Perkembangan Sosio Emosional Peserta Didik Usia Dini

Selasa 12 Jul 2011 04:26 AM Alim Sumarno, M.Pd

Kehidupan sosial anak-anak berevolusi menurut cara-cara yang dapat diramalkan. Jaringan sosial tumbuh dari suatu hubungan intim dengan orang tua atau wali yang lain termasuk anggota keluarga yang lain, orang dewasa yang tidak memiliki hubungan keluarga, dan teman sebaya. Interaksi sosial berkembang mulai dari rumah ke tetangga dan dari taman kank-kank atau bentuk-bentuk tempat penitipan anak sampai sekolah formal. Teori Erik Erikson tentang perkembangan kepribadian dan sosial menganjurkan bahwa selama masa anak-anak awal, anak-anak harus mengatasi krisis inisiatif lawan rasa bersalah. Pemecahan yang berhasil oleh peserta didik itu pada tingkat ini menumbuhkan rasa inisiatif dan ambisi. Pendidik-pendidik awal dapat mensemangati perasaan positif dengan memberi peserta didik kesempatan mengambil inisiatif, diberi tantangan, dan untuk berhasil.Pergaulan Teman Sebaya.Selama tahun-tahun pendidikan anak usia dini, teman sebaya (anak-anak lain yang sebaya dengan seorang anak) mulai memegang peran yang semakin penting dalam perkembangan sosial dan kognitif peserta didik (Garvey, 1990). Pergaulan anak-anak dengan teman sebaya mereka dalam beberapa hal berbeda dari interaksi mereka dengan orang dewasa. Bermain-main dengan teman sebaya memungkinkan peserta didik berinteraksi dengan individu lain yang tingkat perkembangannya serupa dengan diri mereka sendiri. Pada saat anak-anak sebaya mengalami perselisihan di antara mereka sendiri, mereka harus membuat konsesi dan harus bergotong-royong dalam memecahkan masalah itu jika permainan itu hendak dilanjutkan; tidak seperti pada perselisihan orang dewasa- anak-anak, dalam suatu perselisihan sebaya tidak seorang pun dapat mengklaim memiliki otoritas menentukan. Konflik sebaya juga memungkinkan anak-anak melihat bahwa anak-anak lain memiliki pemikiran, perasaan, dan pandangan yang berbeda dengan milik mereka sendiri. Konflik juga menambah kepekaan peserta didik terhadap pengaruh perilaku mereka terhadap orang lain. Dengan cara ini, pergaulan teman sebaya, membantu peserta didik-peserta didik mengatasi egosentrisme yang dideskribsikan Piaget sebagai suatu karakteristik pemikiran formal (Kutnick, 1988).Perilaku Prososial.Penelitian tentang anak-anak yang secara sosial ditolak oleh teman sebaya mereka mengutarakan bahwa anak-anak ini mungkin sekali lemah dalam keterampilan-keterampilan prososial positif (Asher & Coie, 1990). Perilaku prososial adalah tindakan sukarela tertuju kepada orang lain seperti ngemong, berbagi, menyenangkan, dan kerja sama. Memahami akar perilaku prososial telah menyumbang kepada pengetahuan kita tentang moral di samping kepada pengetahuan kita tentang moral di samping juga perkembangan sosial anak-anak. Beberapa faktor tampaknya berhubungan dengan perkembangan perilaku prososial (Eisenberg & Mussen, 1989). Ini meliputi beberapa hal sebagai berikut:Teknik-teknik pendisiplinan anak oleh orang tua yang menekankan pada konsekwensi-konsekwensi perilaku anak-anak terhadap orang lain dan teknik-teknik itu diterapkan dalam suatu hubungan orang tua peserta didik yang hangat dan responsif.Kontak dengan orang dewasa yang menunjukkan orang dewasa itu menaruh peduli kepada orang lain dan yang memungkinkan anak-anak tahu bahwa pemacahan agresif terhadap masalah tidak dapat diterima dan orang dewasa itu memberikan alternatif yang dapat diterima (Kuczynski, 1982).Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hendaknya menyediakan berbagai macam bahan seperti boneka, balok-balok kecil, air dan ruang bermain yang menarik untuk mendorong permainan kolaboratif (Wittmer & Honig, 1994). Kompetisi yang menekankan pada mengalahkan anak lain hendaknya diminimalkan; sebagai gantinya, guru hendaknya membantu peserta didik belajar bekerja sama dan hendaknya menata suatu contoh yang baik dengan mencoba memahami perspektif anak-anak yang mereka ajar.Permainan kelompok yang memungkinkan anak-anak mengembangkan aturan dan patuh pada aturan itu mendorong kerjasama dan pengendalian-diri (Kami & DeVries, 1980). Karena pemikiran praoperasional masih terikat dengan tindakan, tindakan-tindakan yang diperlukan untuk kerjasama hendaknya kongkrit dan dapat diamati. Dukungan untuk interaksi teman-sebaya merupakan penerapan sosial paling penting dari karya Piaget. Permainan teman-sebaya juga mendorong suatu moralitas berorientasi teman-sebaya berdasarkan kerjasama, yang diyakini menjadi akar perkembangan moralitas (Damon, 1983, 1984; Piaget, 1932).Sebagian besar interaksi seorang peserta didik prasekolah dengan teman-sebaya terjadi selama permainan (Hughes, 1995). Sementara itu, derajat keterlibatan anak-anak dalam permainan bertambah di sepanjang masa prasekolah (Howes & Matheson, 1992). Dalam suatu studi klasik tentang prasekolah, Mildred Parten (1932) menidentifikasi empat kategori permainan yang mencerminkan peningkatan tingkat interaksi dan kecanggihan sosial.
  1. Bermain sendirian (solitary play) merupakan permainan yang dilakukan sendirian, sering dengan mainan, dan tidak bergantung pada apa yang sedang dilakukan peserta didik-peserta didik lain
  2. Permainan Paralel (parallel play) termasuk melibatkan peserta didik-peserta didik dalam kegiatan yang sama dan dilakukan saling berdampingan namun dengan amat sedikit intervensi atau saling mempengaruhi.
  3. Permainan associative (associative play) banyak kemiripannya dengan permainan parallel namun dengan penambahan tingkat-tingkat interaksi dalam bentuk keberbagian, penggiliran, dan kesamaan minat dengan teman sepermainan.
  4. Permainan Kooperatif (cooperative play) terjadi apabila peserta didik-peserta didik bergabung menjadi satu untuk mencapai suatu tujuan bersama, sebagai misal membangun sebuah istana besar dan bangunan yang dibuat tiap peserta didik merupakan bagian dari seluruh bangunan istana itu. Sebagai misal, Howes dan Matheson (1992) mengikuti satu keompok peserta didik selama 3 tahun, mengamati permainan mereka pada saat mereka berusia 1 sampai 2 tahun hingga mereka berusia 3 sampai 4 tahun. Mereka menemukan bahwa peserta didik-peserta didik terlibat dalam jenis permainan yang lebih kompleks pada saat mereka tumbuh semakin besar, terjadi kemajuan dari bentuk-bentuk permainan paralel ke permainan berpura-pura (pretend play) di mana peserta didikpeserta didik bekerja sama dalam merencpeserta didikan dan melakukan kegiatan (Roopnarine et al., 1992).
Permainan penting bagi anak-anak karena permainan melatih keterampilan bahasa, kognitif, dan sosial dan menyumbang pada perkembangan kepribadian umum (Christie & Wardle, 1992). Anak-anak menggunakan pikiran mereka pada saat bermain karena mereka berfikir dan bertindak seperti jikalau mereka orang lain. Pada saat mereka melakukan transformasi seperti itu, mereka melakukan satu langkah menuju berfikir abstrak dalam arti mereka sedang membebaskan pemikiran mereka dari keterikatan pada obyek-obyek kongkrit. Bermain juga berhubungan dengan kreativitas, khususnya kemampuan mengurangi perilaku apa adanya atau lugu (literal) dan lebih fleksibel dalam menanggapi pemikiran seseorang (Christie, 1980; Yawkey, 1980).Bermain memiliki peran penting dalam teori perkembangan Vygotsky karena bermain memberi kesempatan peserta didik untuk secara bebas menerapkan cara-cara berfikir dan bertindak yang berada di atas tingkat pemfungsian saat ini. Vygotsky (1978, p. 102) menulis, "dalam bermain seorang peserta didik selalu di atas usia rata-ratanya, di atas perilakunya sehari-hari; dalam bermain seakan-akan ia sekepala lebih tinggi dari dirinya sendiri."Permainan prasekolah tampaknya dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, misalnya interaksi dengan sejawat berhubungan dengan bagaimana mereka berinteraksi dengan orang tua mereka (Ladd & Hart, 1992). Peserta didik-peserta didik usia tiga tahun yang merasakan hubungan hangat dan kasih sayang orang tua besar kemungkinannya untuk melibatkan diri dalam bermain pura-pura menjadi ibu, bapak, peserta didik, atau peran yang lain (pretend play) dan mengatasi konflik dengan teman sebaya daripada peserta didik-peserta didik yang kurang akrab hubungannya dengan orang tua mereka (Howes & Roiling, 1992). Peserta didik-peserta didik juga bermain lebih baik dengan teman-sebaya yang telah dikenal dan teman-sebaya yang sama jenis kelaminnya (Ladd & Price, 1987). Menyediakan mainan dan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan usia juga menunjang perkembangan keterampilan-keterampilan bermain dan interaksi teman-sebaya.Bermain juga memberi peserta didik situasi-situasi yang aman untuk mengekspresikan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak akan dapat diterima pada tatanan yang lain. Dalam bermain mereka dapat dengan leluasa menyatakan permusuhan dan kemarahan mereka dan bahkan mengulang permainan-permainan yang disertai dengan diperolehnya perasaan kurang enak. Sebagai misal, dua peserta didik usia empat tahun masing-masing mempunyai adik yang sebaya. Kedua peserta didik itu sayang terhadap adik mereka, namun mereka juga memainkan suatu permainan yang disebut "adik jelek," dalam permainan itu mereka memarahi dan menghukum sebuah boneka. Permainan ini membantu mereka mengatasi kecemburan mereka terhadap adik yang baru dilahirkan itu. Jenis permainan ini dapat membantu mereka berusaha mengatasi perasaan mereka dan sering mengatasi aspek-aspek realitas kehidupan yang kasar (Damon, 1983).