Senin 28 Nov 2011 11:21 PM -

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF





MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF
A. Tujuan: £ Mendeskripsikanmodel-model pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran di kelas. £ MenyusunRencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan langkah-langkah pembelajaran yangmenerapkan model pembelajaran tertentu. £ MenerapkanRencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan model pembelajaran tertentu padapembelajaran nyata di kelas (realteaching)
B. Pendahuluan DiberlakukannyaKurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut para guru untukmenyelenggarakan pembelajaran yang bervariasi di kelas. Hal ini dapat terciptajika para guru memahami dan menguasai beberapa model pembelajaran baik secarateoritis maupun dari segi praktis. Adanya pembelajaran yang bervariasidiharapkan dapat lebih membangkitkan semangat dan aktivitas siswa dalambelajar, supaya kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum dapat dicapai olehsiswa. Pada modul ini akan diberikan uraian singkat tentang beberapamodel-model pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran di kelas.Model-model pembelajaran tersebut meliputi Pengajaran Langsung (DI= Direct Instruction), PembelajaranKooperatif (cooperative learning) danPengajaran Berdasarkan Masalah (PBI=ProblemBase Instruction) serta inkuiri atau belajar melalui penemuan. Pada modul ini juga diberikan contoh-contoh Rencana PelaksanaanPembelajaran (RPP) yang menerapkan keempat model pembelajaran tersebut di atas.Hal ini dimaksudkan untuk memberi contoh kepada para guru dalam mengembangkanRPP di sekolah masing-masing dengan menerapkan model pembelajaran tertentu.

C. PengajaranLangsung Pengajaran langsung banyak diilhami oleh teori belajar sosialyang juga sering disebut belajar melalui observasi. Arends (1997) menyebutnyasebagai teori pemodelan tingkah laku. Tokoh lain yang menyumbang dasarpengembangan model pengajaran langsung John Dolard dan Neal Miller serta AlbertBandura yang mempercayai bahwa sebagian besar manusia belajar melaluipengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain. Pemikiran mendasar dari model pengajaran langsung adalah bahwasiswa belajar dengan mengamati secara selektif, mengingat dan menirukan tingkahlaku gurunya. Atas dasar pemikirian tersebut hal penting yang harus diingatdalam menerapkan model pengajaran langsung adalah menghindari menyampaikanpengetahuan yang terlalu kompleks. Para pakar pada umumnya membedakan pengetahuan menjadi duayaitu, pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuandeklaratif adalah pengetahuan tentang sesuatu. Sedangkan pengetahuan proseduraladalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Supaya ungkapan tentangpengetahuan deklaratif dan prosedural lebih jelas marilah kita amati sebuahneraca. Neraca apapun pasti tersusun atas bagian-bagian yang menyusunnya.Bagian-bagian tersebut meliputi dasar atau kaki neraca, lengan neraca, piringneraca dan bagian-bagian lain. Masing-masing bagian tersebut mempunyiai fungsitertentu, yang pada akhirnya mendukung fungsi neraca tersebut. Pengetahuantentang bagian-bagian neraca dan fungsi masing-masing bagian tersebut merupakanpengetahuan deklaratif. Neraca digunakan dengan prosedur atau langkah-langkah yangtepat, supaya memberikan hasil yang akurat. Pada langkah awal menggunakanneraca kita harus mengenolkan neraca tersebut, atau menyeimbangkan lenganneraca secara tepat. Langkah selanjutnya adalah meletakkan anak timbangan yangmassanya kita prediksi hampir sama dengan massa benda yang kita timbang.Selanjutnya kita meletakkan benda dan menemukan massa benda yang kita timbangtersebut. Langka-langkah dalam menggunakan neraca tersebut merupakanpengetahuan prosedural. Dalam menerapkan model pengajaran langsung hendaknyakita menyederhanakan baik pengetahuan deklaratif maupun pengetahuan proseduralyang akan kita sampaikan kepada siswa. Pengajaran langsung dicirikan oleh sintaks tertentu. Pada Tabel1 berikut ini dapat dicermati sintaks model pengajaran langsung dan peran gurupada tiap-tiap sintaks



Tabel 1. Sintaks Model Pengajaran Langsung
Fase Peran Guru
1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.
2. Mendemonstrasikan keterampilan (pengetahuan prosedural) atau mempresentasikan pengetahuan (deklaratif)
Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap.
3. Membimbing pelatihan Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan
4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik Guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik.
5. memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.

Uraian singkat tentang pengajaran langsung diharapkan dapatditerapkan dalam mengajarkan prosedur kerja tertentu, langkah-langkahpenggunaan alat tertentu atau materi-materi pelajaran yang sederhana dan tidakterlalu kompleks.
D. Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif adalah suatu pilihandalam melaksanakan pembelajaran. Banyak model pembelajaran kooperatif yangdapat dipilih oleh guru dalam berinteraksi dengan siswa untuk membahas sesuatu konsep/pengetahuan. Untuk memahamitentang konsep dan langkah-langkah pembelajaran kooperatif, dapat dicermatidalam bahasan berikut ini. Penggunaan pendekatan konstruktivistik dalampembelajaran menerapkan pembelajaran kooperatif secara luas. Berdasarkan teoriini bahwa siswa diharapkan menemukan kemudahan dalam memahamikonsep-konsep yang sulit dengan carasaling mendiskusikan masalah tersebut dengan teman belajarnya. Pembelajarankooperatif (cooperative learning)mengacu pada metode pembelajaran yang menempatkan siswa bekerja sama dalamkelompok kecil yang saling membantu dalam belajar (Slavin, 1995). Lebih lanjutdikatakan bahwa banyak terdapat pembelajaran kooperatif yang berbeda satudengan yang lainnya. Kebanyakan melibatkan siswa dalam 1 kelompok yang terdiriatas 4 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda. Pembelajaran kooperatif yangdikemukakan oleh Slavin ini berdasar pada teori Vygotsky, yaitu bahwa anak usia setingkat melakukan kolaborasidengan tingkat kesulitan berkisar dalam Zonaof Proximal Development (ZPD) hasilnya lebih baik dari pada bekerjasendiri-sendiri karena dengan kolaborasi menghasilkan perkembangan kognitif(Moll, 1994). Kolaborasi ini dapat dilakukan dengan teman sebaya (peer colaboration), dan dampak dialogdengan teman sebaya ini adalah terjadinya pertukaran gagasan dengan penuh kerjasama, saling memperoleh kesempatan dan tidak otoriter.
Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Guru perlu memperhatikan langkah-langkah, agardapat memperoleh hasil yang optimal. Arends (1997) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran kooperatif sepertitersaji pada tabel 2. Tabel 2. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Fase Tingkah laku Guru
Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase 2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase 3 Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6 Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
Sumber: Arends (1997) Berbagai macam pembelajarankooperatif telah dikembangkan dan diteliti yang sangat berbeda antara satudengan yang lainnya. Model pembelajaran kooperatif yang paling luas dievaluasi(Slavin, 1995), seperti berikut ini.
1. Student Teams-Achievement Divisions (STAD) StudentTeams-Achievement Divisions (STAD) atau Tim Siswa-Kelompok Prestasi. Dalam STAD(Slavin, 1995), siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4 orang yangmerupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Gurumenyajikan pembelajaran, dan kemudian siswa bekerja di dalam tim mereka untukmemastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut.Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi tesebut, pada waktu kuis inimereka tidak dapat saling membantu. Skor siswa dibandingkan dengan rata-rata skoryang lalu mereka sendiri, dan poin diberikan berdasarkan pada seberapa jauhsiswa dapat menyamai atau melampaui prestasi yang pernah dicapaisebelumnya. Poin tiap anggota tim inidijumlah untuk mendapatkan skor tim, dan tim yang mencapai kriteria tertentudapat diberi sertifikat atau ganjaran yang lain.
2. Team-AssistedIndividualization (TAI) Team-Assisted Individualization (TAI) atauPengajaran individual Dibantu-Tim (Slavin, Leavy, dan Madden, 1985) sama dengan STAD dalam penggunaan tim belajar 4-anggota-berkemampuan-campur dandiberi sertifikat untuk tim yang berkinerja tinggi. Perbedaannya adalah bila STAD menggunakan 1 langkah pengajaran dikelas, TAI menggabungkan pembelajarankooperatif dengan pengajaran individual.
3. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) CooperativeIntegrated Reading and Composition (CIRC) atau Pengajaran Kooperatif Terpadu Membaca danMenulis CIRC (Steven dan Slavin,1995a) adalah suatu program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaranmembaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar. Siswa bekerja dalam1 tim belajar kooperatif beranggotakan 4 orang. Mereka telibat dalamserangkaian kegiatan bersama, termasuk saling membacakan satu dengan yang lain,membuat prediksi tentang bagaimana cerita naratif akan muncul, mereka salingmembuat ikhtisar satu dengan yang lain, menulis tanggapan terhadap cerita, dan berlatih pengejaan sertaperbendaharaan kata. Mereka juga bekerja sama untuk memahami ide pokok dan ketrampilanpemahaman yang lain.
4. Jigsaw Pada Jigsaw (Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, dan Snapp, 1978), siswadikelompokkan ke dalam tim yang beranggotakan 6 orang yang mempelajari materiakademik yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub-bab. Sebagai misal,membahas tentang geografis negara Indonesia dapat dibagi menjadi pengelompokanpulau dan kepulauan di Indonesia, gunung berapi yang masih aktif dan non aktif,sungai terpanjang atau terlebar pada setiap propinsi, laut dan lautan, selat,teluk dan semenanjung yang ada pada setiap pulau. Setiap anggota tim membacasub-bab yang ditugaskan. Kemudian anggota dari tim yang berbeda yang telahmempelajari sub-bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikan sub-bab mereka. Kemudian para siswa itukembali ke tim asal mereka dan bergantian mengajar teman 1 tim mereka tentang sub-bab mereka. Karena satu-satunyacara siswa dapat belajar sub-bab lain selain dari sub-bab yang mereka pelajariadalah dengan mendengarkan dengan sungguh-sungguh teman 1 tim mereka, merekatermotivasi untuk mendukung dan menunjukkan minat terhadap apa yang telahdipelajari teman 1 timnya. Modifikasi dari pendekatan ini disebut Jigsaw II (Slavin, 1994), siswa bekerjasama dalam satu tim beranggotakan 4 atau 5 orang seperti pada STAD. Sebagai gantinya setiap siswa ditugasi mempelajari satu subbab dari sebuah buku, cerita singkat, atau sebuah riwayat hidup. Sementara itu,setiap siswa ditugasi mempelajari suatu topik agar menjadi pakar dalam topikitu. Siswa dengan topik yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untukmendiskusikan topik tersebut. Setelah itu mereka kembali ke tim merekamasing-masing untuk secara bergantian mengajarkan apa yang mereka pelajari kepada teman dalam 1 tim mereka. Siswa itu diberikuis secara individual, yang menghasilkan skor tim seperti pada STAD.
5. Belajar Bersama atau Learning Together. Belajar bersama atau Learning Together adalah suatu model pembelajaran kooperatif yangdikembangkan oleh David Johnson dan Roger Johnson (1994). Model ini melibatkansiswa yang bekerja dalam kelompok-kelompok beranggota 4 atau 5 orang yangheterogen menangani tugas tertentu. Kelompok-kelompok tersebut menyerahkan 1 hasil kelompok. Mereka menerima pujian danganjaran berdasarkan pada hasil kelompok tersebut. 6. Penelitian Kelompok atau Group Investigation. Penelitian Kelompok atau Group Investigation (Sharan dan Sharan, 1992) merupakan suaturencana organisasi kelas umum. Di dalam tatanan ini siswa bekerja dalamkelompok-kelompok kecil menggunakan inkuiri kooperatif (pembelajaran kooperatifbercirikan penemuan), diskusi kelompok, dan perencanaan serta proyekkooperatif. Setiap kelompok terdiri dari 2 sampai 6 anggota yang dibentuknyasendiri. Setelah memilih beberapa sub topik dari sebuah bab yang sedangdipelajari seluruh kelas, kelompok-kelompok itu memecahkan sub topik merekamenjadi tugas-tugas individual dan melaksanakan kegiatan yang diperlukan untukmempersiapkan laporan kelompok. Setiap kelompok kemudian membuat presentasiatau peragaan untuk mengkomunikasikan temuannya kepada seluruh kelas.
7. Student Teams-Achiement Divisions (STAD) Model STAD, dapat dipilih dalam pelaksanaanmodel pembelajaran kooperatif. Metode STADtelah dikembangkan oleh Slavin(1995), siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4 orang yangmerupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku (etnis).Selanjutnya dikatakan guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja didalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasaipelajaran tersebut. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu,pada waktu kuis ini mereka tidak dapat saling membantu. Di bawah ini (Slavin, 1995; Nur dan Wikandari,2000) mengemukakan langkah-kangkah melaksanakan model STAD dalam pembelajaran.
a. Membagi siswa ke dalamkelompok-kelompok Dalam 1 kelompok, masing-masing terdiri atas 4anggota dan jika jumlah siswa tidak habis dibagi 4, dapat pula 1 kelompok 5anggota. Mengurutkan mereka dari atas ke bawah berdasarkan kinerja akademiktertentu (misalnya skor tes atau Indeks Prestasi) dan membagi daftar siswa yangtelah urut itu menjadi 4. Kemudian 1 siswa dari tiap perempatan itu sebagaianggota tiap tim, perlu dipastikan bahwa tim-tim yang terbentuk itu berimbang menurut jenis kelamindan asal suku. b. Guru membuat Lembar Kegiatan siswa(LKS) dan Kuis Pendek Untukkepentingan diskusi kelompok pada mata pelajaran yang telah direncanakandiajarkan, guru membuat LKS dan kuis pendek. Selama belajar kelompok (1 atau 2periode kelas) tugas anggota tim adalah menguasai secara tuntas materi yangdipresentasikan guru dan membantu anggota tim mereka mengusai secara tuntasmateri tersebut. Siswa mendapat LKS atau bahan ajar lain yang dapat merekagunakan untuk latihan ketrampilan yang sedang diajarkan dan menilai diri merekasendiri dan anggota tim mereka. Pada saat guru menjelaskan STAD kepada kelas, guru membacakan tugas-tugas yang harusdikerjakan tim seperti di bawah ini. 1) Meminta anggota tim bekerja samamengatur tempat duduk, dan memberi kesempatan 10 menit kepada siswa untukmemilih nama tim mereka. 2) Guru membagi LKS atau bahan ajarlain (dua set untuk tiap tim). Dalam penelitian ini yang akan dibagikan olehguru untuk dibahas oleh siswa dalam diskusi kelompok adalah modul pembelajarangeografi beserta LKS kelompok. 3) Menganjurkan pada tiap-tiap timbekerja dalam duaan (berpasangan) atau tigaan. Apabila mereka sedangmengerjakan tugas, setiap siswa dalam satu pasangan atau tigaan hendaknyamengerjakan tugas itu dan kemudian saling mengecek pekerjaannya di antara temandalam pasangan atau tigaan itu. Apabila ada siswa yang tidak dapat mengerjakantugas itu, teman 1 tim siswa memilikitanggung jawab untuk menjelaskan tugas itu. 4) Guru menekankan pada siswa bahwamereka tidak boleh mengakhiri kegiatan belajar sampai mereka yakin bahwaseluruh anggota tim mereka dapat menjawab/mengerjakan tugas 100% benar tugaskuis tersebut. 5) Guru memastikan siswa memahamibahwa LKS itu untuk belajar bukan untuk diisi dan dikumpulkan. Oleh karena itupenting bagi siswa pada akhirnya diberikan umpan balik atas tugas yang telahdiselesaikan oleh kelompok. 6) Guru memberi kesempatan pada siswauntuk saling menjelaskan jawaban/pekerjaan mereka. 7) Apabila siswa memiliki pertanyaan,mintalah mereka mengajukan pertanyaan itu kepada 1 timnya, sebelum mengajukankepada guru. 8) Pada saat siswa sedang bekerja dalam tim, sebaiknya guruberkeliling untuk mengamati dari dekat pada tiap tim secara bergantian. 9) Bila tiba saatnya memberikan kuis, gurumembagikan kuis atau bentuk evaluasi lain dan memberikan cukup waktu untukdilesaikan oleh setiap individu. 10) Skor timpada STAD didasarkan pada peningkatanskor anggota tim dibandingkan skor yang lalu mereka sendiri. 11) Setelahguru menghitung skor untuk tiap siswa dan skor tim, maka guru berkewajibanmemberikan pengakuan prestasi tim. Tim yang berprestasi dalam suatu topik ataupokok bahasan yang telah dibelajarkan diberi penghargaan oleh guru. Penghargaanitu dapat berupa pujian atau bentuk yang lain.
E. Pengajaran Berdasarkan Masalah Model pengajaran berdasarkan masalah lebih kompleksdibandingkan dua model yang telah diuraikan sebelumnya. Model pengajaranberdasarkan masalah mempunyai ciri umum yaitu menyajikan kepada siswa tentangmasalah yang autentik dan bermakna yang akan memberi kemudahan kepada parasiswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Model ini juga mempunyaibeberapa ciri khusus yaitu adanya pengajuan pertanyaan atau masalah, berfokuspada keterkaitan antar disiplin ilmu, penyelidikan autentik, menghasilkan produk/karyadan memamerkan produk tersebut serta adanya kerja sama. Masalah autentik adalahmasalah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari dan bermanfaat langsung jikaditemukan penyelesaiannya. Sebagai contoh masalah autentik adalah bagaimanakahkita dapat memperbanyak bibit bunga mawar dalam waktu yang singkat supaya dapatmemenuhi permintaan pasar Apabila pemecahan terhadap masalah ini ditemukan,maka akan memberikan keuntungan secara ekonomis. Masalah seperti bagaimanakahkandungan klorofil daun pada tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh pada tempat yangtingkat intensitas cahanyanya berbeda merupakan masalah akademis yang apabiladitemukan jawabannya belum dapat memberi manfaat praktis secara langsung. Apabila anda melihat seekor ikan yang berenang di akuarium,maka apakah masalah autentik dan masalah akademik yang dapat dirumuskan daripengamatan ikan tersebut. Masalah autentik yang muncul dapat meliputi,bagaimanakah komposisi ransum pakan ikan supaya menghasilkan pertumbuhan badanikan yang maksimal, atau bagaimanakah ransum pakan yang menghasilkan warnatubuh ikan yang lebih cerah sehingga ikan tersebut lebih mahal jika dijual.Adapun masalah akademik yang muncul meliputi bagaimanakah pengaruh suhu airterhadap kecepatan membuka dan menutupnya insang pada ikan, bagaimanakahpengaruh adanya zat polutan terhadap kecepatan motilitas ikan danmasalah-masalah lain yang tidak langsung bermanfaat dalam kehidupansehari-hari. Masalah autentik sangat menarik minat siswa sebagai subyekbelajar, karena terkait dengan kehidupan mereka dan bermanfaat bagi dirinya.Dengan mengangkat masalah-masalah autentik ke dalam kelas, maka pembelajaranakan lebih bermakna. Adapun landasan teoritik dan empirik model pengajaranberdasarkan masalah adalah gagasan dan ide-ide para ahli seperti Dewey dengankelas demokratisnya, Piaget yang berpendapat bahwa adanya rasa ingin tahu padaanak akan memotivasi anak untuk secara aktif membangun tampilan dala otakmereka tentang lingkungan yang mereka hayati, Vygotsky yang merupakan tokoh dalampengembangan konsep konstruktivisme yang merupakan konsep yang dianut dalammodel pengajaran berdasarkan masalah. Model pengajaran berdasarkan masalah juga mempunyai sintaks yangdapat dicermati dalam Tabel 3 berikut ini.
Tabel 3. Sintaks Model Pengajaran Berdasarkan Masalah
Tahap Tingkah Laku Guru
Tahap 1 Orientasi siswa kepada masalah Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa untuk terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.
Tahap 2 Mengorganisasi siswa untuk belajar Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Tahap 3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.



F. Inkuiri atau Belajar Melalui Penemuan Para siswa dapat belajar menggunakan cara berpikir dan carabekerja para ilmuwan dalam menemukan sesuatu. Tokoh-tokoh dalam belajar melaluipenemuan ini antara lain adalah Bruner, yang merupakan pelopor pembelajaranpenemuan. Pembelajaran penemuan merupakan suatu model pengajaran yangmenekankan pentingnya membantu siswa memahami struktur atau ide kunci darisuatu disiplin ilmu, perlunya siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran,dan suatu keyakinan bahwa pembelajaran yang sebenarnya akan terjadi melaluipenemuan pribadi. Tokoh lain adalah Richard Suchman yang mengembangkan suatupendekatan yang disebut latihan inkuiri. Dengan pengajaran ini guru menyajikankepada siswa suatu teka-teki atau kejadian-kejadian yang menimbulkan konflik kognitif dan rasa ingin tahu siswa sehinggamerangsang mereka melakukan penyelidikan. Tabel 4 berikut ini adalah sintaks dan tingkah laku guru dalammodel belajar melalui penemuan. Tabel 4. Sintaks Model Belajar Melalui Penemuan
Tahap Tingkah Laku Guru
Tahap 1 Observasi untuk menemukan masalah Guru menyajikan kejadian-kejadian atau fenomena yang memungkinkan siswa menemukan masalah.
Tahap 2 Merumuskan masalah Guru membimbing siswa merumuskan masalah penelitian berdasarkan kejadian dan fenomena yang disajikannya.
Tahap 3 Mengajukan hipotesis Guru membimbing siswa untuk mengajukan hipotesis terhadap masalah yang telah dirumuskannya.
Tahap 4 Merencanakan pemecahan masalah (melalui eksperimen atau cara lain) Guru membimbing siswa untuk merencanakan peme-cahan masalah, membantu menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dan menyusun prosedur kerja yang tepat.
Tahap 5 Melaksanakan eksperimen (atau cara pemecahan masalah yang lain) Selama siswa bekerja guru membimbing dan memfasilitasi.
Tahap 6 Melakukan pengamatan dan pengumpulan data Guru membantu siswa melakukan pengamatan tentang hal-hal yang penting dan membantu mengumpulkan dan mengorganisasi data.
Tahap 7 Analisis data Guru membantu siswa menganalisis data supaya menemukan sesuatu konsep
Tahap 8 Penarikan kesimpulan atau penemuan Guru membimbing siswa mengambil kesimpulan berdasarkan data dan menemukan sendiri konsep yang ingin ditanamkan.


© 2014 M Saikhul Arif