Senin 28 Nov 2011 10:21 AM -

Merubah pola pikir dan cara pandang masyarakat terhadap sampah Sekitar

Oleh : Andi Aruji

Setiap aktifitas manusia selalu menghasilkan sampah, dan jumlah sampah sejajar dengan besarnya aktifitas manusia. Padahal setiap manusia selalu beraktifitas sebagai upaya untuk peningkatan dan mempertahankan hidup. Sampah merupakan barang dan pengelolaannya kian menjadi masalah yang mendesak di kota-kota di besar Indonesia, termasuk Surabaya. Sampai saat ini masih ada warga Surabaya memperlakukan sampah dengan dibuang begitu saja. Mereka belum memiliki kebiasaan memilah antara sampah kering dan basah. Pemerintah Kota Surabaya dalam konteks ini, sudah berupaya mengajak masyarakat memilah sampah dengan memasang kotak sampah berbeda warna di berbagai sudut jalan. Kampanye pemilahan sampah juga tak kurang dilakukan.

Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo menerima 1.283 ton sampah per hari. 12 persen diantaranya terdiri dari sampah plastik yang tak bisa terurai alam. Jumlah ini menurun dibandingkan periode 2007-2008. Pada kurun waktu itu, sampah yang ditampung TPA Benowo per hari mencapai 1.485 ton, 14 persennya adalah sampah plastik. Jika tidak mengubah teknologi pengelolaan sampahnya, dipastikan dalam 4-5 tahun mendatang, TPA Benowo tidak lagi mampu menampung sampah

Keadaan tersebut membuat kita prihatin, dan berupaya keras untuk segera mencari jalan keluar atas permasalahn sampah dengan mengubah pola pikir dan cara pandang terhadap sampah.

Masih tingginya volume sampah yang ada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo menunjukkan bahwa program-program pengolahan sampah mandiri yang dilaksanakan oleh warga kota masih belum maksimal, masih perlu metode-metode lain yang harus diterapkan. Dalam pelaksanaannya masih belum menyeluruh, masih banyak warga kota yang belum melaksanakan pengolahan sampah mandiri.

Cita-cita kami adalah bagaimana 1.283 ton sampah per hari.itu tidak lagidikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo itu, tetapi sampah direduksidiolahdi wilayah sumber sampah itu sendiri. Sehingga dikemudian hari tidak terdengar lagi ada banjir sampah di TPA, tidak terdengar lagi tercemarnya air tanah oleh air lindi.

Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan langkah-langkah nyata yang bisa diaplikasikan di lapangan. Dengan upaya sebagai berikut :

-Menciptakan lingkungan terkecil, yaitu keluarga untuk bijak dalam penanganan sampah yaitu dengan menerapkan pengolahan sampah mandiri.

-Berperilaku sehat, dengan meminimalisir sumber sampah, sehingga dalam setiap aktifitas tidak menghasilkan sampah.

-Menularkan program pengolahan sampah mandiri yang telah dilaksanakan oleh keluarga tersebut ke lingkungan yang lebih besar yaitu lingkungan RT. Dengan mengajak seluruh warga RT untuk mengubah pola pikir dan cara pandang terhadap sampah dengan contoh-contoh yang dilaksanakan di keluarga.

-Dalam menularkan program pengolahan sampah mandiri melibatkan pengurus RT, sehingga program pengolahan sampah mandiri merupakan program RT yang harus dilaksanakan oleh warga.

-Sosialisasijuga memalui Pengurus RW, dengan membimbing teknis kepada para pengurus RT untuk melaksanakan prngolahan sampah mandiri.

-Mereduksi sampah di sumbernya yaitu di tingkat rumah tangga dengan komposter aerob dan ditingkat RW dengan mendirikan rumah kompos.

Upaya Pencapaian Program

-Melaksanakan program ini di keluarga.

-Memberikan contoh yang ada di keluarga untuk disosialisasikan ke Warga RT.

-Menjadi Pengurus RT, Pengurus RW sehingga sosialisasi ke RT dan RW dimasukkan ke Program RT dan RW.

-Menjadi Pengurus LKMK sehingga program pengolahan sampah mandiri menjadi program LKMK

-Merekrut anak-anak untuk menjadi DBS ataudetektif Buang Sampah tujuannya adalah untuk menanamkan sejak dini pola hidup sehat terhadap anak-anak ( anggota DBS terlampir

-Mendirikan rumah kompos. Tujuannya adalah untuk mereduksi sampah di tempatnya dan sampah tidak akan keluar dari wilayah ini.

Cita-cita

Saya berkeinginan suatu ketika tidak ada lagi TPA-TPA benowo lagi, karena sampah 0 % direduksi di sumber sampah yaitu wilayah terkecil yaitu Keluarga, Wilayah Rt, Wilayah RW.

Bio Data

Nama: Andi Aruji

Alamat: Kebraon Indah Permai Blok G ll Surabaya

Nomor Telepon:

Pengalaman organisasi:

- Sekretaris RT

-Sekretaris RW

-Sekretaris LKMK

-Seksi Lingkungan Hidup LKMK

.

-

Langkah Kecil Ciptakan Perubahan : Percaya Pada

Kekuatan Komunitas

Oleh :

RW 13 Kelurahan Kebraon Kecamatan Karangpilang Surabaya

Sampah dan pengelolaannya kian menjadi masalah yang mendesak di kota-kota di besar Indonesia, termasuk Surabaya. Sampai saat ini masih ada warga Surabaya memperlakukan sampah dengan dibuang begitu saja. Mereka belum memiliki kebiasaan memilah antara sampah kering dan basah. Pemerintah Kota Surabaya dalam konteks ini, sudah berupaya mengajak masyarakat memilah sampah dengan memasang kotak sampah berbeda warna di berbagai sudut jalan. Kampanye pemilahan sampah juga tak kurang dilakukan.

Dalam sehari, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo menerima 1.283 ton sampah per hari. 12 persen diantaranya terdiri dari sampah plastik yang tak bisa terurai alam. Jumlah ini menurun dibandingkan periode 2007-2008. Pada kurun waktu itu, sampah yang ditampung TPA Benowo per hari mencapai 1.485 ton, 14 persennya adalah sampah plastik. Jika tidak mengubah teknologi pengelolaan sampahnya, dipastikan dalam 4-5 tahun mendatang, TPA Benowo tidak lagi mampu menampung sampah dari masyarakat.[1]

Meskipun pemilahan sampah rumah tangga, menjadi tema utama kampanye program green & clean yang dikompetisikan tiap tahun, ternyata program ini tidak bisa menyeluruh dilakukan di semua komunitas penduduk. Beberapa perumahan dengan tingkat kekompakan warga yang tinggilah yang selama ini baru bisa melakukannya. Di kawasan lain terutama kawasan perumahan elite, program itu belum bisa dijalankan. Bahkan, masih ada peserta lomba green and clean yang berorientasi mengejar kemenangan semata. Beragam cara instan dilakukan, menyulap lingkungannya dengan membeli sebanyak mungkin bunga dan tong sampah.

Membangun kesadaran memang butuh waktu. Tidak heran jika sampai saat ini dampak kampanye belum terasa. Bahkan, di area publik seperti terminal bus Purabaya, stasiun kereta api, atau rumah sakit, masih mudah menemukan orang membuang sampah sembarangan. Di jalan-jalan lebih mudah lagi melihat orang membuang sampah dari mobil berharga ratusan juta rupiah.

Upaya Mewujudkan Kampung Berbunga, Hijau, & Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas

Paradigma pengelolaan persampahan telah berubah dari pendekatan hilir (end pipe) menjadi pendekatan sumber. Mengurangi timbulan sampah adalah cara terbaik dalam menangani sampah. Untuk itu, keterlibatan masyarakat menjadi suatu keniscayaan.

Masalah sampah sangat terkait dengan perilaku warga dalam memperlakukan sampah. Dengan demikian dalam pengelolaan sampah perlu dikelola sampah dan warga kota Surabaya. Untuk itulah, penulis mengajukan beberapa pemikiran yang diharapkan bisa mengentaskan persoalan sampah minimal di lingkungan RW. Pemikiran ini sebagian sudah dijalankan di RW 13 Kelurahan Kebraon, dan sebagian lagi baru pada tahap perencanaan.

Pertama, Pembentukan Jaringan Keluarga Peduli Lingkungan, melalui program pemberdayaan perempuan dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Meliputi : Program Keluarga Peduli Lingkungan/KPL, terdiri dari; Pemilahan dan pengomposan sampah skala rumah tangga (aplikasi?modifikasi Takakura home?method & komposter Aerob), Budidaya tanaman obat keluarga (TOGA) skala rumah tangga secara organik, Kampanye keluarga peduli lingkungan (pemasangan stiker/tanda keluarga peduli lingkungan, distribusi booklet/brosur, kunjungan lapangan. Mekanisme KPL, terdiri dari; sosialisasi program, pembentukan tim kader kompos/TKK, Strategi pengembangan KPL berupa Pengomposan berantai/ MLC (Multi Level Composting),

Kedua, Pendirian Wisma Penampungan Sampah Kering (PSK)di Tiap RT. Fungsi PSK ini sebagai tempat pengumpulan dan pemilahan sampah kering dari tiap rumah tangga. Setiap minggu sekali, terdapat petugas di tiap RT yang mengambil sampah kering ini. Di PSK tersebut, sampah kering dipilah sesuai jenisnya, dihitung dan ditimbang serta dicatat dalam buku jurnal. Untuk sampah kering seperti sampah plastik, kertas dan logam perlu pemilahan. Para pengepul membeli sampah plastik botol kemasan/ kg Rp 2.000,- kantong plastik/ kg Rp 400.-, kertas koran serta HVS Rp 1000,-/ kg, kerdus serta jenis kertas lain Rp 700,-. Logam, kaca dibeli dengan harga Rp 500,-/kg.

Ketiga, RencanaPendirian Pusat Pengelolaan Sampah (PPS). RW 13 Kelurahan Kebraon dalam Musrenbang 2010, mengusulkan pemanfaatan Bekas Tanah Kas Desa (BTKD) untuk didirikan bangunan terpadu sebagai Pusat Pengelolaan Sampah (PPS). Di PPS direncanakan pembangunan Depo Pengolahan Sampah (Eco?center), meliputi: Komponen teknis, terdiri dari; area pengomposan (bangunan beratap?tertutup), instalasi pengolahan limbah cair (Anaerobic Baffled Reactor/ABR), instalasi air bersih/sumur bor. Kompos yang dihasilkan di PPS bisa dijual dengan harga lebih murah dari pasaran kepada masyarakat.

Selain itu, PPS juga akan menjadi tempat produksi kerajinan berbahan daur ulang. Material atau bahan dasar pembuatannya, bisa didapatkan dari warga dengan cara membelinya atau sebagai sumbangan warga. PPS juga akan mengadakan kursus pembuatan kerajinan daur ulang dan kerajinan dari bahan eceng gondok (yang mudah didapatkan di sekitar area waduk yang berdekatan lok