Senin 28 Nov 2011 01:21 AM -

Evaluasi kurikulum

Evaluasi dan Kurikulum

Evaluasi kurikulum memegang peranan penting baik dalam penentuan kebijaksanaan pendidikan pada umumnya, maupun pada pengambilan keputusan dalam kurikulum. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijaksanaan pendidikan dan para pengembang kurikulumdalam memilih dan menetapkan kebijaksanaan pengembangan system pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya, dalam memahami dan membantu perkembangan siswa, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat Bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya.
Evaluasi kurikulum sukar dirumuskan secara tegas, hal itu disebabkan beberapa
factor :
1.Evaluasi kurikulum berkenaan dengan fenomena-fenomena yang terus berubah.
2.Objek evaluasi kurikulum adalah sesuatu yang berubah-ubah sesuai dengan konsep kurikulum yang digunakan.
3.Evaluasi kurikulum merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh manusia yang sifatnya juga berubah.
Evaluasi dan kurikulum merupakan dua disiplin yang berdiri sendiri. Ada pihak yang berpendapat bahwa keduanya tidak ada hubungan, tetapi ada pihak lain yang menyatakan keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Pihak yang memandang ada hubungan, hubungan tersebut merupakan hubungan sebab akibat. Perubahan dalam kurikulum berpengaruh pada evaluasi kurikulum, sebaliknya perubahan evaluasi akan memberi warna pada pelaksanaan kurikulum. Hubungan antara evaluasi dengan kurikulum bersifat organis, dan prosesnya beerlangsung evolusioner. Pandangan-pandangan lama yang tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman, secara berangsur-angsur diganti dengan pandangan baru yang lebih sesuai.
R.A Becher, seorang ahli pendidikan dari Universitas Sussex, Inggris menyatakan bahwa : Tiap program pengembangan kurikulum mempunyai style dan karakteristik tertentu, dan evaluasi dari program tersebut akan memperlihatkan style dan karakteristik yang sama pula. Seorang evaluatorakanmenyusun program evaluasi kurikulum sesuai dengan style dan karakteristik kurikulum yang dikembangkannya. Juga terjadi sebaliknya, hasil program evaluasi kurikulum akan mempengaruhi pelaksanaan praktek kurikulum.
Evaluasi merupakan kegiatan yang sangat luas, kompleks dan terus menerus untuk mengetahui proses dan hasil pelaksanaan system pendidikan dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Evaluasi juga meliputi rentangan yang cukup luas, mulai dari yang bersifat sanat informal sampai dengan yang sangat formal. Pada tingkat yang sangat informal evaluasi berbentuk perkiraan, dugaan atau pendapat tentang perubahan-perubahan yang telah dicapai oleh program sekolah. Pada tingakt yang lebih formal evaluasi kurikulum meliputi pengumpulan dan pencatatan data, sedangkan pada tingkat yang sangat formal berbentuk pengukuran berbagai bentuk kemajuan kearah tujuan yang telah ditentukan.
Komponen-komponen kurikulum yang dievaluasi juga sangat luas. Program evaluasi kurikulum bukan hanya mengevaluasi hasil belajar dan proses pembelajarannya, tetapi juga desain dan implementasi kurikulum, kemampuan dan unjuk kerja guru, kemampuan dan kemajuan siwa, sarana dan fasilitas dan sumber-sumer belajar, dan lain-lain.
Adapun pengertian evaluasi kurikulum dapat berbeda-beda sesuai dengan pengertian kurikulum yang berfariasi menurut pakar kurikulum. Oleh karena itu penulis mencoba menjabarkan definisi dari evaluasi dan definisi dari kurikulum secara per kata sehingga lebih mudah untuk memahami evaluasi kurikulum. Pengertian evaluasi menurut joint committee, 1981 ialah penelitian yang sistematik atau yang teratur tentang manfaat atau guna beberpa obyek. Purwanto dan Atwi Suparman, 1999 mendefinisikan evaluasi adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliable untuk membuat keputusan tentang suatu program. Rutman and Mowbray 1983 mendefinisikan evaluasi adalah penggunaan metode ilmiah untuk menilai implementasi dan outcomes suatu program yang berguna untuk proses membuat keputusan. Chelimsky 1989 mendefinisikan evaluasi adalah suatu metode penelitian yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Dari definisi evaluasi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi adalah penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Sedangkan pengertian kurikulum adalah :
a.Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatanpembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu ( Pasal 1 Butir 19 UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional ).
b.Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran serta metode yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran ( keputusan Menteri Kesehatan No: 725/Mekes/SK/V/2003 tentang pedoman penyelenggaraan Pelatihan di bidang Kesehatan )
c.Kurikulum pendidikan tinggi adalahseperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di perguruan tinggi ( Pasal 1 Butir 6 Kepmendinas No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa )
d.Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out- comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disususn secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk pengembangan strategi pembelajaran (Materi didalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan sasaran (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Sedangkan menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekspresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu.saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.

Dari pengertian evaluasi dan kurikulum diatas maka penulis menyimpulkan bahwa pengertian evaluasi kurikulum adalah penelitian yang sistematik tentang manfaat, kesesuaian efektiftas dan efesensi dari kurikulum yang diterapkan. Atau evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliabel untuk membuat keputusan tentang kurikulum yang sedang berjalan atau telah dijalankan.
Secara sederhana evaluasi kurikulum dapat disamakan dengan penelitian karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dametode penelitian.perbedaan antara evaluasi dan penelitian terletak pada tujuannya.evaluasi bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data dan bahan untuk bahan penentuan keputusan mengenai kurikulum apakah akan direfisi atau diganti. Sedangkan penelitian memiliki tujuan yang lebih luas dari evaluasi yaitu mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk menguji teori atau membuat teori baru.

B. Konsep Kurikulum

Kurikulum merupakan daerah study intelek yang sangat luas. Banyak teori tentang kurikulum. Beberapa teori menekankan pada rencana, yang lain pada inovasi, pada dasar filosofis, dan pada konsep-konsep yang diambil dari ilmu perilaku manusia. Ini menunjukkan betapa luasnya teori tentang kurikulum. Secara sederhana teori kurikulum dapat diklasifikasikan atas teori-teori yang lebih menekankan pada isi kurikulum, pada situasi pendidikan serta pada organisasi kurikulum.
Penekanan kepada isi kurikulum. Strategi pengembangan yang menekankan isi merupakan yang paling lama dan banyak dipakai, tetapi terus maendapat penyempurnaan atau pembaharuan ini bermacam-macam. Pertama , karena didorongoleh tuntutan untuk menguatkan kembali nilai-nilai moral dan budaya dari masyarakat. Kedua, karena perubahan dasar filosofis tentang struktur pengetahuan. Ketiga, karena ada tuntutan bahwa kurikulum harus kebih berorentasi pada pekerjaan.
Faktor-faktor tersebut tidak timbul dari atau tidak ada hubungannya dengan sistem institusi persekolahan, tetapi sangat mempengaruhi pengembangan kurikulum. Pengaruhnya terhadap pengembangan kurikulum umpamanya, penguatan kembali nilai-nilai moral dan budayaakan meminya perhatian yang lebih besar pada kumplan ilmu pengetahuan masa lalu, orientasi kepada pekerjaan akan lebih banyak melihat kemasa depan, sedangkan titik tolak pada pandangan filosofis akan lebih menekankan pada disiplin-disiplin keilmuan.
Pengembangan kurikulum yang menekankan isi bersifat material centered. Kurikulum ini memandang murid sebagai penerima resep yang pasif. Secara teoritis kurikulum yang menekankan isi dapat diukur, mempunyai tujuan yang apabila telah ditransfer pada anak dapat dikuasai oleh anak. Ini merupakan engineering approach. Anak dianggap bahan kasar yang tak berdaya, bersama dengan teman-temannya yang lain dicetak melalui blue print masyarakat.
Penekanan pada situasi pendidikan. Tipe kurikulum ini menekankan pada masalah dimana ( where ), bersifat khusus, sangat memperhatikan dan disesuaikan dengan lingkungannya. Tipe ini akan menghasilkan kurikulum berdasarkan situasi-situasi lingkungan, seperti kurikulum pedesaan, kurikulum masyarakat nelayan dll.




C. Pentingnya Evaluasi Kurikulum

Penulis setuju dengan pentingnya dilakukan evaluasi kurikulum. Evaluasi kurikulum dapat menyajikan informasi mengenai kesesuaian, efektifitas dan efesiensi kurikulum tersebut terhadap tujuan yang ingin dicapai dan penggunaan sumber daya, yang mana informasi ini sangat berguna sebagai bahan pembuat keputusan apakah kurikulum masih perlu dijalankan tetapi perlu revisi atau kurikulum tersebut harus diganti dengan kurikulum yang baru. Evaluasi kurikulum juga penting dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan perkembanganilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar berubah.
Evaluasi kurikulum dapat menyajikan bahan informasi mengenai area-area kelemahan kurikulum, sehingga hasil evaluasi dapat dilakukan proses perbaikan menuju yang lebih baik. Evaluasi ini dikenal dengan evaluasi formatif. Evaluasi ini biasanya dilakukan waktu proses berjalan. Evaluasi kurikulum juga dapat menilai kebaikan kurikulum apakah kurikulum tersebut masih dilaksanakan atau tidak, yang dikenal dengan evaluasi sumatif..

D. Masalah Dalam Evaluasi kurikulum

Norman dan Schmdt 2002 mengemukakan ada beberapa kesulitan dalam penerapan evaluasi kurikulum, yaitu :
1.Kesulitan dalam pengukuran
2.Kesulitan dalam penerapan randomisasi dan double blind
3.Kesulitan dalam menstandartkan intervensi dalam pendidikan
4.Pengaruh intervensi dalam pendidikan mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor lain sehingga pengaruh intervensi tersebut seakan-akan lemah
Adapun hasil analisa masalah yang dihadapi dalam melakukan valuasi kurikulum, yaitu :
1.Dasar teori yang digunakan dalam evaluasi kurikulum lemah. Dasar teori yang melatarbelakangi lemah akan mempengaruhi evaluasi kurikulum tersebut. Ketidakcukupan teori dalam mendukung penjelasan terhadap hasil intervensi suatu kurikulum yang dievaluasi akan membuat penelitian (evaluasi kurikulum) tidak baik. Teori akan membantu memahami kompleksitas lingkungan pendidikan yang akan dievaluasi.
2.Intervensi pendidikan yang akan dilakukan tidak memungkinkan dilakukan Blinded dalam penelitian pendidikan khususnyapenelitian evaluasi kurikulum, ditemukan kesulitn dalam menerapkan metode Blinded dalam melakukan intervensi pendidikan. Dengan tidak adanya Blinded maka subjek penelitian mengetahui bahwa mereka mendapatintervensi atau perlakuan sehingga mereka akan melakukan dengan serius atau sungguh-sungguh. Hal ini tentu saja dapat mengakibatkan bias dalam penelitian evaluasi kurikulum.
3.Kesukitan dalam randomisasi, kesulitan melakukan penelitian evaluasi kurikulum dengan metoderandomisasi dapat disebabkan karena subjek penelitian yang akan diteliti sedikit atau kemungkinan hannyainstitusi itu sendiri yang melakukannya. Apabila intervensi yang digunakan hanya pada institusi tersebut maka timbul pertanyaannya, apakah mungkin mencari kelompok dan randomisasi ?
4.Dll.

E. Model-Model Evaluasi Kurikulum
Evaluasi kurikulum merupakan merupakan suatu tema yang luas, meliputi banyak kegiatan, meliputi sejumlah prosedur, bahkan dapat merupakan suatu lapangan studi yang berdiri sendiri. Evaluasi kurikulum juga merupakan suatu fenomenayang multifaset, memiliki banyak segi.
Bagian ini membahas membahas perkembangan evaluasi kurikulum, yaitu evaluasi kurikulum sebagai fenomena sejarah, suatu elemen dalam prosessosial sihubungkan dengan perkembangan pendidikan .
1. Evaluasi Model Penelitian
Model evaluasi kurikulum yang menggunakan model penelitian didasarkan atas teori dan metode tes psikologi serta eksperimen lapangan
Eksperimen lapangan dalam pendidikan, dimualai tahun 1930 dengan menggunakan metode yang biasa digunakan dalam penelitian botani pertanian. Model eksperimen dalam botani pertanian dapat digunakan dalam pendidikana, anak disamakan dengan benih, sedang kurikulumserta berbagai fasilitas serta sistem sekolah dapat disamakan dengan tanah dan pemeliharaannya
Salah stu pendekatan dalam evaluasi yang menggunakan eksperimen lapanganadalah mengadakan perbandingan antara duamacam kelompok anak, umpamanya yang mengguanakan dua metodebelajar yang berbeda. Kelompok pertama belajar membaca dengan metode global dan kelompok lain menggunakan metode unsur.
Ada beberapa kesulitan yang dihadapi dalam eksperimen tersebut sebagai berikut :
1. Kesulitan adminitratif, sedikit sekali sekolah yang mau dijadikan sekolah eksperimen
2.Masalah teknis dan logis, yaitu kesulitan menciptakan kondisi kelas yang sama untuk kelompok-kelompok yang diuji
3.Sulit mencampurkan guru-guru untuk mengajar pada kelompk eksperimen dengan kelompok kontrol,pengaruh guru-guru tersebut sukar dikontrol
4.Ada keterbatasan mengenai manipulasi eksperimen yang dapat dilakukan

2. Evaluasi Model Objektif
Evaluasi model objektif berasal dari Ameriaka Serikat. Perbedaan odel objektif dengan model komparatif adalah dalam dua hal. Pertama dalam model objektif, evaluasi merupakan bagian yang sangat penting dari proses pengembangan kurikulum. Para evaluator mempunyai perananmenghimpun pendapat-pendapat orang luar tentang inovasi kurikulum yang dilaksanakan. Evaluasi dilakukan pada akhir pengembangan kurikulum, kegiatan penilaian ini sering disebut evaluasi sumatif. Kedua kurikulum tidak dibandingkan dengan kurikulum laintetapi diukur dengan seperangkat objektif (tujuan khusus). Keberhasilan pelaksanaan kurikulum diukur oleh penguasaan siswa akan tujuan-tujuan tersebut.
Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh tim pengembang model objektif :
1)Ada kesepakatan tentang tujuan-tujuan kurikulum
2)Merumuskan tujuan-tujuan tersebut dalam perbuatan siswa
3)Menyusun materi kurikulum yang sesuai dengan tujuan tersebut
4)Mengukur kesesuaian antara perilaku siswa dengan hasil yang diinginkan.
Pendekatan inilah yang digunakan oleh Ralph Taylor (1930) dalam menysun tes dengan titik tolak pada perumusan tujuan tes, sebagai asal mula pendekatan sistem (system approach). Pada tahun 1950-an Benyamin S.Bloom dengan kawan-kawannya menyusun klasifikasi sistem tujuan yang meliputi daerah-daerah belajar (cognitive domain).
3. Model Campuran Multivariasi
Evaluasi model perbandingan (comparative approach) dan model taylor dan bloom melahirkan evaluasi model campuran multivariasi, yaitu strategi evaluasi yang menyatukan unsur-unsur darikedua pendekatan tersebut strategi ini memungkinkan membandingkan lebih dari satu kurikulum dan secara serempak keberhasilan tiap kurikulum diukur berdasarkan kriteria khusus dari masing- masing kurikulum. Program paket berisi program statistik yang sederhana yang tidak membutuhkan komputer untuk menggunakannya. Dengan berkembangnya penggunaan komputer memungkinkan studi lapangan tidak dihambat oleh kesalahan dan kelambatan. Semua masalah pengolahan statistik dapat dikerjakan dapat dikerjakan dengan komputer.
Langkah- langkah multivariasi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mencari sekolah yang berminat untuk dievaluasi/ diteliti
2. Pelaksanaan program. Bila tidak ada pencampuran sekolah tekanannya pada partisipasi yang optimal
3. Sementara tim menyusun tujuan yang meliputi semua tujuan dari pengajaran umpamanya dengan metode global dan metode unsur, dapat disiapkan tes tambahan
4. Bila semua informasi yang diharapkan telah terkumpul, maka mulailah pekerjaan komputer
5. tipe analisis dapat juga digunakan untuk mengukur pengaruh bersama dari beberapa variabel yng berbeda
Beberapa kesulitan yang dihadapi dalam model campuran multivariasi ini. Kesulitan pertama adalah diharapkan memberikan tes statistik yang signifikan. Maka untuk itu dibutuhkan seratus kelas dengan sepuluh pengukuran, dan ini lebih memungkinkan daripaea sepuluh kelas dengan seratus pengukuran. Jadi model multivariasi ini lebih sesuai bagi evaluasi kurikulum sekala besar. Kesulitan kedua adalah terlalu banyaknya variabel yang perlu dihitung pada suatu saat, kemampuan komputer hanya sampai empat puluh variabel sedangkan dengan model ini dapat dikumplkan sampai tiga ratus variabel. Kesulitan ketiga, meskipun model miltivariasi telah mengurangi masalah kontrol berkenaan dengan eksperimen lapangan tetapi tetap menghadapi masalah- masalah perbandingan

















BAB III
KESIMPULAN
Evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur untuk mengimpulkan data yang valid dan reliabel untuk membuat keputusan tentang kurikulum yang sedang berjalan atau yag telah dijalankan. Secara sederhana evaluasi kurikulum dapat disamakan dengan penelitian, kaena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian. Evaluasi kurikulum penting dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar. Ada banyak masalah dalam penerapan evaluasi kurikulum seperti dasar yang digunakan dalam evaluasi kurikulum lemah, intervensi yang dilukukan tidak memungkinkan blinded, kesulitan dalam melakukan randomisasi, kesulitan dalam menstandartkan intervrensi yang dilakukan masalah etika penelitian, tidak adanya pure aut come, kesulitan mencari alat ukur dan penggunaan perspektif kurikulum yang berbeda sebagai pembanding. Oleh karena itu dengan memahami pengertian evaluasi kurikulum dan persamaan serta pebedaanya dengan penelitian diharapkan evaluasi kurikulum yang akan dibuat dapat menjadi valid, reliabel dan sangat berguna sebagai bahan pertimbangan dalam membuat keputusan tentang kurikulum tersebut.

















DAFTAR PUSTAKA

1.Lindeman, M. (2007). Program Evaluation [Internet].Avaliable from: www.tedi.uq.edu.au/conferences/A_ conf/papers/Isaacs.html Accessed 3 July 2007
2.Silver, H.(2004). Evaluation Research in Education. [Internet]. Available from: < outh.ac.uk/resined/evaluation/index.htm> [Accessed 3 July 2007]
3.Trochim, W.M.K. (2006). Intioduction to Evaluation. [Internet]. Avaliable from:< http://www.sosialresearchmethods.net/kb/interval.php> [Accessed 3 July 2007].
4.Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Akademik Dan Kemahasiswaan,(2003). Buku II- Kurikulum Program Studi.
5.Posner,G.J., (2004). Analyzing The Curriculum. Mc Graw Hill. United States.
6.Amin,Z.E, Eng, K.H., (2003). Basics in Medial Education, World Scientific, Singapore.
7.Dolman, D.(2003).The Effectifveness of PBL : the debate contineus. Some concerns about the BEME movement. Medical Education 2003;37:1129-1130
8.Farraw, R. The effectivenes of PBL : the debate contineus. Is meta analizis helpful? Medical Education 2003;37:1131-1132
9.Norman, G.R, Schdmidt H.g. Effectifeness of problem based learning curiccula: theory, practice and paper darts. Medical Education 2000;34:721-728.
10.Sukmadinata, Prof.dr. Nana Syaodih (2009). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek.PT. Remaja Rosdakaya.Bandung’’