Rabu 16 Nov 2011 06:53 PM -

hakikat dan prinsip- prinsip pendidikan anak usia dini

HAKIKAT dan PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

£ Hakikat

Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditunjukkan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak jasmani maupun rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Ada beberapa pandangan dasar tentang anak,

I. Pandangan lama yang menganggap bahwa anak lahir dengan membawa takdir yang tidak bisa diubah, berupa bakat dan kemampuan yang tidak bisa diubah. Contohnya jangan paksa anak untuk melukis, menyanyi atau menari, karena melukis, menari atau menyanyi itu adalah bakat yang dibawa sejak lahir, bakat itu akan tumbuh dengan sendirinya. Begitulah pandangan ini melihat.

Lantas, untuk apa berupaya mengembangkan anak, sebab bukankah anak suah ditakdirkan memiliki bakat-bakat tertentu?Pendidikan tidak akan mampu mengubah bakat, pengasuhan tidak akan mengubah takdir. Pada dasarnya, secara alamiah, bakat anak akan muncul tanpa jasa dari orang tua atau guru.

II. Aliran Tabularasa, yang dikemukakan oleh Jhon Locke, yang melihat anak lahir dalam kondisi putih bersih laksana meja lilin yang akan ditulisi apa saja bisa bergantung kemauan orang tua. Pandangan ini menolak adanya bakat sejak lahir. Tugas orang tua adalah menulis meja tersebut, terserah seperti apa, tetapi hal tersebut sangat menentukan perkembangan anak. Oleh sebab itu, orang tua dan guru sangat berperan mengarahkan kemana anak akan dibawa dengan konsep yang sudah disiapkan.

III. Pandangan lain yang lebih maju dikemukakan oleh Jean Piaget. Menurutnya, anak lahir dengan segala keunikan potensi, yang antara satu dengan yang lain tidaklah sama, bahkan anak kembar sekalipun. Tugas orang tua, guru dan orang dewasa yang lain adalah menyiapkan lingkungan yang memungkinkan potensi-potensi yang dimiliki anak bisa berkembang optimal, baik potensi nalar (inteligensi), rasa (emosi), spiritual maupun keterampilan (motorik).

Abraham Maslow melengkapi pemikiran tersebut dengan teori motivasi. Menurutnya, potensi-potensi unik seorang anak akan muncul apabila diberi motivasi dengan cara penyampaian wawasan, contoh atau keteladanan, pergaulan dengan teman lain, maupun pengalaman langsung.

£ Tujuan

Secara umum, tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pendidikan anak pun bisa dimaknai sebagai usaha mengoptimalkan potensi-potensi luar biasa anak yang bisa dibingkai dalam pendidikan, bimbingan, pembinaan terpadu, maupun pendampingan.

£ Prinsip-prinsip

Dalam melaksanakan pendidikan anak usia dini, sebagai guru hendaknya menggunakan prinsip-prinsip berikut:

I. Berorientasi pada Kebutuhan Anak

Kegiatan pembelajaran untuk anak harus senantiasa berorientasi pada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak-anak yang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan, baik perkembangan fisik maupun psikis yaitu intelektual, bahasa, motorik dan sosioemosional.

Tujuannya adalah agar anak menjadikan belajar sebagai kebutuhan pokoknya, sebagai seorang balita menjadikan susu sebagai makanan utamanya.

II. Belajar Melalui Bermain

Dengan bermain anak diajak bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya.

Dengan bermain pun anak bisa mempunyai kepekaan yang tinggi, karena dengan bermain anak akan berusaha memahami karakter teman-temannya, termasuk karakter orang dewasa di sekitarnya.

III. Lingkungan yang Kondusif

Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa agar terlihat menarik dn menyenangkan dengan tetap memperhatikan keamanan dan kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar anak melalui bermain. Karena dengan lingkungan yang kondusif akan memungkinkan anak untuk mengembangkan segenap bakatnya. Dan membuat anak untuk belajar mandiri, sebab di lingkungan kondusif akan mengajak anak memosisikan dirinya, anak akan berusaha menjadi bagian dari temannya.

IV. Menggunakan Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran usia dini harus dilakukan melalui konsep pembelajaran terpadu melalui tema. Tema yang dibangun harus bisa membangkitkan minat anak dan bersifat kontekstual. Tujuannya adalah agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran mudah dan bermakna bagi anak.

Pembelajaran terpadu juga bisa dikatakan sama dengan pembelajaran yang sesuai dengan potensi dan bakat anak.

V. Mengembangkan Berbagai Kecakapan Hidup

Mengembangkan keterampilan hidup dapat dilakukan melalui proses pembiasaan. Dengan tujuan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri, mandiri, bertanggung jawab, memiliki disiplin tinggi dan selalu kreatif dalam setiap langkah yang dipilih atau masalah yang menghadang.

VI. Menggunakan Berbagai Media Edukatif dan Sumber Belajar

Media dan sumber pembelajaran dapat diperoleh dari lingkungan alam sekitar atau melalui bahan-bahan yang telah disiapkan oleh pendidik, dalam hal ini kreativitas guru PAUD dituntut. Kalau diperhatikan dengan seksama semua yang ada disekitar bisa kita jadikan bahan ajar yang bisa digunakan sebagai media edukasi, tapi masih banyak guru PAUD yang mengeluh karena keterbatasan modal dan biaya.

Oleh karena itu seorang guru harus peka, kepekaan inilah yang membuat guru PAUD menjadikan semua hal disekitar sebagai bahan ajar. Renik-renik bisa menjadi bahan ajar yang dapat mempesona anak didik, karena renik-renik itu dekat dengan dunia anak. Alhasil, anak akan menikmati sumber belajar tersebut dan menjadikannya sebagai referensi, karena anak-anak tidak asing dengan hal itu.

VII. Dilaksanakan secara Bertahap dan Berulang-ulang

Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan dengan bertahap, dimulai dari dari kosep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik, hendaknya guru PAUD menyajikan kegiata yang berulang.

Kebertahapan dalam pendidikan membuat anak bisa menagkap makna atas apa yang diberikan dan membuat anak kian bisa melakukan kristalisasi atas pelajaran dan tranfer ilmu serta nilai yang dilakukan.