Bentuk tes dalam evaluasi belajar

Minggu 29 May 2011 05:10 AM Alim Sumarno, M.Pd

Ada beberapa bentuk soal tes yang dipakai dalam sistem penilaianberbasis kompetensi dasar. Oleh karena itu kita bicarakan lebih dahulu bentuk-bentuk tes tersebut. Tingkat berpikir yang digunakan dalam mengerjakan tes harus mencakup mulai dari yang rendah sampai yang tinggi, dengan proporsi yang sebanding sesuai dengan jenjang pendidikan. Pada jenjang pendiddikan menengah misalnya, tingkat berpikir yang terlibat sebaiknya terbanyak pada tingkat pemahaman, aplikasi, dan analisis. Namun hal ini tergantung pada karakteristik mata pelajaran. Bentuk tes yang digunakan di sekolah dapat dikategorikan menjadi tes objektif dan tes nonobjektif. Objektif di sini dilihat dari sistem penyekorannya.Bentuk-bentuk soal yang dipakai dalam sistem penilaian berbasis kompetensi dasar, yaitu:
  1. Pilihan ganda:Bentuk ini dapat mencakup banyak materi pelajaran, penyekorannya objektif, dapat dikoreksi dengan komputer. Namun membuat soal butir soal pilihan ganda yang berkualitas baik cukup sukar, dan kelemahan lain adalah peluang kerja sama antarpeserta tes sangat besar. Oleh karena itu bentuk ini baik dipakai untuk ujian yang melibatkan banyak peserta didik dan waktu untuk koreksi relatif singkat. Penggunaan bentuk tes ini menuntut pengawas ujian teliti dalam melakukan pengawasan saat ujian berlangsung. Tingkat berpikir yang diukur dapat tinggi tergantung pada kemampuan pembuat soal.
  2. Uraian objektifBentuk soal ini cocok untuk mata pelajaran yang batasnya jelas seperti matematika, dan IPA. Agar hasil penyekorannya objektif diperlukan pedoman. Objektif di sini berarti hasil penilaian terhadap suatu lembar jawaban akan sama walau diperiksa oleh orang yang berbeda asal memiliki latar belakang pendidikan sesuai dengan mata ujian. Tingkat berpikir yang diukur dapat sampai pada tingkat tinggi. Penyekoran dilakukan secara analitik, yaitu setiap langkah pengerjaan diberi skor. Misalnya jika peserta didik menuliskan rumusnya diberi skor, menghitung hasilnya diberi skor, dan menafsirkan atau menyimpulkan hasilnya juga diberi skor. Penskoran bersifat hierarkhis, sesuai dengan langkah pengerjaan soal. Bobot setiap butir soal ditentukan oleh tingkat kesulitan butir soal, yang sulit diberi bobot yang lebih besar dibandingkan dengan yang mudah.
  3. Uraian bebasBentuk uraian bebas ini disebut juga uraian nonobjektif, cocok untuk bidang studi ilmu-ilmu sosial. Walau penyekoran cenderung subjektif, namun bila disediakan pedoman penyekoran yang jelas, hasilnya diharapkan dapat lebih objektif. Tingkat berpikir yang diukur dapat tinggi. Bentuk ini dapat menggali informasi kemampuan penalaran, kemampuan berkreasi peserta didik, karena kunci jawaban tidak satu.
  4. Jawaban singkatBentuk ini cocok untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman peserta didik. Jumlah materi yang diujikan dapat banyak, namun tingkat berpikir yang diukur cenderung rendah.
  5. MenjodohkanBentuk ini cocok untuk mengetahui pemahaman peserta didik tentang fakta dan konsep. Cakupan materi dapat banyak, namun tingkat berpikir yang diukur cenderung rendah.
  6. PerformansBentuk ini cocok untuk mengukur kemampuan seseorang dalam melakukan tugas tertentu, seperti praktek di laboratprium. Peserta tes diminta untuk mendemontrasikan kemampuan dan keterampilan dalam bidang tertentu. Penilaian performans berdasarkan analisis pekerjaan.
  7. PortofolioBentuk ini cocok untuk mengetahui perkembangan unjuk kerja peserta didik, dengan menilai kumpulan karya-karya atau tugas yang dikerjakan peserta didik. Portofolio berarti kumpulan karya atau tugas-tugas yang dikerjakan peserta didik. Karya-karya ini dipilih kemudian dinilai, sehingga dapat dilihat perkembangan kemampuan peserta didik. Cara ini bisa dilakukan dengan baik bila jumlah peserta didik tidak banyak.