Pendidikan Pasca Sarjana di Amerika Serikat

Selasa 14 Feb 2012 01:32 AM Alim Sumarno, M.Pd

Setiap universitas di AS umumnya mempunyai program graduate atau pasca sarjana yang berada di bawah Graduate College. Tidak semua universitas atau jurusan dalam universitas menawarkan program doktor. Banyak jurusan yang hanya menawarkan program master, terutama jurusan-jurusan yang bertujuan mendidik lulusannya sebagai praktisi. Sesuai dengan perkembangan, makin banyak jenis-jenis master yang ditawarkan kepada calon mahasiswa terutama mahasiswa asing. Sejalan dengan sistem pendidikan yang bebas, persyaratan untuk program S2, waktu penyelesaiannya, dan gelar yang diberikannya pun berbeda-beda. Program master dapat dikelompokkan menjadi master terminal dan master berkelanjutan. Yang dimaksud dengan master terminal adalah program master berjangka waktu satu tahun dengan orientasi pada aplikasi suatu ilmu dan biasanya hanya berupa kuliah-kuliah tanpa penelitian atau tesis akhir. Lulusan program master terminal ini diharapkan untuk langsung terjun mengaplikasikan ilmunya di profesinya, dan bukan calon mahasiswa doktor. Apabila si lulusan berniat menjadi calon doktor, maka ia harus mengajukan lamaran kembali untuk program doktornya dan apabila diterima, harus memulai kuliahnya dari nol atau dianggap sebagai mahasiswa tahun pertama master, bukan sebagai lulusan master. Implikasinya adalah adanya kerugian waktu yang dialami si mahasiswa apabila ia berniat menjadi doktor tetapi mengambil program master terminal. Yang dimaksud dengan master berkelanjutan, adalah program master bagi mahasiswa yang memang berniat menjadi doktor. Gelar master diberikan, dengan atau tanpa tesis, setelah mahasiswa menyelesaikan sejumlah kredit tertentu dari seluruh program kuliahnya (biasanya setelah dua tahun). Gelar yang diberikan biasanya adalah MA (Master of Arts). Pada master jenis ini, sejak awal si mahasiswa memang mengajukan lamaran untuk program doktor atau bisa juga seorang mahasiswa program master pindah ke program doktor setelah satu atau dua tahun kuliah, tentu saja dengan mengajukan lamaran baru. Di antara kedua ekstrim di atas, master terminal dan master berkelanjutan, ada kombinasi di antara keduanya. Master jenis kombinasi ini mensyaratkan seorang mahasiswa yang diterima di program master untuk menyelesaikan semua kuliahnya ditambah master thesis atau master project untuk mendapatkan gelar masternya, dan setelah gelar didapat maka dilakukan evaluasi atas prestasinya selama program master tersebut. Apabila dianggap memenuhi syarat, maka si mahasiswa dapat diterima di program doktor dan tinggal melanjutkan kuliah-kuliah program doktor yang belum ia dapatkan di program master.

Makin derasnya arus mahasiswa asing belajar ke universitas- universitas di AS, terutama dari Asia Timur dan Tenggara termasuk Indonesia, dilihat pihak pimpinan universitas sebagai peluang untuk menambah pemasukan mereka. Dengan segala kreativitasnya, mereka menciptakan program-program master yang berorientasi pada aplikasi dan khusus ditujukan untuk mahasiswa asing. Biasanya program ini mempunyai embel-embel executive program dan uang sekolahnya luar biasa mahalnya. Untuk menyelesaikan program master ini dalam waktu satu tahun diperlukan lebih dari $20,000 hanya untuk tuition dan fees nya. Gelar yang diberikan program master ini biasanya adalah MSc. Para calon karyasiswa yang berlatar belakang dosen atau yang berniat mengambil program doktor disarankan untuk tidak mengambil program seperti ini karena terlalu mahal dan kuliah-kuliah yang diberikan tidak sesuai dengan persyaratan akademis yang diminta dari seorang pengajar atau calon doktor. Persyaratan untuk program master seperti ini biasanya lebih rendah dari program master biasa, baik dari segi IPK ataupun TOEFL. Perbedaannya adalah program master eksekutif ini biasanya mensyaratkan pengalaman kerja minimal dua tahun bagi calon mahasiswanya.

Untuk dapat dipertimbangkan sebagai mahasiswa program master di AS, calon mahasiswa dari Indonesia harus memenuhi syarat-syarat administratif dan akademik tertentu disamping mengisi formulir aplikasi dari setiap universitas yang dilamar. Formulir aplikasi biasanya harus diminta langsung dari Bagian Pendaftaran (admission office) universitas yang bersangkutan. Alamat dari universitas- universitas di AS biasanya tersedia di pusat kebudayaan AS yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Persyaratan akademis pertama program master di AS adalah bahwa para pelamarnya harus memiliki IPK minimal 3.0 selama masa undergraduatenya atau masa program sarjana di Indonesia. Bukti IPK tersebut ditunjukkan dengan salinan ijazah dan daftar nilai (transcript) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris serta telah dilegalisir oleh universitas yang mengeluarkannya. Persyaratan kedua, para pelamar melewati batas minimum dari skor TOEFL (Test of English as a Foreign Language) yang ditentukan masing-masing program master. Setiap universitas, bahkan program dalam suatu universitas, mempunyai syarat TOEFL minimum yang berbeda-beda.

Persyaratan TOEFL minimum tersebut terdapat dalam katalog universitas atau petunjuk pendaftaran mahasiswa baru yang dikeluarkan setiap universitas atau program. Perlu diperhatikan bahwa persyaratan TOEFL minimum ini dapat berubah dari waktu ke waktu sehingga sangat disarankan bagi karyasiswa untuk selalu mengecek informasi terbaru dan tidak bergantung pada informasi dari mulut ke mulut yang mungkin tidak lagi merupakan informasi termutakhir. Nilai yang diminta bervariasi biasanya antara 550 sampai dengan 600 (paper-based) atau 213 sampai dengan 250 (computer-based), tergantung dari persyaratan masing-masing universitas dan jenjang yang akan diambil. Nilai TOEFL international ini hanya bisa didapat melalui tes resmi yang dilaksanakan oleh The ETS (The Educational Testing Service) yang mempunyai beberapa cabang diseluruh dunia. Di Indonesia, ETS ini berkantor (sekaligus tempat tes diselenggarakan) di Menara Imperium, Lt. 28, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta. Selain tes TOEFL, The ETS juga menyelenggarakan tes GMAT dan GRE. Nilai GRE biasanya diminta sebagai persyaratan untuk melamar program doktoral, sedangkan GMAT biasanya diminta untuk program studi manajemen dan bisnis.

Untuk tahun 2001 biaya penyelenggaraan tes TOEFL adalah sebesar US$110 (termasuk TWE). Sistem tes yang dilaksanakan adalah tes didepan komputer (paperless) dan hasilnya bisa langsung diketahui selesai tes. Tetapi hasil dalam bentuk dokumen tertulis baru bisa didapat atau dikirimkan oleh The ETS ke universitas yang dituju dua minggu kemudian. TWE atau Test of Written English pada saat ini umum diminta sebagai salah satu syarat melamar keprogram pasca sarjana di Amerika. Tes ini menunjukkan kemampuan menulis dalam bahasa Inggris yang topiknya ditentukan oleh komputer tempat pelaksanaan ujian.

Sesuai dengan persyaratan dari hampir semua universitas di AS, hasil dari TOEFL seorang pelamar harus dikirim langsung oleh ETS ke alamat universitas, yang berarti bahwa pihak universitas tidak akan mengakui copy hasil TOEFL yang dikirimkan langsung oleh pelamar. Proses ini memang agak memakan biaya karena pelamar harus membayar biaya pos (biasanya pos kilat) dari Jakarta ke ETS untuk permohonan pengiriman hasil sekaligus memberikan money order ke ETS untuk biaya pengiriman hasil dari ETS ke universitas-universitas yang dilamar. Perlu diperhatikan bahwa hasil TOEFL berlaku selama dua tahun sejak test diambil.

Selain kedua persyaratan utama di atas, ada persyaratan lain yang tidak lazim di Indonesia tetapi sangat menentukan diterima tidaknya calon mahasiswa di sebuah universitas di AS yaitu surat referensi. Biasanya para pelamar disyaratkan melampirkan minimal tiga surat referensi dalam bahasa Inggris dari pihak-pihak yang dianggap mengetahui benar kemampuan akademis atau kemampuan bekerja si pelamar. Untuk mendapatkan surat referensi yang dapat meyakinkan pihak universitas, pelamar dari Indonesia maupun pemberi surat referensinya harus memperhatikan dua hal, kredibilitas pemberi referensi serta keeratan hubungan antara pemberi dan penerima referensi. Kredibilitas pemberi referensi ditunjukkan lewat posisi akademisnya, misalnya rektor, dekan, ketua jurusan, dosen pembimbing skripsi. Akan lebih baik lagi kalau pemberi referensi pernah mengenyam pendidikan di AS atau bahkan di universitas yang sama dengan universitas yang dilamar. Kondisi-kondisi di atas penting karena pihak universitas yang dilamar ingin mengetahui benar prestasi akademis si pelamar waktu di Indonesia dan kemungkinan kesuksesannya dalam sistem pendidikan di AS. Keeratan hubungan antara pemberi referensi dengan pelamar juga penting karena pihak universitas juga ingin mengetahui kemampuan spesifik dari si pelamar, terutama dalam bekerja, berorganisasi, ataupun penelitian. Untuk pihak universitas, suatu surat referensi akan sangat bermakna kalau pemberi referensi tahu persis kelebihan si pelamar dalam melakukan sesuatu. Misalnya, pemberi referensi menyatakan bahwa si pelamar sangat ahli dalam bahasa program komputer C++, atau si pelamar sangat berpengalaman dalam melakukan analisa perekonomian daerah dengan metode ekonometri dan sebagainya.

Di luar syarat-syarat yang telah dijelaskan di atas beberapa program master meminta test tambahan seperti GMAT (Graduate Management Admission Test) untuk program MBA, LSAT (Law Scholastic Apptitude Test) untuk master of law. Ada baiknya pula untuk program-program master lainnya, di luar bisnis dan hukum, pelamar mengambil test GRE (Gradute Record Examination) general. Hasil test yang bagus akan sangat menolong pelamar dalam berkompetisi dengan pelamar-pelamar lain yang kurang lebih berkualifikasi sama. Di universitas-universitas AS, umumnya hasil GRE digunakan sebagai pertimbangan bagi pelamar yang membutuhkan financial aid dalam bentuk teaching assistanship dan research assistanship. Semua jenis test tersebut diselenggarakan juga oleh ETS dan hasilnya berlaku untuk jangka waktu lima tahun.

Perhatikan baik-baik petunjuk penerimaan mahasiswa dari program atau universitas yang hendak dilamar mengenai persyaratan test-test tambahan tersebut. Beberapa program master juga meminta para pelamarnya untuk menulis statement of purpose yang isinya lebih untuk mengetahui motivasi si pelamar, bidang yang diminati, dan kenapa memilih program master yang bersangkutan. Persyaratan terakhir yang tentu tidak boleh dilupakan pelamar, terutama karyasiswa Indonesia, adalah surat keterangan sponsor yang menyatakan bahwa sponsor akan menanggung si karyasiswa selama masa studinya, baik untuk uang sekolah maupun biaya hidupnya. Surat tersebut nantinya akan dipakai dalam urusan keuangan antara karyasiswa dengan universitas.

Besarnya tuition dan fees di universitas-universitas AS sangat bervariasi dimana perguruan tinggi swasta umumnya mempunyai tuition dan fees lebih mahal daripada universitas negeri. Salah satu kelompok perguruan tinggi yang mempunyai tuition dan fees tergolong paling tinggi di AS adalah Ivy League yang terdiri dari universitas-universitas antara lain Cornell, Harvard, Columbia, Princeton. Di antara universitas negeri, yang tergolong mempunyai tuition dan fees cukup tinggi adalah University of California yang terdapat di beberapa kota di negara bagian California. Faktor lokasi juga berpengaruh terhadap besarnya tuition dan fees. Universitas- universitas di pantai barat dan pantai timur AS umumnya mempunyai tuition and fees lebih tinggi daripada yang terletak di tengah (Midwest) dan di selatan. Universitas-universitas dengan tuition dan fees terendah umumnya adalah universitas yang relatif kecil yang dimiliki oleh pemerintah negara bagian. Sebagai contoh, negara bagian Illinois mempunyai beberapa universitas negeri. Yang terbesar dan juga termahal tuition dan feesnya adalah University of Illinois at Urbana-Champaign dan University of Illinois at Chicago. Yang lebih kecil dengan tuition dan fees lebih rendah adalah Northern Illinois University, Southern Illinois University, dan Illinois State University. Pada tahun 2001, besarnya tuition dan fees program master biasa (bukan program eksekutif) di University of Illinois adalah sekitar 4,000 dollar per semester ( fall dan spring) serta sekitar 1600 dollar untuk summer. Karena Illinois adalah universitas negeri yang terletak di midwest, maka dapatlah diperkirakan berapa besarnya tuition dan fees di wilayah-wilayah lain atau di universitas swasta.

Jumlah kredit minimal yang diperlukan untuk mencapai gelar master bervariasi antar universitas dan antar program. Umumnya, program master yang paling cepat (satu tahun) mensyaratkan pesertanya untuk mengambil kuliah minimal 30 – 35 kredit tanpa master thesis. Program master dengan thesis umumnya mensyaratkan minimal 35 –40 kredit ditambah 1.5 – 2 kredit untuk thesis. Umumnya program master ini bisa diselesaikan dalam dua tahun, atau dengan memakai patokan mahasiswa Indonesia bisa diselesaikan dalam 2.5 – 3 tahun. Program master dengan kredit terbanyak mungkin adalah MBA (Master of Business Administration) yang mensyaratkan pesertanya untuk menyelesaikan minimal 60 – 65 kredit, tanpa master thesis. Kebanyakan kuliah diambil selama semester fall dan spring, sedangkan selama summer hanya beberapa kelas yang ditawarkan kepada mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa umumnya memanfaatkan summer untuk melakukan studi mandiri atau independent study sebanyak empat kredit atau melakukan internship (semacam praktek kerja atau magang) dengan persetujuan pihak pembimbing akademis dan universitas. Internship ini juga bernilai empat kredit.

Seperti sudah disinggung di atas, program master ada yang mensyaratkan pesertanya untuk menulis karya akhir dan ada yang tidak. Untuk program master yang tidak mensyaratkan karya akhir, maka kelulusan ditentukan oleh GPA (Grade Point Average) atau IPK yang berada di atas angka minimum (biasanya 3.0 dari skala 4.0). Selain itu biasanya juga diperhatikan bagaimana GPA untuk pelajaran-pelajaran wajib (core courses) dan GPA untuk pelajaran- pelajaran spesialisasi (specialization courses). Untuk program master yang mensyaratkan karya akhir, mahasiswa bisa memilih antara membuat Master thesis atau Master project. Master thesis biasanya lebih condong pada pendekatan metodologis dan teoritis dalam membahas suatu masalah, dan menurut peraturan, Master thesis harus dibuat mengikuti format-format yang telah ditetapkan graduate college, untuk kemudian thesis tersebut dimasukkan dalam koleksi perpustakaan universitas. Master project biasanya mencakup aplikasi suatu pendekatan terhadap suatu masalah yang nyata di lapangan, dan berbeda dengan Master thesis, Master project tidak harus dibuat dalam format yang ditetapkan Graduate College dan tidak akan menjadi koleksi perpustakaan. Ujian akhir dari Master thesis merupakan ujian lisan yang melibatkan pembimbing tesis sebagai ketua tim penguji ditambah satu atau dua pengajar lain sebagai anggota. Ujian ini bersifat formal dan harus sepengetahuan Graduate College. Untuk Master project, ujian bersifat informal dalam pengertian tidak sepengetahuan Graduate College. Ujiannya biasanya dipimpin pembimbing project dengan satu pengajar lain sebagai anggota.

Beberapa universitas menawarkan program master yang cukup unik yaitu double degree dimana seorang mahasiswa bisa mendapatkan dua gelar master yang berlainan tanpa menghabiskan waktu yang terlalu lama. Pendaftaran untuk double degree ini bisa dilakukan pada saat aplikasi awal atau setelah kuliah berjalan satu tahun. Strategi yang biasa diambil adalah mengambil mata kuliah wajib program master utama, sedangkan jatah mata kuliah pilihan dipakai untuk mata kuliah wajib program master tambahan. Sisanya dipakai untuk mata kuliah spesialisasi yang cocok untuk kedua program master tersebut. Beberapa contoh double degree master adalah master akuntansi dengan Sistem informasi, MBA dengan Master of Civil Engineering (khusus untuk construction management), Master planning dengan arsitek.

Persyaratan untuk masuk program doktor pada umumnya sama dengan program master, hanya di sini test GRE general biasanya merupakan suatu keharusan disamping skor TOEFL yang umumnya juga lebih tinggi (580 – 600). Perkembangan terakhir di AS menunjukkan bahwa makin sulit bagi seorang calon mahasiswa dari Indonesia yang baru bergelar sarjana, untuk diterima dalam program doktor secara langsung. Umumnya, universitas-universitas di AS mensyaratkan calon dari Indonesia untuk mengambil dulu program master, biasanya master kombinasi seperti dijelaskan di atas, baru kemudian setelah lulus master boleh mengajukan lamaran baru untuk program doktor. Bagi mahasiswa yang masuk program doktor langsung setelah menyelesaikan masternya, persyaratan seperti TOEFL dan GRE tidak diperlukan lagi. Yang harus disertakan dengan formulir aplikasi adalah transcript master, tiga surat referensi baru dari pengajar-pengajar di universitas tersebut, dan statement of purpose. Statement of purpose untuk program doktor sebaiknya sudah memberikan bayangan cakupan penelitian yang akan dilakukan selama program doktor atau paling tidak sudah memberikan gambaran bidang-bidang apa saja yang ingin diteliti. Supaya proses penerimaan lebih lancar, cantumkan bidang-bidang penelitian yang memang menjadi bidang penelitian utama profesor-profesor yang ada di program yang sedang dilamar. Selain syarat-syarat di atas, jangan lupa lampirkan pula surat keterangan sponsor yang baru untuk urusan keuangan.

Total kredit minimal untuk mencapai gelar doktor adalah 96 kredit dimana 32 di antaranya merupakan kuliah tingkat master, 32 kredit untuk kuliah-kuliah program doktor, dan 32 lagi untuk disertasi doktor. Apabila seorang mahasiswa masuk program doktor setelah menyelesaikan masternya, maka ia cukup menyelesaikan 64 kredit. Jangka waktu penyelesaian program doktor umumnya 3-4 tahun untuk mahasiswa yang masuk dengan gelar master, atau 6-7 tahun untuk mahasiswa yang masuk dengan gelar Bachelor atau sarjana. Setiap universitas biasanya mempunyai batas waktu maksimum seseorang bisa menyelesaikan program doktor, umumnya 8 tahun sejak pertama kali diterima sebagai mahasiswa program doktor. Batas waktu tersebut bisa diperpanjang dengan menjadi mahasiswa off-campus dimana si mahasiswa tetap tercatat sebagai mahasiswa program doktor di universitas tersebut, tetapi dia tidak perlu membayar tuition dan fees ataupun mengambil kuliah. Dengan sistem off-campus atau sistem cuti tersebut, si mahasiswa bisa tetap mengerjakan disertasinya di mana dia berada dan apabila siap untuk ujian akhir, dia harus mendaftar kembali di universitasnya sebagai bagian persyaratan ujian akhir.

Berbeda dengan program master, program doktor mempunyai beberapa tahap evaluasi sebelum mahasiswa berhak menyandang gelar doktor. Sebagian besar program doktor mensyaratkan pesertanya untuk lulus ujian kualifikasi (qualifying exam) yang biasanya harus diambil setelah mahasiswa menyelesaikan seluruh kuliah program doktornya. Tujuan dari ujian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mahasiswa akan dasar-dasar teori ilmu yang sedang didalami sekaligus pemahaman metodologi yang kerap dipakai dalam disiplin ilmu tersebut. Selain itu diuji pula dasar-dasar teori dari spesialisasi mahasiswa yang kemungkinan besar akan menjadi topik disertasinya. Pada ujian ini, mahasiswa diminta untuk membentuk komite penguji yang disahkan universitas, terdiri dari satu ketua dan dua penguji yang umumnya berasal dari departemen dimana si mahasiswa sedang menyelesaikan studinya. Untuk kesinambungan studi, disarankan untuk memilih ketua komite penguji yang merupakan calon pembimbing disertasi. Format dari ujian klasifikasi tidak ada yang baku. Ada yang mengharuskan mahasiswa menjawab pertanyaan-pertanyaan secara tertulis dari tiga penguji selama tiga hari dalam seminggu, kemudian minggu berikutnya dilakukan ujian lisan membahas jawaban-jawaban si mahasiswa. Ada juga yang mengharuskan mahasiswa menulis sebuah paper berbentuk literature review (studi kepustakaan) mengenai teori atau metodologi yang biasa dipakai dalam disiplin ilmunya. Paper atau makalah tersebut kemudian dipertahankan di depan tim penguji. Format lainnya adalah ujian tertulis menjawab pertanyaan tiga penguji tanpa dilakukan ujian lisan sesudahnya. Apabila mahasiswa tidak lulus pada ujian klasifikasi kesempatan pertama, maka diberikan kesempatan mengulang sebanyak dua kali. Apabila tidak lulus juga, maka mahasiswa dinyatakan drop-out dari program doktor dan hanya akan bergelar Master.

Apabila lulus ujian klasifikasi, mahasiswa yang sekarang bergelar kandidat doktor diwajibkan untuk membuat proposal dari disertasinya sekaligus memilih profesor yang akan menjadi pembimbing utamanya. Batas waktu diselesaikannya proposal dari sejak lulus ujian klasifikasi umumnya enam bulan sampai satu tahun. Proposal tersebut kemudian harus dipertahankan di depan komite penguji yang minimal terdiri dari tiga profesor, minimal dua dari departemen yang bersangkutan dan satu dari luar departemen atau luar universitas. Ketua komite adalah pembimbing utama. Pada sebagian besar program atau universitas, proses mempertahankan proposal disertasi ini biasa disebut preliminary exam. Apabila proposal bisa diterima komite berikut perbaikan-perbaikannya, maka tugas mahasiswa adalah menyelesaikan penelitian dan penulisan disertasinya. Pada kondisi ini, si mahasiswa sering disebut sebagai ABD (All But Dissertation). Disertasi doktor pada intinya adalah penelitian mandiri dari seorang calon doktor dengan menekankan pada orisinalitas ide dan mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi ilmu pengetahuan. Kontribusi di sini bisa berupa penemuan teori atau metodologi baru, pengembangan teori atau metodologi yang ada, atau aplikasi dari teori atau metodologi yang ada pada kasus atau tempat yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Ujian akhir dari keseluruhan program doktor atau biasa disebut final defense merupakan ujian lisan mengenai disertasi yang ditulis di depan komite penguji yang umumnya sama dengan komite waktu preliminary exam. Setelah lulus, sama seperti Master thesis, mahasiswa harus menyesuaikan format disertasinya dengan ketentuan dari Graduate College. Disertasi tersebut kemudian akan menjadi koleksi universitas, sedangkan abstraknya dibuat dalam bentuk mikrofilm yang kemudian bisa diakses secara internasional. Petunjuk mengenai format Master thesis dan Doctoral Dissertation terdapat pada buku petunjuk pembuatan thesis yang dikeluarkan pihak Graduate College.

Pada beberapa universitas di Amerika Serikat, seorang mahasiswa yang sudah berstatus ABD atau kandidat doctor tetapi akhirnya tidak menyelesaikan disertasinya atau memilih untuk meninggalkan studi program doktoralnya tersebut mendapatkan gelar M.Phil (Master of Philosophy). Dengan penjelasan di atas, bisa disimpulkan kalau M.Phil sebenarnya setingkat lebih tinggi dari master biasa (MA atau Msc) yang dihasilkan melalui program master. Akan tetapi akreditasi pendidikan luar negeri yang dilakukan direktorat jendral pendidikan tinggi belum mengenal gelar tersebut, dan sebagai akibatnya seseorang dengan gelar M.Phil akan disetarakan dengan yang baru lulus dari master program.