Rabu 04 Apr 2012 08:04 PM -

Upaya Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Anak Autis dengan Menggunakan PECS


Hambatan-HambatanPada Anak Autis Anakautis mengalami gangguan perkembangan yang kompleks sehingga mereka jugadisebut mengalami gangguan pervasif. Peeters (2004:4) mengartikan pervasifyaitu menderita kerusakan jauh di dalam meliputi keseluruhan dirinya. Istilahpervasif juga dilandasi oleh gangguan perkembangan yang diperlihatkan oleh anakautis. Gangguan-gangguanitu hampir meliputi seluruh aspek kehidupannya, antara lain komunikasi,interaksi sosial, gangguan dalam sensoris, pola bermain, perilaku khas, danemosi (Riyanti, 2002:10, Peeters, 2004:5; Hidayat, 2006:2; Sunardi dan Sunaryo,2006:193). Gangguan-gangguan tersebut jelas akan mengahambat perkembangan anakautis. Dibawah ini dijelaskan hambatan atau gangguan-gangguan yang sering diperlihatkanoleh anak autis, diantaranya adalah: a.Hambatan dalam komunikasi
  • Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada.
  • Anak tampak seperti tuli, sulit bicara, atau pernah bicara, tetapi kemudian sirna.
  • Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya.
  • Mengoceh tanpa arti berulang-ulang dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain.
  • Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi
  • Senang meniru atau membeo (echolalia)
  • Bila senang meniru, dapat hapal betul kata-kata atau nyanyian tapi tidak mengerti artinya.
  • Sebagian dari anak autis tidak bicara (non verbal) atau sedikit berbicara sampai usia dewasa.
  • Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan.
b.Hambatan dalam interaksi sosial
  • Anak autis lebih senang menyendiri.
  • Tidak ada atau sedikit kontak mata atau menghindari untuk bertatapan.
  • Tidak tertarik untuk bermain bersama teman.
  • Bila diajak bermain, ia tidak mau dan menjauh.
c.Gangguan dalam sensoris
  • Sangat sensitif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk.
  • Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga.
  • Senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda.
  • Tidak sensitif terhadap rasa sakit atau rasa takut.
d.Hambatan dalam pola bermain
  • Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya.
  • Tidak suka bermain dengan anak sebayanya.
  • Tidak kreatif dan tidak imajinatif.
  • Tidak bermain sesuai fungsinya, misalnya mobil-mobilan dielus-elus kemudian diciumi dan diputar-putar rodanya.
  • Senang pada benda-benda yang berputar, seperti kipas angin, roda, dan lain-lain.
  • Dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu kemudian dipegang terus dan dibawa kemana-mana.
e.Gangguan perilaku khas
  • Dapat berperilaku berlebihan (hiperaktif) atau kekurangan (hipoaktif).
  • Memperlihatkan stimulasi diri, seperti bergoyang-goyang, mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar, mendekatkan pada pada layar TV, lari/berjalan bolak-balik, melakukan gerakan yang berulang-ulang.
  • Tidak suka pada perubahan.
  • Dapat duduk benging dengan tatapan kosong.
f.Gangguan emosi
  • Sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan.
  • Temper tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau dipenuhi keinginannya.
  • Kadang-kandang suka menyerang dan merusak.
  • Kadang-kadang anak autis berperilaku menyakiti dirinya sendiri.
  • Tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain.
Hambatan-hambatandi atas tidak semuanya ada pada anak autis. Hambatan dapat beraneka ragamsehingga hambatan yang dimiliki seorang anak autis belum tentu sama dengan anakautis lainnya. Itulah yang menyebabkan tidak ada anak autis yang benar-benarsama dalam semua tingkah lakunya. KonsepDasar Komunikasi 1.Pengertian Komunikasi Istilahkomunikasi sering diartikan sebagai kemampuan bicara, padahal komunikasi lebihluas dibandingkan dengan bahasa dan bicara. Oleh karena itu agar komunikasitidak diartikan secara sempit, perlu kiranya dijelaskan tentang pengertian komunikasi. Komunikasisecara terminoligis berarti penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang padaorang lain sebagai konsekuensi dari hubungan sosial (Sunardi dan Sunaryo,2006:174). Pengertian komunikasi disini lebih menekankan komunikasi sebagaialat hubungan sosial sebagai konsekuensi dari manusia sebagai makhluk sosial.Sehingga untuk menjalankan perannya sebagai makhluk sosial manusia harusberkomunikasi. MenurutQuill (1995) dalam Gardner, et al. (1999:2) menyatakan bahwa komunikasimerupakan proses yang dinamis di dalamya terjadi proses enkoding dari penyampaipesan dan dekoding dari penerima pesan, terjadi pertukaran iformasi,penyampaian perasaan (melibatkan emosi), ada tujuan-tujuan tertentu serta adapenyampaian ide. Dari pengertian komunikasi tersebut dapat dikatakan bahwakomunikasi itu selalu melibatkan dua individu atau lebih dan yang terpentingadalah keinginan, maksud, pesan atau tujuan pengirim pesan dapat diterima dandipahami oleh penerima pesan. Komunikasi menjadi aspek penting untuk mengekspresikanperasaan, gagasan, keinginan, dan kebutuhan-kebutuhan. Untukmelakukan komunikasi ternyata dibutuhkan alat. Alat utama dalam komunikasiadalah bahasa (Jordan dan Powell, 2002:51). Berarti komunikasi itu melibatkanbahasa verbal maupun non verbal, mencakup lisan, tulisan, bahasa isyarat,bahasa tubuh, dan ekspresi wajah. Daripengertian komunikasi di atas ada tiga hal penting yang berkaitan dengankomunikasi, pertama, komunikasi harus melibatkan dua orang atau lebih, kedua,komunikasi merupakan pertukaran informasi yang bersifat dua arah, dan ketiga,mengandung pemahaman. Sebuah pengumunan yang dipasang di papan pengumuman bukanmerupakan komunikasi. Tapi kalau pengumuman itu talh dibaca, dimengerti, danditanggapi, maka pengumuman itu bisa disebut komunikasi. Komunikasi dikatakanefektif hanya jika suatu gagasan dapat berpindah dari pemikian seseorang kepemikiran orang lain (Moore, 1987:79). Dengandemikian dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses dinamis yangmenggunakan bahasa sebagai alat utamanya dalam rangka individu melakukanhubungan sosial dengan individu lainnya yang di dalamnya melibatkan ekspresiperasaan, penyampaian ide, keinginan, kebutuhan-kebutuhan, dan tujuan. 2.Jenis Komunikasi Sebagaimana telah dikatakansebelumnya bahwa alat/media utama komunikasi adalah bahasa, sementara bahasaitu sendiri secara umum terbagi dua, yaitu bahasa verbal (lisan) dan non verbal(isyarat, gerak tubuh, ekspresi wajah, tulisan). Oleh karena itu komunikasiberlangsung tidak hanya dengan menggunakan kata-kata tetapi juga dengan bantuantindakan, gerak isyarat, ekspresi wajah, gambar yang bermakna, dan tulisan. Berdasrkanhal tersebut maka jenis komunikasi itu ada dua, yaitu: -Komunikasi verbal (lisan) -Komunikasi non verbal (isyarat, gerak tubuh, ekspresi wajah, tulisan) 3.Perkembangan Komunikasi Pada Anak Perkembangankomunikasi anak pada umumnya berawal dari tangisan bayi yang memberi tahuibunya bahwa ia merasa lapar atau tidak nyaman. Usia sekitar 2 bulan bayi sudahmengeluarkan suara-suara (cooing) atau tertawa, bila ia merasa senang. Kemudianberkembang menjadi babbling atau pengulangan rangkaian konsonan-vokal misalnya,ma-ma-ma, ba-ba-ba. Usia sekitar 10 bulan, bayi sudah mulai mengenal kata-katatapi belum mampu mengucapkannya dan kemudian mengucapakan kata pertamanya padasaat ia berusia sekitar 1 tahun. Perkembanganbicara anak pada umumnya akan terus berkembang dengan pesat sehingga dalamrentang usia 16-24 bulan perbendaharaan kata yang dimiliki oleh anak meningkatdari 50 kata menjadi kurang lebih 400 kata. Saat berusia 2 tahun, anakseharusnya sudah mampu menggunakan kata kerja, kata sifat dan melakukanpengungkapan diri dengan kalimat yang terdiri dari 2 kata. Menginjakusia 3 tahun, cara anak berbicara sudah menyamai cara orang dewasa berbicarasecara informal. Anak sudah menguasai hampir 1000 kata, dapat menyusun kalimatdengan benar dan dapat berkomunikasi dengan baik. Disamping menggunakan bahasa,anak pada umumnya juga mampu berkomunikasi dengan gestur dan simbol-simbol lainnya(Papalia, 1995 dalam Riyanti, 2002:12). MenurutSussman (1999) dalam Sjah dan Fadhilah (2003:214) komunikasi berkembang melaluiempat tahapan: a.The own agendastage Padatahap ini anak lebih suka bemain sendiri dan tampaknya tidak tertarik pada orang-orangdi sekitarnya. Anak belum tahu bahwa dengan komunikasi ia dapat mempengaruhiorang lain. Untuk mengetahui keinginannya, kita harus memperhatikan gerak tubuhdan ekspresi wajah anak. Seringkali anak mengambil sendiri benda-benda yangdiinginkannya. b.The requesterstage Anakmulai menyadari bahwa tingkah lakunya dapat mempengaruhi orang di sekitarnya..bila menginginkan sesuatu, anak biaanya menarik tangan kita dan mengarahkannyake benda yang diinginkan. Sebagian anak telah mampu mengulangi kata-kata atausuara tetapi bukan untuk berkomunikasi melainkan untuk menenangkan dirinya.Anak juga mulai bisa mengikuti perintah sederhana tapi responnya belumkonsisten. c.The earlycommunication stage Anaktelah menyadari bahwa ia bisa menggunakan satu bentuk komunikasi tertentusecara knsisten pada situasi khusus. Namun demikian, inisiatif berkomunikasimasih terbatas pada pemenuhan kebutuhannya. Anak mulai memahami isyaratvisual/gambar komunikasi dan memahami kalimat-kalimat sederhana yang kitaucapkan. Bila terlihat perkembangan bahwa anak mulai memanggil nama, menunjuksesuatu yang diinginkan, atau melakukan kontak mata untuk menarik perhatian,maka berarti anak sudah siap untukmelakukan komunikasi dua arah. d.The partner stage Tahapini merupakan fase yang paling efektif. Bila kemampuan bicara anak baik, iaakan mampu melakukan percakapan sederhana. Anak juga dapat diminta untukmenceritakan pengalamannya, keinginannya yang belum terpenuhi danmengekspresikan perasaanya. Namun demikian, biasanya anak masih terpaku padakalimat-kalimat yang telah dihapalkan dan sulit menemukan topik pembicaraanyang tepat pada situasi baru. Bagi anak-anak yang masih mengalami kesulitanuntuk berbiara, komunikasi dapat dilakukan dengan menggunakan rangkaian gambaratau menyusun kartu-kartu bertulisan. Agarlebih jelas mengenai pekembangan komunikasi tersebut, di bawah ini akandiberikan contoh-contoh perkembangan komunikasi pada anak menurut Rowland danStremmel (1987) dalam Gardner et al (1999:3) sebagai berikut: a.Perilaku Pra-tujuan
  • Cooing (mengeluarkan suara-suara)
  • Tertawa sendiri
  • Tiba-tiba menangis tanpa sebab
  • Ekspresi wajah tanpa tujuan
  • Menggerakkan kepala
ù®Gerakan badan yang tidakberaturan b.Perilaku bertujuan
  • Memperhatikan suatu objek
  • Tersenyum
  • Bergerak ke suatu arah
  • Meraih sesuatu atau mendorong sesuatu
  • Rewel
c.Komunikasi pra simbolik non konvensional
  • Tertawa
  • Membuat suara tak beraturan
  • Kontak amata atau menggerakkan mata untuk mengikuti gerakan tangan orang lain dan mencoba meraihnya
d.Komunikasi pra simbolik konvensional
  • Mengeluarkan pola suara yang beraturan (dada, mama, baba),
  • menunjuk/mengarahkan tangan
  • mengayunkan tangan dan kaki
  • mencium
  • memeluk
  • memilih salah satu dari dua objek
e.Komunikasi simbol kongkrit
  • Mengeluakan suara untuk menunjuk objek tertentu
  • Menggunakan gestur sederhana/gerak anggota tubuh untuk mengungkapkan sesuatu, misalnya menepuk-nepuk kursi sebagaikeinginan untuk duduk di kursi.
  • Menggunakan objek kongkrit
ù®Menggunakan gambar foto f.Komunikasi simbol abstrak ù®Menggunakan kata-kata tunggal/dasar ù®Menggunakan isyarat ù®Menggunakan gambar abstrak (gambar outline) g.Komunikasi simbol formal (berbahasa) ù®Mengkombinasikan dua kata atau lebih ù®Mengkombinasikan gambar atau simbol ù®Mengkombinasikan kata-kata yang tertulis PerkembanganKomunikasi Anak Autis Salahsatu kesulitan yang dimiliki oleh anak autis adalah dalam hal komunikasi(Delphie, 2006:1). Oleh karena itu perkembangan komunikasi pada anak autissangat berbeda, terutama pada anak-anak yang mengalami hambatan yang beratdalam penguasaan bahasa dan bicara. Kesulitandalam komunikasi ini dikarenakan anak autis mengalami gangguan dalam berbahasa(verbal dan non verbal), padahal bahasa merupakan media utama dalam komunikasi.Mereka sering kesulitan untuk mengkomunikasikan keinginannya baik secara verbal(lisan/bicara) maupun non verbal (isyarat/gerak tubuh dan tulisan). Sebagianbesar dari mereka dapat berbicara, menggunakan kalimat pendek dengan kosa katasederhana namun kosa katanya terbatas dan bicaranya sulit dipahami. Karena kosakatanya terbatas maka banyak perkataan yang mereka ucapkan tidak dipahaminya.Mereka yang dapat berbicara senang meniru ucapan dan membeo (echolalia).Beberapa diantara mereka sering kali menunjukkan kebingungan akan kata ganti.Contoh, mereka tidak menggunakan kata saya dan kamu secara benar, atau tidakmengerti ketika lawan bicaranya beralih dari kamu menjadi saya atau sebaliknya(Riyanti, 2002:16). Padasaat anak pada umumnya sudah mengetahui nama, mampu merespon terhadap ya dantidak, mengerti konsep abstrak laki-laki ù® perempuan, dan mengikutiperintah-perintah sederhana. Sementara itu pada anak autis mungkin hanyaecholalia terhadap apa yang dikatakan atau tidak bicara sama sekali. Anakpada umumnya biasanya mulai mengoceh sekitar umur enam bulan. Ia mulai bicaradalam bentuk kata pada umur satu tahun dan merangkai dua atau tiga kata dalamsatu kalimat sebelum delapan belas bulan. Sedangkan pada anak autis sebaliknya,ia tidak memiliki pola perkembangan bahasa. Kemampuan komunikasi mereka bervairasi,diantara mereka ada yang tidak pernah bicara, seperti anak pada umumnya sampaidelapan belas bulan atau dua puluh bulan, kadang-kadang kemampuan bicara merekahilang begitu saja. Anakautis yang sulit berbicara, seringkali mengungkapkan diri atau keinginannyamelalui perilaku. Memang untuk beberapa kasus anak autis yang ada yang sudahmampu menyampaikan keinginannya dengan cara menarik tangan orang yangdidekatnya atau menunjuk ke suatu arah yang diinginkan, atau mungkin menjerit.Jika orangtua atau orang disekitarnya tidak memahami apa yang diinginkannyaanak akan marah-marah, mengamuk dan mungkin tantrumnya akan muncul. Siegel(1996:44) secara umum menggambarkan perkembangan komuniksi anak autis terbagidalam dua bagian, yaitu: 1.Perkembangan komunikasi verbal, meliputi keterlambatan berbahasa bahkan adadiantara mereka yang kemampuan berbahasanya hilang, echolalia dan menggunakanbahasa yang aneh/tidak dimengerti, menggunakan bahasa sederhana (misalnya mintamakan:ù®Makan, ya!ù®). 2.Perkembangan komunikasi non verbal, meliputi menggunakan gestur, gerak tubuh,mengungkapkan keinginan dengan ekspresi emosi (menjerit, marah-marah,menangis). Denganperkembangan komunikasi seperti telah disampaikan di atas jelaslah anak autisakan menghadapi berbagai kesulitan untuk mengungkapkan keinginannya dan dengankemampuan komunikasi seperti demikian perlu adanya suatu cara yang dapatmembantu mereka untuk berkomunikasi dengan lingkungannya. Peningkatan Keterampilan Komunikasi Bagi Anak Autis dengan MediaPECS 1.Pengertian PECS PECS(Picture ExchangeCommunication System) adalah suatu pendekatan untuk melatihkomunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal (Bondy dan Frost, 1994:2).PECS dirancang oleh Andrew Bondy dan Lori Frost pada tahun 1985 dan mulaidipublikasikan pada tahun 1994 di Amerika Serikat. Awalnya PECS ini digunakanuntuk siswa-siswa pra sekolah yang mengalami autisme dan kelainan lainnya yangberkaitan dengan gangguan komunikasi. Siswa yang menggunakan PECS ini adalahmereka yang perkembangan bahasanya tidak menggembirakan dan mereka tidakmemiliki kemauan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam perkembanganselanjutnya, penggunaan PECS telah meluas dapat digunakan untuk berbagai usiadan lebih diperdalam lagi. Denganmenggunakan PECS bukan berarti menyerah bahwa anak tidak akan bicara, tetapidengan adanya bantuan gambar-gambar atau simbol-simbol maka pemahaman terhadapbahasa yang disampaikan secara verbal dapat dipahami secara jelas. Memang, padatahap awalnya anak diperkenalkan dengan simbol-simbol non verbal. Namun padafase akhir dalam penggunaan PECS ini, anak dimotivasi untuk berbicara. MeskipunPECS bukanlah program untuk mengajarkan anak autis cara berbicara, padaakhirnya mendorong mereka untuk berbicara. Adakekhawatiran orangtua terhadap anaknya yang menggunakan PECS ini. Merekakhawatir anaknya tidak bisa bicara dan ketergantungan terhadap gambar. Untukitu Schwartz (1998) dalam www. autism.healingthresholds.com) melakukanpenelitian pada 18 orang anak-anak pra sekolah yang mengalami gangguanberbahasa, beberapa diantara mereka didiagnosa sebagai anak autis. Merekamendapat penanganan dengan menggunakan PECS. Anak-anak tersebut menggunakanPECS untuk berkomunikasi selama di sekolah, tidak hanya pada sesi latihan saja.Ternyata setelah setahun, lebih dari setengahnya telah berhenti menggunakanPECS dan mulai menggunakan kemampuan bicara alaminya. Tidakditemukan adanya dampak negatif dari penggunaan PECS ini (Bondy, 2001). Ada punkekhawatiran akan adanya ketergantungan pada PECS dan keterampilan bicara anakautis menjadi tidak berkembang, pandangan/kekhawatiran itu tidak didasari olehhasil penelitian. Kenyataanya banyak bukti bahwa anak-anak autis yangmenggunakan PECS perkembangan keterampilan bicaranya lebih cepat dibandingkandengan yang tidak menggunakan PECS (Bondy, 2001). Penelitianterakhir oleh Yoder dan Stone (2006) membandingkan antara anak-anak yangmenggunakan PECS dengan sistem yang lain. Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anakautis yang dilatih dengan menggunakan PECS lebih verbal dibandingkan denganyang lain. PECS ini akan lebih efektif mendorong anak autis untuk lebih verbaljika dilatihkan pada anak berusia di bawah enam tahun. Berdasarkanpengalaman Wallin (2007:1) ada beberapa keunggulan yang dimiliki oleh PECS ini,diantaranya: ù®Setiap pertukaran menunjukkan tujuan yang jelas dan mudah dipahami. Pada saattangan anak menunjuk gambar atau kalimat, maka dapat dengan cepat dan mudahpermintaan atau pendapatnya itu dipahami. Melalui PECS, anak telah diberikanjalan yang lancar dan mudah untuk menemukan kebutuhannya. ù®Sejak dari awal, tujuan komunikasi ditentukan oleh anak. Anak-anak tidakdiarahkan untuk merespon kata-kata tertentu atau pengajaran yang ditentukanoleh orang dewasa, akan tetapi anak-anak didorong untuk secara mandirimemperoleh ù®jembatanù® komunikasinya dan terjadi secara alamiah. Guru ataupembimbing mencari apa yang anak inginkan untuk dijadikan penguatan danjembatan komunikasi dengan anak. ù®Komunikasi menjadi sesuatu penuh makna dan tinggi motivasi bagi anak autis. ù®Material (bahan-bahan) yang digunakan cukup murah, mudah disiapkan, dan bisadipakai kapan saja dan dimana saja. Simbol PECS dapat dibuat dengan digambarsendiri atau dengan foto. ù®PECS tidak membatasi anak untuk berkomunikasi dengan siapapun. Setiap orangdapat dengan mudah memahami simbol PECS sehingga anak autis dapat berkomunikasidengan orang lain tidak hanya dengan keluarganya sendiri. Pembelajarankomunikasi melalui PECS ini harus dimulai dari objek yang benar-benar anakinginkan. Oleh karenanya menurut Bondy dan Frost (1994) dalam Gardner, et al.(1999:11) dalam penerapan PECS ini perlu adanya penggunaan modifikasi perilaku.Melalui modifikasi perilaku tersebut akan diketahui apa yang anak inginkan.Objek yang diinginkan tersebut akan menjadi penguatan bagi anak untuk melakukankomunikasi melalui pertukaran gambar. 2.Menyiapkan Material (Bahan-bahan) yang Digunakan Materialyang digunakan dalam PECS cukup murah. Simbol atau gambar dapat diperolehdengan cara menggambar sendiri, dari majalah atau koran, foto, atau gambar darikomputer (clipart atau dari internet). Bisa juga menggunakan material resmi PECSyang diterbitkan oleh Pyramid Educational Consultants. Inc. Gambar-gambar atausimbol itu dibentuk kartu kemudian dilaminating agar awet dan di belakanggambar itu dipasang pengait (velcro) atau doubletape agar bisa dipasang atau digantung pada berbagai media. Untukmenyimpan kartu gambar diperlukan file. Dibawahini sebagian contoh gambar yang dapat di gunakan: contohgambar1 contohgambar2