Kemampuan Mengelola Pembelajaran

Minggu 12 Feb 2012 09:34 PM Alim Sumarno, M.Pd

Guru memainkan peran penting dalam transformasi budaya melalui sistem persekolahan, khususnya dalam menata interaksi peserta didik dengan sumber belajar untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan. Untuk itu diperlukan guru yang memiliki kemampuan akademik dan profesional yang memadai, mutu kepribadian yang mantap, serta menghayati profesinya sebagai guru. Profesi keguruan merupakan kegiatan yang membutuhkan berbagai kemampuan, sedangkan kemampuan tersebut memerlukan pelatihan, baik berupa latihan kemampuan yang terbatas maupun kemampuan yang terintegrasi dan mandiri.

Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menyebutkan bahwa guru dan dosen harus menguasai empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan guru dan dosen mengelola proses pembelajaran peserta didik. Seorang guru yang mempunyai kompetensi pedagogik minimal telah menguasai bidang studi tertentu, ilmu pendidikan, baik metode pembelajaran, maupun pendekatan pembelajaran. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian guru dan dosen yang mantap, berakhlak mulia, berwibawa, dan menjadi teladan bagi peserta didiknya. Kompetensi sosial ialah kemampuan seorang guru dan dosen untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisisen dengan peserta didik, guru, orang tua, dan masyarakat sekitar. Kompetensi profesioanal adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam.

Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan, antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Stándar Nasional Pendidikan, mengamanatkan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu: standar isi, standar proses, standar komptensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Dua dari delapan stándar nasional pendidikan tersebut yaitu Stándar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.

Bagaimana rumusan standar pendidik dan tenaga kependidikan masih diperlukan telaah lebih lanjut, namun setidak-tidaknya guru harus memiliki seperangkat kemampuan dasar yang diperlukan dengan bergesernya paradigma pembel-ajaran dari pembelajaran yang berorientasi pada guru kepada pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik. Guru dituntut memiliki kemampuan untuk menata interaksi peserta didik dengan sumber belajar. Kemampuan tersebut mulai dari kemampuan pembelajaran yang memerlukan dominasi guru lebih besar, seperti kemampuan: membuka dan menutup pelajaran, menjelaskan, bertanya serta mengadakan variasi, sampai menata interaksi siswa dengan sumber belajar yang lebih memberi kesempatan bagi terjadinya kadar lebih tinggi keterlibatan dan prakarsa peserta didik seperti kemampuan: mengelola kelas, memberi penguatan, pembelajaran kelompok kecil, pembelajaran kelompok dan perorangan, serta penggunaan bahasa.

Guru sebagai pekerjaan profesional, menurut Yusufhadi Miarso (2003: 13) sedikitnya empat syarat yang harus dipenuhi: pertama pendidikan dan latihan yang memadai, kedua adaya komitmen terhadap tugas profesionalnya, ketiga adanya usaha yang senantiasa mengembangkan diri sesuai dengan kondisi lingkungan dan tuntutan zaman, dan keempat adanya standar etik yang harus dipenuhi. Karena Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) memainkan peran penting dalam pembentukan profesi keguruan khususnya pada segi-segi kecakapan guru, maka LPTK perlu ditata dan dikembangkan agar menghasilkan lulusan yang secara akademik dan profesional serta kepribadian yang berkelayakan. Pembinaan mutu kepribadian calon guru harus dilaksanakan secara terintegrasi dalam lingkungan lembaga pendidikan tenaga kependidikan yang secara karakteristik harus berbeda dengan lingkungan pendidikan non kependidikan. Untuk meningkatkan mutu guru melalui pendidikan pra-jabatan di LPTK, penekanan diberikan kepada kemampuan guru agar dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengelola pembelajaran, mengatasi persoalan-persoalan praktis dalam pengelolaan pembelajaran dan meningkatan kepekaan guru terhadap perbedaan individual peserta didik yang dihadapinya.

John Goodlad melakukan penelitian di Amerika Serikat yang hasilnya menunjukkan bahwa peran guru amat signifikan bagi setiap keberhasilan proses pembelajaran yang efektif. Oleh sebab itu kemampuan mahasiswa calon guru perlu dikembangkan melalui latihan kemampuan dalam mengelola pembelajaran di laboratorium pembelajaran mikro sebelum melakukan pembelajaran di lapangan.

Pelatihan untuk kemampuan mengelola pembelajaran pada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) selama ini belum memadai, baik dari segi curahan waktu maupun intensitas pelatihan pembelajaran. Hal ini dapat berakibat pada standard kemampuan yang dihasilkan belum optimal serta rendahnya komitmen guru terhadap profesinya. Untuk meningkatkan kualitas guru yang bertugas di sekolah pertama-tama ditentukan oleh pendidikan dan pelatihan pra-jabatan yang diperoleh di LPTK. Semakin baik mutu lulusan LPTK, maka semakin besar peluang sistem pendidikan untuk meningkatkan mutunya. Dengan terbinananya kemampuan dan sikap keguruan sebagai modal awal, maka usaha-usaha lebih lanjut dalam pebinaan mutu guru melalui pendidikan dalam jabatan akan lebih mudah. Sebaliknya semakin rendah mutu lulusan LPTK akan semakin sulit sistem pendidikan untuk mencapai mutu yang diinginkan, dan semakin tidak mudah pembinaan mutu guru dilakukan.

Kemampuan mengelola pembel-ajaran merupakan suatu profesi yang unik dan komplek. Unik karena tidak ada dua orang guru yang mempunyai cara dan gaya yang sama dalam pembelajaran, meskipun mereka berasal dan dididik serta dilatih dari institusi yang sama. Dikatakan komplek karena aktualisasi kemampuan mengelola pembelajaran banyak dipengaruhi oleh aspek yang secara simultan dalam pembelajaran di kelas. Dalam pembelajaran terkandung secara serempak unsur-unsur teknologi, ilmu, seni dan bahkan nilai. Bagaimana unsur tersebut diaktualisasikan melalui pembelajaran di kelas, hal ini diperlukan pelatihan setiap komponen pembelajaran secara rinci terlebih dahulu. Hal ini senada dengan pendapat Raka Joni (1984: 1) bahwa kemampuan mahasiswa dalam mengelola pembelajaran yang kompleks dapat dilepas dan dipisah menjadi unsur-unsur pembelajaran mikro, yang masing-masing dapat diletakkan jauh lebih efektif dan efisien, apabila dibandingkan dengan pendekatan latihan secara global saja.

Sejauhmana pengaruh pemberi-an umpan balik (faktor eksternal) dan locus of control (faktor internal) dalam rangka pembentukan kemampuan mahasiswa dalam mengelola pembelajaran. Selama ini belum banyak upaya yang dilakukan untuk menata pembelajaran mikro melalui eksperimen untuk menguji pengaruh umpan balik yang diberikan dalam rangka meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengelola pembelajaran. Melalui pembelajaran mikro kemampuan mengelola pembelajaran dapat dilakukan secara sistematik dengan latihan yang berjenjang yaitu latihan terbatas, latihan dengan bantuan teman sejawat (peer teaching) dan latihan lapangan.

Pembelajaran mikro adalah sebuah model pembelajaran yang dimikrokan, dalam arti segalanya serba terbatas meliputi; (a) jumlah mahasiswa antara 5 - 7 orang, (b) materi adalah sub topik yang sederhana (c) waktu antara 10 - 15 menit (d) kemampuan yang dilatihkan terbatas pada beberapa komponen utama pembelajaran, pengertian ini sekaligus merupakan ciri-ciri dari pembelajaran mikro. George Brown, (1975:4) menyaran-kan untuk melakukan evaluasi program pelatihan kemampuan mahasiswa dalam mengelola pembelajaran diperlukan umpan balik. Pemberian umpan balik dapat dilakukan secara langsung maupun tak langsung. Teknik pemberian umpan balik dapat diberikan secara tertulis maupun secara lisan terhadap kemampuan mahasiswa dalam mengelola pembelajaran. Dalam pembelajaran mikro, pemberian umpan balik diharapan dapat berfungsi sebagai penguatan (reinforcement). Sedangkan tujuan pemberian penguatan adalah agar tingkah laku yang baik dapat diteruskan dan tingkah laku yang kurang baik dapat dicegah atau diperbaiki.

Realita yang ada kadang-kadang sebaliknya, pemberian umpan balik dimaksudkan agar terjadi nilai positif sebagai penguatan tetapi sering diterima oleh mahasiswa sebagai ejekan atau penghinaan dan sering menimbulkan rasa harga diri kurang. Untuk itu perlu adanya definisi konseptual atau operasional yang disepakati bersama tentang istilah pujian, antusiasme, dan kritisme. Konsepsi demikian dalam batas-batas tertentu terikat pada kebudayaan, sebagai ilustrasi pernyataan “that’s not bad “(itu tidak jelek)” dapat menjadi pujian di Inggris Utara, pernyataan netral di Inggris Selatan, dan penghinaan di New England. Begitu juga di daerah Lampung dalam tatanan kehidupan yang memiliki budaya jamak (multikultural), maka dalam pembel-ajaran mikro harus memperhatikan konsdisi tersebut. Kultur sangat berpengaruh terhadap penerimaan umpan balik yang diberikan oleh dosen pembimbing. Oleh sebab itu strategi pemberian umpan balik manakah yang tepat sesuai dengan karakteristik mahasiswa serta kapan umpan balik tersebut dapat berfungsi sebagai suatu reinforcement dalam pengelolaan pembelajaran mikro, menjadi penting.

Atas dasar pemikiran tersebut selanjutnya penelitian ini dilakukan untuk mengkaji tentang pemberian umpan balik yang tepat dalam latihan kemampuan mahasiswa dalam mengelola pembelajaran melalui matakuliah pembelajaran mikro. Apakah umpan balik yang berbeda akan memberikan pengaruh berbeda terhadap kemampuan mahasiswa dalam mengelola pembelajaran. Manakah yang lebih efektif antara umpan balik langsung dan tak langsung, dan bagaimana pengaruh proses iternal yaitu locus of control mahasiswa terhadap kemampuan mengelola pembelajaran.

Banyak variabel yang dapat memberikan kontribusi terhadap kemampuan mahasiswa dalam mengelola pembelajaran mikro, baik variabel internal maupun variabel eksternal. Tidak semua variabel yang memberikan kontribusi tersebut menjadi konsentrasi dalam penelitian ini, variabel utama yang menjadi fokus penelitian dibatasi pada:

  1. Kemampuan mahasiswa mengelola pembelajaran, dalam penelitian ini dibatasi pada aspek kecakapan sesorang mahasiswa calon guru untuk mengaplikasikan seperangkat komponen pembelajaran yang diperlukan bagi profesi guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran dalam kelas mikro. Kecakapan seseorang mahasiswa dapat diidentifikasi dari hasil yang dicapai yaitu berupa output dari proses mengelola pesan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan ditunjukkan dengan nilai kemampuan pembel-ajaran. Adapun komponen, utamanya meliputi kemampuan: membuka pelajaran, bertanya, mengadakan variasi, menjelaskan, mengelola kelas, memberikan penguatan, menutup pelajaran, pembelajaran kelompok kecil, pembelajaran kelompok dan perorangan, penggunaan bahasa.
  2. Pemberian umpan balik adalah, informasi yang diberikan dosen pembina matakulih pembelajaran mikro kepada mahasiswa atas hasil yang dicapai dalam mengelola pembelajaran. Pemberian umpan balik dibatasi pada umpan balik langsung dan tak langsung. Pemberian umpan balik langsung adalah pemberian umpan balik yang diberikan setelah mahasiswa berakhir menyampaikan satu kali dalam pertemuan pembelajaran mikro, disampaikan secara lisan. Sedangkan pemberian umpan balik tak langsung yang dimaksud adalah pemberian umpan balik yang dilakukan setelah berakhirnya satu pertemuan matakuliah pembelajaran mikro yaitu setelah beberapa mahasiswa menampilkan unjuk kemampuan mahasiswa dalam mengelola pembelajaran dan diberikan melalui tulisan.
  3. Locus of Control adalah suatu konsep yang menggambarkan bagaimana seseorang menentukan pilihan dan atau membuat keputusan dalam hidup. Apakah yang menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan dan atau keputusan itu datang dari dalam diri sendiri atau karena pengaruh dari luar. Terdapat dominasi bahwa peristiwa dalam hidup dikendalikan oleh aktivitas dan tanggung jawab individu (locus of control internal), dan peristiwa dalam hidup dikendalikan oleh kekuatan dari luar (locus of control eksternal).