Pendidikan Karakter menjaga kebersihan: Bersih Bukan Slogan

Jum'at 07 Oct 2011 05:01 PM Alim Sumarno, M.Pd

Sebuah slogan banyak terpampang, seperti Jagalah Kebersihan, Jangan Buang Sampah Sembarangan, atau Bersih adalah Sebagian dari Iman. Slogan itu menghiasi setiap pojok-pojok tempat yang strategis. Slogan itu mengingatkan untuk memelihara kebersihan dan penting untuk kepentingan bersama. Bersih membawa keindahan dan juga kesehatan. Kebersihan adalah bagian wajib dari keimanan dan ketakwaan seseorang.Meskipun slogan itu terpajang bertahun-tahun, tetapi kenyataan di setiap tempat banyak ditemukan sampah yang dibuang sembarangan. Seseorang dengan santainya mengotori tempat sekitarnya dengan sampah-sampah kecil seperti sisa pembungkus permen, sisa kerupuk, atau kertas-kertas yang tidak berguna.Slogan-slogan tersebut belum efektif membangun karakter seseorang untuk cinta dan menjaga kebersihan. Mungkin karena sudah sering dilihat, sehingga hanya dipahami sebagai hiasan.Dengan demikian perlu upaya nyata yang terprogram dari semua pihak. Karakter bersih dan sehat ini akan memberi jangkauan pengaruh yang luas. Jika dimulai dari satu orang dengan karakter yang kuat, maka akan berdampak pada satu-dua-tiga orang lain. Bila orang lain itu, memelihara dan menyakini karakter bersih dan sehat, maka dua-tiga orang lain lagi akan terimbas. Sehingga semua komponen dan semua lini akan menciptakan kebersihan dan keindahan.Kritik terhadap karakter kejorokan kita masih sering didengar, dan berbagai upaya melalui pendidikan maupun peringatan-peringatan bahayanya sudah pula disebarkan. Kita butuh tindakan nyata yang kemungkinan besar memberi implikasi di lapangan.Salah satu upaya dengan dilakukan kerja bakti bersama para mahasiswa untuk menjaga lingkungannya. Program badan eksekutif mahasiswa yang rutin itu adalah menyelenggarakan kerja bakti membersihkan lingkungan kampus. Pada hari sabtu, para mahasiswa terutama mahasiswa baru wajib hadir mengikuti kegiatan itu karena jika tidak mereka tidak akan mendapatkan sertifikat PKKMB (pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru). Sertifikat itu wajib dimiliki karena sebagai syarat mengikuti yudisium nantinya. Prinsip reward and punishment ini paling tidak menggerakkan mahasiswa memelihara kebersihan sekitar kampus.Para dosen pengampu mata kuliah juga mempunyai kreativitas sendiri agar mahasiswa memperhatikan kebersihan lingkungan. Suatu mata kuliah bersama di lingkup fakultas, yaitu Biologi Lingkungan mewajibkan mahasiswa memberikan satu tanaman (bunga-bunga) untuk ditanam di sekitar jurusan. Tanaman itu wajib dipelihara dan dirawat sendiri oleh mahasiswa. Mahasiswa bersemangat karena itu tugas wajib yang berpengaruh pada nilai akhir kuliah.Kesepakatan di awal kuliah juga dikenalkan bahwa mahasiswa tidak diperkenankan menggunakan kaos oblong ketika kuliah, tidak menggunakan sepatu sandal atau sandal, dan harus bersih dan rapi. Aturan ini menciptakan kebersihan dan kerapian para mahasiswa ketika di kampus.Jurusan juga mengimbau para dosen ketika rapat refleksi perkuliahan yang rutin dilaksanakan, agar selalu mengingatkan mahasiswa menjaga ruang kelas seperti mengembalikan posisi kursi dan merapikannya seperti semula, membersihkan whiteboard selesai perkuliahan, dan membersihakan ruang kelas dari sampah kertas atau sisa makanan ringan dari mahasiswa. Hasilnya banyak para dosen yang meminta mahasiswa membersihkan papan setelah akhir perkuliahan dan juga merapikan kursi-kursi yang telah digunakan. Sebelum perkuliahan terdapat dosen yang meminta mahasiswa melihat ke lantai dan menyuruh membersihkan dan mengambil sampah-sampah itu. Dosen tersebut mengatakan Siapa yang dapat sampah paling banyak? Wah itu yang paling peduli...anda mendapat tambahan nilai untuk partisipasi. Lainnya berlomba untuk peduli lingkungan, besuk siapa yang sudah membersihakan atau mengambil sampah-sampah akan mendapatkan tambahan nilai . Kegiatan nyata dan langsung ini paling tidak memberi citra dan inspirasi kepada mahasiswa untuk selalu menjaga kebersihan lingkungannya. Kebersihan sudah saatnya tidak menjadi slogan lagi, tetapi tindakan nyata yang menjadi suri tauladan.