Senin 28 Nov 2011 01:11 AM -

media 3 dimensi

Macam-macam Benda Model
Model Perbandingan
Model ini dibuat terutama untuk menerangkan sesuatu obyek atau benda yang karena besarnya sukar dibawa masuk kelas atau karena kecilnya sukardiamati dengan baik. Untuk membuat model ini ketelitian perbandingan antara benda asli dengan model yang akan dibuat hendaknya diperhatikan, agar murid tidak mendapatkan pengertian yang keliru dari benda yang sebenarnya.

Membuat model perbandingan memang tidaklah mudah. Misalnya kita membuat model perbandingan untuk planet atau benda-benda ruang angkasa.Untuk perbandingan antara bumi, bulan dengan planet Yupiter misalnya, kita sering kali tidak membuat per-bandingan yang sebenarnya. Misalnya besar bumi sepuluh kali bulan, tetapi kita buat model dengan perbandingan satu berbanding empat. Sebaliknya dari benda-benda yang kecil ukurannya kita lebih mudah untuk membuat model tiruannya secara tepat. Globe misalnya adalah salah satu model perbandingan. Tetapi dalam bahasan ini, globe akan dibahas dalam paragraf tersendiri karena pembuatannya memerlukan persyaratan-persyaratan khusus yang perlu diperhatikan.

Model yang Disederhanakan

Model ini dibuat dengan cara menyederhanakan bentuk benda yang sebenarnya. Dari bentuk benda yang lebih rumit ditiru bagian-bagian pentingnya saja. Dengan demikian model ini masih tetap menunjukkan kesan bentuk yang sebenarnya, hanya dalam wujud yang sederhana. Banyak obyek yang riil tetapi sulit untuk dipelajari secara langsung, karena rumitnya konstruksi dari benda atau obyek tersebut.

Dengan model yang disederhanakan akan lebih mudah menangkap pengertian tentang struktur dari suatu bentuk yang terlalu rumit. Model ini merupakan tiruan dari benda sebenarnya dalam garis besar yang hanya mengutamakan ciri-ciri khususnya saja. Misal-nya menggambarkan sebuah pelabuhan dengan berbagai macam kendaraan, berbagai macam kapal, gedung-gedung atau bangunan gedung, para pekerjanya, mesin-mesin besar yang sedang bekerja disitu. Untuk menggambarkan situasi seperti ini tentu saja tidak dibuat dengan menampilkan sesuai dengan jumlah kapal yang sebenarnya, kendaraan dan bangunan-bangunan, tetapi dengan beberapa model kapal, model kendaraan, dua bangunan gedung, sebuah kantor dan beberapa model orang-orangan cukup dapat meng-gambarkan situasi sebuah pelabuhan.

Model Irisan

Untuk memperlihatkan struktur bagian dalam suatu bentuk atau obyek agar men-dapatkan pengertian yang jelas tentang bagian-bagiannya maka digunakanlah model irisan. Model irisan ini dibuat dengan beberapa alasan yang antara lain benda aslinya tertutup dan terlalu besar, misalnya gunung berapi, sedang murid memerlukan penjelasan tentang struk- tur bagian dalamnya. Alasan lain adalah alasan kesesuaian, misalnya untuk mendapat pema-haman yang jelas tentang struktur bagian dalam mata manusia, kita tidak mungkin membuat irisan langsung pada tubuh manusia, sekalipun sudah mati. Untuk itu diperlihatkan tiruan untuknya.

Model Lapangan

Model lapangan ini dibuat untuk menerangkan suatu daerah tertentu atau kondisi wilayah tertentu. Misalnya pelabuhan udara, daerah perkebunan, proyek perumahan, dan sebagainya, Model lapangan dibuat untuk memperjelas lokasi suatu bangunan tertentu. Tentu saja model lapangan ini perlu dilengkapi dengan berbagai bentuk model yang sedang disederhanakan. Biasanya model semacam ini disebut maket (maquette).Walaupun dilengkapi dengan berbagai model yang disederhanakan dan juga menggunakan prinsip model perbanding-an, dalam model ini yang diutamakan adalah bentuk kejelasan lokasinya. Dengan model ini orang yang akan mempelajari atau menyelidiki lokasi suatu daerah akan mendapat kejelasan yang memadai melalui model ini.

Model Susunan

Model susunan dimaksudkan struktur bagian dalam dari suatu benda, disamping memperlihatkan bagian dalam obyek juga dapat dilepas atau dipreteli untuk dipelajari satu per satu sehingga memperjelas pengertian. Dan bila sudah selesai dapat diletakkan kembali pada posisinya semula. Model ini dapat berupa variasi dari model irisan. Model irisan sendiri dapat disebut model terbuka, karena menggambarkan obyek yang aslinya dalam keadaan tertutup ditampilkan dalam model yang terbuka. Untuk model terbuka sebaiknya siswa disuruh hati-hati waktu mempelajarinya. Karena disamping mahal harganya, juga agak mudah rusak dan apabila alat penyetelnya rusak dapat mengganggu penampilan model tersebut dan mungkin tidak dapat disusun seperti semula.

Model Utuh

Pada suatu saat guru mengalami kesulitan untuk menerangkan suatu obyek yang sebenarnya tidak terlalu kecil, sehingga mudah untuk dapat dilihat dengan mata dan juga tidak terlalu besar, sehingga mudah untuk dibawa masuk kelas, tetapi benda asli yang dimaksudkan tidak ada lagi atau tidak mudah terjangkau karena tempatnya sukar untuk dicapai atau benda tersebut terlalu rawan untuk ditampilkan langsung misalnya mudah hancur, mudah membusuk dan sebagainya.

Untuk mengatasi problem tersebut di atas, maka guru berusaha membuat tiruan yang baik bentuk dan ukurannya ini disebut model utuh. Umumnya model ini dapat dibuat dari bahan plastik atau bahan karet.

Peta dan Macamnya

Peta Timbul

Peta timbul adalah peta yang dapat menunjukkan tinggi rendahnya permukaan bumi. Secara fisik peta timbul adalah termasuk model lapangan juga, walaupun untuk obyek lokasi yang lebih luas. Peta timbul mempunyai ukuran panjang, lebar, dan dalam (lekukan relief). Keuntungan peta timbul jika dibandingkan dengan peta datar adalah lebih mudah memberikan pengertian atau gambaran tentang keadaan permukaan bumi.

Dengan melihat peta timbul siswa memperoleh gambaran yang jelas tentang perbedaan letak tepi pantai, dataran rendah, dataran tinggi, pegunungan, gunung berapi, lembah, danau-danau, dan sebagainya. Siswa akan mudah memperoleh pengertian atau memahami mengapa tinggi tempat/gunung diukur dari permukaan air laut dan sebagainya.

Peta timbul dapat dibuat oleh guru oleh guru bersama siswa. Dengan demikian akan dapat memupuk daya kreasi dan imajinasi siswa. Disamping itu dapat pula memupuk rasa tanggungjawab bersama terhadap hasil karya bersama. Berbagai macam bahan yang dapat dipakai untuk membuat peta timbul, antara lain: semen, tanah liat, serbuk gergaji, bubur kertas koran, dan lain-lain. Tentu saja pemilihan bahan yang akan dipakai harus disesuaikan dengan keperluan peta timbul yang akan dibuat. Misalnya apabila kita akan membuat peta timbul ukuran besar yang diletakkan dihalaman sekolah, lebih tepat bila menggunakan semen dan pasir. Sedangkan untuk membuat peta timbul yang dapat dipakai di dalam kelas dan dengan mudah dapat dibawa dari kelas yang satu ke kelas yang lain, lebih tepat kalau dibuat dari bahan yang ringan, yaitu bubur kertas koran.

Cara membuatnya pun berbeda-beda tergantung dari bahan yang akan dibaut dan tempat peta timbul itu dibuat. Sebagai pedoman dibawah ini disajikan cara membuat peta timbul bubur kertas.

a. Bahan-bahan yang diperlukan
1) Peta datar sesuai dengan peta timbul yang akan dibuat.
2) Papan alas yang dapat dibuat dari tripleks, anyaman bambu, papan kayu, dan sebagainya.
3) Kertas koran atau dapat kertas bekas yang lainnya.
4) Perekat kanji dan gom arabica atau lem kayu.
5) Cat warna.

Proses pembuatannya
1) Siapkan peta datar yang lengkap, sesuai dengan keperluan peta timbul yang akan dibuat.
2) Kertas koran disobek-sobek kecil-kecil dan direndam
dalam air,selama satu atau dua malam.
3) Sobekan kertas koran itu kemudian ditumbuk dan diaduk
dengan perekat dari kanji yang dicampuri sedikit dengan lem kayu (gom arabica).

4) Mulailah membuat peta pada alas papan yang telah disediakan, sesuai dengan rencana (sambil melihat peta datar yang diturun), dengan cara menempelkan bubur kertas koran itu pada papan sesuai dengan tinggi rendahnya tempat pada peta (perhatikan skala perbandingannya).

5) Setelah selesai peta tersebut dikeringkan, jangan lupa memeriksa jika ada yang retak
segera ditutup atau diperbaiki.
6) Setelah kering benar, berilah warna dengan bermacam-macam cat yang tersedia dan perlu diingat bahwa warna disamping memberikan arti tertentu pada peta juga berpengaruh untuk menampakkan adanya relief pada peta timbul. Perhatikan pedoman warna yang antara lain:

a) pemberian warna pada peta tidak bebas, karena warna peta mempunyai arti tersendiri. Karena itu warna yang digunakan adalah warna yang berlaku pada peta datar;

b) berilah warna dasar dulu secara keseluruhan dengan warna muda. Dataran rendah diberi warna hijau (hijau campur putih), dataran tinggi diberi warna kuning muda (kuning campur putih), hal ini perlu untuk memberikan efek yang cerah/ baik bagi pandangan mata, dan

c) kemudian baru diberi warna yang sebenarnya dengan pedoman makin rendah suatu dataran makin tua wrna hijaunya, makin tinggi dataran coklatnya makin tua.

Disamping cara di atas untuk membuat peta timbul dengan bahan yang sama dapat dilakukan dengan cara membuat cetakan dulu dari tanah liat, baru kemudian dilapis dengan potongan-potongan kertas, dan setelah kering baru diberi warna.Cara ini mempunyai keun-tungan yaitu kita dapat membuat peta timbul dengan menggunakan cetakan yang sama. Cara ini tepat bila kita bermaksud memproduksi peta timbul dalam jumlah yang banyak. Perlu diketahui pula bahwa dalam keadaan yang sebenarnya kita tak dapat membuat peta timbul dengan landasan atau alasan yang datar, sebab bentuk bumi yang sebenarnya adalah bulat. Mestinya peta timbul pun harus dibuat setidak-tidaknya melengkung.

G l o b e

Globe adalah model atau tiruan dari bentuk bumi yang diperkecil. Jadi globe sebe-narnya adalah termasuk model perbandingan.Globe memberikan keterangan tentang permukaan bumi pada umumnya dan khususnya tentang lingkungan bumi, aliran sungai dan langit. Dalam abad ke X, seorang rohaniwan terkenal yang bernama Gilbert (yang kemudian dikenal sebagai Paus Sylvester II) telah membuat dan menggunakan globe untuk mengajar astronomi.

Tujuan penggunaan globe

a) Menunjukkan bentuk bumi yang sebenarnya dalam bentuk dan skala kecil.
b) Menunjukkan jarak pada suatu titik tertentu.
c) Menunjukkan skala-skala yang menunjukkan jarak dan route dari pada lingkungan yang luas.

Jenis-jenis globe
Ditinjau dari segi ukurannya globe dapat dibedakan menjadi beberapa macam. Ukuran globe ditentukan menurut panjang garis tengahnya. Ukuran yang paling umum adalah 8, 12, 18,, 20 dan 24 inci (satu inci = 25,4 mm). Globe 8 inci cocok untuk dipakai perseorangan. Globe 12 dan 16 inci yang biasa dipakai untuk kelompok atau kelas. Tentu saja makin besar makin baik karena jelas, tapi harganya juga makin mahal.

Ditinjau dari segi isinya, globe ada bermacam-macam tergantung dari keperluannya. Tetapi yang biasanya dipakai ada tiga jenis, yaitu:

Globe politik
Dibuat terutama untuk menunjukkan lokasi dan ikatan negara-negara, kota-kota penting, route perdagangan dan ciri-ciri lain yang diciptakan oleh manusia.

Globe fisikal politik
Dibuat untuk menunjukkan ciri-ciri politik seperti globe politik, tetapi juga meng-utamakan tinggi rendahnya daratan dan dalamnya laut dengan kode warna tertentu.

Globe buta
Dibuat hanya berupa garis-garis skala untuk menunjukkan tempat. Guru dan murid dapat melukiskan sendiri dengan kapur sesuai dengan bahan yang sedang dibicarakan. Globe ini dapat dibuat sendiri oleh guru bersama murid dengan bahan yang sederhana, dari kayu dan dicat hitam.

Penggunaan Globe

Dalam penggunaannya kita harus ingat bahwa keadaan bumi yang ditunjukkan pada globe hanya berupa garis-garis, warna-warna dan lambang-lambang yang tidak sama persis dengan keadaan bumi yang sebenarnya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada waktu menggunakan globe, antara lain adalah:

a. Pengajaran ilmu bumi hendaknya dimulai dengan apa yang diketahui siswa. Widya wisata dan mengamati lingkungan yang dekat adalah merupakan dasar pembentukan pengertian geografis.

b. Ingat tidak ada orang yang langsung dapat membaca peta/globe. Oleh karena itu pertama harus dikenalkan arti lambang-lambang untuk membaca peta.

c. Pengajaran ilmu bumi hendaknya dimulai dengan pengertian dan fakta yang sederhana, kemudian makin lama makin kompleks.

d. Ajaklah anak untuk ikut aktif dalam kegiatan membuat peta, peta timbul, globe, dan sebagainya. Dalam mengajar ilmu bumi gunakan juga media yang lain.

Boneka

Boneka adalah tiruan dari bentuk manusia dan bahkan sekarang termasuk tiruan dari bentuk binatang. Jadi sebenarnya boneka merupakan salah satu model perbandingan juga. Sekalipun demikian, karena boneka dalam penampilannya memiliki karakteristik khusus, maka dalam bahasan ini dibicarakan tersendiri. Dalam penggunaan boneka dimanfaatkan sebagai media pembelajaran dengan cara dimainkan dalam sandiwara boneka.

Sejak tahun 1940-an pemakaian boneka ebagai media pendidikan menjadi populer dan banyak digunakan di Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan di Amerika. Di Eropa seni pembuatan boneka telah sangat tua dan sangat populer serta lebih tinggi tingkat keahliannya dibandingkan di Amerika.

Di Indonesia penggunaan boneka sebagai media pendidikan massa bukan merupakan sesuatu yang asing. Di Jawa Barat dikenal boneka tongkat yang disebut Wayang Golek dipakai untuk memainkan cerita-cerita Mahabarata dan Ramayana. Di Jawa Timur dan di Jawa Tengah dibuat pula boneka tongkat dalam dua dimensi yang dibuat dari kayu dan disebut dengan nama Wayang Krucil. Di Jawa Tengah dan di Jawa Timur pula dikenal dengan boneka bayang-bayang yang disebut Wayang Kulit.

Untuk keperluan sekolah dapat dibuat boneka yang disesuaikan dengan cerita-cerita jaman sekarang. Untuk tiap daerah pembuatan boneka ini disesuaikan dengan keadaan daerah masing-masing.

Macam-macam Boneka
Dilihat dari bentuk dan cara memainkannya dikenal beberapa jenis boneka, antara lain:
Boneka jari
Boneka ini dibuat dengan alat sederhana seperti tutup botol, bola pingpong, bambu kecil yang dapat dipakai sebagai kepala boneka. Sesuai dengan namanya boneka ini dima-inkan dengan menggunakan jari tangan. Kepala boneka diletakkan pada ujung jari kita/ dalam. Dapat juga dibuat dari semacam sarung tangan, dimana pada ujung jari sarung ta-ngan tersebut sudah berbentuk kepala boneka dan dengan demikian kita/ dalam tinggal memainkannya saja.

Boneka Tangan
Kalau boneka dari setiap ujung jari kita dapat memainkan satu tokoh, lain halnya dengan boneka tangan. Pada boneka tangan ini satu tangan kita hanya dapat memainkan satu boneka. Disebut boneka tangan, karena boneka ini hanya terdiri dari kepala dan dua tangan saja, sedangkan bagian badan dan kakinya hanya merupakan baju yang akan menutup lengan orang yang memainkannya disamping cara memainkannya juga hanya memakai tangan (tanpa menggunakan alat bantu yang lain).

Cara memainkanya adalah jari telunjuk untuk memainkan atau menggerakkan kepala, ibu jari, dan jari tangan untuk menggerakkan tangan. Di Indonesia penggunaan boneka tangan sebagai media pendidikan/ pembelajaran di sekolah-sekolah sudah dilak-sanakan, bahkan dipakai diluar sekolah yaitu pada siaran TVRI dengan film seri boneka Si Unyil

Boneka Tongkat
Disebut boneka tongkat karena cara memainkannya dengan menggunakan tongkat. Tongkat-tongkat ini dihubungkan dengan tangan dan tubuh boneka. Wayang Golek di Jawa Barat misalnya adalah termasuk boneka jenis ini. Untuk keperluan penggunaan boneka tongkat sebagai media pendidikan/ pembelajaran di sekolah, maka tokoh-tokohnya dibuat sesuai dengan keadaan sekarang. Misalnya dibuat tokoh tentara, pedagang, lurah, nelayan dan sebagainya Boneka tongkat dapat dibuat darikayu yang lunak seperti kayu kemiri, randu, dan sebagainya.

Boneka Tali
Boneka tali atau Marionet banyak dipakai dinegara barat. Perbedaan yang menyolok antara boneka tali dengan boneka yang lain adalah, boneka tali bagian kepala, tangan, dan kaki dapat digerak-gerakkan menurut kehendak kita/dalangnya. Cara meng-gerakkannya dengan tali. Dengan demikian maka kedudukan tangan orang yang memain-kannya berada di atas boneka yang dimainkannya. Untuk memainkan boneka tali diperlukan latihan-latihan yang teratur, sebab memainkan boneka tali ini memerlukan keterampilan yang lebih sulit dibandingkan dengan memainkan boneka-boneka yang lainnya. Adakan tetapi memiliki kelebihan lebih hidup dari pada boneka yang lain, karena mendekati gerak manusia atau tokoh yang sebenarnya.
Boneka Bayang-bayang
Boneka bayang-bayang (Sadhow Puppet) adalah jenis boneka yang cara memainkannya dengan mempertontonkan gerak bayang-bayang dari boneka tersebut. Di Indonesia khususnya di Jawa dikenal dengan Wayang kulit. Namun untuk keperluan sekolah, wayang semacam ini dirasakan kurang efektif, karena untuk memainkan boneka ini diperlukan ruangan gelap/tertutup. lagi pula diperlukan lampu untuk membuat bayang-bayang layar.

Bak Pasir

Banyak orang menganggap bahwa bak pasir hanya baik untuk permainan murid taman kanak-kanak saja. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Bak pasir sangat baik untuk memvisualisasikan suatu keadaan untuk diperhatikan oleh orang dewasa juga. Seorang Amerika Serikat bernama Norman Bel Geddes selagi Perang Dunia Kedua sedang berkecamuk mevisualisasikan dengan bak pasir peperangan di Midway dan Laut Koral sedemikian hidupnya sehingga foto dari bak pasir itu dikira orang hasil pemotretan dokumenter yang diambil dari pertempuran sebenarnya.

Dalam pendidikan kemiliteran bak pasir dianggap sangat penting untuk mengajarkan berbagai taktik perang. Oleh karena kesederhanaannya, begitu pula mudah membuatnya, bak pasir menjadi tempat yang efektif bagi seorang instruktur kemiliteran untuk menerangkan berbagai strategi lapangan.

Dengan menggunakan model-model kecil, pemandangan pada bak pasir bisa sangat hidup. Cermin yang diletakkan di bak pasir dapat merupakan danau. Banda-benda dapat dibuat dari karton atau balok-balok kayu kecil. Kalau pada bagian belakang bak pasir ditegakkan pula tripleks yang diberi gambar gunung dan langit biru dengan awan di sana sini, seperti latar belakang sebuah pentas, maka bak pasir itu memberi efek tiga dimensi yang menarik. Warna tentu menambah bagus bak pasir itu.

Untuk latihan kemiliteran, di dalam bak pasir terdapat selain pohon-pohonan juga model rumah-rumah penduduk, jembatan, gereja atau mesjid. Juga prajurit-prajurit dengan perwiranya dalam pakaian tempur, truk, tank, meriam dan lain-lain persenjataan dalam ukuran kecil.

Bak pasir dapat juga digunakan untuk penyuluhan pertanian atau pelajaran hortikultura dan pelajaran dekorasi eksterior. Juga besar sekali faedahnya untuk menjelaskan akibat erosi yang disebabkan oleh banjir akibat penebangan hutan secara liar. Begitu pula untuk menjelaskan bagaimana menyalurkan air untuk irigasi atau pemeliharaan ikan dalam kolam-kolam. Atau memberi gambaran bagaimana orang harus menebang hutan sesudah itu menanam kembali pohon-pohon yang baru.

Sama halnya dengan media tiga dimensi yang lainnya, bak pasirpun tidak boleh berlama-lama dibiarkan menjadi benda tak berguna setelah habis tugasnya atau pemanfaat-annya. Membuat bak pasir seperti juga membuat media tiga dimensi lainnya, sebaiknya dibuat secara gotong royong untuk membangkitkan perhatian kepada siswa dan mendorong kreativitas.

Kelebihan bak pasir adalah, bahwa benda itu dapat digunakan berulang-ulang karena mudah menyusun kembali bagian-bagiannya. Tetapi ini pulalah yang menjadi kelemahannya, sebab apa yang terdapat di dalamnya sepeeti pohon-pohohnan dan apa yang terdapat di dalamnya mudah sekali roboh atau terserak kalau tidak hati-hati menggunakannya. Apa yang terdapat dalam bak pasir tidak permanen, sehingga isinya dapat diubah-ubah sesuai dengan keinginan pemakainya atau maksud dari guru atau instruktur untuk mevisualisasikan apa yang ingin dijelaskannya. Seperti media tiga dimensi yang lainnya, dengan bak pasir, orang dapat melihatnya dari segala sudut pemandangan.

Kelemahan yang lain adalah jika guru kurang kreatif untuk memanfaatkan bak pasir dengan menata isinya dengan model-model tiruan yang lainnya, maka anak-anak akan menjadi kurang tertarik dengan tampilan bak pasir yang kita buat, sehingga akan menurun-kan tingkat efektivitasnya.



Mock-up
Mock-up adalah alat tiruan tiga dimensi yang dapat memperlihatkan fungsi atau gerakan dari aspek tertentu saja dari benda, alat atau obyek yang akan diterangkan. Pada mock-up hanya nampak bagian yang penting yang perlu diperagakan gerakannya atau proses kerjanya kepada siswa, sedang bagian kecil lainnya yang dianggap tidak penting atau yang dapat mengganggu perhatian siswa dihilangkan.

Jadi sebenarnya mock-up terletak ditengah-tengah model tiruan dengan benda sebe-narnya. Dikatakan model tidak tepat, karena dapat memperlihatkan fungsi sebenarnya dari bagian alat itu, sebaliknya disebut benda sebenarnya juga tidak tepat, karena bagian-bagian lain dari bentuk benda aslinya yang tidak diterangkan, dihilangkan. Selain itu bahan baku yang dibuat untuk alat ini bisa dibuat dari bahan yang lain dari benda atau peralatan aslinya. Misalnya siswa waktu belajar tentang fungsi bel listrik. Pertama dapat dibuat model rumah yang sederhana, kemudian dibuat perangkat bel listrik yang sebenarnya dan dihubungkan dengan listrik (battery atau accu). Bel listrik ditempelkan pada dinding rumah-rumahan tersebut. Dengan demikian siswa dapat melihat proses kerjanya bel listrik dan tahu cara meletakkan bel listrik dan tahu cara meletakkan bel listrik yang baik. Contoh lain misalnya dibuat mock-up traffick light ukuran kecil yang dapat menyala. Kemudian dibuatkan model lapangan yang menggambarkan perempatan jalan dan traffick light tadi dipasang pada posisi yang tepat.

Dengan menggunakan mobil-mobilan kecil anak dapat bermain lalu-lintas dengan menggunakan traffick light tiruan tadi. Khusus untuk mock-up traffic light-nya dapat dibuat dari bahan yang nantinya benar-benar dapat memperagakan seperti keadaan yang sebenarnya. Lampunya benar-benar dapat menyala (warna merah, kuning dan hijau).

Contoh yang lain misalnya seorang calon pilot pesawat terbang menggunakan mock-up yang berupa tiruan cockpit pesawat yang lengkap dengan semua panel yang persis seperti pada cockpit pewasat terbang yang sebenarnya. Hanya untuk situasi yang menggambarkan landasan pacu dan landasan untuk landing pesawat, serta suasana lalu lintas udara digambarkan dalam video pada layar monitor yang ada di depan sang calon pilot tersebut. Dengan peralatan seperti ini sang calon pilot dapat berlatih melakukan take-off maupun landing/mendaratkan pesawatnya dengan benar dan aman.

Banyak juga mock-up yang sengaja dibuat dan perdagangkan sebagai mainan anak-anak. Misalnya mock-up kapal-kapalan yang dilengkapi dengan baling-baling sebagai tenaga pendorong dan dapat berjalan/meluncur di air, mock-up lokomotif atau mock-up mesin uap yang dapat berfungsi persis seperti lokomotif atau mesin uap yang sebenarnya, yaitu dengan jalan mengisi air pada tangki mesin tersebut, kemudian ketel kita bakar (dengan bahan bakar spiritus misalnya). Begitu air mendidih maka lokomotif tersebut dapat bekerja persis seperti lokomotif yang asli.

Diorama
Yang dimaksud dengan diorama adalah medium berupa kotak atau bentuk tiga dimensi yang lain yang melukiskan suatu pemandangan yang mempunyai latar belakang dengan prespektif yang sebenarnya, sehingga menggambarkan suatu suasana yang sebenarnya. Diorama adalah merupakan gabungan antara model dengan gambar prespektif dalam suatu penampilan yang utuh. Dengan diorama kesan visual yang diperoleh siswa lebih hidup. Peragaan melalui medium diorama bisa dilengkapi dengan lampu warna tertentu sehingga lebih memberikan kesan hidup dan dramatis. Diorama dapat dibuat dalam ukuran yang diperkecil, tetapi dapat pula dibuat dalam ukuran yang sebenarnya.

Adapun objek yang dapat dibuat diorama, misalnya kampung nelayan di pantai, rumah adat atau perkampungan tradisional suku tertentu dengan aktivitas penghuninya atau dapat pula dibuat diorama yang menggambarkan suatu peristiwa penting masa lalu yang dicatat dalam sejarah. Diorama yang dibuat dengan ukuran besar/sebenarnya dapat anda temukan misalnya di lantai dasar Monumen Nasional (Monas), museum Lobang Buaya, Museum Stratria Mandala Jakarta, di samping diorama tersebut dibuat dengan ukuran besar juga dilengkapi dengan lampu sebagai pemberi suasana agar berkesan hidup. Selain sebagai hiasan juga berfungsi sebagai pendukung suasana, sehingga menjadi nampak lebih hidup.

Diorama yang dibuat dengan ukuran yang besar atau mendekati ukuran sebenarnya misalnya diorama yang terdapat/dibuat di lantai dasar Museum Nasional (MONAS) di Jakarta. Diorama ini menggambarkan sejarah perkembangan bangsa Indonesia ini mulai dari jaman purba sampai dengan jaman modern, yaitu sampai dengan peristiwa-peristiwa penting di tahun 1960-an. Dengan demikian maka para penonton akan mendapat gambaran yang agak lengkap dan runtut tentang sejarah perjalanan bangsa Indonesia dari waktu ke waktu.

Demikian pula seri diorama yang terdapat di Museum Satria Mandala Jakarta juga dipajang sejumlah diorama yang mengambarkan sejarah perkembangan dari Tentara Nasional kita (TNI) mulai jaman pra-kemerdekaan sampai pada masa bangsa Indonesia sadah mengalami kemajuan seperti sekarang ini. Di Museum Lobang Buaya juga dilengkapi dengan ruang diorama yang dibuat mengenang peritiwa Lobang Buaya tahun 1965. Pada diorama tersebut selain ukuran model dari tokoh-tokohnya yang dibuat dalam ukuran asli juga dikenakan pakaian/kostum aslinya yang pernah dipakai oleh para tokoh dalam peristiwa sejarah tersebut. Sehingga dengan diorama yang dibuat dengan cara ini akan lebih memberikan kesan hidup atau menghidupkan kembali peristiwa masa lalu, serta bagi penonton yang melihatnya akan lebih berkesan mendalam baginya.

Beberapa contoh diorama di atas semuanya adalah diorama yang dipajang secara permanen, sehingga penonton atau pengunjunglah yang berkeliling untuk menontonnya. Sedangkan untuk diorama yang dipertontonkan di kelas adalah diorama yang tidak permanen, artinya bisa dipindah-pindahkan sewaktu-waktu dan disimpan jika selesai digunakan. Oleh sebab itu diorama jenis ini harus dibuat dari bahan yang cukup ringan dan ukurannyapun tidak terlalu desar, tetapi dapat dilihat dengan jelas bila dipertontonkan di kelas. Berikut kita bahas tentang diorama yang dimanfaatkan sebagai media pembelajaran di kelas.

Tujuan penggunaan diorama

a. Untuk memberikan pemandangan/gambaran visual dari pokok yang sebenarnya dalam bentuk kecil.

b. Membawa ke dalam kelas sebagian kecil dari pada dunia dalam bentuk diperkecil dan tiga dimensi.

c. Dapat menggambarkan peristiwa yang terjadi disuatu tempat, waktu tertentu dilihat ari posisi atau arah tertentu pula secara lebih hidup


Ritatoon

Ritatoon adalah serangkaian gambar berbingkai atau gambar seri. Jadi sebenarnya wujut gambarnya sendiri bukan tiga dimensi, melainkan dua dimensi.Tetapi karena perangkat untuk meletakkan gambar berbingkai tersebut tiga dimensi, maka ritatoon termasuk golongan media yang ujud perangkatnya tiga dimensi.

Tempat gambar seri tersebut berupa sebuah papan yang diberi lajur-lajur berlobang/seperti parit untuk menempatkan bingkai-bingkai gambar tadi secara vertikal dan berjajar. Ritatoon terdiri dari seri beberapa gambar dapat 5 atau enam dan dapat pula lebih banyak lagi. Pada tiap gambar dibaliknya terdapat sketsa gambar yang serupa dengan gambar yang ditampilkan dengan sedikit keterangan tentang gambar tersebut. Satu set gambar seri yang dipersiapkan merupakan serangkaian gambar yang dapat menunjang pencapaian tujuan pembelajaran tertentu.’’