Lingkungan Sebagai Sumber Belajar

Selasa 31 May 2011 03:32 PM Alim Sumarno, M.Pd

Guru kita sering mendapat kesukaran dalam melaksanakan tugasnya karena langkahnya sumber atau bahan yang dapat digunakan dalam poses belajar-mengajar. Buku tidak cukup, alat bantu atau alat peraga sangat kurang, dan lainnya pun tidak cukup. Namun, apakah sekolah akan kita biarkan terus dengan segala kekurangannya?Sumber Belajar yang TerlupakanSebenarnya kita sering melupakan sumber belajar-mengajar yang dapat di lingkungan kita, baik disekitar sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. betapapun kecil atau terpencil, suatu sekolah, sekurang-kurangnya mempunyai empat jenis sumber belajar yang sangat kaya dan bermanfaat, yaitu :
  • Masyarakat desa atau kota di sekililing sekolah.
  • Lingkungan fisik di sekitar sekolah.
  • Bahan sisa yang tidak terpakai dan barang bekas yang terbilang yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, namun kalau kita olah dapat bermanfaat sebagai sumber dan alat bantu belajar-mengajar.
  • Peristiwa alam dan peristiwa yang terjadi di masyarakat cukup menarik perhatian siswa. Ada peristiwa yang mungkin tidak dapat dipastikan akan berulang kembali. Jangan lewatkan peristiwa itu tanpa ada catatan pada buku atau alam pikiran siswa.
Akrabkan Siswa dengan LingkunganSiswa masuk ke sekolah membawa pengalaman sendiri-sendiri. Mereka mengenal binatang, bahkan mungkin memeliharanya. Siswa mengenal tumbuh-tumbuhan, bahkan sering menggunakannya sebagai alat dalam bermain. Tiap hari mereka melihat orang berbelanja di warung, bahkan mareka sendiri sering melakukannya. Selain itu, mungkin siswa pernah merasakan betapa hebatnya letusan gunung sehingga bumi bergoyang dan abu bertebaran di mana-mana.Kegiatan dan peristiwa ini hanya sebagian kecil saja dari pada yang mereka alami setiap hari. Tetapi apakah mereka akrab dengan lingkungannya? Belum tentu akrab. Untuk mengakrabkan mereka dengan lingkunganya perlu ada usaha agar mereka asyik dengan lingkungan. Usaha ini dapat ditempuh melalui proses belajar-mengajar, baik di dalam kelas maupun di alam sekitar. Jadikanlah lingkungan sebagai sumber belajar.Konsep baru tentang mengajar menyatakan bahwa mengajar adalah membina siswa bagaimana belajar, bagaimana berfikir, dan bagaimana menyelidiki. Berdasarkan pengertian ini, guru berada di tengah antara siswa dan sumber belajar. Guru berperan sebagai pemandu agar siswa belajar secara aktif dan kreatif. Guru memberi dorongan agar siswa berbuat banyak dan berbuat secara kreatif. Dalam hal ini guru berperan sebagai motivator.Guru tidak hanya berusaha mengadakan sumber belajar seperti buku dan membawa siswa ke sumber belajar seperti lingkungan tumbuh-tumbuhan dan lingkungan hewan di sekitarnya. Dalam hal ini, guru berperan sebagai pemberi jalan atau fasilitator.Guru berusaha agar siswa akrab dengan lingkungannya dan menggunakannya sebagai sumber belajar. Usaha ini tampaknya dapat melaporkan guru dan siswa, namun membawa makna pembaharuan dalam proses belajar-mengajar. Kita harapkan usaha pertama ini merupakan awal tinggal landas untuk mencapai caara belajar siswa aktif.Kegiatan-kegiatan sebagai langkah awal untuk mengakrabkan siswa dengan lingkungan sekitar adalah sebagai berikut :
  • Halaman sekolah ditanami dengan tumbuh-tumbuhan. Para siswa hendaknya menempelkan label nama setiap tumbuhan pada sebilah papan bertingkat yang ditanamkan berdekatan dengan tanaman lain-lain.
  • Kalau mungkin, siswa diminta membawa tumbuh-tumbuhan atau hewan tertentu ke dalam kelas dan dipelihara dengan baik. Akan terasalah kelas menjadi lebih hidup dan menyenangkan.
  • Siswa dapat diarahkan untuk mengusahakan koleksi rumput-rumputan dan daun-daunan (herbarium), koleksi serangga (insektarium), dan koleksi ikan tawar (akuarium), yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar.
  • Siswa hendaknya diarahkan untuk membuat koleksi batu-batuan dan kerang-kerangan yang berbeda bentuk dan jenisnya. Koleksi benda-benda itu disimpan di atas meja pada salah satu sudut kelas sebagai sumber dan alat belajar. Siswa akan merasa bangga berbuat seperti itu. Kelas seolah-olah menjadi museum keecil, yang besar artinya bagi proses belajar-mengajar. Selanjutnya, diharapkan guru mampu mengembangkan apa yang ada dalam kelas sebagai sumber dan alat belajar. Pajangan dalam kelas ini bukanlah sebagai hiasan semata-mata. Guru dapat membuat variasi yang lain.

Guru kita sering mendapat kesukaran dalam melaksanakan tugasnya karena langkahnya sumber atau bahan yang dapat digunakan dalam poses belajar-mengajar. Buku tidak cukup, alat bantu atau alat peraga sangat kurang, dan lainnya pun tidak cukup. Namun, apakah sekolah akan kita biarkan terus dengan segala kekurangannya?

Sumber Belajar yang Terlupakan

Sebenarnya kita sering melupakan sumber belajar-mengajar yang dapat di lingkungan kita, baik disekitar sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. betapapun kecil atau terpencil, suatu sekolah, sekurang-kurangnya mempunyai empat jenis sumber belajar yang sangat kaya dan bermanfaat, yaitu :

- Masyarakat desa atau kota di sekililing sekolah.

- Lingkungan fisik di sekitar sekolah.

- Bahan sisa yang tidak terpakai dan barang bekas yang terbilang yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, namun kalau kita olah dapat bermanfaat sebagai sumber dan alat bantu belajar-mengajar.

- Peristiwa alam dan peristiwa yang terjadi di masyarakat cukup menarik perhatian siswa. Ada peristiwa yang mungkin tidak dapat dipastikan akan berulang kembali. Jangan lewatkan peristiwa itu tanpa ada catatan pada buku atau alam pikiran siswa.

Akrabkan Siswa dengan Lingkungan

Siswa masuk ke sekolah membawa pengalaman sendiri-sendiri. Mereka mengenal binatang, bahkan mungkin memeliharanya. Siswa mengenal tumbuh-tumbuhan, bahkan sering menggunakannya sebagai alat dalam bermain. Tiap hari mereka melihat orang berbelanja di warung, bahkan mareka sendiri sering melakukannya. Selain itu, mungkin siswa pernah merasakan betapa hebatnya letusan gunung sehingga bumi bergoyang dan abu bertebaran di mana-mana.

Kegiatan dan peristiwa ini hanya sebagian kecil saja dari pada yang mereka alami setiap hari. Tetapi apakah mereka akrab dengan lingkungannya? Belum tentu akrab. Untuk mengakrabkan mereka dengan lingkunganya perlu ada usaha agar mereka asyik dengan lingkungan. Usaha ini dapat ditempuh melalui proses belajar-mengajar, baik di dalam kelas maupun di alam sekitar. Jadikanlah lingkungan sebagai sumber belajar.

Konsep baru tentang mengajar menyatakan bahwa mengajar adalah membina siswa bagaimana belajar, bagaimana berfikir, dan bagaimana menyelidiki. Berdasarkan pengertian ini, guru berada di tengah antara siswa dan sumber belajar. Guru berperan sebagai pemandu agar siswa belajar secara aktif dan kreatif. Guru memberi dorongan agar siswa berbuat banyak dan berbuat secara kreatif. Dalam hal ini guru berperan sebagai motivator.

Guru tidak hanya berusaha mengadakan sumber belajar seperti buku dan membawa siswa ke sumber belajar seperti lingkungan tumbuh-tumbuhan dan lingkungan hewan di sekitarnya. Dalam hal ini, guru berperan sebagai pemberi jalan atau fasilitator.

Guru berusaha agar siswa akrab dengan lingkungannya dan menggunakannya sebagai sumber belajar. Usaha ini tampaknya dapat melaporkan guru dan siswa, namun membawa makna pembaharuan dalam proses belajar-mengajar. Kita harapkan usaha pertama ini merupakan awal tinggal landas untuk mencapai caara belajar siswa aktif.

Kegiatan-kegiatan sebagai langkah awal untuk mengakrabkan siswa dengan lingkungan sekitar adalah sebagai berikut :

- Halaman sekolah ditanami dengan tumbuh-tumbuhan. Para siswa hendaknya menempelkan label nama setiap tumbuhan pada sebilah papan bertingkat yang ditanamkan berdekatan dengan tanaman lain-lain.

- Kalau mungkin, siswa diminta membawa tumbuh-tumbuhan atau hewan tertentu ke dalam kelas dan dipelihara dengan baik. Akan terasalah kelas menjadi lebih hidup dan menyenangkan.

- Siswa dapat diarahkan untuk mengusahakan koleksi rumput-rumputan dan daun-daunan (herbarium), koleksi serangga (insektarium), dan koleksi ikan tawar (akuarium), yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar.

- Siswa hendaknya diarahkan untuk membuat koleksi batu-batuan dan kerang-kerangan yang berbeda bentuk dan jenisnya. Koleksi benda-benda itu disimpan di atas meja pada salah satu sudut kelas sebagai sumber dan alat belajar. Siswa akan merasa bangga berbuat seperti itu. Kelas seolah-olah menjadi museum keecil, yang besar artinya bagi proses belajar-mengajar. Selanjutnya, diharapkan guru mampu mengembangkan apa yang ada dalam kelas sebagai sumber dan alat belajar. Pajangan dalam kelas ini bukanlah sebagai hiasan semata-mata. Guru dapat membuat variasi yang lain.

Perhatikan ilustrasi insektarium, herbarium, serta koleksi batu-batuan dan kerang-kerangan berikut ini.