Sabtu 31 Mar 2012 10:21 AM -

Anak Berkebutuhan Khusus


KesulitanBelajar, Lambat Belajar,TunaGrahita, Gifted Disinkroni 19JAN sumber : http://gulit1.wordpress.com/2009/03/05/kesulitan-belajar-lambat-belajar-tunagrahita-gifted-disinkroni/

a. Pengertian Kesulitan Belajar, Lambat Belajar,Tunagrahita, Gifted Disinkroni Anak berkesulitan belajar adalah anakyang memiliki ganguan satu atau lebih dari preoses dasar yang mencakuppemahaman penggunaan bahasa lisan atau tulisan, gangguan tersebut mungkinmenampakkan diri dalam bentuk kemampuan yang tidak sempurna dalam mendengarkan,berpikir, berbicara, membaca, menulis,mengeja atau menghitung. Batasan tersebutmeliputi kondisi-kondisi seperti gangguan perceptual, luka pada otak,diseleksia dan afasia perkembangan. Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah,kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Adasiswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpamengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justrudalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswaditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasilbelajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehinggapada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada dibawah semestinya. Kesulitan belajar siswa mencakuppengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learningdisfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learningdiasbilities. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertiantersebut. 1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaandimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yangbertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnyatidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanyarespons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebihrendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa denganolah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalamikesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai. 2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana prosesbelajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnyasiswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alatdria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang memiliki posturtubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namunkarena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasaipermainan volley dengan baik. 3. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnyamemiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapiprestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah diteskecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ =130 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangatrendah. 4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yanglambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lamadibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yangsama. 5. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajarmengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar,sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya. Siswa yang mengalami kesulitanbelajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagaigejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik,kognitif, konatif maupun afektif . Beberapa perilaku yang merupakan manifestasigejala kesulitan belajar, antara lain : 1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawahrata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yangdimilikinya. 2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yangtelah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilaiyang diperolehnya selalu rendah 3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnyadan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan. 4. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuhtak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya. 5. Menunjukkan perilaku yang berkelainan, sepertimembolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu didalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalamkegiatan belajar, dan sebagainya. 6. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti: pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapisituasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkanperasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya. Sementara itu, Burton (AbinSyamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitanbelajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapaitujuan-tujuan belajar. Menurut dia bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajarapabila : 1. Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidakmencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (masterylevel) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru(criterion reference). 2. Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasisemestinya, dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, bakat, ataukecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam underachiever. 3. Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (masterylevel) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaranberikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang(immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater) Untuk dapat menetapkan gejalakesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar, makadiperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria inidapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitanbelajar. Terdapat empat ukuran dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajarsiswa : (1) tujuan pendidikan; (2) kedudukan dalam kelompok; (3) tingkatpencapaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi; dan (4) kepribadian. Slow learner (Lambat belajar) adalahadalah mereka yang memiliki prestasi belajar rendah (di bawah rata-rata anakpada umumnya) pada salah satu atau seluruh area akademik, tapi mereka ini bukantergolong anak terbelakang mental. Skor tes IQ mereka menunjukkan skor anatara70 dan 90 (Cooter & Cooter Jr., 2004; Wiley, 2007). Dengan kondisi sepertidemikian, kemampuan belajarnya lebih lambat dibandingkan dengan temansebayanya. Tidak hanya kemampuan akademiknya yang terbatas tapi juga padakemampuan-kemampuan lain, dianataranya kemampuan koordinasi (kesulitanmenggunakan alat tulis, olahraga, atau mengenakan pakaian). Dari sisi perilaku,mereka cenderung pendiam dan pemalu, dan mereka kesulitan untuk berteman.Anak-anak lambat belajar ini juga cenderung kurang percaya diri. Kemampuanberpikir abstraknya lebih rendah dibandingkan dengan anak pada umumnya. Merekamemiliki rentang perhatian yang pendek. Anak dengan SL memiliki ciri fisiknormal. Tapi saat di sekolah mereka sulit menangkap materi, responnya lambat,dan kosa kata juga kurang, sehingga saat diajak berbicara kurang jelasmaksudnya atau sulit nyambung. Tunagrahita merupakan kata lain dariRetardasi Mental (mental retardation). Tuna berarti merugi.Grahita berartipikiran. Retardasi Mental (Mental Retardation/Mentally Retarded) berartiterbelakang mental. Tunagrahita sering disepadankan dengan istilah-istilah,sebagai berikut: 1. Lemah fikiran ( feeble-minded); 2. Terbelakang mental(Mentally Retarded); 3. Bodoh atau dungu (Idiot); 4. Pandir (Imbecile); 5.Tolol (moron); 6. Oligofrenia (Oligophrenia); 7. Mampu Didik (Educable); 8.Mampu Latih (Trainable); 9. Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau ButuhRawat; 10. Mental Subnormal; 11. Defisit Mental; 12. Defisit Kognitif; 13. CacatMental; 14. Defisiensi Mental; 15. Gangguan Intelektual American Asociation onMental Deficiency/AAMD dalam B3PTKSM, (p. 20), mendefinisian Tunagrahitasebagai kelainan: yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata(Sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes; yang muncul sebelum usia16 tahun; yang menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif. Sedangkanpengertian Tunagrahita menurut Japan League for Mentally Retarded (1992: p.22)dalam B3PTKSM (p. 20-22) sebagai berikut: Fungsi intelektualnya lamban, yaituIQ 70 kebawah berdasarkan tes inteligensi baku.Kekurangan dalam perilakuadaptif. Terjadi pada masa perkembangan, yaitu anatara masa konsepsi hinggausia 18 tahun. Pengklasifikasian/penggolongan Anak Tunagrahita untuk keperluanpembelajaran menurut American Association on Mental Retardation dalam SpecialEducation in Ontario Schools (p. 100) sebagai berikut: 1. EDUCABLE Anak padakelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anakreguler pada kelas 5 Sekolah dasar Gifted (anak berbakat) adalah merekayang menurut para ahli / profesional diidentifikasikan sebagai anak yang mampumencapai prestasi tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul. Anakberbakat memerlukan pendidikan khusus yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannyaagar potensi yang luar biasa hebat yang dimilkinya dapat di aktualisasikansecara optimal untuk kepentingan sendiri dan masyarakat. Anak-anak gifted kadang mengalamidisinkroni. Dari penelitian M”nks dilaporkan bahwa setengah dari populasi anakberbakat (gifted) mengalami masalah di sekolahnya karena prestasi yang dicapaidi bawah potensinya (M”nks & Ypenburg, 1995). Masalah ini disebabkan bukanhanya tidak terdukungnya perkembangan kognitif mereka dengan metode yang tepatdi sekolah, tetapi juga adanya masalah dalam perkembangan yang disebut masalahperkembangan disinkroni.Jika tidak ditangani dengan tepat, potensi gifteddisinkroni ini bisa berkembang tidak optimal. Bahkan dampak yang lebih buruk,anak akan frustrasi.
b. Kendala Mengintegrasikan Anak Tunagrahita Dengan AnakNormal di Sekolah Reguler Anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus (tunagrahita)sepintas tidak memiliki perbedaan dengan anak lainnya. Akibatnya masyarakattidak memberikan perhatian khusus. Padahal anak-anak yang memiliki kelambatanperkembangan psikomotorik membutuhkan pendampingan sepanjang hidupnya.anak-anak tunagrahita sepanjang hidupnya membutuhkan pendampingan sehinggamemerlukan dukungan masyarakat. Selama ini perhatian masyarakat sebatas kepadacacat fisik seperti tuna netra, tuna rungu dan tuna daksa. Anak-anak yangtunagrahita lebih membutuhkan pendampingan dari orang lain. Perkembanganfisiknya dapat sangat baik, namun psikomotoriknya sangat lambat. Akibatnyamasyarakat tidak memberikan perhatian sepenuh lebih banyak dibandingkan cacatfisik. Orang tunagrahita dikodratkan memiliki inte-legensia rendah mulai dari30-69. Makin rendah tingkat intelegensianya, makin rendah pula daya nalarnya.
tuna-grahita ringan memiliki tingkat intelegensia antara 60-69, bisa dididikberbagai keterampilan, seperti membaca, mengenal huruf dan uang, mengenal normamasyarakat, serta berso-sialisasi. Tunagrahita sedang bisa melakukan beberapakete-rampilan hidup dan berko-munikasi. Namun tunagrahita berat, motorikhalusnya tidak berkembang akibatnya tidak bisa melakukan berbagai pekerjaandengan baik dan takut bertemu orang lain. Ketunagrahitaan bisa didapat karenafaktor genetik, terinfeksi virus, kurang asupan gizi, atau pengaruh konsumsijenis obat dalam dosis tertentu yang mengakibatkan kelainan pada syaraf-syarafkecerdasannya di otak. Meskipun daya nalarnya tergolong rendah, merekamemiliki kelebihan yang sangat khas Secara umum kendala terbesar dapat dilihat dari jumlahsekolah khusus yang ada di Indonesia serta tenaga pengajarnya dan kurikulumyang dikembangakan belum memadai. Meskipun banyak hal yang biasa kita singgungmengenai kendala yang dihadapi anak tunagrahita di sekolah normal. c. Kritik Terhadap Program Akselerasi di Indonesia Progaram akselerasi adalah program percepatan belajarmerupakan suatu program layanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang olehguru telah diidentifikasikan memiliki prestasi sangat memuaskan, dan olehpsikolog telah diidentifkasi memiliki kemampuan intelektual umum pada tarafcerdas, memiliki kreatifitas tinggi dan ketertarikan terhadap tugas diatasrata-rata, untuk menyelesaikan program pendidkan sesuai dengan kecepatanbelajar mereka. Pada program ini memiliki kelebihan dan kekurangantersendiri dari segi peserta didik hal ini malah akan menimbulkan kesenjanganbagi anak-anak yang kemampuannya biasa-biasa saja dan bagi anak yang mengikutiprogram ini sebenarnya sangat berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangannya,sehingga sangat diperlukan tenaga ahli yang kompeten di bidangnya dalam halpenanganannya. 1. Pola perampingan waktu dari 3 taun menjadi 2 tahun,dengan waktu efektif belajar siswa 3 bulan tiap semester ternyata memilikidampak yang cukup signifikan menurut penulis selaku guru yang langsung terjunberinteraksi dengan siswa. Keterbatasan waktu dan banyaknya jumlah materi yangharus disampaikan tidak bisa dielakkan lagi benturannya. Yang pada ujungnya,walaupun guru sudah memilah dan memilih materi esensial dan non esensial, tohdengan sangat terpaksa guru menyampaikan hanya kulit-kulitnya saja. Hal inidirasakan langsung oleh siswa, apalagi ketika mereka melanjutkan studi diperguruan tinggi mengambil jurusan yang langsung berhubungan dengan materi diSMA seperti MIPA ataupun Teknik. Mereka baru tahu bahwa ternyata apa yang didapatkanSMA sangat dangkal. Cepatnya guru mengajar tidak bisa dihindarkan sehinggamateri esensial pun tidak bisa didalam. 2. Bagi guru, mengajar di kelas ekselerasi selain dituntutguru harus mampu merancang suatu metode pembelajaran yang efektif, dengan waktusingkat tetapi siswa paham, cenderung mengakibatkan guru tidak bisa merasakannikmatnya mengajar suatu materi. Bahkan lebih jauh, yang ada hanyalahmemadatkan tetapi sulit untuk melakukan reinforcement, enrichment atauekskalasi (pendalaman pada tiap bidang) materi. Untuk melakukan analisis yangtinggi terhadap suatu materi yang disampaikan mungkin nyaris terabaikan karenadesakan waktu, dan kejaran bahan yang ada. 3. Usaha pemadatan materi dengan cara menghilangkanbeberapa materi yang dianggap non esensial sangat beresiko hilangnya materiyang kadang kala justru itu merupakan proses analisis berpikir siswa. 4. Pengalaman belajar yang dialami siswa selamapembelajaran sangat menentukan pengembangan potensi dasar siswa baik dayapikir, efektif, maupun kecakapannya. Life skill yang diharapkan dapat tumbuhdalam proses belajar akan cenderung terabaikan kerena yang disampaikan hanyakonsep-konsep penting saja. 5. Locus of Control (orientasi control siswa terhadappengembangan diri) pun nyaris hilang, karena kenikmatan belajar atau menghayatisuatu materi tidak sempat mampir pada siswa. Pada saat yang berurutan merekaharus memahami materi, mengerjakan latihan soal, dan langsung mengikuti terevaluasi. 6. Masa transisi setelah siswa lulus seleksi programakselerasi, dan mulai mengikuti kelas ini cenderung terlihat pada 3 bulanpertama, mereka mengalami suasana stress. Apalagi bila ada guru yang tanpabasa-basi langsung melakukan akselerasi tanpa pemanasan terlebih dahulu. Siswaakan kaget dengan cepatnya materi yang diberikan. 7. Padatnya beban tugas mandiri yang mereka terimacenderung mengakibatkan sosoalosasi dngan teman-teman regular menjadi sangatkurang atau bahkan menjadi sedikit eksklusif. Kecuali pada siswa-siswa tertentuyang merespon tugas dengan baik atau cenderung apatis, kadang-kadang merekamasih bisa bermain dengan teman-temannya dari kelas reguler. 8. Menjelang akhir tahun kelas 3, persiapan untuk ujiannasional, banyak ditemukan siswa yang merasa bahwa dia tidak memiliki persiapanapa-apa, seolah-olah materi 5 semester yang sudah didapat lewat begitu saja.
’’