Sabtu 31 Mar 2012 10:07 AM -

PENANGANAN ANAK AUTISTIK


PENANGANANANAK AUTISTIK

Latar Belakang Penanganan anak autistik memang cukup berat,karena membutuhkan strategi yang berbeda dengan anak lain pada umumnya. Selaintidak mampu bersosialisasi, penderita autis tidak dapat mengendalikan emosinya.Ia hanya tertarik kepada aktivitas mental dirinya sendiri. Kelainan ini jugamenyebabkan perkembangan anak penyandang autism tertinggal jauh dibanding anaknormal seusianya. Bahkan tidak mustahil anak autis akan menjadi abnormalselamanya, bila tidak mendapat penanganan, pendidikan, dan perlakuan yangserius. Selama ini pemerintah belum memberi perhatian kepada anak-anak yangterkena autism. Karena itu, para orangtua harus berjuang sendiri mengembangkananaknya. Sayangnya, terapi yang harus dijalani anak-anak autistik ini harusdijalankan dengan intensif. Biayanya pun mahal, sehingga sering tidakterjangkau oleh masyarakat bawah. Ketidakpedulian pemerintah terlihat daribelum jelasnya jumlah penyandang autism di Indonesia. Apalagi, jumlah merekabelum tertangani, yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Lalu bagaimana maumenangani, bila data penderitanya pun masih belum diketahui. Hasil salah satu penelitian menunjukkan jumlahpenyandang autistik meningkat dari tahun ke tahun. Pada 1987, ratio penyandangautistik 1:5.000. Ini berarti, di antara 5.000 anak, ada satu anak autistik.Angka ini meningkat tajam, menjadi 1:500 pada 1997, kemudian jadi 1:150 pada2000. Para ahli memperkirakan pada 2015 mendatang penyandang autistik akanmencapai 70% dari keseluruhan populasi di dunia. Sekitar 80%, gejala autismterdapat pada anak laki-laki. Bila dilihat per negara, di Amerika autismdialami dengan perbandingan 1:150 anak. Ada tiga karakter yang menunjukkanseseorang menderita autism. Pertama, social interaction, yaitu kesulitandalam melakukan hubungan sosial. Kedua, social communication, yaitukesulitan dengan kemampuan komuniskasi secara verbal dan nonverbal. Sebagaicontoh, sang anak tidak mengetahui arti gerak isyarat, ekspresi wajah, ataupunpenekanan suara. Karakter yang terakhir adalah imagination, yaitukesulitan untuk mengembangkan permainan dan imajinasinya. Pada sebagian anak, gejalanya dapat diketahuisejak anak lahir, disebut dengan Autistik Infantil. Ibu yang memperhatikanperkembangan anaknya, dapat mengetahui perbedaan si anak saat berusia satutahun dari tatapan matanya. Sedangkan, sebelum usia tiga tahun, gejalanya dapatdilihat dari kurangnya interaksi sosial, cara berbicara, cara main yangmonoton. Penanganan kelainan ini diakui banyak pihak sangatlah sulit. Harusdibentuk penanganan menyeluruh yang terdiri atas orangtua, guru, terapis, dankeluarga. Semua ini harus diarahkan untuk membangun kemampuan anakbersosialisasi dan berbicara. Penanganan oleh institusi profesional akan sangatmembantu. Selain demi kemajuan penderita, konseling institusi ini akandibutuhkan pihak keluarga untuk mendapatkan informasi, sekaligus menghilangkanperasaan bersalah atau merasa masalah ini adalah aib yang harus ditutupi. Dengan intervensi dini yang tepat dan optimal,seorang anak penyandang autisme dapat pulih dan hidup normal di tengahmasyarakat. Dalam beberapa kurun waktu terakhir istilah autism, autisme ataukata autism mungkin semakin sering terdegar di telinga kita, banyak kasusmembuktikan bahwa gejala autis seringkali terlambat disadari orangtua padahaldeteksi dini sebagai awal penegakan diagnosa autis memiliki peran sangatpenting dalam setiap tahapan terapi autis itu sendiri. Meski sering mendengaristilah autis namun mungkin banyak diantara orangtua yang kurang memahami apasaja gejala-gejala awal autis atau bagaimana cara mendeteksi dini gangguanperkembangan yang populer dengan berbagai istilah tersebut, baik itu autism,autisme, autis dan berbagai istilah lain yang memiliki makna tidak jauh berbedabahkan sebenarnya memiliki pengertian yang sama yakni sebuah gejala gangguanperkembangan. Meminjam istilah Dr. Melly Budhiman selaku Ketua Yayasan AutismaIndonesia (YAI) yang menyebutkan Bom Waktu untuk autism memang merupakanfenomena tersediri di tengah masyarakat Indonesia bahkan di seluruh dunia.Menangani anak autistik memang memiliki fenomena dan dinamika tersendiri, tanpaterkecuali baik bagi para orangtua, ahli, dokter, psikolog maupun terapis anakautistik. Pemahaman dan kesabaran tentu sangat diperlukan demi pencapaian hasilmaksimal dalam menangani anak autistik, seorang yang ahli secara teoritis belumdapat dipastikan mampu menangani anak autis dengan berbagai keterbatasan dankesenjangan perkembangan perilaku yang dimiliki anak dengan autis. A. Program Terapis Terapi dibagi dalam dua layanan yaitu terapisintervensi dini dan terapi penunjang yang perlu dilakukan terhadap anak yangmengalami gangguan autism.
Terapi Intervensi dini Padadekade terakhir ini banyak kemajuan dalam mengali karakteristik anak autistik,dimana hasil positif pada anak-anak usia muda mendapatakan intervensi dini.Dengan intervensi dini potensi dasar (functional) anak autistik dapat meningkatmelalaui program yang intensif. Ini sejalan dengan hipotesa bahwa anak auistikmemperlihatkan hasail yang lebih baik bila intervensi dini dilakukan pada usiadibawah 5 tahun. Untuk program terapi intervensi dini ada empat programintervensi dini bagi anak autistik yaitu : 1. Dicret Trial Training (DTT), dari Lovaasdkk, 1987 2. Learning Experience an Alternative ProgramFor preshoolers and parents (LEAP), dari, Strain dan Cordisco, 1994. 3. FloorTime, dari Greenspan dan Wilder, 1998 4. Treatment and Education of Autistic andRelated Communication handicapped Children (TEACCH), dari Mesibov, 1996. TerapiPenunjang Beberapajenis terapi penunjang bagi anak autistik dapat diberikan yang disesuaikandengan karakteristik dan kebutuhan anak, antara lain : 1. Terapi Medikamentosa Yaitu terapi dengan menggunakan obat-obatan.Pemakaian obat-obat ini akan sangat membantu untuk memperbaiki respon anakterhadap lingkungan. Sehingga ia lebih mudah menerima tatalaksana terapi yanglain. Obat yang selama ini cukup sering digunakan dan memberikan respon yangbaik adalah risperidone. Bila kemajuan yang dicapai sudah bagus, makaobat-obatan bisa mulai dikurangi bahkan dihentikan. 2. Terapi Wicara Terapi wicara merupakan suatu keharusan bagipenyandang autism, karena semua anak autistik mengalami gangguan bicara danberbahasa. Hal ini harus dilakukan oleh seorang ahli terapi wicara yang memangdididik khusus untuk itu. 3.Terapi Okupasional Jenis terapi ini perlu diberikan pada anak yangmemiliki gangguan perkembangan motorik halus untuk memperbaiki kekuatan,koordinasi dan ketrampilan. Hal ini berkaitan dengan gerakan-gerakan halus dantrampil, seperti menulis. 4. Terapi Perilaku Terapi ini penting untuk membantu anak autistikagar kelak dapat berbaur dalam masyarakat, dan menyesuaikan diri dalamlingkungannya. Mereka akan diajarkan perilaku perilaku yang umum, dengan carareward and punishment, dimana kita memberikan pujian bila mereka melakukanperintah dengan benar, dan kita berikan hukuman melalui perkataan yang bernadabiasa jika mereka salah melaksanakan perintah. Perintah yang diberikan adalahperintah-perintah ringan, dan mudah dimengerti. 5. Terapi Bermain Terapibermain sebagai penggunaan secara sistematis dari model teoritis untukmemantapkan proses interpersonal. Pada terapi ini, terapis bermain menggunakankekuatan terapuitik permaianan untuk membantu klien menyelesaikankesulitan-kesulitan psikosional dan mencapai pertumbuhan, perkembangan yangoptimal. 6. Terapi Musik Terapimusik menurut Canadian Association for Music Therapy (2002) adalah penggunaanmusik untuk membantu integrasi fisik, psikologis, dan emosi individu, sertatreatment penyakit atau ketidakmampuan. Atau terapi musik adalah suatu te.apiyag menggunakan musik untuk membantu seseorang dalam fungsi kognitif,psikologis, fisik, perilaku, dan sosial yang mengalami hambatan maupunkecacatan.. 7.Terapi Integrasi Sensoris Terapiini berguna meningkatkan kematangan susunan saraf pusat, sehingga lebih mampuuntuk memperbaiki sruktur dan fungsinya. Aktivitas ini merangsang koneksisinaptik yang lebih kompleks, dengan demikian bisa meningkatkan kapasitas untukbelajar. 8.Terapi Biomedik Terapibiomedik fokus pada pembersihan fungsi-fungsi abnormal pada otak. Dengan terapiini diharapkan fungsi susunan saraf pusat bisabekerja dengan lebih baiksehingga gejala autism berkurang. 9. Terapi makanan Terapi melalui makanan (diet therapy)diberikan untuk anak-anak yang alergi pada makanan tertentu. Diet yang seringdilakukan pada anak autistik adalah GFCF (Glutein Free Casein Free). Anakdengan gejala autism memang tidak disarankan untuk mengasup makanan dengankadar gula tinggi. Hal ini berpangaruh pada sifat hiperaktif sebagian besardari mereka. 10. Pendidikan Khusus Pendidikan khusus adalah pendidikan individualyang terstruktur bagi para penyandang autism. Pada pendidikan khusus,diterapkan sistem satu guru untuk satu anak. Sistem ini paling efektif karenamereka tak mungkain dapat memusatkan perhatiannya dalam suatu kelas yang besar.Banyak orangtua yang tetap memasukan anaknya ke kelompok bermain atau STKnormal, dengan harapan bahwa anaknya bisa belajar bersosialisasi. Untukpenyandang autism ringan hal ini bisa dilakukan, namun ia harus tetapmendapatkan pendidikan khusus. B. Program Layanan Pendidikan bagi AnakAutistik Padaanak autistik yang telah melakukan terapi rutin dengan baik dan memperlihatkankebehasilan yang cukup tingggi , anak terdebut dapat dikatakan bisa menjalanipendidikan yang sesuai dengan anak tersebut. Anak-anak diperkenalkan ke dalamkelompok anak-anak yang normal yang sesuai dengan usianya, sehingga ia dapatmempunyai figure / role mode anak noramal dan meniru tingkah laku anak normaltersebut. Ada beberapa progaram layanan pendidikan bagi anak autistik yangsesuia dengan kebutuhan masing-masin anak, diantaranya : £ Kelas Transisi Kelasini bertujuan untuk anak dengan kebutuhan khusus termasuk anak autistik yangtelah terapi secara terpadu dan terstruktur. Program kelas transisis inibertujuan membantu anak atutistik dalam mempersiapkan transisi ke bentuklayanan pendidikan lanjutan. Dalam kelas trnsisi ini akan digali dandikembangkan kemampuan, potensi dan minat anak, sehingga akan terlihat gambaranyang jelas mengenai tingkat keparahan serta keunggulan anak, yang merupakankarakteristik spesifik dari tiap individu. Kelas transisis merupakan titikacuan dalam pemilihan bentuk layanan pendidikan lanjutan yang paling sesuai. £ PendidikanInklusi Programpendidikan inklusi dilaksanakan pada sekolah reguler yang menerima anakautistik. Karakteristik program ini anak yang sudah mampu mengendalalikanperilakunya sehingga tampak berperilaku normal, berkomunikasi dan berbicaranormal, serta mempunyai wawasan akademik yang cukup sesuai dengan anakseusianya. Untuk program ini diperlukan keterbukaan dari sekolah umum; padasaat test masuk sekolah tidak hanaya didasari oleh tes IQ untuk anak normal:terdapat proses shadowing yang diberikan oleh guru pembimbing khusus.


£ Pendidikan Terpadu Dalamhal ini secara teknis pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dalam pendidikanterpadu memerlukan kelas khusus yang hanya akan digunakan oleh anak autistikjika anak tersebut memerlukan bantuan dari guru pembimbing khusus (GPK) atauguru pendamping (shadow), untuk pelajaran tertentu yang tidak dimengertinya.Program ini berhasil jika : 1.Idealnya anak berhak memilih pelajaran yang iamampu . 2.Anak dapat lulus dari sekolahnya karena telah selesai melewatipendidikan dikelasnya bersama-sama. 3. Tersedianya tempat khusus. d. SekolahKhusus Sekolah ini diperuntukkan khusus bagi anak autistik terutama yang tidakmemungkinkan dapat mengikuti pendidikan di sekolah reguler. Anak di sekolah inisangat sulit untuk dapat berkonsentrasi dengan adanya distraksi sekelilingmereka. Pendidikan di sekolah difokuskan pada program fungsional seperti binadiri, bakat, dan minat yang sesuai dengan potensi mereka. Pada anak autismemang telah disediakan kelas terpadu, namun pada kenyataannya dari kelasterpadu terevaluasi bahwa tidak semua anak autistik dapat transisi ke kelasreguler. Anak autistik ini sangat sulit untuk berkonsentrasi dengan adnyadistraksi di sekelili mereka. Beberapa anak memperlihatkan potensi yan sangatbaik dalam bidang tertentu misalnya olahraga, musik, melukis, keterampilan dansebagainya. £ Sekolah di Rumah Programini diperuntukkan bagi anak autistik yang tidak mampu mengikuti pendidikan disekolah khusus karena keterbatasannya. Anak-anak autistik yang non verbal,retardasi mental atau mengalami gangguan serius motorik dan auditorinya dapatmengikuti program sekolah di rumah. Program dilaksanakan di rumah denganmendatangkan guru pembimbing atau terapis atas kerjasama sekolah, orang tua danmasyarakat. Program sekolah di rumah sekiranya dapat memberikan perhatian yanglebih khusus bagi anak oleh terapis maupun guru yang memiliki keahlian khusustentang autism, sehingga sang anak dapat dapat lebih fokus dalam prosesbelajar. Terapi akan lebih maksimal ketika orang tua juga mempunyai peran yangsama untuk membantu anak, karena waktu yang lebih lama bagi anak adalah waktudisaat dia ada di rumah dan bersama kedua orang tuanya. Terapijuga diperlukan di rumah selain terapi dari institusi atau sekolah khusus, halini sangat diperlukan kerjasama yang terorganisir serta dipantau secaraintensif dengan tujuan semua program terapi yang diperlukan dapat berjalandenga lancar dan tidak ada waktu yang terbuang. Orang tua dalam melakukanterapi di rumah tentu saja telah mendapatkan penjelasan tentang proses terapiitu sendiri dengan menerapkan kedisiplinan yang tinggi pada metode maupun padapenaturan waktu.
Tujuan program sekolah di rumah diantaranya : 1. Untuk mengembangkan pengenalandiri 2. Untuk mengembangkan sensoromotor 3. Untuk mengembangkan berbahasaresepti dan ekspresif, serta kemampuan sosialnya. 4. Untuk mengembangkan motorik kasar dan motorikhalus 5. Untuk mengembangkan kemampuan mengurus diri 6. Untuk mengembangkan emosi dan mental spiritual 7. Untuk mengurangi atau menghilangkan perilakuyang menyimpangan. £ Panti (griya) Rehabilitasi Autism. Anakautistik yang kemampuannya sangat rendah, gangguannya sangat parah dapatmengikuti program di panti (griya) rehabilitasi autism. Program dipantirehabilitasi lebih terfokus pada pengembangan: (1)Pengenalan diri (2)Sensori motor dan persepsi (3)Motorik kasar dan halus (4)Kemampuan berbahasa dan komunikasi (5) Binadiri, kemampuan social (6)Ketrampilan kerja terbatas sesuai minat, bakat dan potensinya. Dari beberapamodel layanan pendidikan di atas yang sudah eksis di lapangan adalah Kelastransisi, sekolah khusus autistik dan panti rehabilitasi.
C. Kasih Sayang dan Kesabaran, KunciKeberhasilan Menangani Anak Autistik