Masuk SD Tes Baca Tulis?

Liburan tanggal 22 April 2011 saya pulang kampung mengunjungi orangtua dan keluarga. Kakak saya yang tinggal di kampung dengan bangga bercerita bahwa cucunya baru tes masuk SD dan diterima. Tesnya antara lain berupa membaca dan menulis serta membuka komputer. SD yang dimasuki adalah SD swasta favorit yang lokasinya di kota dan konon siswanya dari berbagai kecamatan.

Apakah tes masuk SD hanya terjadi SD itu? Ternyata tidak. Kata kakak saya dan saudara yang ikut ngobrol saat itu ternyata hampir semua SD menerapkan tes masuk. Bahkan di SD negeri di kampung sayapun juga menerapkan tes masuk. Apa sih isi tesnya? Biasanya baca tulis. Jadi calon anak sudah harus bisa membaca dan menulis saat akan masuk SD.

Saya sungguh risau dengan fenomena itu. Memang saya sudah lama mendengar adanya tes masuk SD. Ketika menjadi kepasa SD Alam Insan Mulia Surabaya (SAIMS) pada tahun 2000-2003 kami juga menggunakan tes masuk SD. Waktu itu tesnya tentang kematangan psikologis, artinya apakah anak memang secara psikologis sudah siap masuk SD. Maklum saat itu orangtua getol memasukkan anaknya ke SAIMS, bahkan saat anaknya belum genap usia 6 tahun. Oleh karena itu ketika mendengar tesnya baca tulis, apalagi membuka komputer saya sungguh kaget dam kemudian risai. Bukan risau anaknya lulus atau tidak lulus, toh masih ada SD lain yang mau menerimanya. Yang saya risaukan adalah dampaknya pada pendidikan di TK. Saya khawatir, adanya tes baca tulis tersebut kemudian mendorong TK memaksa anak-anak belajar membaca dan menulis.

Bahwa membaca itu penting, tentu kita setuju. Bahwa menulis itu penting kita juga setuju, pertanyaannya apakah anak TK sudah harus belajar membaca-menulis. Dan apakah itu merupakan syarat kelulusan TK dan kemudian diteskan saat masuk SD. Bukan di usia TK, pembelajaran sebaiknya diarahkan untuk pengembangan diri, bersosialisasi dan menmbuhkan kreativitas? Anak TK justru lebih penting anak-anak TK didorong mengenal dirinya, lingkungannya, mengembangkan cita-cita dan sebagainya. Intinya mengembangkan kecakapan hidup yang sesuai dengan usianya.

Mengenal orang-orang besar, orang-orang sukses, orang-orang baik, sangat penting bagi anak-anak usia TK, sebagai awal mengembangkan cita-cita. Biasanya dengan mengenal orang-orang besar tersebut, anak mulai mencari identifikasi diri untuk membangun cita-cita. Cita-cita seperi itu, walaupun sangat mungkin pada saatnay berubah, tetap sangat penting. Apalagi jika kemudian anak-anak mulai belajar (sesuai dengan usianya) bagaimana perjalanan hidup tokoh yang diidamkan.

Perlu difahami bahwa menulis dengan huruf-huruf merupakan sesuatu yang baku. Oleh karena itu belajar menulis bagi anak kecil (bukan mengarang) tidak banyak memberikan ruang untuk berimajinasi. Lain dengan mengambar (yang betul caranya), anak berkesempatan menuangkan apa yang ada di pikirannya. Bahkan mendorong anak untuk berimajinasi. Saya khawatir, orang berpandangan belajar menulis analog dengan belajar mengarang. Mengarang memang merupakan wahana mengembangkan imajinasi, tetapi belajar menulis (melukis huruf yang memiliki standar baku) tidak sama. Sekali lagi belajar menulis dalam pengertian melukis huruf dengan standar-standar baku justru tidak sejalan dengan mengarang. Yang sejalan dengan mengarang untuk mengembangkan imajisasi dan kreativitas untuk anak usia TK adala menggambar dan bercerita.

Uraian di atas, bukan berarti anak usia TK dilarang belajar membaca dan menulis. Tentu itu bagus, tetapi jika itu merupakan keinginan anaknya sendiri dan bukan secara sistimatis guru memaksa dan apalagi itu masuk dalam kurikulum. Saya takut jangan-jangan rendahnya kreativitas anak-anak kita salah satunya disebabkan oleh fenomena tes baca-tulis ketika masuk SD. Semoga hal itu menjadi perhatian bagi semua pihak yang peduli kepada pendidikan, khususnya anak usia dini. (muchlas-universitas negeri surabaya)