Pemilihan Cerpen Dalam Surat Kabar Sebagai Bahan Ajar Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia Di Sekolah Menengah Atas

Minggu 07 Aug 2011 04:41 AM Alim Sumarno, M.Pd

Abdul Azis *ABSTRAK: Pembelajaran sastra cenderung kurang berani menggali teks dalam konteks yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemilihan cerita pendek dalam surat kabar untuk kepentingan alternatif bahan ajar pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA.Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analitik. Data dalam penelitian ini adalah cerpen dalam surat kabar, guru, dan siswa. Teknik analisis meliputi proses pengorganisasian dan pengurutan data tentang bahan ajar ke dalam pola kategori dan satuan uraian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian responden pada aspek kesesuaian isi cerpen dengan bahan ajar adalah baik sesuai dengan bahan ajar, aspek pemilihan cerpen sebagai bahan ajar adalah layak dijadikan bahan ajar, dan aspek kesesuaian cerpen dalam surat kabar dengan prinsip pemilihan bahan ajar adalah sesuai dengan prinsip penyusunan bahan ajar).

A. PENDAHULUAN

1. Latar BelakangBegitu banyak guru yang terlanjur terjebak pada cara pengkajian sastra yang agak menyesatkan. Lalu, mereka menularkannya pada siswa-siswanya. Maka berantailah ketersesatan dalam pengkajian sastra. Pengkajian sastra dan pemahaman terhadapnya, berkutat pada teks yang diperlakukan sebagai artefak beku, kerontang, dan artifisial. Segala konsepsi tentang unsur intrinsik menjadi senjata pamungkas kekayaan-sosiokultural yang mendekam di dalam teks.Hal tersebut kiranya patut diperhatikan oleh para pengajar untuk mempertimbangkan kembali upaya-upaya yang telah dilakukan dalam pengajaran apresiasi sastra utamanya karya sastra cerpen di sekolah yang ditengarai kurang apresiatif. Pembelajaran sastra cenderung kurang berani menggali teks dalam konteks yang lebih luas. Padahal sangatlah mungkin mengajak pembaca (siswa) untuk dibawa ke luar dunia teks, dan dibawa masuk menyelami unsur pembangun dari luar teks yang antara lain kelayakannya sebagai bahan ajar.Masalah lain yang berkenaan dengan bahan ajar adalah memilih dari sumber di mana bahan ajar itu didapatkan. Ada kecenderungan sumber bahan ajar dititikberatkan pada buku. Padahal banyak sumber bahan ajar selain buku yang digunakan. Buku pun tidak harus satu macam. Berbagai buku dapat dipilih sebagai sumber bahan ajar.2. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemilihan bahan ajar dari cerita pendek dalam surat kabar untuk kepentingan alternatif bahan ajar dan peningkatan hasil pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMA.3. Tinjauan Pustaka a. Cerita PendekMenurut Suharyanto (2002), cerita pendek bukan ditentukan oleh banyaknya halaman untuk mewujudkan cerita tersebut atau banyak sedikitnya tokoh yang terdapat di dalam cerita itu, melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan oleh bentuk karya sastra tersebut. Jadi sebuah cerita yang pendek belum tentu dapat digolongkan ke dalam jenis cerita pendek, jika ruang lingkup dan permasalahan yang diungkapkan tidak memenuhi persyaratan yang dituntut oleh cerita pendek.Predikat pendek pada kata cerita pendek bukan ditentukan oleh banyaknya halaman untuk mewujudkan cerita itu atau sedikitnya tokoh yang terdapat dalam cerita itu, melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan oleh bentuk karya sastra tersebut. Jadi, sebuah cerita pendek belum tentu dapat digolongkan ke dalam jenis cerita pendek apabila ruang lingkup permasalahan tidak memenuhi yang persyaratan yang dituntut oleh cerita pendek.Suatu hasil sastra dapat dikategorikan ke dalam cerita pendek harus dilihat dari ruang lingkup permasalahan yang ditampilkan dalam karya sastra tersebut. Biasanya cerpen hanya akan menampilkan suatu pokok permasalahan saja dalam cerita. Karena permasalahan yang ditampilkan hanya satu atau permasalahannya tunggal, maka tidak memungkinkan tumbuhnya digresi dalam cerita pendek. Cerpen yaitu kisahan yang memberi kesan tunggal yang dominant tentang suatu tokoh dalam latar dan satu situasi dramatik.b. Cerita Pendek dalam Media Massa Surat Kabar Sekarang banyak sekali media massa cetak surat kabar yang menyediakan kolom untuk cerita pendek. Seperti halnya dalam media massa cetak surat kabar seperti Kompas, Republika, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Galamedia, Seputar Indonesia, dan Nova. Selain itu, majalah lain yang khusus memuat cerpen dan pembahasannya adalah majalah Annida. Majalah lain yang memuat cerpen-cerpen pop adalah majalah remaja Gadis, Kawanku, dan Aneka.Cerpen mengalami perkembangan yang sangat pesat ketika masa penjajahan Jepang. Pada masa itu, segala sesuatu dituntut serba singkat dan cepat. Karena pengaruh suasana, maka dalam mengutarakan perasaannya pengarang juga mengikuti keadaan. Pengarang mengutarakan segala sesuatu secara singkat dan memilih medianya yaitu bentuk cerpen. Sampai 1990-an (bahkan hingga memasuki abad ke-21) jumlah surat kabar dan majalah yang menyediakan rubriknya untuk cerpen semakin bertambah. Jumlah cerpen yang dipublikasikan para pengarang cerpen lewat dua media ini, tentu juga semakin bertambah.b. Bahan Pembelajaran Sastra dalam KTSPSecara jujur mesti diakui, selama bertahun-tahun, dunia pendidikan kita terpasung di persimpangan jalan; tersisih di antara ingar-bingar ambisi penguasa yang ingin mengejar pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa. Pendidikan tidak diarahkan untuk memanusiakan manusia secara utuh lahir dan batin, tetapi lebih diorientasikan pada hal-hal yang bersifat materialistis, ekonomis, dan teknokratis, kering dari sentuhan nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan budi pekerti. Pendidikan lebih mementingkan kecerdasan intelektual, akal, dan penalaran, tanpa diimbangi dengan intensifnya pengembangan kecerdasan hati, perasaan, dan emosi. Akibatnya, apresiasi out-put pendidikan terhadap keagungan nilai humanistik, keluhuran budi, dan budi nurani menjadi nihil. Mereka telah menjadi sosok pribadi yang telah kehilangan hati nurani dan perasaan, cenderung bar-bar, vandalistis, dan mau menang sendiri.Yang lebih memprihatinkan, pendidikan dinilai hanya dijadikan sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan melalui berbagai polarisasi, indoktrinasi, sentralisasi, dan regulasi yang tidak memihak rakyat. Keluaran pendidikan tidak digembleng untuk mengabdi kepada rakyat, tetapi telah dipola dan dibentuk untuk mengabdi kepada kepentingan kekuasaan an-sich. Untuk tercapai berbagai standar kompetensi pembelajaran tersebut maka harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Menurut Rusyana (2002), agar pelaksanaan kegiatan berhasil ada beberapa langkah pelaksanaan atau kegiatan belajar-mengajar sastra adalah sebagai berikut.
  1. Mempelajari cerpen yang akan dibawakan
  2. Menentukan kegiatan yang akan dilakukan
  3. Memberikan pengantar pengajaran
  4. Menyajikan bahan pengajaran
  5. Mendiskusikan cerpen yang telah dibaca
  6. Memperdalam pengalaman
c. Pemilihan Bahan Ajar Cerpen dalam PembelajaranPada dasarnya dalam memilih bahan pembelajaran, penentuan jenis, dan kandungan materi sepenuhnya terletak di tangan guru. Namun, demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai dasar pegangan untuk memilih objek bahan pelajaran yang berkaitan dengan pembinaan apresiasi siswa. Prinsip dasar dalam pernilihan bahan ajar harus sesuai dengan kemampuan siswa pada suatu tahapan pengajaran tertentu. Kemampuan siswa berkembang sesuai dengan tahapan perkembangan jiwanya. Oleh karena itu, karya sastra yang disajikan hendaknya diklasifikasikan berdasarkan derajat kesukarannya di samping kriteria-kriteria lainnya. Tanpa adanya kesesuaian antara siswa dengan bahan yang diajarkan, pelajaran yang disampaikan akan gagal.Menurut Depdiknas (2006), bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran yang memegang peranan penting dalam membantu siswa mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Secara garis besar, bahan ajar atau materi pembelajaran berisikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau nilai yang harus dipelajari siswa.Menurut Depdiknas (2006) dan Haryati (2007), ada beberapa prinsip dalam penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran antara lain adalah sebagai berikut.
  1. Prinsip relevansi, yaitu adanya kesesuaian antara materi pokok dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai.
  2. Prinsip konsistensi, yaitu adanya keajegan antara materi pokok dengan kompetensi dasar dan standar kompetensi.
  3. Prinsip kecukupan (adekuasi), yaitu materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan.
Sebelum melaksanakan pemilihan bahan ajar, terlebih dahulu perlu diketahui kriteria pemilihan bahan ajar. Kriteria pokok pemilihan bahan ajar atau materi pembelajaran adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini berarti bahwa materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan pada siswa hendaknya berisi materi atau bahan ajar yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dengan kata lain, pemilihan bahan ajar haruslah mengacu atau merujuk pada standar kompetensi. Menurut Depdiknas (2006:195), secara garis besar langkah-langkah pemilihan bahan ajar meliputi hal-hal berikut:
  1. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang menjadi acuan atau rujukan pemilihan bahan ajar.
  2. Mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar.
  3. Memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah teridentifikasi tadi.
  4. Memilih sumber bahan ajar.
Agar dapat memilih bahan pengajaran sastra dengan tepat, beberapa aspek perlu dipertimbangkan. Menurut Rahmanto (1998), ada tiga aspek penting yang tidak boleh dilupakan jika ingin memilih bahan pengajaran sastra, yaitu bahasa (penguasaan bahasa pada setiap individu biasanya tumbuh dan berkembang melalui tahap-tahap yang mudah diidentifikasi), psikologi (perkembangan psikologis seseorang dari sejak kanak-kanak hingga dewasa dapat dilihat dengan jelas melalui tahap penghayal, tahap romantik, tahap realistik, tahap generalisasi), dan latar belakang budaya (secara alami, siswa akan mudah tertarik pada karya-karya sastra yang berlatar budaya yang erat hubungannya dengan kehidupan mereka).

B. METODE

1. Metode PenelitianMetode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik, yaitu metode penelitian yang bertujuan untuk memerikan suatu fenomena secara analitis, sistematis, faktual, dan teliti. Metode kuantitatif bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pembelajaran. Pendeskripsian data-data dilakukan dengan mengetengahkan fakta berhubungan dengan pembahasan yang mendalam tentang nilai moral dan citraan pada cerpen dalam surat kabar sebagai objek penelitian yang akan dijadikan sebagai alternatif bahan ajar di SMA.2. Data dan Sumber Dataa. Data Data dalam penelitian ini adalah cerpen dalam surat kabar Kompas dan Republika. Data dalam penelitian ini berupa nilai pemilihan cerpen dalam surat kabar yang dimuat pada surat kabar Kompas dan Republika. Pengambilan data ini juga disesuaikan dengan kemampuan tenaga, waktu, dan biaya yang ada. Data partisipan berupa data pemilihan bahan ajar yang diperoleh dari guru yang mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia dan data hasil belajar diperoleh dari siswa.b. Sumber DataSumber data dalam penelitian ini adalah purposive sampling yang merupakan cara pengambilan sumber data berdasarkan karakteristik tertentu yang dimiliki sumber data. Penentuan besar dan banyaknya sumber data bergantung kepada peneliti dengan berdasarkan pada berbagai pertimbangan dan tujuan tertentu. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka peneliti menggunakan sumber data utama yang digunakan dalam penelitian ini ialah surat kabar Kompas dan Republika yang memuat cerpen periode Januari 2005-Desember 2009. Sumber data partisipan berupa pemilihan bahan ajar adalah peneliti, ekspert, dan guru yang mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia dan data hasil pembelajaran berupa data hasil pembelajaran siswa kelas XI SMA di Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan.3. Teknik Pengumpulan DataPengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi.4. Teknik Analisis DataTeknik analisis data bertujuan untuk mengungkapkan proses pengorganisasian dan pengurutan data tentang pemilihan bahan ajar cerpen ke dalam pola kategori dan satuan uraian sehingga pada pemilihan bahan ajar akhirnya dapat ditarik kesimpulan tentang nilai pemilihan bahan ajar cerpen dalam surat kabar yang dilengkapi dengan data-data pendukung.Data cerpen setelah dianalisis dengan menggunakan pedoman analisis kemudian dideskripsikan. Data yang dideskripsikan adalah pemilihan bahan ajar dan data hasil pembelajaran dari cerpen dalam surat kabar Kompas dan Republika.Data hasil pemilihan bahan ajar dan data hasil pembelajaran menggunakan metode analisis kualitatif, sesuai dengan hakikatnya adalah data yang telah terkumpul itu kemudian diseleksi, dikelompokkan, dilakukan pengkajian, interpretasi, dan disimpulkan. Selanjutnya hasil simpulan itu dideskripsikan. Pendeskripsian data-data dilakukan dengan mengetengahkan fakta berhubungan dengan hasil pemilihan bahan ajar dan data hasil pembelajaran berupa angka/nilai dari hasil tes yang mendalam tentang nilai hasil belajar dari siswa.Data hasil pemilihan bahan ajar dan data hasil pembelajaran cerpen diseleksi, dikelompokkan, dianalisis kemudian dihitung menurut persentase dan kategori, dilakukan pengkajian, dan disimpulkan. Selanjutnya hasil simpulan itu dideskripsikan. Pada dasarnya pengolahan data penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam bentuk persentase.5. Instrumen PenelitianPenelitian ini menggunakan instrumen, yaitu pedoman analisis nilai moral, citraan, pemilihan bahan ajar, dan tes. Pedoman analisis digunakan untuk mendeskripsikan nilai moral dan citraan di dalam cerita tersebut yaitu untuk mengetahui nilai pemilihan bahan ajar oleh siswa SMA, pemilihan bahan ajar digunakan angket penilaian bahan ajar, sedangkan tes digunakan untuk mengukur hasil pembelajaran.

C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian Pemilihan Cerpen dalam Surat Kabar Menjadi Bahan AjarTemuan dan analisis pemilihan cerpen dalam surat kabar Kompas dan Republika menjadi bahan ajar dibagi menjadi tiga bagian.a. Kesesuaian Isi Cerpen dalam Surat Kabar dengan Bahan AjarTemuan dan analisis yang berkaitan dengan aspek kesesuaian isi cerpen dalam surat kabar Kompas dan Republika dengan bahan ajar dibagi menjadi sepuluh bagian. Penilaian responden penilaian responden tentang subaspek materi cerpen memuat aspek keterampilan bersastra (4,12/baik sesuai dengan bahan ajar), subaspek materi cerpen memuat aspek pengalaman bersastra (4,09/baik sesuai dengan bahan ajar), subaspek materi cerpen memuat aspek pembelajaran (4,06/baik sesuai dengan bahan ajar), subaspek tema cerpen mendukung bahan ajar pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia (4,1/baik sesuai dengan bahan ajar), subaspek alur cerpen mendukung bahan ajar pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia (4,16/baik sesuai dengan bahan ajar), subaspek landas tumpu (setting) mendukung bahan ajar pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia (3,94/baik sesuai dengan bahan ajar), subaspek tokoh/penokohan cerpen mendukung bahan ajar pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia (3,82/baik sesuai dengan bahan ajar), subaspek nilai moral cerpen mendukung pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia (3,99/baik sesuai dengan bahan ajar), subaspek citraan cerpen mendukung bahan ajar pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia (3,99/baik sesuai dengan bahan ajar).b. Aspek Pemilihan Cerpen Sebagai Bahan AjarTemuan dan analisis yang berkaitan dengan aspek pemilihan cerpen dalam surat kabar Kompas dan Republika sebagai bahan ajar dibagi menjadi sepuluh bagian. Penilaian subaspek bahasa cerpen sesuai tingkat kemampuan berbahasa siswa sebesar 3,95 (layak dijadikan bahan ajar), subaspek situasi cerpen sesuai tingkat kemampuan berbahasa siswa, sebesar 3,85 (layak dijadikan bahan ajar), subaspek isi cerpen sesuai tingkat kemampuan berbahasa siswa sebesar 3,83 (layak dijadikan bahan ajar), subaspek ungkapan/referensi cerpen sesuai tingkat kemampuan berbahasa siswa sebesar 3,58 (layak dijadikan bahan ajar), subaspek isi cerpen sesuai tingkat perkembangan kematangan psikologis sebesar 3,78 (layak dijadikan bahan ajar), subaspek latar belakang budaya cerpen sesuai kondisi lingkungan belajar siswa sebesar 3,83 (layak dijadikan bahan ajar), subaspek cerpen membantu keterampilan berbahasa siswa sebesar 3,83 (layak dijadikan bahan ajar), subaspek cerpen meningkatkan pengetahuan budaya siswa sebesar 3,70 (layak dijadikan bahan ajar), subaspek cerpen mengembangkan cipta dan rasa siswa sebesar 3,67 (layak dijadikan bahan ajar), dan subaspek cerpen menunjang pembentukan watak siswa sebesar 3,77 (layak dijadikan bahan ajar).c. Aspek Kesesuaian Cerpen dengan Prinsip Penyusunan Bahan AjarTemuan dan analisis yang berkaitan dengan aspek kesesuaian cerpen dalam surat kabar Kompas dan Republika dengan prinsip penyusunan bahan ajar dibagi menjadi empat bagian. Penilaian responden tentang subaspek cerpen sesuai prinsip relevansi, kesesuaian antara materi pokok dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai sebesar 3,92 (sesuai dengan prinsip penyusunan bahan ajar), subaspek cerpen konsistensi, ajeg antara materi pokok dengan kompetensi dasar sebesar 3,98 (sesuai dengan prinsip penyusunan bahan ajar), dan subaspek cerpen adekuasi, memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan sebesar 3,99 (sesuai dengan prinsip penyusunan bahan ajar). 2. Pembahasan Hasil Penelitiana. Kesesuaian Isi Cerpen dalam Surat Kabar dengan Bahan AjarJawaban responden menunjukkan sebagai berikut rerata penilaian responden untuk cerpen yang bersumber dari surat kabar Kompas sebesar 3,81 atau pada kategori baik sesuai dengan bahan ajar dan yang bersumber dari surat kabar Republika sebesar 4,25 atau pada kategori baik sesuai dengan bahan ajar. Secara umum rerata penilaian responden untuk cerpen yang bersumber dari surat kabar Kompas dan Republika sebesar 4,03 atau pada kategori baik sesuai dengan bahan ajar.b. Aspek Pemilihan Cerpen Sebagai Bahan AjarPenilaian responden tentang pemilihan cerpen dalam surat kabar Kompas dan Republika sebagai bahan ajar aspek pemilihan cerpen dalam surat kabar Kompas dan Republika sebagai bahan ajar, rerata penilaian responden untuk cerpen yang bersumber dari surat kabar Kompas sebesar 3,79 (layak dijadikan bahan ajar) dan yang bersumber dari surat kabar Republika sebesar 3,77 (layak dijadikan bahan ajar). Rerata penilaian responden untuk cerpen yang bersumber dari surat kabar Kompas dan Republika sebesar 3,78 (layak dijadikan bahan ajar).c. Aspek Kesesuaian Cerpen dengan Prinsip Penyusunan Bahan AjarPenilaian responden tentang pemilihan cerpen dalam surat kabar sesuai dengan prinsip penyusunan bahan ajar, rerata penilaian responden untuk cerpen yang bersumber dari surat kabar Kompas sebesar 3,85 (sesuai dengan prinsip penyusunan bahan ajar) dan Republika sebesar 4,07 (sesuai dengan prinsip penyusunan bahan ajar 3,96). Rerata penilaian responden untuk aspek kesesuaian cerpen dengan prinsip penyusunan bahan ajar sebesar 3,96 (layak dijadikan bahan ajar).

C. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan Berdasarkan pendeskripsian data dan pembahasan hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa rerata penilaian responden untuk cerpen yang bersumber dari surat kabar Kompas dan Republika sebesar 4,03 (baik sesuai dengan bahan ajar), rerata penilaian responden untuk cerpen yang bersumber dari surat kabar Kompas dan Republika sebesar 3,78 (layak dijadikan bahan ajar), dan rerata penilaian responden untuk cerpen yang bersumber dari surat kabar Kompas dan Republika sebesar 3,96 (sesuai dengan prinsip penyusunan bahan ajar). 2. SaranBahan ajar (bahan ajar cerpen) yang dapat digunakan dalam pembelajaran cerpen dalam surat kabar Kompas dan Republika melalui Metode Pembelajaran SAVI, pada dasarnya, adalah jenis bahan ajar cerpen apa saja. Namun, sebaiknya untuk tingkat Sekolah Menengah Atas, bahan ajar cerpen yang digunakan adalah bahan ajar cerpen yang berjenis dan isinya harus sesuai dengan karakteristik, pengalaman, dan kebutuhan siswa. Dengan demikian, sebelum bahan ajar cerpen sebagai bahan ajar digunakan dalam pembelajaran, seorang guru perlu melakukan studi pendalaman bahan terhadap cerpen tersebut. Tujuannya untuk menemukan masalah yang mungkin terdapat dalam bahan ajar dan solusinya agar bahan ajar tersebut benar-benar layak digunakan dalam pembelajaran.

DAFTAR RUJUKAN

  • Depdiknas. 2006. Kurikulum 2006. Standar Kompetensi Pelajaran Bahasa Indonesia SMA dan MA. Jakarta: Departeman Pendidikan Nasional.
  • Haryati, Mimin. 2007. Model dan Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press.
  • Rahmanto, B. 1998. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.
  • Rusyana, Yus. 2002. Naskah Nusantara Dalam Pendidikan Kesastraan Di Indonesia. Makalah Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Indonesia dengan Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia. Bogor.
  • Suharyanto. 2002. Dasar-Dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta.
*) Universitas Negeri Makassar