan, efektif dan efisien
  2. Penyelenggaraan administrasi sekolah yang memadai, yang menunjang terlaksananya pengelolaan proses belajar mengajar secara optimal
  3. Pelayanan bantuan khusus dalam membantu siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya dan kemungkinan adanya kesulitan yang timbul dalam mencapai perkembangan.

Berdasarkan uraian diatas, sekolah sebagai suatu system mempunyai sub-sub system sebagai berikut :

  1. Sub system kurikuler yang wujud nyatanya berupa penyajian mata pelajaran disekolah beserta ekstrakurikulernya
  2. Sub system administrasi dan supervise sekolah yang wujud nyatanya berupa penyelenggaraan administrasi dan supervise sekolah
  3. Sub system bimbingan yang wujud nyatanya pemberian bantuan epada siswa dengan memperhatikan berbagai kemungkinan dan kenyataan dengan adanya masalah yang mungkin timbul dalam bidang yang lain menghambat pencapaian tijian siswa
  4. Sub system kegiatan ko-kurikuler yang wujud nyatanya berupa kegiatan terapi penunjang untuk menduga kemunduran anak luar biasa dalam kecacatanya. Kegiatan ini dapat berupa terapi okupasi, terapi bicara, terapi bermain, fisioterapi, dsb.
  5. Sub system rehabilitasi, yang wujud nyatanya dapat berupa kegiatan untuk memperbaiki dan mengembangkan sisa potensi yang ada, sehingga individu tidak merasakan penderitaan atas kecacatan yang dideritanya.
  6. Sub system kesejahteraan, sebagai wujud nyatanya berupa layanan asrama, layanan pekerjaan terlindung (Sheltered Work Shop)

2.5 Tujuan, Fungsi, Azas dan Prinsip Bimbingan Konseling Anak Luar Biasa

2.5.1 Tujuan Bimbingan Konseling

Secara umum tujuan Bimbingan Konseling bagi Anak Luar biasa disekolah yaitu agar setelah anak mendapat layanan bimbingan konseling anak dapat mencapai penyesuaian dan perkembangan yang optimal sesuai dengan sisa kemampuannya, bakat, dan nilai-nilai yang dimilikinya.

Secara khusus layanan bimbingan konseling di sekolah bertujuan agar anak dapat :

a) Memahami dirinya dengan baik, yaitu mengenal segala kelebihan dan kelemahan yang dimiliki berkenaan dengan bakat, minat, sikap, perasaan, dan kemampuannya.

b) Memahami lingkungan dengan baik, meliputi lingkungan pendidikan di sekolah, lingkungan di asrama, lingkungan pekerjaan dan lingkungan sosial masyarakat.

c) Membuat pilihan dan keputusan yang bijaksana, yaitu pilihan dan keputusan yang didasarkan pada pemahaman yang mendalam tentang diri sendiri, dan lingkungannya.

d) Mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun luar sekolah.

Secara rinci Riccio and Quaranta dalam Pietrofesa dan kawan-kawan (1980:26) nengelompokkan tujuan program bimbingan di sekolah ke dalam 4 layanan, yaitu (a) layanan analisis individu, (b) layanan informasi, (c) layanan konseling, dan (d) layanan penempatan.

Layanan analisis individu bertujuan untuk :

a) Membantu siswa dalam mengidentifikasi kemampuan, bakat dan minat.

b) Membantu siswa dalam memahami prestasi belajarnya dalam hubungannya dengan kemampuan yang dimilikinya.

c) Membantu siswa dalam mengidentifikasi kegemaran kemampuan sosial, minat dan pekerjaan.

d) Membantu siswa dalam merencanakan program pendidikan sekolah.

Layanan informasi bertujuan untuk :

a) Mengembangkan pandangan yang realistik mengenai kesempatan-kesempatan yang ada dan kemungkinan problem yang timbul.

b) Mengembangkan kesadaran tentang kebutuhan dan aktivitas untuk memperoleh informasi yang tepat dalam pekerjaan, pendidikan dan sosial-kepribadian.

Layanan konseling bertujuan untuk :

a) Membantu siswa dalam pemahaman diri, penerimaan diri, dan penggunaan sifat pribadinya.

b) Membantu siswa dalam mengenal kembali aspirasinya dalam hubungannya dengan sifat dan bakatnya.

c) Membantu siswa mengembangkan potensinya secara optimal.

d) Membantu siswa menjadi lebih dapat mengarahkan dirinya.

e) Membantu siswa dalam memahami problemnya dan memecahkan masalah yang ia hadapi.

f) Membantu siswa untuk mengembangkan konsep diri yang positif.

Layanan penempatan bertujuan untuk :

a) Membantu siswa dalam penempatan di kelompok kerja.

b) Membantu siswa dalam penempatan di kelompok bermain.

c) Membantu siswa dalam penempatan di kelompok keterampilan.

d) Membantu siswa dalam penempatan di kelompok kerja terlindung, dll.

2.5.2 Fungsi Bimbingan Konseling

Secara umum fungsi bimbingan konseling dapat dibedakan menjadi lima, yaitu (a) fungsi pencegahan, (b) fungsi penyaluran, (c) fungsi penyesuaian, (d) fungsi perbaikan, (e) fungsi pengembangan ( Mortensen dan Schmuller, 1976 : Moh. Surya, 1988 : 38-42 ).

a) Fungsi Pencegahan

Layanan bimbingan konseling dapat berfungsi pencegahan maksudnya merupakan usaha pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya masalah. Dalam hal ini layanan bimbingan konseling diarahkan agar siswa terhindar dari masalah yang menghambat perkembangannya.

b) Fungsi Penyaluran

Dalam fungsi penyaluran ini layanan bimbingan konseling membantu siswa untuk menyalurkan bakat, minat, kecakapan, dan kebutuhan sesuai dengan keadaan pribadinya.

c) Fungsi Penyesuaian

Yang dimaksud dengan fungsi penyesuaian adalah bahwa layanan bimbingan konseling berfungsi membantu individu dalam terciptanya penyesuaian antara siswa dan lingkungannya. Sasaran dalam fungsi ini adalah terwujudnya kesesuaian antara pribadi siswa dengan lingkungan sekolah, asrama, tempat kerja terlindung (sheltered workshop ), masyarakat sekitar dan keluarga.

d) Fungsi Perbaikan

Fungsi Perbaiakan atau penyembuhan ini merupakan usaha layanan bimbingan setelah fungsi-fungsi tersebut diatas mengalami gangguan. Fungsi perbaikan lebih berkaitan dengan perbaikan sikap individu, sedangkan fungsi penyembuhan lebih berkaitan dengan penyembuhan kondisi fisik individu.

e) Fungsi Pengembangan

Layanan bimbingan konseling tidak sekedar mengatasi masalah yang dialami siswa, melainkan juga berupaya mengembangkan seganap potensi yang dimiliki siswa. Fungsi ini dapat dilakukan dengan menyalurkan bakat, kemampuan dan minat serta cita-cita siswa dengan menyediakan berbagai kegiatan di sekolah.

2.5.3 Azas Bimbingan Konsling

Yang dimaksud dengan azas adalah dasar atau landasan yang mendasari pelaksanaan bimbingan konseling. Atas dasar landasan yang ada, terbentuklah konsep penyelenggaraan bimbingan konseling yang berbeda dengan bantuan-bantuan lainnya. Azas-azas bimbingan konseling menurut Prayitno (1987) adalah : a) azas kerahasiaan, b) azas kesukarelaan, c) azas keterbukaan, d) azas kekinian, e) azas kemandirian, f) azas kegiatan, g) azas kedinamisan, h) azas keterpaduan, i) azas kenormatifan, j) azas keahlian, k) azas alih tangan, l) azas tut wuri handayani.

Berikut ini adalah pengertian masing-masing azas tersebut :

a) Azas kerahasiaan

Penerapan azas kerahasiaan ini menagndung pengertian bahwa segala sesuatu yang dibicarakan dan diperoleh dalam proses bimbingan dan konseling tidak boleh disampaikan pada orang lain. Dengan demikian semua petugas bimbingan harus menjaga kerahasiaan segala keterangan yang diperoleh dari siswa baik yang diperoleh langsung dari siswa sendiri maupun lewat orang lain.

b) Azas kesukarelaan

Azas kesukarelaan ini mengandung pengertian bahwa pelaksanaan bimbingan konseling hendaknya berlangsung atas dasar kesukarelaan dan ketulusan dari kedua belah pihak, baik pihak konselor maupun pihak klien.

c) Azas keterbukaan

Kegiatan bimbingan konseling akan berhasil bila berlangsung dalam suasana yang slaing terbuka. Diharapkan kedua belah pihak saling membuka diri untuk kepentingan pemecahan masalah.

d) Azas kekinian

Bimbingan konseling menangani masalah yang saat ini sedang di alami klien, bukan masalah yang terjadi di masa lalu dan bukan pula pada masa mendatang.

e) Azas kemandirian

Azas kemandirian mengandung makna bahwa layanan bimbingan konseling bertujuan membuat anak menjadi mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.

f) Azas kegiatan

Bimbingan konseling merupakan proses bantuan. Azas kegiatan ini mengharapkan klien aktif melakukan kegiatan-kegiatan tertentu sehubungan dengan proses layanan yang diterima oleh klien.

g) Azas kedinamisan

Layanan bimbingan konseling menghendaki terjadinya perubahan tingkah laku dalam diri klien kea rah yang lebih baik.

h) Azas keterpaduan

Layanan bimbingan konseling hendaknya meliputi seluruh aspek kehidupan fisik dan psio anak. Karena masalah yang dihadapi anak besar kemungkinan disebabkan ketidaksesuaian antara aspek-aspek yang ada dalam diri anak.

i) Azas kenormatifan

Layanan bimbingan konseling dilaksanakan menurut norma-norma yang berlaku, baik norma agama, norma adat, norma hokum, dan kebiasaan sehari-hari.

j) Azas keahlian

Azas keahliann mengandung arti bahwa layanan bimbingan konseling dilakukan oleh petugas yang ahli dalam bidang bimbingan konseling.

k) Azas alih-tangan

Azas alih-tangan mengandung arti abhwa layanan bimbingan konseling harus berdasarkan kemampuan masing-masing petugas, bila petugas tidak mampu mereka harus mengalih tangankan bantuan ke petugas yang lebih mampu.

l) Azas tut wuri handayani

Mengandung maksud bahwa layanan bimbingan konseling berusaha menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan menyenangkan sehingga siswa memperoleh kesempatan untuk mngenal dirinya, lingkungannya serta menerima diri dan lingkungannya secara positif dan dinamis.

2.5.4 Prinsip-Prinsip Bimbingan

Layanan bimbingan konseling hendaknya dilaksanankan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Berkenaan dengan ini banyak ahli yang mengemukakan prinsip-prinsip yang mendasari pelaksanaan bimbingan.

Dugald Arbuckle dalam Pietrofesa (1980:19-21) menyatakan bahwa prinsip pokok bimbingan adalah sebagai berikut :

a) Bimbingan adalah untuk semua individu

Bimbingan dapat diberikan kepada semua individu dari segala umur sesuai dengan jenis dan sifat permasalahan yang dihadapinya.

b) Bimbingan adalah layanan individu

Maksudnya bahwa dalam memberikan layanan bimbingan harus memperhatikan karakteristik individu, kbutuhan individu, karena individu merupakan pribadi yang unik.

c) Bimbingan menekankan pada pandangan yang positif.

Pandangan positif yang dimaksud adalah bahwa individu dengan usahanya sendiri mampu mencukupi perkembangan yang optimal.

d) Bimbingan adalah usaha bersama(“team effort”)

Bimbingan tidak dapat dilakukan sendiri oleh konselor, dan bimbingan bukan semata-mata tanggung jawab konselor.

e) Pengambilan keputusan adalah bagian yang esensial dalam bimbingan

Bimbingan di arahkan membantu individu untuk membuat keputusan yang di ambilnya atas dasar kecakapan dan tanggung jawab sendiri.

f) Bimbingan dapat dilaksanakan di berbagai latar (setting)

Bimbingan dapat diberikan diberbagai “setting” menurut kebutuhan dan permasalahan yang timbul.

Ahli lain yang menyatakan prinsip bimbingan adalah Forwell (1967) dalam Pietrofessa (1980). Forwell membuat prinsip yang spesifik dalam pelaksanaan bimbingan di sekolah. Prinsip tersebut adalah :

a) Bimbingan adalah konsep bantuan yang diberikan kepada seluruh siswa pria maupun wanita.

b) Bimbingan sebagai seperangkat fungsi khusus dari konselor sekolah berusaha membantu kegiatan belajar sehingga siswa mencapai perkembangan yang lebih maju untuk mencapai kematangan.

c) Bimbingan adalah proses utama membantu mencapai tahap perkembangan yang sesuai dan merupakan bentuan yang berkelanjutan yang ditentukan oleh konselor dan siswa.

d) Bimbingan menekankan pada perkembangan potensi individu secara maksimum.

e) Guru kelas merupakan partner kerja dalam proses bimbingan.

f) Petugas sekolah yang lain yaitu doktersekolah, ahli psikologi, pekerja sosial, ahli terapi merupakan mitra kerja konselor sekolah.

g) Administrator sekolah adalah pendukung proses bimbingan.

h) Guru, administrator, petugas bimbingan dan petugas sekolah yang lain bersama-sama menyusun program bimbingan.

i) Bimbingan perkembangan membantu individu dalam mengenal dirinya, memahami dirinya, menerima dirinya dan membanggakan dirinya.

j) Bimbingan perkembangan berorientasi pada tujuan.

k) Bimbingan perkembangan menekankan pembuatan keputusan.

l) Bimbingan perkembangan berorientasi pada masa depan.

m) Bimbingan perkembangan melakukan asesmen secara periodik tentang kemajuan siswa sebagai totalitas pribadi.

n) Bimbingan perkembangan berfokus pada individu dalam masyarakat yang berkembang.

  • o) Bimbingan perkembangan berfokus pada usaha individu.

p) Bimbingan perkembangan berfokus proses penemuan diri

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Secara umum tujuan Bimbingan Konseling bagi Anak Luar biasa disekolah yaitu agar setelah anak mendapat layanan bimbingan konseling anak dapat mencapai penyesuaian dan perkembangan yang optimal sesuai dengan sisa kemampuannya, bakat, dan nilai-nilai yang dimilikinya. Secara umum tujuan tersebut mengarah kepada “self-actualization, selfrealization, fully functioning dan self-acceptance” sesuai dengan variasi perbedaan individu antara sesama anak. Hal ini mengingat setiap siswa memiliki keunikan-keunikan tertentu.

3.2 Saran

Bimbingan konseling harus diberikan pada masing-masing anak dengan tetap mengingat bahwa setiap individu memiliki keunikan tersendiri. Hal tersebut yang membedakan jenis layanan yang diberikan nantinya.