Karakteristik dan Pengaruh Media Televisi

Jum'at 19 Aug 2011 01:12 AM Alim Sumarno, M.Pd

Pengaruh media televisi sangat dahsyat terhadap pembentukan mental masyarakat serta ikut mempengaruhi bahkan menciptakan persepsi, agitasi, propaganda terhadap opini publik. Sejak kehadirannya di Indonesia pada tahun 90-an televisi swasta telah membentuk budaya dari efek visualisasi dan narasi.Lebih ironis bahwa sebagian besar masyarakat kita entah pendidikannya rendah maupun kaum terpelajar terseret arus dan percaya oleh cerita di sebagian besar sinetron dan infotainment yang lebih bersifat materialis, hedonis, pragmatis dan jelas mengada-ada. Bagaimana hal ini bisa terjadi dan mewabah menjadi virus pada masyarakat kita, mengapa? Sebetulnya apa yang dibawa televisi dan bagaimana seharusnya itu disikapi.Efektivitas Media TelevisiBenar faktanya jika media visual secara aktif ikut andil di dalam transformasi budaya bangsa. Paling tidak ada beberapa factor yang sedikit banyak menjadi stimulan. Pertama, jika dilacak lebih jauh banyak masyarakt kita menjadikan kehadiran televisi manjadi alternative pertama untuk membantu mengasuh disela-sela kesibukan orangtua. Berarti televisi ( lihat: televise) menjadi "ibu kedua" karena secara psikologis pengaruhnya sangat cepat diterima oleh anak.Kedua, lewat kekuatan yang dimiliki dalam media televisi proses "agitasi dan propaganda" dengan cepat mengubah pola pikir serta opini publik, merombak sikap mental dan tatanan masyarakat relatif lebih mudah. Jalaludin Rahmat mengatakan bahwa media televisi mempunyai kekuatan tersembunyi untuk menggambarkan apa yang terjadi, apa yang penting dalam berbagai kejadian serta menjelaskan hubungan-hubungan dan makna yang ada di antara kejadian-kejadian itu.Hal ini karena media audiovisual (televisi) merupakan media abstraksi tingkat pertama dari sebuah realitas social karena media ini merupakan sajian yang paling mendekati realitas yang sebenarnya dibanding dengan audio lain (radio misalnya) yang menempati tingkat abstraksi selanjutnya dan buku yang dalam hal-hal tertentu banyak menyajikan teori,walaupun teori merupakan abstraksi dari realitas sosial, akan tetapi tingkat abstraksinya jauh di atas televisi.Peristiwa baik yang bebar-bernar terjadi maupun realitas yang direkayasa, lewat layar-layar kecil yang berfungsi sebagai jendela dan disajikan secara visual disertai dengan narasi atau sarana audio lain terhadap peristiwa yang dipotret. Dengan demikian konsekuensinya, masyarakat awam akan sangat mudah mencerna/menyerap (dipengaruhi) abstraksi tingkat pertama yang disajikan oleh televisi.Memposisikan TelevisiKekuatan televisi yang hampir tanpa batas dibandingkan dengan efektivitas media lainnya, menjadikan televisi pada posisi yang sangat strategis, konsekuensinya adalah akan muncul berbagai kepentingan yang saling berdesakan, baik politik, bisnis, pendidikan maupun hiburan .Ada satu hal yang menjadi titik temu dari heterogonitas berbagai kepentingan, yaitu promosi tata nilai. Beragam tayangan yang disajikan banyak mewakili kepentingan dengan genre berbeda sedang realitas yang ada tetap pencapaian target reting jam tayang.Lebih Celaka lagi kalau nilai yang dipromosikan adalah materialisme, hedonisme, dan pragmatisme. Sudah bisa ditebak budaya apa yang akan terbangun kelak pada generasi penerus bangsa, atau jangan-jangan budaya itu telah merasuki pola hidup dan pemikiran kita saat ini !Kolakowski mengatakan: "jika mau melakukan promosi nilai ada tiga faktor yang harus diperhitungkan. Pertama; kekuasaan, kedua; uang, dan ketiga; kata atau bahasa."Kemudian pertanyaannya dimanakah posisi televisi didalam keluarga kita dan lebih luas pada masyarakat kita?Kearifan dan Tata NilaiNilai-nilai etis merupakan kristalisasi dari proses interaksi sosiologis antar manusia, dalam konteks inilah televisi sebagai salah satu media komunikasi televisi akan terikat dan bersandar pada nilai-nilai etis tertentu.Menyadari kekuatan serta kedahsyatan efektivitas media ini, maka sudah sepatutnyalah bagi yang mempunyai kekuasaan, kepentingan dan uang sebagai decision maker menyeleksi terhadap nilai yang akan dipromosikan televisi, yang punya kesempatan lebih untuk ikut andil dalam mengarahkan transformasi budaya, mempunyai kearifan, memiliki komitmen dan tanggung jawab terhadap bentuk budaya dan karakter bangsa.Hal ini penting agar arah transformasi budaya tidak terkilir ke dalam suatu posisi di mana mental (jiwa) masyarakat berada dalam kondisi yang "sakit". Dengan demikian sudah tiba saatnya (kalau tidak mau disebut terlambat) bagi pemegang kendali, baik pemerintah, owners televisi maupun komunikator (pembuat program-program siaran), mendudukkan fungsi/ peran televisi sebagai agen perubahan social yang nyata, tidak semata-mata sebagai media pendidikan, penerangan, maupun bahkan banyak yang beranggapan sebagai hiburan.Fungsi ini hendaknya disadari sehingga tidak menjadi masalah manakala fungsi ini diderivasikan kedalam bentuk-bentuk yang lain. Sebab dengan menerapkan fungsi tersebut, maka antar berbagai derivasi ada semacam link and match untuk mengarahkan transformasi budaya bangsa ke arah titik yang sesuai budaya Indonesia.Beberapa Ide dan PemikiranOrang yang memiliki Paradigma bahwa fungsi televisi adalah sebagai agen perubahan berarti telah memulai reinterpretasi terhadap pemahaman fungsi televisi.Kemudian langkah selanjutnya adalah melakukan aksi (Kuntowijoyo, 1992), Aksi tersebut hendaknya dapat memanfaatkan kekuasaan serta efektivitas televisi untuk mendorong proses perubahan sosial dalam konteks transformasi budaya yang mengarah pada suatu tatanan yang mempunyai nilai-nilai humanistik dan nilai-nilai luhur dan bukan nilai sok "Ngartis" seperti dipertontonkan saat ini.Ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan.Pertama: amanat, berarti dapat dipercaya karena pesan yang disampaikan adalah benar, jujur, dan tidak dimanipulasi. Prinsip ini penting karena banyak praktik-praktik penyiaran televisi yang mendistorsi realitas, memaksakan ilusi semu kepada pemirsa.Banyak tayangan (terutama iklan, sinetron, berita-berita selebritis) yang bersifat manipulatif dan tunduk pada kepentingan bisnis.Kedua: memuat etika religius. Ada beberapa siaran-siaran televisi khususnya yang berbau hiburan dan iklan justru "mendakwahkan" kemungkaran dan bahkan ada tayangan yang dibumbui keagamaan justru terjebak seolah-olah agama hanya untuk mengusir setan, dipakai kalau sedang sedih, duka, terkena musibah. Ini bahaya, karena sangat mendistorsi fungsi agama yang kaafah, yang mengatur segala kehidupan manusia.Ketiga: memuat etika budaya bangsa. Apabila kita tidak mau kehilangan identitas nasional sebagai bangsa yang beradab. Bangsa yang punya kebudayaan sendiri yang luhur, maka sudah selayaknyalah budaya pribumi lebih mengemuka dari pada budaya Barat. Fenomena carut marutnya budaya barat adalah bukti ketidakmampuan televisi untuk mengarahkan transformasi budaya bangsa kepada tatanan yang lebih sesuai dengan budaya Indonesia.