Cara Belajar Siswa Aktif

Kamis 28 Jul 2011 04:24 PM Alim Sumarno, M.Pd

CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) merupakan upaya untuk lebih meningkatkan mutu belajar siswa dan dengan demikian akan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. CBSA lebih merupakan asas keterlibatan kerja daripada bentuk-bentuk kegiatan belajar yang stereotip; praktik CBSA tidak menunjuk pada bentuk kegiatan belajar tunggal, misalnya: mesti diskusi kelompok.jenis masalah pendidikan di sekolah yang manakah yang dapat atau mungkin dijawab dengan penerapan CBSA secara tepat dan intensif? Jawabannya adalah tidak semua masalah pendidikan di sekolah dapat atau mungkin terjawab dengan penerapan CBSA secara benar. Jika kita mengacu pada pendapat yang menegaskan bahwa masalah pendidikan di sekolah bersumber pada mutu setiap unsur (masukan) yang rendah, pengorganisasian proses pembelajaran yang rancu (tidak efektif dan tidak efisien), dan tolak ukur keberhasilan belajar siswa yang rancu (tarafnya rendah, subjektif, dan tidak konsisten), maka CBSA kiranya dapat dikaitkan dengan upaya pembenahan motivasi belajar siswa, intensitas kegiatan belajar siswa, dan peningkatan efektivitas-efesiensi proses pembelajaran.Jika kiat CBSA kita kaitkan dengan klasifikasi permasalahan pendidikan di sekolah secara makro, misalnya; masalah relevansi (dengan tolok kebutuhan siswa, kebutuhan masyarakat yang membangun, dan kebutuhan untuk perkembangan ilmu serta teknologi), masalah pemerataan (dengan tolok setiap warga negara berhak dan berkesempatan menikmati pendidikan yang layak, jangan sampai terjadi gejala braindrain dan under achievement), masalah mutu pendidikan (berhubungan dengan nilai serta sikap hidup, penguasaan ilmu secara fungsional serta ketajaman analisis-sintesis, dan dikuasainya kecakapan kerja atau ekonomis), dan masalah efektivitas-efisiensi proses pendidikan di sekolah yang rendah maka kiat CBSA lebih mengarah pada pembenahan masalah yang terakhir, yaitu pembenahan efektivitas- efisiensi proses pembelajaran. Perlu juga disebut, biarpun kiat CBSA tidak diarahkan secara langsung untuk memecahkan semua masalah pendidikan di sekolah di atas, tetapi usaha ini bersifat strategis karena langsung menyentuh inti (masukan utama) pendidikan sekolah, yaitu peningkatan mutu belajar siswa; jika ini terbina dengan basik maka nilai transfernya dampak positifnya) sangat besar.Pada awal bab ini telah disinggung bahwa CBSA lebih merupakan asas didaktis daripada bentuk belajar tertentu; dapat ditegaskan bahwa CBSA (yang analog dengan asas siswa aktif) merupakan salah satu asas didaktis. Agar gambaran kita tentang keseluruhan asas didaktis tersebut relatif lengkap, perlu juga disebut macam asas didaktis yang lain yaitu: asas motivasi; asas pemusatan minat dan perhatian; asas apersepsi (mengkaitkan konsep (pengetahuan) yang baru dengan yang telah dikuasainya); asas korelasi (menghubungkan objek belajar yang satu dengan yang lain agar mudah dikuasai siswa secara mendalam, asas korelasi dapat bervariasi: korelasi tempat, korelasi waktu, dan korelasi ide); asas integrasi (setiap perolehan belajar terkait dalam pola berpikir serta bertindak yang kompak dan utuh); asas individualisasi (usahakan agar perkembangan siswa optimal untuk dirinya selaras dengan potensionalitasnya, situasinya, dan utuh atau mempribadi); asas peragaan (perkembangan lebih lanjut dari pembelajaran beraga adalah menunjuk perlunya mengajar-belajar dengan mendayagunakan aneka media (teknologi pembelajaran dalam arti sempit) dan aneka sumber belajar); asas penilaian (menuntut kualitas pengelolaan, sehingga fungsi diagnostis dan penjenjangan atau promotifnya terjamin); asas kerjasama (belajar kelompok); asas belajar dari alam sekitar (yang dalam perkembangan lebih lanjut menjadi asas belajar kontekstual); asas belajar berkesinambungan (analog dengan asas belajar seumur hidup); dan asas kegunaan (nilai praktis). Sehubungan dengan kebermacaman asas didaktis tersebut, dapat juga ditegaskan bahwa pembelajaran yang baik adalah yang dapat menerapkan asas-asas tersebut secara tepat (semakin banyak asas didaktis yang diterapkan secara tepat pembelajaran tersebut semakin baik); perumusan yang lebih operasional, adalah semakin banyak asas didaktis yang diterapkan secara tepat oleh guru tertentu, guru tersebut semakin bermutu).Pengembangan lebih lanjut sehubungan dengan asas-asas didaktis tersebut, yang dinilai menunjang praktik CBSA secara langsung, adalah asas-asas didaktis sebagai berikut : asas motivasi (hal ini berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan siswa dan pemahaman makna belajar dari pihak siswa); asas konteks (jaringan-jaringan yang melatar belakangi onjek belajar perlu dipahami pula oleh siswa, agar alternatif pemikirannya tumbuh dan berkembang); asas fokus (apa yang menjadi pusat analisis sintesis pembelajaran tidak dapat lepas dari konteks); asas sosialisasi (asas kooperasi = kerja kelompok, yang membina sikap sosial, kecakapan diskusi serta bentuk-bentuk kerjasama yang lain, dan pembina kepedulian serta partisipasi sosial); asas belajar melalui bekerja (mendayagunakan seluruh daya hidup termasuk inderanya dan motorisnya untuk belajar); asas individualisasi (siswa adalah subjek atau pribadi yang unik (khas untuk dirinya), perlu adanya pengaturan program belajar yang selaras dengan kemampuan dasar setiap siswa agar perkembangan pribadi siswa menjadi utuh, sehat, dan bahagia, adalah sasaran belajar yang perlu diusahakan secara serius di sekolah); asas penemuan (siswa dibimbing agar menemukan kebenaran dan nilai hidup yang bermakna bagi dirinya); dan asas pemecahan masalah (problem solving), penerapan asas ini menunjukkan adanya bimbingan agar siswa dapat menyadari adanya masalah, dapat mencirikan masalah yang ditemuinya (tahap mengidentifikasi masalah), dapat mengajukan dugaan pemecahan masalah, dapat mengumpulkan fakta-data-konsep yang relevan untuk memecahkan masalahnya, siswa terlibat aktif dalam pemecahan masalahnya (tahap verifikasi), dan siswa dapat menyimpulkan hasil pemecahan masalahnya serta dapat merencanakan kegiatan tindak lanjutnya.