Prinsip-prinsip model elaborasi

Selasa 12 Jul 2011 05:27 AM Alim Sumarno, M.Pd

Prinsip-prinsip yang mendasari model elaborasi adalah sebagai berikut:Prinsip kesatu: Penyajian kerangka isi. Kerangka isi, yang menunjukkan bagian-bagian utama bidang studi dan hubungan-hubungan utama di antara bagian-bagian itu, hendaknya disajikan pada fase pertama pembelajaran.Prinsip pertama berkaitan dengan kapan kerangka isi (epitome) sebaiknya disajikan. Teori elaborasi menempatkannya pada fase yang paling awal dari keseluruhan peristiwa pembelajaran. Menampilkan kerangka isi (epitome): apakah itu berupa struktur konseptual, ataujjrpsedural, atau teoritik, pada fase pertama pembelajaran berfungsi untuk menyediakan ideational scaffolding (Ausubel, 1968) atau anchoring knowledge (Reigeluth dan Stein, 1983) bagi isi yang lebih rinci yang dipelajari kemudian. Kalau berpijak pada teori skema, kerangka isi yang disajikan pada awal pembelajaran akan dapat berfungsi sebagai skemata bagi asimilasi konsep-konsep atau informasi baru.Prinsip kedua: Elaborasi secara bertahap. Bagian-bagian yang tercakup dalam kerangka isi hendaknya dielaborasi secara bertahap.Prinsip yang kedua ini berkaitan dengan tahapan dalam melakukan elaborasi isi pembelajaran. Elaborasi tahap pertama, akan mengelaborasi bagian-bagian yang tercakup dalam kerangka isi; elaborasi tahap kedua, akan mengelaborasi bagian-bagian yang tercakup dalam elaborasi tahap pertama, dan begitu seterusnya. Dengan demikian, urutan pembelajaran bergerak dari umum-ke-rinci, atau dari sederhana-ke-kompleks (urutan elaboratif).Prinsip ketiga: Bagian terpenting disajikan pertama kali. Pada suatu tahap elaborasi, apapun pertim-bangan yang dipakai, bagian yang terpenting hendaknya dielaborasi pertama kali.Prinsip yang ketiga berkaitan dengan pertanyaan, bagian mana dari semua bagian yang tercakup dalam kerangka isi, atau dalam elaborasi tahap pertama, kedua, dan seterusnya, yang harus disajikan pertama kali. Teori elaborasi menekankan bahwa bagian yang terpenting yang harus disajikan pertama kali.Penting tidaknya suatu bagian ditentukan oleh sumbangannya untuk memahami keseluruhan isi bidang studi. Apabila bagian-bagian itu, atau sub-sub bagian itu memiliki hubungan prasyarat belajar, maka bagian yang menjadi prasyarat harus disajikan pertama kali (lebih dulu). Apabila bagian-bagian itu berupa konsep-konsep yang memiliki hubungan coordinate, maka konsep yang paling sederhana sebaiknya disajikan pertama kali.Prinsip keempat: Cakupan optimal elaborasi. Kedalaman dan keluasan tiap-tiap elaborasi hendaknya dilakukan secara optimal.Prinsip keempat berkaitan dengan tingkat kedalaman dan keluasan elaborasi. Setiap elaborasi hendaknya dilakukan cukup singkat agar konstruk (fakta, konsep, prinsip, atau prosedur) dapat diterima dengan baik oleh si-belajar, dan sekaligus mudah dalam membuat sintesis, namun juga perlu cukup panjang agar tingkat kedalaman dan keluasan elaborasi memadai.Prinsip kelima: Penyajian pensintesis secara bertahap. Pensintesis hendaknya diberikan setelah setiap kali melakukan elaborasi.Prinsip kelima berkaitan dengan kapan sebaiknya pensintesis disajikan. Penampilan pensintesis secara bertahap, yaitu setelah setiap kali melakukan elaborasi, secara khusus dimaksudkan untuk menunjukkan hubungan di antara konstruk-konstruk yang lebih rinci yang bam diajarkan, dan untuk menunjukkan konteks elaborasi dalam epitome. Dengan cara seperti ini, pemahaman suatu konsep, atau prosedur, atau prinsip menjadi lebih dalam karena semuanya dipelajari dalam konteksnya.Prinsip keenam: Penyajian jenis pensintesis. Jenis pensintesis hendaknya disesuaikan dengan tipe isi bidang studi.Pensintesis yang fungsinya sebagai pengait satuan-satuan konsep, atau prosedur, atau prinsip, hendaknya disesuaikan dengai tipe isi bidang studi. Tipe isi bidang studi yang dimaksud di sini bisa konsep, prosedur, atau prinsip; sedangkan jenis pensintesis bisa berupa struktur konseptual, prosedural, atau teoritik. Dalam hal ini, prinsip keenam menghendaki agar stuktur konseptual digunakan untuk konsep, struktur prosedural untuk prosedur, dan struktur teoretik untuk prinsip.Prinsip ketujuh: Tahapan pemberian rang-kuman. Rangkuman hendaknya diberikan sebelum setiap kali menyajikan pensintesis.Rangkuman, yang dimaksudkan untuk mengadakan tinjauan ulang mengenai isi bidang studi yang sudah dipelajari, hendaknya diberikan sebelum penyajian pensintesis. Lebih lengkap lagi, sebelum setiap kali menyajikan pensintesis. Secara logis, ini dilakukan agar memudahkan proses pembuatan dan sekaligus pemahaman pensintesis. Kaitan-kaitan yang ada di antara konsep-konsep, prosedur-prosedur, dan pula prinsip-prinsip akan lebih mudah ditunjukkan apabila satuan-satuan konsep, atau prosedur, atau prinsip ini telah dipahami dengan baik.