Tes, Instrumen Kognitif pada Pengembangan ALat Ukur

Minggu 29 May 2011 03:50 PM Alim Sumarno, M.Pd

Setelah memahami prosedur penilaian, kemudian akan dibahas bagaimana mengembangkan alat ukur.Penilaian pendidikan pada umumnya menggunakan tes. Tes dapat berbentuk lisan , tes tulis, dan tes perbuatan. Dalam pendidikan yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi, maka kompetensi siswa yang diharapkan berupa kemampuan atau kompetensi yang bersifat kognitif, afektif, maupun psikomotor. Oleh karena itu pengembangan alat ukur yang dibahas mencakup tiga aspek tersebut. Penjelasan dan prinsip-prinsip penyusunan tiap jenis tes dibahas secara rinci, karena bukan hanya untuk dipahami tetapi juga untuk dapat diaplikasikan.Pengembangan instrumen kognitif mencakup tes objektif, tes nonobjektif, tes unjukkerja, dan portofolio.Tes lisan di kelasPertanyaan lisan dapat digunakan untuk mengetahui taraf serap peserta didik untuk masalah yang berkaitan dengan kognitif. Pertanyaan yang diajukan di kelas harus jelas. Semua peserta didik harus diberi kesempatan yang sama. Prinsip yang perlu diperhatikan dalam memberikan pertanyaan lisan di kelas adalah: mengajukan pertanyaan, memberikan waktu untuk berpikir, menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan. Benar atau salah, jawaban peserta didik tersebut ditawarkan lagi kepada kelas. Tingkat berpikir yang ditanyakan lisan di kelas cenderung rendah: seperti pengetahuan dan pemahaman.Tes objektif
  • Pilihan gandaPedoman utama dalam pembuatan soal bentuk pilihan ganda adalah:
    1. pokok soal harus jelas
    2. pilihan jawaban homogen dalam arti isi
    3. panjang kalimat pilihan jawaban relatif sama
    4. tidak ada petunjuk jawaban benar
    5. menghindari penggunaan pilihan jawaban: semua benar atau semua salah
    6. pilihan jawaban angka diurutkan
    7. semua pilihan jawaban logis
    8. tidak menggunakan bentuk negatif ganda
    9. kalimat yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta tes
    10. menggunakan bahasa Indonesia yang baku
    11. letak pilihan jawaban benar ditentukan secara acak
  • Uraian objektifBentuk soal uraian objektif sangat tepat digunakan untuk bidang Matematika dan IPA, karena kunci jawabannya hanya satu. Pengerjaan soal ini melalui suatu prosedur atau langkah-langkah tertentu. Setiap langkah ada skornya. Objektif di sini dalam arti apabila pekerjaan tes diperikasa oleh beberapa guru dalam bidang studi tersebut hasil penyekorannya akan sama. Pertanyaan pada bentuk soal ini di antaranya adalah: hitunglah, tafsirkan, buat simpulan dan sebagainya.
  • MenjodohkanSoal bentuk menjodohkan terdiri atas suatu premis, suatu daftar kemungkinan jawaban dan suatu petunjuk untuk menjodohkan. Masing-masing premis itu dengan satu kemungkinan jawaban. Biasanya nama, tanggal/tahun, istilah, frase, pernyataan, bagian dari diagram, dan yang sejenis digunakan sebagai premis. Hal-hal yang sama dapat pula digunakan sebagai alternatif jawaban. Kaidah pokok penulisan soal jenis ini adalah sebagai berikut:
    1. soal harus sesuai dengan indikator
    2. jumlah alternatif jawaban lebih banyak daripada premis
    3. alternatif jawaban harus nyambung atau berhubungan secara logis dengan premisnya
    4. rumusan kalimat soal harus komunikatif
    5. menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
  • Jawab singkatBentuk jawab singkat ditandai dengan adanya tempat kosong yang disediakan bagi peserta tes untuk menuliskan jawabannya sesuai dengan petunjuk. Ada 3 jenis soal bentuk ini yaitu: jenis pertanyaan, melengkapi, dan jenis identifikasi atau asosiasi. Kaidah utama penyusunan soal bentuk jawab singkat ini sebagai berikut:
    1. soal harus sesuai dengan indikator
    2. jawaban yang benar hanya satu
    3. rumusan kalimat harus komunikatif
    4. menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
  • Tes nonobjektif: uraian nonobjektifTes ini dikatakan nonobjektif karena penilaian dipengaruhi oleh subjektivitas penilai. Peserta tes dituntut untuk menyampaikan, memilih, menyusun, dan memadukan gagasan yang telah dimiliki dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Keunggulan tes ini mudah dibuat, dan dapat mengukur tingkat berpikir dari tingkat rendah sampai tinggi, dari pengetahuan hafalan sampai evaluasi. Meskipun perlu dihindari pertanyaan yang mengungkap hafalan yang menggunakan pertanyaan: apa, siapa, di mana.Kelemahan bentuk tes uraian nonobjektif adalah:
    1. Penyekoran dipengaruhi oleh subjektivitas penilai
    2. Pemeriksaan lembar jawaban memerlukan waktu yang lama
    3. Cakupan materi yang diujikan sangat terbatas
    4. Ada efek bluffing (gertakan!?)
    Untuk mengatasi kelemahan ini maka perlu diusahakan:
    1. Jawaban tiap soal tidak panjang, sehingga dapat mencakup materi yang lebih banyak.
    2. Waktu pemeriksaan tidak melihat nama peserta didik
    3. Memeriksa tiap butir secara keseluruhan tanpa istirahat.
    4. Menyiapkan pedoman penyekoran.
    Adapun langkah-langkah menyusun tes nonobjektif adalah:
    1. Menulis soal berdasarkan kisi-kisi pada indikator
    2. Mengedit pertanyaan:
      • Apakah pertanyaan mudah dimengerti?
      • Data yang digunakan benar?
      • Tata letak secara keseluruhan baik?
      • Pemberian bobot skor sudah baik/tepat?
      • Kunci jawaban sudah benar?
      • Waktu untuk mengerjakan tes cukup?
    Kaidah penulisan tes nonobjektif adalah sebagai berikut:
    1. Menggunakan kata-kata: mengapa, uraikan, jelaskan, bandingkan, tafsirkan, hitunglah, buktikan.
    2. Menghindari kata: apa, siapa, bila.
    3. Menggunakan bahasa Indonesia yang baku
    4. Menghindari penggunaan kata-kata yang dapat ditafsirkan ganda
    5. Membuat petunjuk pengerjaan soal yang jelas
    6. Membuat kunci jawaban
    7. Membuat pedoman penyekoran.
Penyekoran bentuk tes ini dapat dilakukan secara analitik dan global. Analitik berarti penyekoran dilakukan secara bertahap sesuai kunci jawaban. Global artinya dibaca secara keseluruhan untuk mengetahui ide pokok dari jawaban soal, baru diberi skor.Tes unjuk kerja
    Penilaian unjuk kerja sering disebut dengan penilaian autentik atau penilaian alternatif. Tes unjuk kerja bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan masalah-masalah kehidupan nyata. Penilaian unjuk kerja berdasarkan analisis pekerjaan. Hasilnya dapat digunakan untuk perbaikan proses pembelajaran sehingga peserta didik mencapai tingkat kemampuan yang diinginkan. Tes unjuk kerja banyak digunakan pada mata pelajaran yang ada prakteknya.Bentuk tes ini digunakan untuk mengukur status peserta didik berdasarkan hasil kerja dari suatu tugas. Pertanyaan pada tes unjuk kerja berdasarkan pada tuntutan masyarakat atau lembaga lain yang terkait dengan pengetahuan yang harus dimiliki peserta didik. Jadi pertanyaannya cenderung pada tingkat aplikasi suatu prinsip atau konsep pada situasi yang baru. Walaupun uraian namun batasnya harus jelas, dan ditentukan berdasarkan tuntutan kebutuhan masyarakat. Permasalahan yang diujikan sedapat-dapatnya sama dengan masalah yang ada dalam masyarakat atau dalam kehidupan nyata. Dan inilah yang menjadi ciri utama perbedaan antara tes unjuk kerja dengan bentuk yang tradisional.Portofolio
      Portofolio adalah kumpulan tugas-tugas peserta dididk. Portofolio merupakan salah satu bentuk penilaian autentik, yaitu menilai keadaan yang sesungguhnya dari peserta didik. Portofolio cocok digunakan untuk penilaian di kelas tetapi tidak cocok untuk penilaian dalam skala yang luas. Hal yang penting pada penilaian portofolio adalah: mampu mengukur kemampuan membaca dan menulis yang lebih luas, peserta didik mampu menilai kemajuannya sendiri, mewakili sejumlah karya seseorang.Penilaian portofolio pada dasarnya adalah menilai karya-karya individu untuk suatu mata pelajaran tertentu. Semua tugas yang dikerjakan peserta didik dikumpulkan pada akhir suatu program pembelajaran misalnya satu semester, kemudian diadakan diskusi antara peserta didik dan guru untuk menentukan skornya. Prinsip penilaian portofolio adalah peserta didik dapat melakukan penilaian sendiri kemudian hasilnya dibahas. Bentuk ujian cenderung uraian dan tugas-tugas rumah. Karya yang dinilai meliputi hasil ujian, tugas mengarang atau mengerjakan soal.Penilaian dengan portofolio mempunyai karakteristik tertentu sehingga penggunaannya harus sesuai dengan tujuan dan substansi yang diukur. Mata pelajaran yang memiliki banyak tugas dan jumlah peserta didik sedikit, penilaian dengan cara portofolio lebih cocok.Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penilaian portofolio adalah:
      1. Memastikan karya yang dikumpulkan benar-benar karya yang bersangkutan
      2. Menentukan contoh pekerjaan yang harus dikumpulkan
      3. Mengumpulkan dan menyimpan hasil karya
      4. Menentukan kriteria untuk menilai portofolio
      5. Meminta peserta didik untuk menilai terus-menerus hasil portofolionya
      6. Merencanakan pertemuan dengan peserta didik yang dinilai
      7. Mengusahakan dapat melibatkan orangtua dalam menilai portofolio.