Hubungan emosional antara Ibu dan Anak

Ibu dan Anak


Hubungan anak dengan orang tua merupakan sumber emosional dan kognitif bagi anak. Hubungan tersebut memberi kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi lingkungan maupun kehidupan sosial. Hubungan anak pada masa-masa awal dapat menjadi model dalam hubungan-hubungan selanjutnya. Hubungan awal ini dimulai sejak anak terlahir ke dunia, bahkan sebetulnya sudah dimulai sejak janin berada dalam kandungan (Sutcliffe,2002). Klaus dan Kennel (dalam Bee, 1981) menyatakan bahwa masa kritis seorang bayi adalah 12 jam pertama setelah dilahirkan. Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa kontak yang dilakukan ibu pada satu jam pertama setelah melahirkan selama 30 menit akan memberikan pengalaman mendasar pada anak. Hal senada juga dikemukakan oleh Sosa (dalam Hadiyanti,1992) bahwa ibu yang segera didekatkan pada bayi seusai melahirkan akan menunjukkan perhatian 50% lebih besar dibandingkan ibu-ibu yang tidak melakukannya. .

Menurut teori Etologi (Berndt, 1992) tingkah laku lekat pada anak manusia diprogram secara evolusioner dan instinktif. Sebetulnya tingkah laku lekat tidak hanya ditujukan pada anak namun juga pada ibu. Ibu dan anak secara biologis dipersiapkan untuk saling merespon perilaku. Bowlby (Hetherington dan Parke,1999) percaya bahwa perilaku awal sudah diprogam secara biologis. Reaksi bayi berupa tangisan, senyuman, isapan akan mendatangkan reaksi ibu dan perlindungan atas kebutuhan bayi. Proses ini akan meningkatkan hubungan ibu dan anak. Sebaliknya bayi juga dipersiapkan untuk merespon tanda, suara dan perhatian yang diberikan ibu. Hasil dari respon biologis yang terprogram ini adalah anak dan ibu akan mengembangkan hubungan kelekatan yang saling menguntungkan (mutuality attachment).

Teori etologi juga menggunakan istilah “Psychological Bonding” yaitu hubungan atau ikatan psikologis antara ibu dan anak, yang bertahan lama sepanjang rentang hidup dan berkonotasi dengan kehidupan sosial (Bowley dalam Hadiyanti,1992).

Berdasarkan teori psikoanalisa Freud (Durkin 1995, Hetherington dan Parke,1999), manusia berkembang melewati beberapa fase yang dikenal dengan fase-fase psikoseksual. Salah satu fasenya adalah fase oral, pada fase ini sumber pengalaman anak dipusatkan pada pengalaman oral yang juga berfungsi sebagai sumber kenikmatan. Secara natural bayi mendapatkan kenikmatan tersebut dari ibu disaat bayi menghisap susu dari payudara atau mendapatkan stimulasi oral dari ibu. Proses ini menjadi sarana penyimpanan energi libido bayi dan ibu selanjutnya menjadi objek cinta pertama seorang bayi. Kelekatan bayi dimulai dengan kelekatan pada payudara ibu dan dilanjutkannya dengan kelekatan pada ibu. Penekanannya disini ditujukan pada kebutuhan dan perasaan yang difokuskan pada interaksi ibu dan anak

Selanjutnya Erickson (Durkin, 1995) berusaha menjelaskannya melalui fase terbentuknya kepercayaan dasar (basic trust). Ibu dalam hal ini digambarkan sebagai figur sentral yang dapat membantu bayi mencapai kepercayaan dasar tersebut. Hal tersebut dikarenakan ibu berperan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan bayi, menjadi sumber bergantung pemenuhan kebutuhan nutrisi serta sumber kenyamanan. Pengalaman oral dianggap Erickson sebagai prototip proses memberi dan menerima (giving and taking).

Hubungan emosional antara ibu dan anak dikatakan dapat terbentuk sejak bayi berada dalam kandungan. Hubungan emosional dapat kita kaitkan dengan kelekatan antara ibu an anak. Istilah Kelekatan (attachment) untuk pertamakalinya dikemukakan oleh seorang psikolog dari Inggris pada tahun 1958 bernama John Bowlby. Kemudian formulasi yang lebih lengkap dikemukakan oleh Mary Ainsworth pada tahun 1969 (Mc Cartney dan Dearing, 2002). Kelekatan merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan anak melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua (Mc Cartney dan Dearing, 2002). Lalu Bagaimana komunikasi/interaksi antara ibu dan bayi yang masih ada dalam janin dapat terjalin??

Sebagaimana kita fahami bahwa komunikasi ialah suatu proses penyampaian pesan atau informasi dari komunikator kepada komunikate yang mempunyai umpan balik (Burgon & Huffner, 2002). Proses komunikasi tidak hanya memfungsikan kita sebagai komunikator secara aktif tetapi juga sebagai komunikate yang dapat menerima pesan atau informasi tersebut. Kalau kita bertindak sebagai komunikate secara pasif tentunya kemampuan komunikasi tersebut sudah dapat kita lakukan pada saat kita masih di dalam kandungan (pre-natal).

Pemahaman kita terhadap identitas orang tua kita bahwa sejak pre-natal kita sudah mempunyai kemampuan komunikasi pasif dalam alam kandungan bahwa itu ayah kita atau itu ibunda kita melalui suara. Inilah kebesaran Tuhan yang harus kita fahami sebagai mahluk yang mempunyai kemampuan berfikir.

Hal tersebut berkaitan tentang Teori Neurobiologis. Dalam teori tersebut dijelaskan bahwa secara faali, manusia mempunyai proses biologis yang mempengaruhi proses komunikasi manusia. Proses itu melibatkan proses yang terjadi di syaraf-syaraf manusia (neuron). Syaraf manusia terdiri dari dendrit, soma dan axon. Dendrit berfungsi sebagai penerima perintah dari otak untuk menyampaikan informasi (transmitter). Kemudian dendrite akan meneruskan perintah kepada soma yang diterimanya namun masih secara mentah (receiver). Selanjutnya informasi ini akan diterjemahkan dan ditanggapi oleh axon sebagai inti syaraf (decoder).

Disamping itu, Richard Dawkins (1976) mempunyai penelitian tentang proses transformasi kultural yang dilakukan oleh daya kognitif kita yang ditentukan oleh memes. Memes inilah yang mempengaruhi DNA manusia sehingga mempunyai sifat-sifat tertentu dalam kepribadiannya. Bahkan kadang kala memes ini berfungsi sebagai kontak radar untuk menentukan evaluasi (dalam proses komunikasi intrapersonal) terhadap orang lain. Kesimpulannya ialah bahwa kita sudah dapat memulai mempunyai kemampuan komunikasi sejak pre-natal meskipun hanya sebagai komunikate secara pasif saja.

Dari penjelasan di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa yang dapat membangun hubungan emosional antara ibu dan anak adalah kelekatan (attachment). Kelekatan itu sendiri dapa terbangun melalui komunikasi verbal dan non verbal antara ibu dan anak. Bahkan sejak dalam kandungan, ibu dapat membangun kelekatan dengan anak melalui proses komunikasi pasif. Teori Biologis yang telah dijelaskan di atas menjawab mengapa hubungan antara ibu dan anak dapat terjalin sejak pre-natal, yaitu karena sebenarnya komunikasi antara ibu dan anak sudah dimulai sejak pre natal. Semakin dini komunikasi antara ibu dan anak terjalin, pada nantinya semakin baik pula perkembangan hubungan emosional antara ibu dan anak tersebut. Oleh karena itu Ajaklah bayi anda berkomunikasi sejak ada dalam kandungan...!!