Perkembangan Moral dan Nilai-Nilai Agama Anak Masa Sekolah Menengah

Sabtu 16 Jul 2011 10:00 PM Alim Sumarno, M.Pd

Pikumas dalam Hartinah (2008) menyatatak bahwa tugas utama dalam perkembangan anak masa sekolah menengah adalah memperoleh kematangan sistem moral untuk membimbing perilakunya kematangan belumlah sempurna jika tidak memiliki moral yang diterima secara universal. Penadapat itu menunjukkan pentingnya remaja memiliki landasan hidup yang kokoh, yaitu nilai-nilai moral, terutama yang bersumber dari agama. Terkait dengan kehidupan beragama remaja, ternyata mengalami proses yang cukup panjang untuk mencapai kesadaran beragama yang diharapkan. Kualitas kesadaran beragama remaja sangat dipengaruhi oleh kualitas pendidikan atau pengalaman keagamaan yang dietrimanya sejak usia dini, terutama di lingkungan keluarga.Masa Remaja Awal (Usia 13-16 tahun) Pada masa ini terjadi perubahan fisik secara cepat, yaitu dengan dimulai tumbuhnya cirri-ciri keremajaan yang terkait dengan matangnya organ-organ seks seperti: cirri primer (menstruasi pada wanita atau mimpi basah pada pria), dan cirri sekunder (tumbuhnya kumis, jakun, bulu-bulu di sekitar kemaluan, dan membesarnya buah dada pada wanita, membesarnya pinggul).Pertumbuhan fisik yang terkaiat dengan organ seksual mengakibatkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan, dan kekawatiran pada diri remaja. Bahkan lebih jauh kondisi itu dapat mempengaruhi kesadaran beragamanya, apalagi jika remaja kurang mendapatkan pengalaman atau pendidikan agama sebelumnya. Penghayatan rohaninya cenderung skeptic (acuh tak acuh), cuek atau was-was) sehingga muncul keengganan atau kemalasan untuk melakukan berbagai ibadah, misalnya sholat.Kegoncangan dalam keagamaan tersebut nmungkin mumcul, karena disebabkan oleh factor internal dan eksternal.
  1. Faktor Internal, terkait dengan 2 hal. Pertama, matangnya organ-organ seks yang mendorong remaja untuk memenuhi kebutuhan seks tersebut, namun disisi lain ia tahu bahwa perbuatan itu dilarang agama. Kondisi ini menimbulkan konflik pada diri remaja , yang apabila tidak secepatnya terselesaikan (menghadapinya dengan bersabar) maka mungkin remaja itu akan terjerumus ke dalam poerilaku yang nista. Kedua, berkembangnya sikap indefenden, keinguinan untuk hidup bebas, tidak mau terikat dengan norma-norma keluarga, sekolah, atau agama. Apabila orang tua atau guru kurang memahami dan mendekatinya secara bijak, maka sikap perlakukan yang berdampak negative terhadap pribadi remaja, seperti berkembangnya tingkah laku negative, seeperti membandel, menentang, menyendiri, acuh, dan sebagainya.
  2. Faktor eksternal, terkait dengan 2 hal. Pertama, perkembangan kehidupan sosial budaya dalam masyarakat yang tidak jarang bertentangan dengan nilai-nilai agama, namun sangat menarik minat remaja untuk mencobanya, seperti beredarnya film-film, VCD, dan foto porno. Kedua, perilaku orang dewasa, orang tua sendiri, para pejabat, dan warga masyarakat yang gaya hidupnya kurang mempedulikan agama, bersifat munafik, tidak jujur, dan perilaku amoral lainnya. Apabila remaja kurang bimbingan keagamaan dalam keluarga, karena kondisinya kurang harmonis, kurang memberikan kasih sayang, serta bergaul dengan teman-teman yang kurang menghargai nilai0nilai agama, maka kondisi tersebut menjadi pemicu berkembangnya sikap dan perilaku remaja yang kurang baik, asusila, atau dekadensi moral.
Masa Remaja Akhir (Usia 17-21 tahun) Secara psikologis, masa usia remaja akhir sudah mulai stabil dan pemukirannya mulai matang. Dalam kehidupan beragama, remaja sudah melibatkan diri ke dalam kegiatan-kegiatan kegamaan. Remaja sudah dapat membedakan agama sebagai ajaran dengan manusia sebagai penganutnya (ada yang taat ada yang tidak taat). Kemampuan ini memungkinkan remaja untuk tidak terpengaruh oleh orang-orang yang mengaku beragama, namun tidak melaksanakan ajaran agama atau perilakunya bertentangan dengan nilai-nilai agama. Remaja dapat menilai bahwa bukan ajaran agamanya yang salah, tetapi orangnyalah yang salah.Dalam mewujudkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa itu, Maka remaja seharusnya mengamalkan nilai-nilai akidah , ibadah, dan akhlakul karimah. Secara lebih rinci mengenai nilai-nilai tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut ( Hartinah, 207).

Tabel Profil Sikap dan Perilaku Remaja dalam Hubungannya Nilai-Nilai Agama

Nilai-Nilai Agama Profil Sikap dan Perilaku Remaja
  • Akidah (keyakinan)
  • Meyakini Allah sebagai pencipta
  • Meyakini bahwa agama sebagai pedoman hidup
  • Meyakini bahwa Allah Maha melihat terhadap semua perbuatan manusia
  • Meyakini hari kiamat sebagai hari pembalasan amal manusia di dunia
  • Meyakini bahwa Allah Maha penyayang dan maha pengampun
  • Ibadah dan Akhlakul Karimah
  • Melaksanakan ibadah ritual, seperti sholat, puasa, dan doa
  • Membaca kitab suci dan menadalami isinya
  • Mengendalikan diri dari hawa nafsu dan perbuatan yang diharamkan oleh Alllah
  • Bersikap hormat kepada kedua orang tua dan orang lain
  • Bersyukur saat mendapatkan nikmat
  • Memelihara kebersihan diri dan lingkungan
  • Berpenampilan dan bertutur kata yang sopan
  • Memiliki etos kerja yang tinggi
  • Memiliki semangat belajar yang tinggi
  • Bersabar saat-saat mendapatkan musibah