Konsep Mengajar

Kamis 16 Feb 2012 01:04 AM Alim Sumarno, M.Pd

Menurut Raka Joni (1993) mengajar adalah menggugah dan membantu terjadinya gejala belajar di kalangan pemelajar. Pendapat senada dikemukakan oleh Brown (2000), yang mengatakan bahwa mengajar adalah memberikan bimbingan dan fasilitas yang memungkinkan pemelajar dapat belajar. Sementara itu, Bowden dan Ference (1998) mengatakan bahwa mengajar bukan berarti mentransfer pengetahuan kepada pemelajar, tetapi membantu pemelajar mengembangkan pengetahuan mereka. Tugas guru adalah merancang kesempatan belajar yang mampu menghadapkan pemelajar pada pelbagai persoalan yang menuntut mereka mengidentifikasi dan memanipulasi variabel-variabel kritis untuk dapat mencapai hasil yang diharapkan. John Bowden dan Marton Ference, The University of Learning : Beyond Quality and Competence in Higher Education (London: Kogan Page, 1998), http://www. unca.edu/et/br110698.html.

Pendapat para ahli tentang mengajar di atas mengandung dua implikasi utama. Pertama, sebagai pengajar guru berperan hanya sebagai orang yang membantu pemelajar belajar. Bantuan tersebut berbentuk pemberian motivasi dan bimbingan belajar serta penyediaan fasilitas belajar. Pemberian motivasi berkenaan dengan upaya mendorong pemelajar untuk belajar, baik melalui penyadaran (motivasi intrinsik) maupun melalui sistem ganjaran dan hukuman (motivasi ekstrinsik). Pemberian bimbingan mengacu pada pemberian arah agar pemelajar dapat belajar secara benar. Ini dapat dilakukan antara lain dengan menjelaskan tujuan pelajaran, menjelaskan hakikat tugas (tasks) yang mereka kerjakan, dan menjelaskan strategi pengerjaan tugas tersebut. Penyediaan fasilitas belajar berkenaan dengan upaya guru mempermudah terjadinya kegiatan belajar. Ini mencakup kegiatan yang luas seperti merancang kesempatan belajar, menciptakan kondisi yang kondusif bagi terjadinya pemelajaran, dan menyediakan sarana belajar (Richards dan Rodgers, 2001). Writing Lesson Plans : Teachers’ Roles (www. huntington.edu/education/Lessonplanning/roles.html).

Kedua, yang bertanggung jawab atas terjadinya kegiatan belajar adalah pemelajar. Meskipun guru aktif mengajar, proses pemelajaran tidak terjadi apabila pemelajar tidak mau belajar. Di sini pemelajar menjadi subjek pemelajaran yang aktif dan mandiri (autonomous learner). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Cotteral dan Crabbe (1992) terhadap pemelajar bahasa menunjukkan bahwa pemelajar yang mandiri adalah pemelajar yang (1) merencanakan dan mengorganisasi sendiri pengalaman belajarnya, (2) mengetahui bidang-bidang yang menjadi fokus pemelajaran, (3) memantau sendiri kemajuan belajarnya, (4) mencari kesempatan untuk berlatih, (5) memiliki antusiasme terhadap bahasa dan belajar bahasa, dan (6) memiliki kepercayaan diri untuk menggunakan bahasa dan mencari bantuan apabila diperlukan.

Uraian tentang konsep mengajar di atas menyanggah pandangan tradisional yang mengatakan bahwa mengajar adalah menyalurkan pengetahuan kepada pemelajar. Pemelajar dianggap tabung kosong yang siap diisi oleh guru. Pemelajar duduk dengan tenang di bangku yang ditata berjajar sambil mendengarkan keterangan guru, sedangkan guru sibuk di depan kelas menyampaikan materi pelajaran. Konsep mengajar mutakhir sebagaimana diuraian di atas juga mengakibatkan berubahnya peran guru, dari sebagai sumber informasi tunggal menjadi fasilitator pemelajaran.

Dalam konteks pembelajaran bahasa, mengajar bahasa berarti membantu pemelajar belajar bahasa. Guru membantu siswa belajar menggunakan bahasa target agar siswa memiliki kemampuan komunikatif yang memadai. Dengan kata lain, tujuan pembelajaran bahasa adalah mengembangkan kemampuan komunikatif siswa. Menurut Hymes (1987) kemampuan komunikatif mengacu pada tidak saja pengetahuan tentang kaidah-kaidah kebahasaan (tacit knowledge) untuk mengkonstruksi kalimat-kalimat yang gramatikal, tetapi juga kemampuan menggunakan (ability to use) kalimat-kalimat itu untuk memahami dan/atau mengungkapkan makna. Kedua hal tersebut terkait dengan empat parameter, yaitu kegramatikalan (grammaticality), kelayakan (feasibility), kesesuaian dengan konteks (appropriacy), dan kemungkinan yang terjadi dalam sistem komunikasi (accepted usage).D.H.Hymes, "On Communicative Competence," The Communica­tive Approach in Language Teaching (ed). C.J. Brumfit dan K. Johnson, (Oxford: Oxford University Press, 1987), pp. 18-21.

Parameter Hymes tersebut mempunyai cakupan yang luas karena dalam kemampuan komunikatif tidak hanya bahasa yang gramatikal yang harus diperhatikan, tetapi juga bahasa yang sesuai dengan kemampuan psikologis pembicara-pendengar, bahasa yang sesuai dengan konteks pembicaraan, dan bahasa yang benar-benar digunakan dalam masyarakat meskipun kadang-kadang tidak sesuai dengan kaidah kebahasaan.

Menurut Allwright (1987), apabila kemampuan berkomunikasi dianggap sebagai tujuan akhir pembelajaran bahasa, maka kemampuan tersebut hendaknya tidak hanya dipandang sebagai hasil (product) tetapi juga sebagai proses. Implikasinya adalah bahwa kemampuan berkomunikasi harus diajarkan. Menurutnya dengan diajarkannya kemampuan berkomunikasi maka akan tercakup pula kemampuan linguistik karena kemampuan linguistik merupakan bagian dari kemampuan berkomunikasi; tetapi dengan diajarkannya kemampuan linguistik secara komprehensif maka sebagian besar elemen pembentuk kemampuan berkomunikasi tidak akan tersentuh. Itulah sebabnya, mengajarkan sistem dan kaidah-kaidah bahasa secara intensif tidak dapat menja­min terbentuknya kemampuan berkomunikasi.

Pustaka

  • Allwright, Richards . (1987). “Language Learning through Practice,” The Communicative Approach to Language Teaching, (ed). C.J. Brumfit dan K. Johnson, 167-182. Oxford: Oxford University Press.
  • Raka Joni, T. (1992). Pokok-pokok pikiran mengenai pendidikan guru. Jakarta: Konsorsium Ilmu Pendidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • _______________.(1993). “Pendekatan cara belajar siswa aktif: Acuan konseptual peningkatan mutu kegiatan belajar-mengajar.” Dalam Conny R. Semiawan dan T. Raka Joni (Eds.). Pendekatan pembelajaran: Acuan konseptual pengelolaan kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Jakarta: Konsorsium Ilmu Pendidikan, Ditjen Dikti, Depdikbud.
  • Bowden, John dan Ference, Marton. (1998). The university of learning: Beyond quality and competence in higher education. London: Kogan Page. http://www.unca. edu/et/br110698.html.
  • Hymes, D.H. (1987). “On Communicative Competence,” The Communicative Approach in Language Teaching (ed.) C.J. Brumfit dan K. Johnson, 5-26. Oxford: Oxford University Press.