Keefektifan Pembelajaran

Minggu 12 Jun 2011 10:54 PM Alim Sumarno, M.Pd

Pengukuran keefektifan pembelajaran harus selalu dikaitkan dengan pencapaian tujuan pembelajaran. Ada 7 indikator penting yang dapat dipakai untuk menetapkan keefektifan pembelajaran, yaitu: (1) kecermatan penguasaan perilaku,(2) kecepatan unjuk kerja,(3) kesesuaian dengan prosedur,(4) kuantitas unjuk kerja,(5) kualitas hasil akhir,(6) tingkat alih belajar,(7) dan tingkat retensi.Kecermatan Penguasaan Kecermatan penguasaan perilaku yang dipelajari, juga sering disebut dengan tingkat kesalahan unjuk kerja, dapat dipakai sebagai indikator untuk menetapkan keefektifan pembelajaran. Makin cermat mahasiswa menguasai perilaku yang dipelajari, makin efektif pembelajaran yang telah dijalankan. Atau, dengan ungkapan lain, makin kecil tingkat kesalahan, berarti makin efektif pembelajaran.Kesulitan yang segera muncul adalah ketika penentuan kriteria tingkat kecermatan. Tingkat kecermatan dapat ditunjukkan oleh jumlah kesalahan dalam suatu unjuk-kerja. Makin banyak kesalahan yang dibuat, makin tidak cermat unjuk-kerja mahasiswa. Berapa tingkat kesalahan yang bisa diterima untuk menetapkan bahwa suatu pembelajaran efektif? Nampaknya sukar menemukan jawaban yang baku mengenai pertanyaan ini. Ia akan amat tergantung pada jenis unjuk-kerja yang diinginkan. Umpamanya, unjuk kerja: "Menghitung jumlah kuadrat 50 skor", menuntut tingkat kecermatan 100%. Dalam unjuk-kerja: "Membuat definisi penelitian eksperimental", tingkat kecermatannya bisa bergerak turun dari 100%. Pertanyaan yang muncul, berapa persen penurunan tingkat kecermatan yang bisa ditoleransi sebagai ukuran keefektifan. Kemp (1985, hlm. 230) memberi rambu-rambu tentang hal ini, sebagai berikut:In a systematically planned academic cource, attainment of the 80 percent level by at least 80 percent of the learners in a class could be acceptable as a highly effective program. In a vocational or skill area, 90-90 (90 percent of the trainees accomplishing 90 percent of the objectives) might be the accepted success level.Indeks keefektifan mengungkapkan 2 hal pokok, yaitu (1) tingkat persentase mahasiswa yang mencapai tingkat penguasaan tujuan, dan (2) persentase rata-rata penguasaan tujuan oleh semua mahasiswa. Jadi, apabila semua mahasiswa mencapai semua tujuan yang telah ditetapkan, maka indeks keefektifannya dapat diungkapkan dengan 100-100. Ini adalah indeks keefektifan maksimum. Apabila hanya 85% mahasiswa mencapai 80% tujuan yang telah ditetapkan, apakah pembelajaran dapat dikatakan efektif? Rambu-rambu Kemp dapat menjawab pertanyaan ini.Bagaimanapun juga, dengan berbagai kondisi yang ada: karakteristik tujuan dan matakuliah, kendala, dan karakteristik mahasiswa; demikian juga ketidak-mampu dosen dalam merancang metode pembelajaran yang optimal: strategi pengorganisasian, strategi penyampaian, dan strategi pengelolaan; akan terlalu ideal kalau mengharapkan tingkat keefektifan 100%. Memang tingkat keefektifan ini adalah yang terbaik, namun variabel kondisional pembelajaran secara sistematik membatasi kemungkinan pencapaian tingkat keefektifan tertinggi ini.Prof Dr I Nyoman S Degeng - Guru Besar Teknologi Pembelajaran UM