Muhammad Nurrohman Jauhari

S-1 Pendidikan Guru Luar Biasa

Anak Tunarungu

  1. 1. Pengertian Anak Tunarungu

Menurut Somad dan Hernawati (1996 : 27), mengemukakan bahwa pengertian tunarungu adalah:

Seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan karena tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran, sehingga ia tidak dapat menggunakan alat pendengarannya dalam kehidupan sehari – sehari yang membawa dampak terhadap kehidupannya secara kompleks.

Menurut Somantri (2006 :94), mengemukakan bahwa tunarungau adalah “mereka yang kehilangan pendengaran baik sebagian (hard of hearing) maupun seluruhnya (deaf) yang menyebabkan pendengarannya tidak memiliki nilai fungsional di dalam kehidupan sehari-hari”.

Dari batasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian tunarungu adalah seseorang yang mengalami kelainan pendengaran, akibat dari kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau keseluruhan dari organ – organ pendengaran. Sehingga mengakibatkan hambatan dalam perkembangan kemampuan secara optimal dalam kehidupan sehari – hari.

  1. 2. Karakteristik Anak Tunarungu

Jika dibandingkan dengan ketunaan yang lain, ketunarunguan tidak tampak jelas. Karena secara fisik mereka tidak terlihat mengalami kelainan. Tetapi sebagian dampak dari ketunarunguannya, anak tuna rungu memiliki karakteristik khas.

Menurut Somad dan Hernawati (1996 : 34), karakteristik anak tunarungu berdasarkan rangkuman peneliti adalah sebagai berikut :

a) Karakteristik dalam segi Intelegensi

Pada dasarnya kemampuan intelektual anak tunarungu sama seperti anak normal pendengarannya yaitu tinggi, rata-rata, dan rendah. Anak tunarungu akan mempunyai prestasi lebih rendah jika dibandingkan dengan anak normal pendengarannya untuk materi yang diverbalisasikan. Tetapi untuk materi yang tidak diverbalisasikan prestasi anak tunarungu akan seimbang dengan anak mendengar. Rendahnya tingkat prestasi anak tunarungu bukan berasal dari kemapuan intelektualnya yang rendah tetapi pada umumnya disebabkan karena intelegensinya tidak mendapat kesempatan berkembang dengan maksimal.

b) Karakteristik dalam Segi Bahasa dan Bicara

Kemampuan berbicara dan bahasa anak tunarungu berbeda dengan anak yang mendengar, hal ini disebabkan perkembangan bahasa erat kaitannya dengan kemampuan mendengar. Perkembangan bahasa dan bicara pada anak tunarungu sampai masa meraban tidak mengalami hambatan, karena meraba merupakan kegiatan alami pernafasan pada pita suara. Setelah masa meraban perkembangan bahasa dan bicara anak tunrungu terhenti. Pada masa meniru hanya terbatas pada peniruan yang sifatnya visual yaitu gerak dan isyarat. Perkembangan bicara selanjutnya pada anak tunarungu memerlukan pembinaan secara khusus dan intensif, sesuai dengan taraf ketunarunguan dan kemampuan-kemampuan yang lain. Walaupun umpan balik visual perabaan dan gerak itu dilatih sebaik mungkin, ucapan anak tunarungu tidak akan sebaik dengan anak yang mendengar yang mendapatkan umpan balik lewat pendengarannya. Karena itu bicara dan bahasa anak tunarungu pada awalnya susah ditangkap.

Kemampuan membaca, menulis, berbicara dan menyimak merupakan alat komunikasi bahasa. Anak yang mendengar pada umumnya memperoleh kemampuan berbahasa dengan sendirinya bila dibesarkan dalam lingkungan berbahasa. Dan dengan sendirinya anak akan mampu mengetahui makna kata serta aturan atau kaidah bisanya. Karena anak tunarungu tidak bisa mendengar, kemampuan berbahasanya tidak akan berkembang bila tidak dididik atau dilatih secara khusus. Akibat dan ketidakmampuannya di bandingkan dengan anak yang mendengar dengan usia yang sama, maka dalam perkembangannya akan jauh tertinggal.

c) Karakteristik Dalam Segi Emosi dan Sosial

1) Egosentrisme yang melebihi anak normal

Daerah pengamatan anak tunarungu lebih kecil jika dibandingkan dengan anak yang mendengar. Untuk anak tunarungu yang kurang dengar, mereka masih memiliki sebagian kecil dari daya pengamatan melalui pendengaran. Tetapi walaupun demikian mereka hanya mampu menangkap dan memasukkan sebagian kecil “dunia luar” kedalam dirinya. Bagi anak tunarungu dunia menjadi sepi dan amat “kecil”. Egonya semakin menutup dan mempersempit kesadarannya. Anak tunarungu mendapat sebutan “permata” karena pendengarannya tidak dapat menolong mereka dapat belajar bahasa, maka anak tunarungu mempelajari lingkungannya melalui mata. karena besarnya peranan penglihatan dalam pengamatan, maka anak tunarungu mempunyai sifat sangat ingin tahu seolah – olah mereka haus untuk melihat, dan hal itu semakin menambah besar egosentrismenya.

2) Mempunyai perasaan takut akan lingkungan yang lebih luas

Hal ini disebabkan karena sering merasa kurang mengusai keadaan yang diakibatkan oleh pendengaran yang terganggu, sehingga ia sering merasa khawatir dan menimbulkan ketakutan.

3) Ketergantungan terhadap orang lain

Sikap ini merupakan gambaran bahwa mereka sudah putus asa dan selalu mencari bantuan serta bersandar pada orang lain

4) Perhatian mereka lebih sukar dialihkan

Suatu hal yang biasa terjadi pada anak tunarungu ialah menunjukkan keasyikan bila mengerjakan sesuatu, apalagi jika ia menyukai benda atau pandai mengerjakan sesuatu. Kesempitan bahasa menyebabkan kesempitan berfikir seseorang. Alam fikiran mereka selamanya terpaku pada hal-hal yang kongkrit, seluruh perhatiannya tertuju pada sesuatu dan sukar melepaskannya karena mereka tidak mempunyai kemampuan lain. Jadi jalan pikiran anak tunarungu tidak mudah beralih ke hal yang lain yang tidak / belum nyata. Anak tuanarungu sukar di ajak berfikir tentang hal – hal yang belum terjadi artinya anak tunarungu lebih miskin akan fantasi.

5) Mereka umumnya memiliki sifat yang polos, sederhana tanpa banyak masalah

Karena kemiskinan dalam mengekspresikan perasaan dalam berbagai cara, padahal hal tersebut bisa disampaikan secara halus dan tidak perlu dengan cara yang kasar. Anak tunarungu hampir tidak menguasai sesuatu ungkapan dengan baik, sehingga ia akan mengatakan langsung apa yang dimaksudkannya (Somad Permanaria, 1995:36-39). Perasaan anak tunarungu biasanya dalam keadaan ekstrim tanpa banyak nuansa.