Pengertian CBSA

Kamis 28 Jul 2011 04:04 PM Alim Sumarno, M.Pd

CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) sama pengertiannya dengan SAL (Student Active Learning) (Raka Joni, 1980 : 1; Nana Sudjana, Daeng Arifin, 1982 : 32).CBSA asas strategi pembelajaran yang harus diwujudkan dalam bentuk-bentuk kegiatan belajar yang relevan. Prinsip (asas) CBSA yang beranalog dengan asas siswa aktif adalah bukan hal baru dalam perencanaan serta praktik pendidikan di sekolah, sejak lahir abad 19 di Eropa dan Amerika telah tampak usaha-usaha untuk merintis serta menerapkan asas dan bentuk CBSA., khususnya di Indonesia penerbitan buku teori keguruan oleh BPG., Bandung tahun 50-an juga telah membahas asas belajar anak aktif dan bentuk-bentuk belajar yang relevan dengannya.CBSA sebagai asas dan strategi belajar adalah sesuai dengan hakikat perkembangan diri siswa, gejala yang perlu disebut adalah manusia lahir dilengkapi dengan potensi-potensi yang memungkinkan untuk berkembang secara kultural (tak sekedar mengulang bentuk tingkah laku serta perolehan budaya generasi pendahuluannya), aktualisasi potensi kemanusiaan tersebut membutuhkan bantuan lingkungannya dalam bentuk transsaksi yang interaktif atau dialogis (jadi tetap memberi peluang peserta didik untuk membuat pilihan-pilihan atau keputusan untuk dirinya), perkembangan manusia yang mencapai taraf dewasa hendaknya ditandai dengan kemandirian yang bertanggung jawab secara etis. Jadi asas CBSA ini baik secara psikologis, sosiologis, maupun filosofis selaras dengan martabat kemanusiaan siswa; dalam banyak hal siswa merasa puas dalam keterlibatan aktifnya dan hasil kerja yang diperolehnya.Untuk mendifinisikan pengertian CBSA secara tegas adalah sulit, karena dalam kondisi-kondisi mana pun, baik ditinjau dari perbedaan kurun waktu, sudut pandang teoretis, sasaran serta isi belajar maupun bentuk serta metode belajar seorang siswa pastilah mengandung unsur keaktifan siswa dengan kadar berbeda-beda. Di pihak lain ada keaktifan belajar siswa yang mudah diamati dan diukur (misalnya : belajar keterampilan motoris), dan ada kegiatan belajar siswa (sampai taraf keaktifan yang tinggi) sulit diamati dan diukur (misalnya : belajar kognitif tingkat tinggi dan belajar afektif, khususnya internalisasi nilai hidup); hal ini juga menyulitkan untuk menentukan tolok ukur, penggolongan, dan pembatasan konsep CBSA. (Ibid).Hakikat CBSA pada dasarnya menunjuk taraf keaktifan belajar siswa yang relatif tinggi, usaha-usaha mengoptimalkan kegiatan belajar siswa, dan kegiatan (aktivitas) belajar siswa tersebut tak sekedar motoris tetapi lebih-lebih keaktifan mental serta emosional. CBSA mengandaikan kegiatan belajar siswa yang berciri : Kegiatan kognitif bertaraf tinggi, siswa bergairah belajar (bermotivasi, bersemangat, senang, dan ulet dalam menghadapi tantangan), dan reflektif (mawas diri, memanfaatkan jasa umpan balik, siap untuk mengadakan pembenahan (remidial), dan pengembangan lebih lanjut.Salah satu cara untuk meninjau seberapa jauh kadar ke-CBSA-an pola pembelajaran (praktik belajar mengajar) telah dijabarkan oleh Mc Keachie (1954) dengan mempertimbangkan kualitas tujuh dimensi pembelajaran sebagai berikut. (Ibid : 2)
  1. Seberapa jauh partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan belajar mengajarJika siswa belum mampu menentukan pilihan-pilihan yang baik untuk dirinya, wajarlah jika mereka diwakili oleh pendidikannya; dalam hal ini pendidik dituntut dapat diwakili kebutuhan siswa secara pantas, dan berbuat demi kepentingan diri siswa (termasuk masa depannya) siswa yang telah cukup matang perkembangannya (misalnya: SD kelas IV ke atas) dalam banyak hal telah dapat diajak berdialog untuk mengarahkan diri dan masa depannya.
  2. Adanya Pengutamaan aspek afektif dalam pembelajaranPerlu diakui bahwa ranah kognitif banyak mendominasi proses pembelajaran, aktivitas mental memang merupakan hal penting tetapi mesti diatur secara proporsional; kadar CBSA yang tinggi menuntut keterlibatan emosional dan belajar sampai ke tingkat penghayatan serta pengalaman nilai hidup. Seluruh diri siswa tergerak untuk mencapai perkembangan dan kebaikan hidup.
  3. Partisipasi siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar terutama yang bentuk interaksi antar siswa.Mengajar adalah mengkondisikan dan mengorganisasikan situasi kelas agar siswa belajar (aktif) untuk dirinya. Aktivitas belajar siswa tampak dalam kadar responsi dan inisiasi siswa untuk menguasai materi pelajaran sekaligus mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Bentuk-bentuk kegiatan belajar siswa tersebut beraneka ragam, yang diutamakan adalah apakah diantara siswa terjalin kerjasama yang baik dan apakah bentuk kerjasama (misalnya : diskusi, kerja kelompok, dan sejenisnya).
  4. Adanya ketulusan penerimaan pengajar (acceptance) terhadap perbuatan sumbangan (kontribusi) siswa, baik yang relevan maupun yang kurang relevan, bahkan salah.Sumbangan siswa dalam kegiatan belajar-mengajar dapat dibedakan sebagai respon terarah (kooperatif) dan gangguan kelas (dalam hal ini perlu tindakan pengendalian yang tepat) Terhadap sumbangan siswa yang kurang relevan atau salah, reaksi atau komentar guru hendaknya tetap memberi kepercayaan, harapan, dan bimbingan; jangan sekali-kali guru mencemoohkannya atau menghinakannya.
  5. Adanya kekohesifan kelas sebagai kelompok belajar.Situasi sosial kelas yang baik adalah yang kompak, bersahabat, saling menghargai, dan rela bekerjasama secara bersemangat untuk kepentingan belajar. Dalam situasi tersebut, kompetisi tetap boleh ada, tetapi terjaga secara sportif, objektif, dan membuka diri untuk membantu kawan dan kelompok lain.
  6. Adanya kebebasan atau lebih tepat adanya kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan-keputusan penting dalam kehidupan sekolahnya.Peluang ini tentu juga mempertimbangkan taraf perkembangan diri siswa, siswa yang telah matang sosialnya, yang telah mampu membuat keputusan yang berguna bagi dirinya (termasuk perkembangan masa depannya), dan yang sudah mampu bertanggung jawab (termasuk dalam segi etis) perlu diikutsertakan secara sewajarnya (di bawah kepemimpinan guru) dalam mengambil keputusan-keputusan penting sehubungan dengan kehidupan sekolahnya; untuk kepentingan ini minimal berlaku untuk siswa SD kelas atas. Usaha ini juga berkaitan dengan pembentukan motivasi belajar siswa, kesungguhan kerja, dan latihan bertanggung jawab untuk kepentingan diri sendiri serta sosialnya.
  7. Seberapa banyak waktu yang dipergunakan untuk menanggulangi masalah pribadi siswa, baik berhubungan dengan pelajaran maupun yang tidak berhubungan dengan pelajaran.Hal ini menuntut terselenggaranya pelayanan bimbingan konseling yang profesional, yang berorientasi kerjanya demi individualisasi perkembangan diri siswa (selaras dengan potensinya masing-masing), demi optimalisasi perkembangan diri siswa (tidak memboroskan potensinya serta peluang yang dimilikinya), demi terbentuknya perkembangan diri siswa yang utuh, seimbang normatif serta sehat, yang akhirnya siswa tersebut menikmati hidup bahagia dengan penuh harapan.
Penerapan CBSA menuntut kualitas peran guru yang semakin profesional, dedikatif dan banyak usaha dalam membimbing siswanya. Sehubungan dengan hal ini perlu juga disebut pendapat dari G.A. Davis dan M.A. Thomas (1989 : 12) yang mencirikan pembelajaran yang efektif sebagai berikut. Pertama: adanya kepemimpinan dari guru yang berbobot (bermutu dan kuat pengaruhnya); Kedua: adanya harapan sukses yang tinggi dari para siswa dalam belajarnya (adanya niat yang kuat untuk mencapai keberhasilan belajarnya); ketiga: adanya kemampuan memanfaatkan sarana belajar secara efisien (baik yang ada dalam lingkungan sekolah maupun yang ada di masyarakat luar sekolah); keempat: para siswa berhasil menguasai kecakapan-kecakapan dasar yang bernilai transfer tinggi dan berguna untuk kepentingan belajar-perkembangannya lebih lanjut; kelima: adanya monitoring proses serta hasil belajar (perkembangan) siswa secara teratur dan berkesinambungan (termasuk penggunaan data monitoring tersebut untuk kepentingan pengembangan); Keenam: baik guru maupun siswa secara jelas memahami tujuan belajar atau pendidikannya, dan berusaha serius untuk mencapainya.Pelaksanaan CBSA di sekolah merupakan tantangan bagi guru, siswa, dan pihak-pihak lain terutama administrator) yang terlibatkan dalam penyelenggaraan sekolah; pendapat yang mengatakan jika siswa aktif (CBSA) berlangsung baik) maka tugas guru menjadi ringan atau mudah adalah salah sama sekali. CBSA menuntut kerja keras dan penuh kerjasama semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan sekolah.Memang perlu diakui adanya pergeseran peran guru, yaitu: mula-mula guru berperan informatif-direktif, kemudian guru berperan sebagai fasilisator-organisator, dan jika siswa telah dapat mandiri serta bertanggung jawab atas dirinya peran guru menjadi teman seperjalanan dengan siswa.CBSA yang mengarah kepembentukan yang utuh dalam diri siswa (mencakup ranah, kognitif, afektif, dan psiko-motoris) juga sejalan dengan pandangan belajar kemanusiaan; menurut Moh. Amien (1979 : 11 28), pendekatan belajar-mengajar kemanusiaan tersebut hendaknya berciri:
  1. Mampu mengembangkan kesadaran diri siswa serta konsep dirinya yang positif, percaya pada diri sendiri berdasarkan pada kemampuan nyata untuk mengyongsong masa depan;
  2. Mampu mengembangkan kreativitas siswa (memerlukan pengetahuan luas dan mendasar, logis (berstruktur), komunikatif (lancar mengekspresikan diri), peka terhadap situasi baru atau masalah yang dihadapinya, dan adanya keberanian memikul tanggung jawab);
  3. Sampai dengan pengembangan serta pengalaman nilai (termasuk nilai moral) yang mendamaikan sosialnya (siswa tahu, mau dan melaksanakan nilai (termasuk moral) dalam hidupnya.
  4. Paham baru dalam praktik pembelajaran mengharuskan para guru untuk memperhatikan serta membimbing keutuhan perkembangan diri siswanya, seluruh potensi yang dimiliki para siswa dibina serta diperkembangkan secara terpadu dan optimal bagi dirinya.