Kelebihan dan Kelemahan Metode Tugas

Kamis 28 Jul 2011 08:26 AM Alim Sumarno, M.Pd

Kelebihan Metode tugas :
  • Mendorong serta memberi pelatihan bagi siswa untuk lebih berperan aktif dalam pembelajaran (berperan serta dalam merancang kegiatan, melaksanakan kegiatan, mempertanggungjawabkan hasil kerjanya, dan kegiatan tindak lanjutnya).
  • Melatih kemandirian siswa (dalam kerja perorangan yang bertanggungjawab), dan melatih sswa bekerja kelompok (termasuk sosialisasi pribadinya) jika tugas-tugas tersebut perlu diselesaikan secara kelompok.
  • Jika pertanggungan jawab dari hasil penyelesaian tugas-tugas tersebut disajikan secara lisan dimuka forum (sesama siswa atau kelompok lain) berarti berkesempatan melatih siswa untuk membahasakan pendapatnya secara lisan (termasuk melatih penguasaan teknis berbahasa lisan); jika laporan penyelesaian tugas-tugas tersebut berupa laporan tertulis, berarti dalam kesempatan itu siswa berlatih menulis karya ilmiah (meliputi uji data, pengolahan data, penafsiran, sistematika isi laporan, penggunaan bahasa baku, penguasaan notasi penulisan karya ilmiah, dan pengaturan format atau lay-out).
  • Pembelajaran yang diatur dengan sistem tugas serta pertanggungjawabannya, memberi kemungkinan pengelolaan kelas secara variasi (perorangan, kelompok kecil, kelompok besar = klasikal); juga memberi kesempatan para siswa menyelesaikan tugasnya secara bervariasi sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Hal ini selaras dengan asas pembelajaran modern, dan dapat menjadi prototipe penggunaan sistem modul.
  • jika tugastugas yang harus diselesaikan oleh siswa itu terjadi diluar gedung sekolah (di masyarakat), hal ini memberi peluang siswa untuk semakin peka terhadap masalah sosial lingkungannya, dan kegiatan tersebut semakin mendekatkan hubungan sekolah dengan masyarakat.
Kelemahan metode tugas (bahaya yang mungkin timbul jika metode tugas digunakan secara tidak semestinya), adalah :
  • Pengorganisasiannya (terutama jika penyelesaian tugas dilaksanakan di luar sekolah) relatif sukar, monitoringnya sukar sehingga ada bahaya pemborosan waktu, dana, dan tenaga; apakah setiap siswa bekerja dengan kadar kesesungguhan yang tinggi dan merata, hal ini juga sulit dipantau oleh guru.
  • Metode cenderung lebih cocok untuk siswa yang relatif besar (misal : kelas IV SD ke atas); sedang untuk siswa SD kelas III ke bawah, tugas-tugas yang pantas diberikan bersifat terbatas, sederhana, berupa follow-up dari tugas atau kegiatan di kelas di bawah bimbingan guru yang ketat (pekerjaan rumah terbatas, bersifat kokurikuler).
  • Guru dan siswa yang kurang bertanggungjawab mudah melempar tanggung jawab, cenderung mangkir dari kerja, membiarkan pihak lain menyelesaikan tugas, yang mestinya menjadi beban kerja bersama; guru kurang melibatkan diri dalam penyelesaian tugas yang dibebankannya pada siswa dengan dalih melatih kemandirian siswanya.
  • Baik tugas-tugas yang diselesaikan oleh siswa di dalam sekolah (termasuk di laboratorium dan bengkel kerja) maupun yang diselesaikannya di luar sekolah (di masyarakat) cenderung membutuhkan dana yang relatif mahal dan banyak menghabiskan waktu.
  • Dengan mempertimbangkan gejala-gejala di atas (yang berkaitan dengan esensi metode tugas), kondisi sekolah di Indonesia yang dikelola secara setralisus dan adanya hasrat untuk melatih serta meningkatkan kadar kemandirian siswa dalam penggunaan waktu secara efisien, maka disarankan penggunaan metode ini sebagai bentuk pembelajaran proyek pada akhir catur wulan (untuk SD) dan pada akhir semester (untuk SMP ke atas).