Pengaruh Selisih Suku Bunga dan Selisih Tingkat Inflasi Terhadap Nilai Tukar Rupiah di Indonesia

Jum'at 05 Aug 2011 10:23 AM Alim Sumarno, M.Pd

ABSTRAK

Nurfatoni, Afifudin. 2007. Pengaruh Selisih Suku Bunga dan Selisih Tingkat Inflasi Terhadap Nilai Tukar Rupiah di Indonesia (Pengujian International Fisher Effect dan Purchasing Power Parity). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. M. Hari, M.Si, (II) Subayo, S.E, S.H, M.M.
Upaya untuk meraih manfaat dari globalisasi ekonomi harus didahului upaya untuk menentukan kurs valuta asing pada tingkat yang menguntungkan. Penentuan kurs valuta asing menjadi pertimbangan penting bagi negara yang terlibat dalam perdagangan internasional karena kurs valuta asing berpengaruh besar terhadap biaya dan manfaat dalam perdagangan internasional. Nilai tukar valuta asing selalu berubah-ubah. Banyak hal yang mempengaruhi perubahan tersebut, diantaranya adalah tingkat inflasi dan tingkat suku bunga. Teori paritas daya beli (PPP) adalah teori yang menyatakan bahwa nilai tukar akan menyesuaikan diri dari waktu ke waktu untuk mencerminkan selisih inflasi antara dua negara, akibatnya daya beli konsumen untuk membeli produk-produk domestik akan sama dengan daya beli mereka untuk membeli produk-produk luar negeri. Teori IFE (Internastional Fisher Effect) menyatakan bahwa kurs spot akan berubah dalam jumlah yang sama namun dengan arah yang berkebalikan dengan perbedaan suku bunga antara dua negara.Penelitian ini bertujuan untuk melihat eksistensi IFE dan PPP, mengetahui nilai tukar yang seharusnya berlaku berasarkan model IFE dan Model PPP, mengetahui pergerakan IFE rate dan PPP rate terhadap nilai tukar aktual rupiah., mengetahui signifikansi perbedaan nilai tukar aktual dengan nilai tukar yang seharusnya berlaku berdasarkan IFE rate dan PPP rate dan untuk mengetahui pengaruh selisih suku bunga dan selisih inflasi terhadap perubahan nilai tukar aktual rupiah dengan didahului uji asumsi klasik.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh negara-negara di dunia yaitu negara-negara yang memiliki nilai tukar mata uang terhadap rupiah dan sampel dari penelitian ini adalah Amerika Serikat (dolar), Jepang (yen), Malaysia (ringgit), dan Thailand (bath) dengan menggunakan metode puposive sampling. Periode pengujian dilakukan pada suatu periode pengamatan yang berkelanjutan (time series analysis) selama enam tahun, yaitu mulai Januari 2001 sampai Desember 2006 secara triwulan, yaitu selama 24 triwulan. Metode penelitian yang digunakan dalam menguji IFE dan PPP dilakukan dengan menggunakan uji statisistik one sample t test untuk mengetahui signifikansi perbedaan nilai tukar aktual dengan nilai tukar yang seharusnya berlaku berdasarkan IFE rate dan PPP rate, analisis regresi sederhana dan uji parsial digunakan untuk mengetahui signifikansi kontribusi faktor selisih suku bunga dan tingkat inflasi terhadap perubahan nilai tukar aktual rupiah. Selain itu, dalam penelitian ini dilengkapi pula dengan analisis grafik model IFE dan model PPP, analisis diagram garis dan perhitungan nilai tukar yang seharusnya berlaku berdasarkan IFE rate dan PPP rate. Penelitian ini menggunakan fasilitas program microsoft excel dan software SPSS 13.0 for Windows.Hasil pengujian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis grafik model IFE dan analisis grafik model PPP yang telah dilakukan pada keseluruhan negara dalam sampel penelitian memberikan kesimpulan yang sama bahwa eksistensi model IFE dan model PPP tidak terjadi dalam menentukan perubahan nilai tukar aktual rupiah terhadap mata uang negara-negara tersebut. Dari hasil perhitungan nilai tukar yang seharusnya berlaku berdasarkan model IFE (IFE rate) dan model PPP (PPP rate) diketahui bahwa tidak ada satu pun nilai tukar dari perhitungan kedua model tersebut yang sama dengan nilai tukar aktualnya. Berdasarkan keseluruhan analisis diagram garis maka dapat disimpulkan bahwa nilai tukar aktual rupiah/dolar AS, rupiah/yen Jepang, rupiah/ringgit Malaysia dan rupiah/bath Thailand dalam jangka pendek tidak mampu diterangkan dengan baik oleh model IFE dan model PPP, dalam jangka pendek nilai tukar aktual cenderung menyimpang dari IFE rate dan PPP rate, namun dalam jangka panjang IFE rate dan PPP rate mampu meramalkan nilai tukar rupiah dengan baik. Berdasarkan seluruh hasil uji statistik one sample t test yang telah dilakukan untuk model IFE dan model PPP diketahui bahwa nilai tukar aktual rupiah berbeda secara signifikan dengan nilai tukar berdasarkan model IFE (IFE rate) maupun model PPP (PPP rate)pada keseluruhan negara. Berdasarkan seluruh hasil analisis regresi sederhana untuk model IFE dan model PPP diketahui bahwa selisih suku bunga berdasarkan model IFE tidak berpengaruh terhadap perubahan nilai tukar aktual rupiah dan selisih tingkat inflasi berdasarkan model PPP tidak berpengaruh terhadap perubahan nilai tukar aktual rupiah.Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan untuk pengujian International Fisher Effect dan Purchasing Power Parity selanjutnya untuk memperpanjang periode pengujian dan memperhatikan pengambilan periode dasar pada saat nilai tukar ekuilibrium serta memperhatikan perbedaan suku bunga dan tingkat inflasi negara-negara yang menjadi obyek penelitian dengan mengambil negara-negara yang memiliki perbedan suku bunga dan tingkat inflasi yang tidak terlalu jauh.