Strategi Pembelajaran Bagi Anak Autis

Selasa 14 Feb 2012 12:14 AM Alim Sumarno, M.Pd

Perilaku pada anak yang dengan kebutuhan khusus seperti autis merupakan hal penting, namun persoalan-persoalan mendasar yang ditemui di Indonesia menjadi sangat krusial untuk ditangani terlebih dahulu. Beberapa fakta yang dianggap relevan dengan masalah autis di Indonesia diantaranya adalah:

  1. Belum adanya petunjuk penanganan yang sesuai di Indonesia sebab tidak cukup hanya mengimplementasikan petunjuk penanganan dari luar yang penerapannya tidak selalu sesuai dengan kultur kehidupan anak-anak Indonesia,
  2. Masih banyak kasus-kasus autis yang tidak di deteksi secara dini sehingga ketika anak menjadi semakin besar, maka semakin kompleks pula persoalan yang dihadapi orang tua.
  3. Para ahli yang mampu mendiagnosa autis, informasi mengenai gangguan dan karakteristik autis serta lembaga-lembaga formal yang memberikan layanan pendidikan bagi anak dengan autis belum tersebar secara merata di seluruh wilayah di Indonesia.
  4. Permasalahan akhir yang juga penting adalah sedikit pengetahuan baik secara klinis maupun praktis yang didukung dengan adanya validitas data secara empirik (Empirically Validated Treatments/EVT) dari penanganan-penanganan masalah autis di Indonesia.

Autis dapat terjadi pada masyarakat dari berbagai kalangan, baik dari kalangan sosio-ekonomi mapan maupun masyarakat yang kurang mampu, dari semua etnis. Istilah Autisme berasal dari kata "Autos" yang berarti diri sendiri "Isme" yang berarti suatu aliran. Berarti suatu paham yang tertarik hanya pada dunianya sendiri. Autistik adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Bahkan pada autistik infantil gejalanya sudah ada sejak lahir.

Diperkirakan 75%-80% penyandang autis ini mempunyai retardasi mental, sedangkan 20% dari mereka mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk bidang-bidang tertentu. Anak penyandang autistik mempunyai masalah/gangguan dalam bidang :

  1. Komunikasi
  2. Interaksi sosial
  3. Gangguan sensoris
  4. Pola bermain
  5. Perilaku
  6. Emosi

Supratiknya (1995) menyebutkan bahwa penyandang autis memiliki ciri-ciri yaitu penderita senang menyendiri dan bersikap dingin sejak kecil atau bayi, misalnya dengan tidak memberikan respon ( tersenyum, dan sebagainya ), bila di ‘liling’, diberi makanan dan sebagainya, serta seperti tidak menaruh perhatian terhadap lingkungan sekitar, tidak mau atau sangat sedikit berbicara, hanya mau mengatakan ya atau tidak, atau ucapan-ucapan lain yang tidak jelas, tidak suka dengan stimuli pendengaran ( mendengarkan suara orang tua pun menangis ), senang melakukan stimulasi diri, memukul-mukul kepala atau gerakan-gerakan aneh lain, kadang-kadang terampil memanipulasikan obyek, namun sulit menangkap.

Beberapa teori terakhir mengatakan bahwa faktor genetika memegang peranan penting pada terjadinya autistik. Bayi kembar satu telur akan mengalami gangguan autistik yang mirip dengan saudara kembarnya. Juga ditemukan beberapa anak dalam satu keluarga atau dalam satu keluarga besar mengalami gangguan yang sama.

Selain itu pengaruh virus seperti rubella, toxo, herpes; jamur; nutrisi yang buruk; perdarahan; keracunan makanan, dsb pada kehamilan dapat menghambat pertumbuhan sel otak yang dapat menyebabkan fungsi otak bayi yang dikandung terganggu terutama fungsi pemahaman, komunikasi dan interaksi. Autis bukan suatu gejala penyakit tetapi berupa sindroma (kumpulan gejala) dimana terjadi penyimpangan perkembangan sosial, kemampuan berbahasa, dan kepedulian terhadap sekitar, sehingga anak autis seperti hidup dalam dunianya sendiri.

Gangguan perkembangan, terutama dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial dan berperilaku, yang dialami oleh anak-anak autis membuat kebanyakan orangtua lebih fokus untuk meningkatkan kemampuan anak dalam berkomunikasi dan bidang akademik lainnya.

Perkembangan tentang seksualitas pada anak banyak dibahas dan menjadi sorotan masyarakat sekarang ini, namun masih terbatasnya pembahasan tentang seksualitas pada anak berkebutuhan khusus atau pada anak autis. Menurut Schwier dan Hingsburger (2000), seksualitas merupakan integrasi dari perasaan, kebutuhan dan hasrat yang membentuk kepribadian unik seseorang, mengungkap kecenderungan seseorang untuk menjadi pria atau wanita, dan seksualitas dibatasi sebagai pikiran. perasaan, sikap dan perilaku seseorang terhadap dirinya Berdasarkan DSM IV (2000, h. 75), gangguan autistik didefinisikan sebagai gangguan perkembangan dengan tiga ciri utama, yaitu gangguan pada interaksi sosial, gangguan pada komunikasi, dan keterbatasan minat serta kemampuan imajinasi, yang gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia tiga tahun. Seperti halnya fase perkembangan anak normal lainnya, individu autis juga mengalami fase pubertas. Menurut Santrock (2002, hal. 7-8), pubertas ialah suatu periode dimana kematangan kerangka seksual terjadi secara pesat terutama pada awal masa remaja. Christopher & Schaumann (1981, h.370) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa pada beberapa anak autis akan terjadi perbaikan simtom setelah masa remaja, namun pada saat remaja anak autis menunjukkan perilaku yang semakin memburuk seperti gangguan perilaku, destructiveness, dan kegelisahan.

Oleh sebab itu diperlukan strategi dan metode pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan kognitif yang didasarkan pada emosi dan hubungan sosial sehingga memberikan stimulasi cara berpikir dalam melakukan tindakan atau mengungkapkan hasil pemikirannya sehingga timbul keinginan mempelajari sesuatu.

Sebagai seorang pendidik, guru senantiaasa di tuntut untuk mampu menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif serta dapat memotifasi siswa dalam belajar mengajar yang akan berdampak positif dalam pencapaian hasil belajar yang optimal. Guru harus dapat menggunakan strategi tertentu dalam pemakaian metodenya sehingga dia dapat mengajar dengan tepat, efektif dan efisien untuk membantu meningkatkan kegiatan belajar serta memotivasi siswa untuk membantu meningkatkan kegiatan belajar serta memotivasi untuk belajar dengan baik. Agar kegiatan belajar mengajar di kelas itu berhasil sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa melalui indikator pembelajaran, maka guru harus memiliki strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional secara umum dan tujuan pendidikan pada setiap mata pelajaran yang diajarkan. Strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai tujuan khusus. Guru harus memiliki perencanaan yang matang sesuai dengan tugas dan peranan guru. Perencanaan pembelajaran merupakan catatan-catatan hasil pemikiran awal seorang guru sebelum mengelola proses KBM. Perencanaan pembelajaran adalah persiapan mengajar yang berisi hal-hal yang perlu dilakukan oleh guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang meliputi : pemilihan materi, metode, media, dan alat evaluasi. Unsur-unsur tersebut tentunya harus mengacu pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang digariskan oleh kurikulum, diwujudkan dalam indikator-indikator pembelajaran yang akan dicapai.

Dalam merancang strategi pembelajaran ada satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu media pembelajaran. Media pembelajaran berasal dari bahasa latin bentuk jamak dari medium yang berarti perantara (betwen) yaitu perantara sumber pesan (source) dengan penerima pesan (receiver). Dalam proses belajar mengajar media sangat berguna untuk menyampaikan pesan dalam proses kegiatan belajar mengajar, bentuk fisik untuk menyampaikan isi pelajaran. Guru dalam menyampaikan manyampaikan materi pelajaran harunyampaikan materi pelajaran harus disertai media pendukung sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan tujuan pembelajaran.