Konsep Belajar

Kamis 16 Feb 2012 01:16 AM Alim Sumarno, M.Pd

Menurut Raka Joni (1993) belajar berarti mengubah pengetahuan dan pemahaman secara terus menerus yang dilakukan oleh pemelajar melalui proses pemberian makna terhadap pengalamannya. Kebermaknaan pengalaman tersebut memiliki dua sisi, yaitu sisi intelektual dan sisi emosional. Kebermaknaan intelektual dicapai melalui dua proses, yaitu proses kognisi dan proses meta-kognisi. Proses kognisi mengacu pada terasimilasikannya isi pengalaman ke dalam struktur kognitif yang telah ada atau termodifikasinya struktur kognitif untuk mengakomodasikan isi pengalaman yang baru. Proses asimilasi kognitif terjadi apabila struktur kognitif yang telah ada mampu menampung isi pengalaman yang baru, sedangkan struktur akomodasi terjadi apabila isi pengalaman yang baru tidak dapat ditampung dalam struktur kognitif yang telah ada. Sementara itu, proses meta-kognisi mengacu pada kesadaran pemelajar atas proses kognisi yang sedang dilakukannya serta kemampuannya mengendalikan proses kognisinya itu. Dengan kata lain, di samping menangkap pesan kegiatan belajar yang tengah dihayatinya, pemelajar juga membentuk kemampuan untuk belajar (learning how to learn).

Sisi emosional dari kebermaknaan pengalaman mengacu pada rasa memiliki pengalaman itu oleh pemelajar. Hal ini ditandai oleh kesadaran pemelajar bahwa isi pengalaman tersebut penting baginya, baik pada saat ia mengalaminya maupun untuk waktu-waktu yang akan datang. Penghayatan terhadap pentingnya isi pengalaman tersebut akan memotivasi pemelajar melakukan aktivitas yang merupakan bagian dari pengalaman belajarnya itu. Inilah yang dimaksud dengan motivasi intrinsik. Motivasi semacam itu menjadi landasan bagi terbentuknya kemampuan serta kebiasaan belajar secara mandiri (self-directed learning) (Raka Joni, 1993).

Dalam konteks pembelajaran bahasa, belajar bahasa berarti belajar menggunakan bahasa itu untuk berkomunikasi, yaitu saling tukar pesan (message) antara dua orang atau lebih. Satu orang berperan sebagai pengirim pesan dan yang lain berperan sebagai penerima pesan. Pesan tersebut dapat berbentuk pertanyaan, informasi, pujian, perintah, sapaan, dan lain-lainnya. Dengan demikian, belajar berbahasa berarti belajar bertanya, memberi informasi, memuji, memerintah, menyapa, dan lain-lain dalam bahasa target (Widdowson, 1987). Pandangan tersebut berbeda dengan pandangan yang dikemukakan oleh Kaum Strukturalis bahwa mempelajari bahasa berarti mempelajari kaidah atau sistem bahasa yang antara lain mencakup struktur kata, struktur kalimat, kosakata, makna kata/kalimat, ejaan, dan lafal (Nunan, 1997).

Pandangan senada dikemukakan oleh Jane Willis (1996), yang mengatakan bahwa dalam mempelajari bahasa (terutama bahasa asing) yang terpenting adalah menggunakan bahasa itu. Dia menunjuk orang-orang yang sering bepergian ke luar negeri, orang-orang yang bekerja di luar negeri, atau orang-orang yang menjalin kerja sama dengan penutur asli bahasa target sebagai contoh. Mereka memperlihatkan kemampuan komunikatif yang memadai meskipun mereka tidak pernah secara formal mempelajari kaidah bahasa target tersebut di sekolah. Mereka memiliki kemampuan komunikatif yang cukup baik karena mereka memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat berkomunukasi dengan menggunakan bahasa target, menerima pajanan (exposure) yang cukup memadai, dan memiliki kesempatan untuk menggunakan bahasa target tersebut. Menurutnya tanpa pengajaran formal pemelajaran dapat berlangsung karena pengajaran bukan satu-satunya fungsi pemelajaran.

Penggunaan bahasa sebagaimana dimaksud di atas dapat berbentuk menyimak, berbicara, membaca, atau menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut berkaitan satu sama lain. Menyimak berkaitan dengan berbicara karena keduanya menggunakan media lisan; sedangkan membaca berkaitan dengan menulis karena keduanya menggunakan media visual. Sementara itu, menyimak berhubungan dengan membaca karena keduanya merupakan keterampilan reseptif; sedangkan berbicara berhubungan dengan menulis karena keduanya merupakan keterampilan produktif (Widdowson, 1983). Dalam prakteknya keempat keterampilan berbahasa tersebut tidak digunakan satu per satu secara terpisah tetapi digunakan secara simultan dan terpadu. Kegiatan berbicara, misalnya, mengimplikasikan perlunya kegiatan menyimak; demikian juga, kegiatan menulis mengimplikasikan perlunya kegiatan membaca (Brown, 2000)

Pustaka

  • Raka Joni, T. (1992). Pokok-pokok pikiran mengenai pendidikan guru. Jakarta: Konsorsium Ilmu Pendidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
    _______________.(1993). “Pendekatan cara belajar siswa aktif: Acuan konseptual peningkatan mutu kegiatan belajar-mengajar.” Dalam Conny R. Semiawan dan T. Raka Joni (Eds.). Pendekatan pembelajaran: Acuan konseptual pengelolaan kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Jakarta: Konsorsium Ilmu Pendidikan, Ditjen Dikti, Depdikbud.
  • Nunan, David. (1991). The Learner-Centred Curriculum. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Brown, H. Douglas. (2000). Principles of language learning and teaching. Englewood Cliffs, NJ.: Prentice Hall Regents