Motivasi Belajar

Rabu 20 Jul 2011 04:35 PM Alim Sumarno, M.Pd

Kata motivasi berasal dari kata "motif" yang pada hakikatnya merupakan terminologi umum yang memberikan makna "daya dorong", "keinginan", "kebutuhan", dan "kemauan". Motif yang telah aktif disebut "motivasi".Mc Donald (dalam Sardiman, 2001:71) menyatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "perasaan / feeling" dan didahului dengan tanggapan adanya tujuan. Elemen pentingnya terdiri dari: (1) motivasi itu memulai terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam system "neurophysiological" yang ada pada manusia karena menyangkut perubahan energi manusia (walaupun motivasi itu muncul dari dalam diri manusia), penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia. (2) motivasi ditandai dengan munculnya perasaan (feeling) dan afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi terkait dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi, dan emosi yang bisa menentukan perilaku manusia. Dan (3) motivasi akan terangsang karena adanya tujuan.Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi yakni tujuan.Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena terangsang / terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan ini menyangkut soal kebutuhan. Marx (1976:418) menyatakan bahwa motivasi menentukan arah dan intensitas perilaku. Hudgin (1983:390) mengemukakan bahwa motivasi ini mengarahkan tingkah laku untuk mencapai tujuan / ends. Motivasi muncul sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan yang belum dipenuhi. Kretct dab Ballachey (1962:69) mengatakan bahwa motivasi didasari atas keinginan dan tujuan. Brown (1980:113), menjelaskan bahwa motivasi adalah dorongan atau rangsangan yang bersifat menyeluruh, situasional, dan berorientasi pada tugas yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan.Sejak tahun 1940-an David McClelland memulai mengembangkan teori tentang motivasi yang difokuskan pada personality, dan penemuannya yang sangat terkenal disebutkan bahwa kesuksesan seseorang ditentukan oleh perilaku khusus yang bersumber dari trait psikologis (McClelland, 1961:114). Sebaliknya Maehr dan Braskamp (1986: 35) mengemukakan bahwa motivasi merupakan respon terhadap berbagai situasi.Menurutnya faktor-faktor situasi atau kontektual yang berpengaruh terhadap motivasi meliputi; normative expectations, role-related expectations, incentives, sociocultural definition, dan interpersonal demands.Secara teori teori tentang motivasi dikelompokkan dalam dua kelompok teori utama yaitu: (1) teori-teori isi (content theories) atau sering juga disebut teori kebutuhan (need theories) atau teori kepuasan, dan (2) teori-teori proses (process theory) . Teori-teori isi tersebut dengan pertanyaan apa penyebab-penyebab perilaku atau memusatkan pada pertanyaan "apa" dari motivasi. Teori-teori isi yang terkenal dapat disebutkan antara lain; teori hirarki kebutuhan Abraham Maslow, teori pemeliharaan atau motivasi-bersih dari Frederick Herzberg, teori Mc Gregor, dan teori prestasi dari David McClelland. Teori-teori proses tersebut dengan bagaimana perilaku dimulai dan dilaksanakan atau menjelaskan aspek "bagaimana" dari motivasi.Teori-teori proses antara lain adalah: teori pengharapan (expectancy theory) dari Victor Vroom, teori pembentukan tingkah laku dari Skinner (operant conditioning), teori Porter-Lawler,dan teori keadilan.Teori isi dari motivasi memusatkan perhatian pada pertanyaan: apa yang menyebabkan perilaku terjadi dan berhenti? Jawabannya terpusat pada: kebutuhan-kebutuhan, motif-motif, atau dorongan-dorongan yang mendorong, menekan, mendorong dan menguatkan dengan faktor-faktor eksternal yang menyebabkan, mendorong dan mempengaruhi seseorang untuk bertingkah laku.Secara hierarkis, kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow terdiri dari lima, yaitu; physiology, safety, social, esteem dan self actualization. Frederick Herzberg (teorinya disebut motivation maintenance theory) melihat kebutuhan manusia itu menjadi dua kontinum yaitu motivation (satiesfiers) dan hygiene factors ( dissatisfiers). Satiesfier adalah faktor-faktor atau situasi yang merupakan sumber kepuasan yang terdiri dari; achievement, recognation, work it self, responsibility, dan advancement. Sedangkan dissatisfier adalah faktor-faktor yang menjadi sumber ketidakpuasan yang terdiri dari; company policy administration, supervision technical, salary , interpersonal relations, working condition, job security, dan status (Wexley &Yukl, 1977:243).Menurut hasil penelitian Herzberg, motivation atau satisfiers yang disebut juga intrinsic factors jika dipenuhi akan menimbulkan kepuasan, tetapi bila tidak dipenuhi tidak terlalu mengakibatkan ketidakpuasan. Sedangkan hygiene factors atau disebut extrinsic factors memiliki kaitan erat dengan ketidakpuasan, artinya perbaikan terhadap kondisi ini akan menghilangkan atau mengurangi ketidakpuasan, tetapi tidak menimbulkan kepuasan.Teori kebutuhan lain dikemukakan David Mc Clelland, yang melukiskan bahwa kebutuhan manusia terdiri dari; need for power (n / PWR), need for affiliation (n / aft), danneed for achievement (n / ACH). Mc Clelland (dalam Wahjosumidjo, 1984:84) merekomendasikan beberapa hal untuk memenuhi kebutuhan tersebut antara lain; memberikan sesuatu yang membuat mereka puas, memberikan mereka otonomi, masukan terhadap sukses dan kegagalan, berikan mereka kesempatan untuk tumbuh, dan berikan mereka tantangan.Dari pengertian motivasi pada, kemudian diaplikasikan dalam kegiatan belajar, maka motivasi belajar pada hakikatnya adalah dorongan penggerak aktif dalam diri siswa untuk melakukan aktivitas belajar. Motivasi belajar dapat dikatakan sebagai energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan didahului dengan tanggapan terhadap tujuan-tujuan belajar. Motivasi belajar menentukan secara langsung terhadap intensitas belajar. Seseorang yang memiliki motivasi belajar tinggi akan melakukan kegiatan belajar secara optimal (Wiyono, 2003:28-34).Motivasi belajar merupakan variabel yang paling penting, karena proses belajar akan lebih efektif jika warga belajar yang bersangkutan memiliki keinginan untuk mempelajari sesuatu yang dipikirkannya (Kibler, dkk, 1981:122-183). Coffey dkk (1975:214) menyatakan bahwa, sifat keragaman dan kedinamisan manusia menjadikan perbedaan dan perubahan kebutuhan secara individu sesuai dengan situasi dan kondisi, dan untuk individu hal ini merupakan pendorong tumbuhnya motivasi memenuhi kebutuhan untuk mencapai kepuasan.Seperti yang telah disebutkan di halaman depan, Bloom (1982:11)mengemukakan tiga faktor utama yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu kemampuan kognitif, motivasi berprestasi, dan kualitas pembelajaran.Kemampuan kognitif bisa diartikan sebagai kapasitas mental yang merupakan pranata untuk manusia untuk menyadari atau memperoleh pengetahuan tentang obyek. Kemampuan kognitif tersebut mencakup proses seperti menyadari, mengorganisasikan, memahami, mempertimbangkan, dan mengemukakan berbagai alasan (Molenda, 1981: 1). Selanjutnya proses kognitif dapat juga diartikan sebagai operasi mental yang terjadi pada manusia berpikir yang meliputi adanya informasi, kejadian, objek, dan peristiwa yang ada (Glasser dan Holyoak, 1986:2) dan mengajukan alasan-alasan sebagai hasil dari proses analisis, sintesis dan penilaian (Davies, 1989:151).Operasi kognitif dipengaruhi oleh strategi kognitif yaitu cara-cara yang digunakan individu dalam mengarahkan perhatian, belajar, mengingat dan berpikir. Semua hal tersebut merupakan kemampuan yang diperlukan dalam melakukan aktivitas mengarahkan diri. Pada giliran berikutnya strategi kognitif merupakan pranata untuk mengatur dan memodifikasi proses belajar (Gagne dan Briggs, 1979:71).Strategi kognitif berbeda dengan keterampilan intelektual karena kemampuan intelektual terkait orientasi individu terhadap aspek-aspek yang ada di dalam lingkungan yang mempengaruhi individu dalam menyelesaikan masalah yang terkait dengan angka-angka, kata-kata, simbol-simbol. Strategi kognitif terkait kemampuan individu mengendalikan kemampuannya di bidang keterampilan intelektual (Gagne, 1979:60).Kemampuan kognitif dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: faktor perhatian, persepsi, struktur pengetahuan, formasi dan asimilasi konsep dan bahasa. Gagne dan Briggs (1979:62) mengemukakan bahwa pengembangan kemampuan kognitif bisa dilakukan dengan melatih berbagai keterampilan kognitif.Kegiatan ini dilakukan secara hirarkhis yang dimulai dari pembangunan kemampuan melakukan diskriminasi, berpikir secara konkrit, berpikir secara abstrak dengan memahami berbagai hukum dan prinsip yang diikuti dengan solusi masalah.Penerapan proses pembelajaran yang mengembangkan kemampuan aktualisasi kognitif tingkat tinggi harus mempertimbangkan aspek-aspek yang terkait dengan strategi pembelajaran yang tersusun secara sistimatis dimulai dari tingkat awal, tingkat penyajian dan tahap penutup dan pemantapan dan ditekankan pada pembangunan kemampuan dalam mempertentangkan sifat berbagai konsep, berbagai kondisi yang terkait dengan hubungan sebab dan akibat sebagai prosedur yang menuju pada pengembangan kemampuan aktualisasi kognitif tingkat tinggi dalam bentuk berpikir analisis kritis. Penggunaan kemampuan berpikir analisis sintesis menghasilkan aktualisais kognitif tingkat tinggi dalam bentuk berpikir konstruktif, berpikir produktif dan berpikir kreatif (Jamaris, 2004:67-101).Selanjutnya tentang motivasi berprestasi. Motivasi berprestasi terkait erat dengan prestasi belajar (Jegede, 1994:695), karena memberi petunjuk dan insensitas terhadap perilaku untuk berprestasi (Gagne, 1985:61).Motivasi berprestasi menurut Heckhausen (1968:4-22) adalah dorongan pada individu untuk meningkatkan atau mempertahankan efisiensi setinggi mungkin dalam segala aktivitas di mana suatu standar keunggulan digunakan sebagai pembanding.Dalam melaksanakan aktivitas tersebut ada dua kemungkinan sukses atau gagal. Ia mengemukakan tiga standar keunggulan yang bisa digunakan, yaitu: (1) task related standar of excellence (tugas, yang terkait dengan solusi tugas dengan sebaik-baiknya). (2) self related standar of excellence (diri, yang terkait dengan pencapaian kinerja yang lebih tinggi dari sebelumnya), dan (3) Other standar of excellence (orang lain, yang terkait dengan pencapaian kinerja lebih tinggi dari kinerja orang lain). Motivasi berprestasi merupakan kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu secepat dan sebaik mungkin. Kajian indikator yang digunakan adalah: harapan untuk berhasil, kekhawatiran akan gagal, bersaing dan bekerja keras (Robinson, 1961 dalam Cohen, 1976:232).Pelajar yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan berusaha menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya dengan sebaik-baiknya, meraih prestasi yang lebih baik dari sebelumnya, melebihi prestasi rata-rata rekan-rekannya, bahkan mungkin melebihi kebutuhan maksimum yang ditetapkan.Murray (1964:93) mengemukakan beberapa cirri individu yang bermotivasi berprestasi tinggi, yaitu:memiliki sikap percaya diri, bertanggung jawab, aktif dalam kegiatan masyarakat dan kampus, lebih memilih orang yang ahli sebagai mitra dari orang yang simpatik, dan lebih tahan terhadap tekanan social. Haditono (1979:29) mengemukakan enam fitur individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi yaitu : (1) memiliki gambaran diri positif, optimis dan percaya diri, (2) lebih memilih tugas yang tingkat kesulitannya sedang-sedang saja dari tugas yang sangat sulit atau sangat mudah, (3) berorientasi ke masa depan, (4) sangat menghargai waktu , (5) tabah, tekun dan gigih dalam mengerjakan tugas, (6) lebih memilih seorang anggota sebagai mitra dari orang yang simpatik.Sedangkan menurut McClelland (dalam Letakkan, 2003:21) siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi biasanya memiliki fitur-fitur ingin mengerjakan sesuatu selalu terbaik, memiliki harapan untuk berhasil, ingin berusaha sendiri, memiliki semangat belajar yang tinggi dalam bersaing, tabah menghadapi rintangan, memiliki tanggung jawab pribadi dan berorientasi ke masa depan.Motivasi berprestasi siswa merupakan aspek penting dalam pengajaran dan sepenuhnya terkait dengan peran guru.Kegagalan dalam motivasi berprestasi, seperti siswa merasa bosan, gelisah, tidak kooperatif tampak menjadi kendala utama pengajaran (Gagne, 1985:62). Kegagalan tersebut menimbulkan efek untuk mengubah strategi pengajaran yang sesuai dengan motivasi berprestasi siswa.Dalam pengajaran, motivasi berprestasi siswa merupakan variabel yang tidak dapat dimanipulasi oleh perancang pengajaran (Degeng, 1991:84). Karena itu variabel ini hendaknya dijadikan pijakan dalam memilih dan mengambangkan strategi pengajaran yang optimal. Dalam menciptakan situasi yang kondusif untuk membangkitkan motivasi di lingkungan pendidikan, Ron Renchler (1992:19) memberikan tip sebagai berikut:
  1. Pelihara komunikasi dan saling pengertian antara guru dengan siswa.
  2. Tunjukkan kepada siswa bagaimana motivasi memiliki peranan yang penting dalam kehidupan pribadi, pembentukan kemampuan profesional dan pengembangan kepribadian.
  3. Lakukan kerjasama antara siswa, guru, orang tua siswa dan yang lain untuk membangun tantangan yang terkait dengan pencapaian kinerja sekolah dan peningkatan prestasi akademik.
  4. Upayakan kegiatan yang menunjukkan bagaimana motivasi memiliki peranan penting dalam pengaturan noneducational.
  5. Susun program instruksional sebagai alternatif praktek pendidikan tradisional yang efektif dapat menumbuhkan motivasi siswa.
  6. Diskusikan topik motivasi sesering mungkin diantara siswa, guru dan staff yang lain.
  7. Tunjukkan kepada siswa bahwa kesuksesan itu penting. Sarankan kepada siswa bagaimana mencapai kesuksesan, dan beri reward terhadap siswa yang berhasil.
  8. Kembangkan atau buat skedul pada inservice program dengan fokus motivasi, dan ajak, administrator dalam program tersebut.
  9. Tunjukkan bahwa belajar merupakan proses kegiatan seumur hidup.
  10. Pahami dan promosikan nilai-nilai motivasi intrinsik.
  11. Gunakan sistem ekstrinsik reward.