Teori Psikologi Behaviorisme dan Belajar

Kamis 28 Jul 2011 05:12 PM Alim Sumarno, M.Pd

Behaviorisme adalah suatu studi tentang kelakuan manusia. Timbulnya aliran ini disebabkan rasa tidak puas terhadap teori psikologi daya dan teori mental state. Sebabnya ialah karena aliran-aliran terdahulu hanya menekankan pada segi kesadaran saja.Berkat pandangan dalam psikologi dan naturalisme science maka timbullah aliran baru ini. Jiwa atau sensasi atau image tak dapat diterangkan melalui jiwa itu sendiri karena sesungguhnya jiwa itu adalah respons-respons fisiologis. Aliran lama memandang badan adalah sekunder, padahal sebenarnya justru menjadi titik pangkal bertolak. Natural science melihat semua realita sebagai gerakan-gerakan (movement) dan pandangan ini mempengaruhi timbulnya behaviorisme. Metode instropeksi sesungguhnya tidak tepat, sebab menimbulkan pandangan yang berbeda-beda terhadap objek luar. Karena itu harus dicari metode yang objektif dan ilmiah. Dari eksperimen menunjukkan bahwa tikus dapat membedakan antara warna hijau dan warna merah dan dapat pula dilatih. Jadi, kesadaran itu tidak ada gunanya.Menurut aliran behaviorisme, bahwa :
  1. The image and memories consist of activities engaged in by the organism. We make certain responses, we act and this activities are know as images.
  2. Behaviorisme in psychology is merly the name for that type of investigation and theory which assumes that mens educational, vocational and social activities can be completely described or explained as the result of same (and other) forces used in the natural sciences.
Didalam behaviorisme masalah matter (zat) menempati kedudukan yang utama. Jadi, melalui kelakuan segala sesuatu tentang jiwa dapat diterangkan. Melalui behaviorisme dapat dijelaskan kelakuan manusia secara seksama dan memberikan program pendidikan yang memuaskan.Dari konsepsi tersebut, jelaslah bahwa konsepsi behaviorisme besar pengaruhnya terhadap masalah belajar. Belajar ditafsirkan sebagai latihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan respons.Dengan memberikan rangsangan (stimulus) maka siswa akan merespons. Hubungan antara stimulus-respons ini akan menimbulkan kebiasaan-kebiasaan otomatis pada belajar. Jadi, pada dasarnya kelakuan anak adalah terdiri atas respons-respons tertentu terhadap stimulus-stimulus tertentu. Dengan latihan-latihan maka hubungan-hubungan itu akan semakin menjadi kuat. Inilah yang disebut S-R Bond Theory. Kelakuan tadi akan dapat ditransferkan ke dalam situasi baru menurut hukum transfer tertentu pula.Keberatan terhadap teori ini, ialah karena teori ini menekankan pada refleks dan otomatisasi dan melupakan kelakuan yang bertujuan (a purposive behavior).